NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Buronan Kerajaan

Sudah lebih dari tiga hari Esmera menikmati hidupnya sebagai seorang pelarian. Dan dia sangat menikmatinya.

Namun, kebebasan itu tetap tidak sepenuhnya membuat Esmera tenang. Selama beberapa hari terakhir, dia menghabiskan waktunya dengan membaca berbagai buku yang berhasil dia dapatkan. Dia mempelajari seluk-beluk Kerajaan Naraya, wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaannya, hingga sejarah keluarga kerajaan.

Terutama sejarah Raja pertama dari keluarga Ruan.

Esmera sengaja mempelajarinya dengan teliti. Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang keluarga yang selama ini mengikat hidupnya, sekaligus mencari celah untuk meninggalkan kerajaan tanpa mudah ditemukan.

Dia juga mencari tahu tentang orangtua aslinya, tetapi tentu saja informasi itu tidak ia temukan di perpustakaan kota.

Selain membaca, Esmera juga mempelajari peta dan jalur perjalanan menuju kerajaan lain. Dia berniat meninggalkan Naraya sepenuhnya.

Selama beberapa hari ini, Esmera bahkan sengaja berpindah-pindah tempat tinggal. Hari pertama dia memilih sebuah penginapan yang cukup mahal, kemudian keesokan harinya dia pindah ke penginapan sederhana yang hampir tidak menarik perhatian.

Setelah itu, dia kembali berpindah. Semuanya dilakukan untuk menyamarkan jejak.

Esmera tidak ingin tinggal terlalu lama di satu tempat. Dia tahu, cepat atau lambat, istana akan menyadari bahwa dirinya telah menghilang.

Meski begitu, setiap kali mendengar suara langkah kaki di depan penginapannya, jantung Esmera selalu berdebar.

Dia takut seseorang datang untuk menangkapnya.

"Tenanglah, Esmera. Kau aman sekarang, kita akan benar-benar bebas, dan sebentar lagi akan menjalani hidup yang baru," gumamnya suatu malam sambil menatap jendela kamar."Aku sudah sejauh ini."

Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Esmera hanya perlu bertahan beberapa hari lagi.

Mungkin saja ketika Raja Edris mengetahui dirinya kabur, pria itu tidak akan benar-benar mencarinya.

Esmera masih mengingat dengan jelas bagaimana Edris selalu mengutamakan kerajaan di atas segalanya. Bahkan pernikahan mereka pun pada akhirnya terasa seperti sebuah kewajiban demi kestabilan negara.

Karena itu, Esmera berpikir mungkin Edris akan memilih jalan yang paling mudah.

Memanggil Lyra.

Menjadikan gadis itu penggantinya.

"Lagipula, pria itu hanya memikirkan kestabilan negara," batin Esmera."Dia tidak akan merepotkan dirinya sendiri hanya untuk mencariku."

Pikiran itu sedikit membuatnya lega. Setidaknya, itulah yang ingin dia percayai

Pagi itu, seperti biasa, Esmera keluar dari penginapan setelah memastikan penampilannya cukup sederhana. Tujuannya hanya satu.

Toko roti.

Selama beberapa hari tinggal di daerah itu, Esmera menemukan sebuah toko roti kecil yang membuatnya ketagihan. Rotinya sederhana, tetapi rasanya sangat enak. Bahkan tanpa sadar, toko itu menjadi salah satu tempat yang paling dia sukai sejak meninggalkan istana.

Esmera berjalan santai menyusuri jalan. Namun, baru beberapa langkah, dia mulai merasa ada sesuatu yang berbeda.

Jalanan pagi itu jauh lebih ramai daripada biasanya.

Banyak orang berkumpul di satu tempat. Beberapa bahkan terlihat saling berbisik dengan wajah penasaran.

"Ada apa ini?" gumam Esmera.

Dia memperlambat langkahnya. Rasa ingin tahu membuatnya ikut mendekat. Esmera berusaha menyelip di antara kerumunan tanpa menarik perhatian."Apa yang mereka lihat?"

"Ada pengumuman dari kerajaan."

"Benarkah? Hadiahnya sangat besar."

"Jangan-jangan orang itu masih berada di sekitar sini."

Mendengar percakapan itu, langkah Esmera terhenti sesaat. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Namun, dia masih belum mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Karena penasaran, Esmera kembali mendekat hingga akhirnya berhasil melihat apa yang membuat orang-orang berkumpul.

Dan seketika tubuhnya membeku. Matanya membelalak. Di sebuah papan pengumuman yang berada di tengah jalan, terpampang sebuah lukisan wajah seorang gadis.

Wajah yang sangat dia kenal.

Wajahnya sendiri.

Bukan hanya satu.

Ternyata, di sudut jalan lain juga terdapat lukisan yang sama. Bahkan beberapa dinding bangunan dipasangi kertas pengumuman dengan gambar dirinya. Sedari tadi Esmera tidak menyadari.

Di bawah lukisan itu terdapat tulisan besar mengenai seorang calon ratu yang menghilang. Dan bagi siapa pun yang berhasil menemukan keberadaannya, Raja Edris Ruan menjanjikan hadiah yang sangat besar.

Esmera menatap lukisan itu tanpa berkedip. Wajahnya perlahan memucat."Apa-apaan..." Tangannya mengepal di balik lengan bajunya.

Matanya segera melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Namun, seperti yang sudah dia duga, tidak ada yang mencurigainya sama sekali.

Penampilannya memang benar-benar berbeda dari Esmera yang selama ini dikenal orang.

Saat ini dia mengenakan setelan pakaian pria yang sederhana dan sedikit kebesaran. Wajah cantiknya juga sengaja dikotori dengan sedikit arang agar terlihat kusam dan tidak menarik perhatian. Rambut panjangnya disembunyikan rapi di dalam topi lusuh yang menutupi sebagian besar kepalanya.

Bahkan jika seseorang menatapnya sekilas, mereka mungkin hanya akan mengira Esmera sebagai pemuda miskin yang sedang berkeliaran mencari pekerjaan.

Dalam hati, Esmera merasa bangga pada dirinya sendiri.

Lihat? Aku memang pintar.

Dia hampir saja tertawa sendiri karena penyamarannya berhasil dengan sangat baik.

Esmera kemudian segera meninggalkan kerumunan. Dia tidak ingin berada di tempat itu terlalu lama. Semakin lama dia berada di sana, semakin besar kemungkinan seseorang mengenalinya atau menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Langkahnya pun dipercepat.

Sebelum kembali ke penginapan, Esmera menyempatkan diri membeli beberapa roti di sebuah toko kecil. Dia membeli cukup banyak untuk persediaan, sebab dia tidak tahu kapan bisa keluar lagi untuk membeli makanan.

Setelah membayar, Esmera langsung memasukkan roti-roti itu ke dalam kantong kain yang dibawanya.

“Aku harus segera meninggalkan kerajaan ini,” gumamnya sambil berjalan.

Pikirannya kembali teringat pada pria yang beberapa waktu lalu membuatnya kesal setengah mati.“Apa yang ada di pikiran pria itu? Calon ratu katanya?” Esmera mendengus kesal. “Dasar berengsek!”

Langkahnya semakin cepat karena emosinya kembali naik.“Harusnya dia langsung saja memanggil Lyra.”

Esmera mencibir.

“Lagipula umur kami hanya terpaut sedikit. Dia terlihat berumur sekitar dua puluh tahun, jadi sekarang seharusnya Lyra sudah berusia delapan belas tahun. Itu sudah cukup untuk dibawa ke istana.” Semakin dipikirkan, Esmera semakin merasa kesal.“Lagipula Lyra lebih menginginkan posisi itu.”

Tangannya mengepal tanpa sadar.

Orang yang pada kehidupan sebelumnya bahkan tega membunuhnya hanya demi mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Dia sampai membunuhku, kakaknya sendiri,” gumam Esmera dengan tatapan dingin.“Kalau mereka menikah, mereka benar-benar pasangan yang sangat cocok.”

Sudut bibirnya terangkat sinis.“Sama-sama kejam.”

Sepanjang perjalanan, Esmera terus menggerutu seorang diri. Sesekali dia bahkan menendang kerikil kecil yang menghalangi langkahnya.

Dia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari bahwa langkahnya telah membawanya kembali ke penginapan lusuh tempat dia tinggal.

Esmera berhenti di depan bangunan tua itu.“Ah, akhirnya sampai.”

Dia segera membuka pintu tanpa banyak berpikir. Tidak ada yang perlu dicurigai. Selama beberapa hari terakhir dia memang tinggal di sana dengan penyamarannya sebagai pria miskin.

Pintu terbuka.

Esmera langsung melangkah masuk. Namun, baru beberapa langkah berada di dalam, tubuhnya mendadak membeku. Senyum kecil di wajahnya menghilang. Dia baru menyadari sesuatu.

Ada seseorang berdiri di sana. Tepat di sebelah pintu.

Sosok itu berdiri dalam diam, seolah-olah memang sudah menunggunya sejak tadi. Dari posisinya, orang itu bahkan sepertinya telah berada di sana ketika Esmera keluar mencari makanan.

Jantung Esmera berdegup lebih kencang. Tangannya perlahan menggenggam erat kantong berisi roti.

Untuk sesaat, Esmera tidak berani bergerak.

1
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!