"Eh...anak kecil minggir kamu!!"-usir bodyguard Naren-
"Lahh...aku duluan yang disini"-jawab Rena dengan ketus-
"Makanya datang lebih pagi dongg...gimana sih!!!"-berkacak pinggang di hadapan Naren-
Seorang Serena yang tidak tahu jika orang dihadapannya adalah ketua Mafia yang paling kejam Narendra Oliver Pradipta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana_Jm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda merah di leher
Narendra membawanya ke apartemen miliknya, gadis itu tidur di kamar tempat biasa dia istirahat. Narendra merasa gemas melihat Serena tertidur sangat pulas.
"Lucu banget sih nih anak!!"-menatap wajah Serena dekat-
"Gimana aku sekap dia disini"-tersenyum gemas-
"Jangan gila kamu Narendra!!!'-menampar pipinya sendiri-
Dirinya keluar dari kamar untuk menghindari hal yang diluar kendalinya, terlebih gadis itu dari keluarga Arkatama. Keluarganya kenal baik dengan keluarga Arkatama itu, bahkan mereka menjalin bisnis bersama dan menguasai seluruh tempat.
Untuk pertama kalinya dia memasak untuk seseorang, selama dia tinggal sendirian jarang sekali dia memasak bahkan seringnya membeli.
"Aku masak?! Kenapa nih?!"-menatap tangannya memotong wortel-
"Bahkan untuk anak kecil berisik itu?!"-gumamnya sendiri sambil tertawa kecil-
Sementara Serena mulai terbangun dari tidurnya, aroma maskulin yang menyeruak dari kamar itu membuatnya terkejut dan melihat sekeliling kamar. Warna dinding kamar dan style kamar yang sangat asing untuknya. Terlebih ada foto Narendra di dalam kamar itu dengan ekspresi dingin dan tatapan tajam.
"Dia siapa?! Kayak pernah lihat?!"-mendekati foto Naren-
"Diaaa? Mirip Pak Tua itu?!"-celetuknya curiga-
"Ngapain juga aku disini?!"-bergegas keluar kamar-
"Kayaknya ada orang di dapur?!"-berjalan perlahan ke dapur-
Aroma parfum Serena yang terkena hembusan angin di ruangan itu mampu mengalihkan Naren dari kegiatan memasaknya. Keduanya saling pandang dan terkejut, terlebih lagi Rena yang melihat penampilan Narendra sangat berbeda saat diluar.
"Kenapa?! Aku tampan kan?!"-ucap Naren dengan iseng-
"Biasa aja yaaa!! Dasar Pak Tua menyebalkan!!"-celetuk Serena dengan ketus-
"Jangan malu-malu begitu?"-ucap Narendra jahil-
"Makan dulu yaa? Aku udah masak buat kamu"-ucapnya lembut sambil tersenyum manis-
"Kamuuu?! Masakkk?!"-ucap Serena sambil tertawa lebar-
"Pasti rasanya hambar tuh! Kayak muka kamu yang datar!"-jawabnya dengan santai sambil tertawa lebar-
Bukannya marah, Narendra justru terpesona dengan Serena yang tertawa lepas di hadapannya. Baru kali ini citra dirinya sebagai mafia terkuat tak ada gunanya dihadapan Serena yang sangat petantang petenteng itu.
Percikan cinta mulai muncul dari dalam diri Narendra yang selama ini tertutup rapat oleh tembok es kutub Utara.
"Boleh deh siniii....siapa tahu kan enak gitu masakannya? Kasihan nanti Pak Tua nggak mau masak lagi"-celetuk Serena sambil tersenyum manis-
"Kalau ngomong yang sopan sedikit"-tegur Naren dengan lembut-
"Wihhh...marah nih?! Ya udah kalau marah?!"-lanjutnya jahil sambil tertawa lebar-
Serena mencoba masakan yang di buat Narendra untuknya, dia tidak terlalu peduli dengan rasa masakan Narendra. Dia hanya menghargai apa yang sudah dilakukan oleh Narendra untuknya.
"Apa nih?!! Masih keras ini?!! Pasti enggak pernah masak yaa?!"-celetuk Serena santai-
"Coba deh!!! Nggak bisa dimakan tauuu?!"-ucapnya dengan cemberut-
"Yaaa...kan baru pertama kali buat itu"-jelas Naren sambil tertawa kecil-
"Pantesan aja!!! Sini biar aku aja yang buat!!!"-mengambil alih dapur dan memasak ulang-
"Lihat baik-baik!!! Biar nggak salah lagi!!"-ucap Rena dengan tengil-
"Begitu aja nggak bisa sih?!!"-menatap Naren dengan sinis-
Narendra yang merasa di marahi dengan celotehan Serena yang tiada habisnya hanya menatap wajah imut Serena tanpa berkedip. Di mata Narendra semakin Rena marah semakin imut juga, dirinya baru tersadar saat Rena mencubit lengan kekarnya.
"Hehhh!! Lihat apa sih!!"-cubitnya dengan keras-
"Awww!! Sakitt Cantikk!!"-menggenggam tangan Rena yang mencubitnya-
"Lepasin nggak!! Modus banget sih!!"-memukul tangan Naren pelan-
"Jangan marah-marah terus,...nanti gosong tuh!!"-jahil Naren sambil menyentuh pipi Serena-
"Hishh...apa sih!! Nggak usah pegang-pegang yaa!!"-menyilangkan kedua tangannya-
Tidak butuh waktu lama untuk Serena memasak ulang makanan itu, dirinya hanya memberi bumbu tambahan saja untuk masakan Naren supaya lebih bisa dicerna untuk perut.
Narendra juga ikut makan masakan dari Rena, dia sangat menikmati makanan yang dibuat ulang oleh gadis imut itu.
"Gimana?! Lebih enak kan??!!"-ucapnya dengan tengil-
"Hemmm... sering-sering masakin buat aku"-ucap Naren dengan jahil-
"Berani bayar berapa?!!"-celetuknya santai-
"Berapapun yang kamu minta, aku kasih"-jawabnya sambil tersenyum tipis-
"Sok banget sihh!! Nggak usah...makasih!!"-melanjutkan makannya-
"Bawa ini!! Pakai saja!!"-memberikan kartu unlimited miliknya-
"Wahhh...kamu nyopet dimana nihh!!"-ucap Serena asal-
"Nyopet?!!! Aku nggak seburuk yang kamu kira"-menatap lekat wajah Serena-
"Bukan urusanku juga sih!!"-memalingkan wajahnya-
Suasana makan malam kali ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya, biasanya hanya lampu redup dan suara TV yang menemani dirinya. Namun malam ini ada gadis kecil yang menemani dirinya dengan ucapan asalnya.
Naren dibuat gemas dengan sikap dan tingkah Serena yang terkesan ceplas-ceplos tapi juga perhatian.
"Kemana istrinya Om?!"-tanyanya asal-
"Istri?!! Setua itukah wajahku?!!"-menunjuk wajahnya sendiri-
"Lahh...merasa tua nggak?!! Kalau nggak, ya udah sihh!!"-ucapnya tengil sambil tersenyum lebar-
"Dasar anak kecil!!"-memukul kepala Serena memakai sendok-
"Kali aja gitu Om udah nikah?"-ucapnya sambil tertawa kecil-
"Kamu mau jadi istriku?! Hemmm?!!"-mendekatkan wajahnya ke Serena-
"Ehhh....Nggak mau yaaa!! Seremm!!"-menyilangkan kedua tangannya-
"Kamu pikir aku hantu?!!"-ucapnya jahil-
"Aku nggak bilang yaaa!! Om sendiri yang bilang!!"-ledek Serena sambil tertawa puas-
Serena langsung kabur dari meja makan melihat perubahan ekspresi wajah Naren yang terlihat serius. Terjadilah kejar-kejaran di dalam apartemen Narendra, gadis itu sangat lincah menghindar dari kejaran Narendra.
Narendra langsung merebahkan tubuhnya di sofa karena merasa kelelahan karena tidak bisa menangkap Serena.
"Ahh...payah nih si Om!! Gitu aja udah nyerah!!"-ledeknya sambil tersenyum manis-
"Biasa aja senyumnya!! Jangan manis-manis!!"-jawabnya santai sambil menatap datar Serena-
"Kasihan banget sihh!!"-terkekeh pelan sambil berjalan ke arah Narendra-
Serena mulai mendekat ke arahnya dan benar saja, dirinya langsung menangkap dan memeluknya erat sampai keduanya terhempas di sofa bersamaan. Narendra tidak mau melepaskan pelukannya sekalipun Serena berontak dan menarik bajunya.
Postur badan mereka yang berbeda jauh, membuat Serena kalah telak dengan Naren. Dengan erat Naren mendekap tubuh Serena dan tanpa sadar dirinya mencium kepala gadis itu.
"Kamu ngapain sihh Omm!! Lepas nggak!!"-mencubit punggung Naren-
"Nggak mauu!! Salah sendiri gemesin!!"-mencium bahu Serena dengan lembut-
"Yaaaaaa!!!!"-menggigit leher Naren-
Spontan Naren melepaskan pelukannya dan Rena bisa kabur dari dekapan Naren, Dirinya langsung mengambil tas miliknya dan langsung keluar dari apartemen Narendra. Bukannya mencegah, Naren justru membiarkan gadis itu pergi dari apartemen miliknya.
Naren hanya menatap punggung gadis itu dari jauh dan tersenyum tipis terlihat dari sudut bibirnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya.
"Serena?!"-celetuknya sambil tersenyum tipis-
"Sepertinya aku mulai tertarik dengannya!!"-ucapnya pelan sambil menatap langit apartemen-
"Aku harus mencari tahu siapa saja laki-laki yang mendekatinya"-celetuknya sambil menyeringai-
Serena sudah sampai di apartemen miliknya sendiri, dirinya langsung mandi dan membersihkan dirinya. Ponselnya ia letakkan begitu saja tanpa di isi daya terlebih dahulu.
Selesai mandi, dirinya langsung membuat mie instan untuk asupan sebelum tidur, meskipun dirinya sudah makan di apartemen Narendra. Rena duduk termenung melihat foto-foto yang ada di ponselnya.
"Aku kangen Ma Pa"-ucapnya lirih-
"Kapan pulangnya?! Rena takut!"-menopang dagunya dengan satu tangan-
"Maaf Ma...Rena kabur dari rumah"-menatap foto orang tuanya di ponsel-
"Rena hampir kehilangan nyawa karena mereka Ma Pa"-jelasnya dengan pelan-
Tanpa disadari air matanya mangkir perlahan membasahi pipinya, sudah lama sekali dirinya kabur dari rumah karena ulah saudaranya yang ingin menguasai rumah miliknya. Sedangkan kedua orang tuanya sedang ada urusan bisnis di luar negeri dan belum pulang hingga saat ini.
Sampai akhirnya gadis itu tertidur dan mie yang ia buat dibiarkan begitu saja hingga esok pagi. Pagi itu Serena tak keluar dari apartemennya, Narendra yang menunggunya sejak pagi merasa curiga karena tidak biasanya begitu.
"Kemana dia?! Tumben banget"-ucapnya pelan sambil melihat jam di tangannya-
"Biasanya dia sudah keluar jam segini"-lanjutnya lagi-
"Bosss nunggu siapa sih?!"-celetuk Viktor santai-
"Bukan urusanmu!! Sudahlah....aku ada meeting hari ini!!"-ketusnya sambil berjalan meninggalkan Viktor-
"Dia sendiri yang lama...huft namanya juga BOS!!"-celetuknya pelan-
"Bilang apa kamu barusan?!!! Yang keras!!"-menatap tajam Viktor-
"Maaf Tuan Narendra yang terhormat"-ucapnya sopan sambil tersenyum lebar-
"Ehhh...tunggu...tunggu!! Itu di leher Bos...!!"-menunjuk ke arah leher Naren-
"Nih...saya kasih lihat"-mengambil foto dengan ponselnya-
"Habis ngapain Bos?!! Cieee...."-ucapnya iseng sambil tersenyum tipis-
"Cantik ya Boss?!!"-lanjutnya iseng-
"Jelas!! Nggak kayak rekomendasi kamu itu...murah!!!"-jawabnya santai tapi tajam-
Narendra tersenyum tipis mengingat kejadian saat Serena marah-marah dan terjadilah gigitan itu di lehernya secara tidak sengaja.
~awas Ser...dia mulai tengil banget tuhh... hati-hati kalau marah sama dia~🫣