sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
Di sisi lain,..
suasana Asteria High School dipenuhi siswa yang berlalu-lalang menuju kelas. Gavin duduk di bangkunya dengan wajah muram, bahkan percakapan teman-temannya tidak terlalu ia pedulikan.
Dia masih memikirkan ucapan papa nya di meja makan. Mengenai... Saudara tiri nya. Mengingat itu, dia menggepalkan tangan.
Sampai... Tiba-tiba mejanya penuh dengan teman temannya.
"Ey brow, lu gapapa? Melamun aja sejak tadi gue liat. " Sapa temannya Ariel.
Hanya gelengan yang mereka dapatkan.
"Dih. Mahal amet tuan muda ini. " Ketus Bian.
Dan hal itu langsung mendapat pelototan dari mereka.
Gavin tak mempedulikan mereka. Tidak, saat suara ramai dan sorak terdengar dari bawah. Mereka melihat ke arah gerbang begitu juga dengan Gavin.
"Mereka dah dateng" Jawab nathan.
"Siapa nata de coco? " Tanya bian.
Hal itu mendapat tatapan sinis dari nathan. Namanya yang bagus diubah gitu aja.
"Dari mana? " Tanya Gavin angkat bicara.
"Owhh. Mereka dateng dari sekolah bawah, biasa lah main main. " Jawab Tian.
"Main-main." Kini kiara pacar Ariel ikut nimbrung.
"Iya sayang. Dari sekolah rendah. Entah apa faedah nya ke sana. " Jawab Ariel.
"Hem mereka datang. Aku dengar, mereka pergi ke sekolah dengan siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di ujian lalu. " Jawab salah satu siswi.
"Benarkah? " balas yg lainnya.
"Iyakah?"
"Mustahil." Dan banyak lagi...
Hal itu tidak lewat dari pendengaran Gavin dkk.
"He'eleh. Ga percaya gue. Masa iya ada siswa sejenius itu? " Jawab Ariel.
"Serius, Rel. Gue dengar sendiri dari guru," sahut temannya.
"Terus katanya dia bisa ngerjain soal yang kita tidak bisa kerjakan dan tergolong sulit. "
"Iya. Bahkan jawabanya benar lengkap dengan rumus rumusnya."
Teman teman Gavin yang mendengar kannya kemudian tertawa..
Teman teman kelasnya hanya menatap mereka datar, bisa-bisanya tertawa dan tak percaya begitu.
Gavin yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut menoleh.
"Namanya siapa?" Tanyanya.
"Zean. Dia berasal dari sekolah yang sekolah yang mereka hadiri kemarin. " jawab siswi itu.
Gavin terdiam sesaat.
"Wushh, srrrr"....
Seakan angin ikut merasakan dan mendalami nama itu.
Berhembus perlahan menyentuh wajahnya, membawa suasana yang entah mengapa terasa begitu berbeda.
" Heleh. Ga percaya gue. " Jawab Ariel kekeh.
Gavin melihat kerumunan itu, tidak sengaja wajahnya bertemu dengan Riven.
Kakak tingkatnya yang juga menjadi primadona sekolah.
Bukan rival, hanya berdampingan di forum sekolah sebagai siswa terkenal...
" Ada perlu apa ya pak? " Tanya satpam sekolah.
"Ah, saya ingin mengantarkan kardus kardus ini ke dalam. Pesanan dari Pak Darwis." Ucapnya
"Owh.iya ayo ayo silahkan masuk. " Ramah satpam.
Bapak paruh baya itu terlihat kagum melihat sekolah tersebut. Sungguh seperti istana.
"Pak Darwis. Ini, ada yang ingin bertemu dengan anda pak. " satpam itu berbicara.
"Owh, kamu. Iya saya yang pesan. " Jawabnya. Dan satpam itu kemudian melenggang pergi.
Pak Darwis berjalan diikuti bapak paruh baya itu dengan dus ditangannya.
"Letakkan disini saja pak. " Ucap pak Darwis.
"Owh.iya Pak. " Jawabnya. Setelah selesai, pak Darwis berpamitan untuk mengajar.
Bapak paruh baya itu juga beranjak pergi sambil melihat pemandangan megah nan mewah sekolah itu. Tanpa dia sadari, dia menabrak salah satu siswi dan tidak sengaja menumpahkan minumannya ke seragam yang ia pakai.
"Aahhhh." Teriaknya keras.
Siswa dan siswi yang lainnya pun ikut berkumpul. Melihat apa yang terjadi? Siapa yang berani mengganggu Angsa cantik di sekolah mereka ini.
_itu julukan buat gadis primadona ya.. _
"M-maaf nak. Saya ga sengaja. " Ucapnya pelan dan bersalah.
"Huh.. Bapak punya mata ga si?. " Balasnya.
"Tau tuh. Bukannya lihat jalan malah bengong," celetuk temannya sambil terkekeh.
Pria itu hanya menundukkan kepala.
"Maaf, Nak. Saya akan membersihkannya.”
Ia ingin mengambil kain pel. Tapi...
" Tunggu.. Mau kemana bapak? Pakai kemeja bapak saja. Toh juga sudah kotor kayak kain bekas. " Ucapnya kejam.
"Iya ih. Kayaknya bapaknya miskin banget ya. Kok bisa si nyasar ke sini. " Ucap temanannya yang lain sambil memperagakan menahan agar ga muntah.
Bapak paruh baya itu hanya bisa menghela nafas, dan menyesali perbuatannya. Kenapa dia harus ceroboh dan mengganggu kalangan elit seperti mereka. Dia kemudian membuka kemejanya dan mulai membersihkan lantai yang terkena tumpahan minuman.
Gadis itu malah tertawa kecil.
"Ya ampun, lihat deh. Cocok banget sama pekerjaannya. "
Temannya ikut tertawa.
"Iya. Disuruh bersihin sedikit aja langsung nurut."
Pria itu terdiam. Tangannya berhenti sejenak, menahan rasa malu yang memenuhi dirinya.
"Apa apaan ini?!! "
Suara Gavin membuat tawa mereka berhenti. Sontak mereka semua menoleh begitu juga dengan siswa dan siswi yang ada disana langsung memberikan jalan untuk Gavin.
Gavin melihat bapak itu yang masih membersihkan di bawah sana.
"G-gavin." ucap irana gugup. Dia mengincar Gavin, tapi sekarang? Gara-gara bapak tua ini Gavin sekarang akan membencinya.
"Bapak berdirilah." Dia membantu nya berdiri, dan menatap tajam pada irana.
"Gavin, kamu tau kan seragam ini mahal. Dia menumpahkan minuman ini padaku. Jadi aku ... berhak marah, kan? " Berharap dibela.
Gavin menatapnya datar.
"Jadi ini cara keluarga kalian marah? Merendahkan orang lain? " Sarkas Gavin.
"A-apa!!?, tapi..
Tapi dia yang salah! Aku yakin, dia bahkan tidak akan bisa mengganti seragam yang aku pakai ini. " jawabnya kekeh. Ingin menjawab lagi, tapi Gavin memotong nya.
"Berapa? " Ucapnya.
"Apa? " Tanya irana bingung.
Tanpa basa basi, Gavin langsung melemparkan lembaran merah diatas kepalanya.
"Simpan uang itu untuk membeli seragam mu yang MAHAL itu. " Sambil menekan kalimat akhirnya...
Gavin kemudian membawa bapak itu ke kantin, sekarang jam istirahat. Tapi mood Gavin langsung dirusak oleh irana. Gavin sendirian? Ya, teman temannya ada yang dan kena hukuman karena tidak mengerjakan tugas?
Gavin? Tidak, dia hanya membayar orang untuk mengerjakannya. Jika ditanya, dia akan berakhir dihukum juga.
"Minumlah pak. " Gavin menyodorkan sebuah minuman kaleng padanya.
Dia menerimanya dengan baik dan berterima kasih pada Gavin.
"Kenapa bapak hanya diam saja, dan tak melawan?. " Tanya Gavin
Bapak itu tersenyum. " Tidak nak. Bapak takut akan semakin besar masalahnya. " jawabnya.
Gavin mengangguk dan paham hal itu.
"Bapak bekerja di lantai berapa? Baru kali ini saya melihat bapak. " Tanyanya lagi.
"Ah, hahah.. Tidak, bapak tidak bekerja disini nak. Bapak hanya mengantarkan barang pak Darwis. Bapak, kagum dan larut saat melihat sekolahmu ini. Dan... Yah, bapak tidan sengaja menabrak gadis itu. " Jawabnya.
Gavin mengerti itu. Bukan salahnya. Irana memang selalu semena mena dengan kekuasaan ayahnya.
Gavin merasa kasihan melihat bapak itu, diusia nya seperti ini dia harus bekerja.
"Melihatmu nak, bapak jadi teringat anak bapak disana. " Ucapanya.
Gavin mengangkat alis tanda penasaran.
"Hahah, dia seumuran kamu. Dia baik dan pengertian. Huh... Kadang, bapak merasa tidak pantas menjadi ayahnya. "
"Kenapa? " Tanya Gavin
"Iya. Disaat anak-anak yang lainnya pergi ke sana, membeli itu. Dia, memilih diam dirumah dan menabung. Dia bahkan bekerja untuk membantu bapak. Bapak merasa kasihan padanya, andai saja dia tidak tinggal dengan bapak,.. Mungkin hidupnya akan lebih baik. " Ucapkan sambil mengusap mata agar air itu tidak turun mengalir.
"Saya malah berfikir sebaliknya. " Ucap Gavin..
"Dia bangga memilki ayah seperti bapak. Bapak mungkin merasa belum bisa memberikan banyak hal untuknya, tapi dari yang saya lihat, Bapak sudah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga."
Bapak itu perlahan mengangkat wajahnya.
"Apa itu?"
Gavin tersenyum tipis.
"Kesempatan untuk terus berjuang dan mengejar masa depannya."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Dia tidak malu dengan keadaan Bapak. Justru dia bekerja keras karena dia tahu Bapak juga sudah bekerja keras untuknya.”
Mata pria itu kembali berkaca-kaca. Kali ini bukan karena rasa kasihan terhadap putranya, melainkan karena untuk pertama kalinya, seseorang benar-benar memahami apa yang selama ini ia perjuangkan.
Bapak itu kemudian memeluk Gavin. Gavin? Dia tidak keberatan dengan hal itu.
"Kamu sangat baik nak. Bapak yakin, kamu suatu hari nanti akan mendapat kan pasangan yang sama baiknya seperti mu. " Doa bapak itu...
Ya bapak, doa bapak akan dikabulkan kok🤭