Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manuver Revan
“Kamu nggak perlu tahu siapa aku. Kalau kamu mau menyelamatkan Indra Adiguna, segera temui aku. Dan jangan lupa bawa tim keamanan. Jangan sampai kamu pergi sendiri ke sini.”
Tanpa menunggu jawaban orang yang diteleponnya, Saka langsung mengakhiri panggilan. Pria itu kemudian mengirimkan lokasi safe house tempatnya berada sekarang.
Setelah menghubungi pria tadi, Saka kembali masuk ke dalam lalu menemui Firlan.
“Aku butuh bantuanmu lagi.”
“Apa? Katakan saja.”
“Ada orang yang akan menjemput Bani. Bisakah kamu mengirimkan anak buahmu untuk membantu mengawal mereka? Hanya untuk berjaga-jaga saja.”
“Ya, tentu saja. Apa Bani akan diserahkan kepada keluarga Adiguna?”
“Ya. Bani harus muncul agar Indra bisa bebas. Kondisi perusahaan berada di ujung tanduk. Indra harus segera keluar. Jangan sampai ada orang yang memanfaatkan hal ini untuk mengambil alih perusahaan.”
Firlan hanya mengangguk. Meski pikirannya penuh dengan pertanyaan dan kecurigaan, dia tetap memilih mengikuti permainan Saka.
Melihat gerak-gerik Saka, Firlan sempat memikirkan hal gila. Pria yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Aryan, melainkan Saka Adiguna.
Namun bagaimana mungkin?
Hal yang terbersit dalam pikirannya adalah sesuatu yang terasa mustahil. Tidak mungkin dua pria itu bertukar roh hanya karena mengalami kecelakaan pada hari dan waktu yang sama.
Jika Saka masih hidup dan tinggal di dalam raga Aryan, lalu bagaimana dengan roh Aryan?
Bukankah Saka sudah dinyatakan tewas dalam kecelakaan? Jasadnya juga sudah dikubur.
Pertanyaan-pertanyaan di benak Firlan hanya bisa dijawab oleh Saka. Namun pria itu memilih bersabar sampai waktunya tiba.
***
Dua jam sebelumnya
Sebuah sepeda motor memasuki pelataran rumah mewah. Seorang pria turun lalu melepas helmnya. Dia berjalan memasuki rumah mewah tersebut. Seorang asisten rumah tangga mengantarnya ke ruang kerja pribadi Revan.
Pria bernama Barep itu adalah orang suruhan Revan yang diminta memata-matai Saka. Barep memutuskan datang menemui Revan dan melaporkan hasil pengintaiannya secara langsung.
Sekretaris Revan langsung membukakan pintu untuk Barep dan mempersilakannya masuk. Melihat kedatangan Barep,
Revan segera bangun dari kursi kerjanya. Pria itu kemudian duduk di sofa tunggal di dekat Barep.
“Apa yang kamu dapat?” tanya Revan.
“Banyak. Dua hari ini Aryan terlihat sibuk sekali.”
Barep memberikan amplop yang dibawanya kepada Revan. Di dalamnya terdapat banyak foto-foto aktivitas Saka selama dua hari terakhir.
“Saya langsung bergerak saat Bapak meminta saya memata-matai Aryan. Tempat pertama yang dia datangi adalah kantor cabang bank Mega Buana.
Dia datang ke sana bersama seorang perempuan. Mereka tidak lama berada di sana. Setelah mengantarkan perempuan itu ke toko kue, Aryan pergi ke kedai kopi.
Di sana dia bertemu dengan Dirga dan seorang laki-laki yang saya tidak tahu siapa namanya. Tapi dari gerak-geriknya, sepertinya dia adalah seorang polisi.”
Sambil mendengarkan penjelasan Barep, Revan mengamati foto-foto yang diberikan pria itu. Pandangannya tertuju ke sebuah foto yang menampilkan Saka dan Firlan.
Revan mengenali pria itu. Firlan adalah polisi yang menyelamatkannya saat kasus penyanderaan dirinya.
Hubungan Saka dengan Firlan ternyata lebih dekat dari dugaannya.
“Apa kamu tahu apa yang sedang mereka kerjakan?”
“Saya tidak tahu pasti, Pak. Aryan, Dirga dan pria satunya berpisah setelah dari kedai kopi. Karena saya hanya mengikuti Aryan, saya tidak tahu ke mana dua orang lainnya pergi.
Tapi saat ketiganya berkumpul di satu hotel, saya mengambil kesimpulan kalau mereka mengunjungi Hotel Damai. Di kota ini ada tiga Hotel Damai.
Sepertinya mereka sedang mencari seseorang. Dan orang yang dicari berada di Hotel Damai yang ada di jalan Garuda.”
Revan mengamati dengan seksama foto Dirga keluar dari hotel sambil menggendong Saka. Lalu, di foto lain, ada Firlan yang keluar dengan membawa seorang pria.
Revan mengenali pria tersebut. Dia adalah orang yang sedang dicari dalam kasus penggelapan pajak Adiguna Grup.
Kasus tersebut memang mengguncangkan publik, jadi wajar saja jika Revan tahu soal ini. Apalagi sekarang Revan sedang gencar mendekati petinggi Adiguna Grup. Dia ingin menjalin relasi dengan perusahaan besar itu demi kepentingan pribadi.
Setelah menguasai PRIMA TAKSI, tujuan Revan selanjutnya adalah menguasai Ardhanusa Grup. Karenanya dia membutuhkan relasi kuat seperti Adiguna Grup.
Sayang, Indra tak meresponsnya dengan baik. Namun Revan mendapat sambutan hangat dari Baskara.
Sudah beberapa bulan ini Revan menjalin hubungan baik dengan Baskara. Karena itu dia mendukung Baskara untuk mengambil alih Adiguna Grup.
“Kamu tahu apa yang terjadi pada Aryan?”
“Dia dibawa ke rumah sakit. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Tapi besok paginya dia keluar rumah sakit dan menuju Jayakarsa. Dia pergi ke bank Mega Buana dan bertemu dengan perempuan ini.”
Barep menunjukkan foto saat Saka berbicara dengan Novia. Pria itu juga menerangkan interaksi antara mereka berdua yang terlihat mencurigakan di matanya.
Revan kembali dibuat termenung. Semua yang dilakukan Aryan alias Saka tidak bisa dimengerti olehnya.
“Apa hubungan Aryan dengan Adiguna Grup?” gumam Revan pelan.
Revan mengambil ponselnya. Pria itu segera menghubungi Baskara. Setelah menunggu beberapa saat, Baskara menjawab panggilannya. “Halo.”
“Selamat malam, Pak Baskara. Apa saya mengganggu Bapak?” tanya Revan basa-basi.
“Tidak juga. Ada apa?”
“Apa Bapak masih mencari Bani Firdaus?” tanya Revan yang membuat Baskara terkejut.
“Ada apa kamu menanyakannya?” tanya Baskara penuh kecurigaan.
“Masalahnya, saya melihat seorang laki-laki yang mirip Bani.”
“Benarkah? Di mana dia sekarang?”
“Dia ada di Kerthabumi. Saya akan mengirimkan lokasinya kepada Bapak. Apa Bapak butuh bantuan?”
“Tidak usah. Tapi terima kasih atas informasinya.”
“Sama-sama, Pak Baskara. Saya hanya mengharapkan hubungan baik dengan Bapak.”
“Tentu saja.”
Revan mengakhiri panggilan lalu mengirimkan lokasi di mana Bani berada.
***
Tepat pukul sembilan malam, sebuah sedan berwarna hitam mendekati safe house tempat Bani berada. Di belakang sedan tersebut, dua buah van mengikuti.
Sedan tersebut berhenti di depan safe house. Dari dalamnya keluar Fredy, asisten Wisnu yang tadi dihubungi Saka.
Di depan safe house, Saka sudah menunggu. Di sampingnya ada Bani dan Firlan. Wajah Bani langsung memucat melihat Fredy.
Begitu pula dengan Fredy. Dia terkejut melihat pria yang selama ini dicarinya ternyata sudah ditemukan oleh orang lain.
Fredy melihat Saka. Dia mengenali Saka sebagai sopir taksi yang beberapa waktu lalu mengantar Ayura mendatangi kediaman Wisnu.
“Kamu yang menemukan Bani?” tanya Fredy pada Saka.
“Ya. Bukan hanya itu, dia juga memegang bukti yang bisa membebaskan Indra Adiguna dari tuduhan.”
Saka memberikan USB yang tadi diberikan Bani. Untuk berjaga-jaga, dia sudah menyalin isi USB ke dalam laptopnya.
“Berhati-hatilah. Bagaimanapun caranya kamu harus bisa membawa Bani ke kejaksaan. Perjalananmu kembali ke Jayakarsa tidak akan mudah.”
“Apa maksudmu? Sebenarnya siapa kamu?” tanya Fredy curiga.
“Namaku Aryan, aku kerja di PRIMA TAKSI. Kamu juga sudah bertemu denganku sebelumnya.
Katakan pada Pak Herbert untuk menggunakan bukti itu dengan baik. Nama Indra Adiguna harus dibersihkan.
Setelah itu katakan pada Indra untuk fokus mengembalikan harga saham Adiguna Grup. Putuskan kerja sama dengan perusahaan di Singapura. Lalu kerjakan proyek yang sudah disusun oleh Saka Pradipta.”
Kening Fredy langsung berkerut.
“Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu mengenal Saka?”
***
Saka bikin orang bingung terus😂
ya Allah..