Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau tidak tahu namanya kultivasi?
Akan tetapi, suara itu berasal jauh di bawah sana. Xuan Han segera mendekati bibir tebing, lalu akhirnya melihat ke bawah. Pohon-pohon tampak sangat kecil, dan bila ia menjatuhkan batu kecil, maka akan butuh waktu sangat lama untuk menyentuh dasar. Namun, Xuan Han tidak merasa takut, sama seperti yang terjadi sebelumnya.
Ia melihat bebatuan yang penuh dengan lumut dan pakis. Tidak ada anggrek lagi, tapi ia penasaran, apa fungsinya? Sampai sekarang, selain menghilangkan rasa lapar, tidak ada hal lain yang terjadi.
Kelihatannya, batu-batu itu licin dan ia akan kesulitan untuk turun ke bawah. Berpikir sebentar, lalu akhirnya ia pergi ke tengah hutan kembali, mengambil beberapa tanaman rambat, dan menyambungnya.
Setelah satu jam, ia kembali ke pinggir tebing, memejamkan mata sejenak lalu bergumam, “Sepertinya tali ini cukup.”
Ia segera mengambil ujungnya, mengikatnya di pohon. Dan setelah memastikan itu kuat, barulah ia mengikatnya di perut. Kemudian perlahan-lahan turun. Xuan Han merasa cengkeramannya jauh lebih kuat, menimbulkan bekas pada batu di tebing. Ia menatap tangannya.
Sebelumnya ia dengan mudah memecahkan batu kecil, tapi sekarang jika ia serius berpegangan, batu di dinding terasa lembek. Ia tidak tahu mengapa, tapi ini terasa jauh lebih mudah.
Turun perlahan-lahan sembari melepaskan talinya, ia sesekali melihat ke bawah dan telinganya menangkap berbagai suara dari sana.
Turun, terus turun. Akhirnya ia menemukan kelabang dan membunuhnya. Pedangnya lagi-lagi terpotong di ujungnya. Xuan Han menghela napas lega. Jika ia tidak cekatan, maka ia bisa terluka.
Setelah satu jam, akhirnya ia melompat ke tanah. Tidak menemukan tanaman langka, tapi syukurlah ia bisa melewati ini dengan mudah. Melepaskan talinya, ia segera melihat sekitar. Mempersiapkan pedangnya dan segera berjalan.
Butuh beberapa saat, akhirnya ia mendengar suara bertarung. Segera mendekatinya. Tiba di sana, melihat dari balik semak-semak, Xuan Han merasa senang melihat seorang wanita. Itu adalah manusia pertama yang dilihatnya. Tapi ketika ia ingin melangkah, suara raungan bergema.
Ternyata ada harimau setinggi sepuluh meter di depan gadis itu, meraung marah dengan matanya yang menyeramkan. Xuan Han menelan ludah, mempersiapkan pedang di tangannya.
Harimau itu mengayunkan kaki depannya, gadis itu melambaikan tangannya dan pedang di punggungnya melesat, sementara ia bergerak menjauh, memutari tubuh besar harimau itu. Melompat ke ekornya. Berusaha berjalan di punggungnya. Kemudian ia melompat lagi, Memutar tubuhnya dan melambaikan tangannya ke bawah. Pedang yang tadi melesat menghalangi serangan harimau itu kembali ke tangannya.
Matanya menjadi tajam. Ia tersenyum dingin dan berseru, “Terima ini!”
Pedang melesat ke bawah, menusuk kepalanya, membuatnya meraung dan meronta-ronta. Gadis itu berpegangan erat pada pedangnya dan berusaha menekannya. Tidak lama ia berseru, “Xiao Meimei!”
Xuan Han terkejut, dan tidak lama seorang gadis bergaun kuning dan berambut pendek muncul, berlari mendekat sembari berseru, “Kakak, serahkan padaku!”
Ia melambaikan tangannya dengan lembut ke depan. Zither kayu berwarna kehitaman muncul. Lima jarinya yang kecil berayun ke depan sembari berseru, “Lima pedang.... Muncul!”
Suara zither yang dipetik secara bersamaan muncul sembari lima cahaya melesat ke arah harimau itu. Kemudian berubah menjadi lima pedang yang mendesing. Semuanya menancap dengan kecepatan tinggi ke empat kakinya, menguncinya di tanah. Harimau itu meraung karena kesakitan.
Gadis tadi mengerutkan keningnya, zithernya melayang-layang di depannya dan dua telapak tangannya bersatu. Ia berseru dengan suara ditahan, “Kakak, sekarang!”
Gadis yang menancapkan pedang di kepalanya mengangguk, ia mendorong kakinya ke bawah, sementara tubuhnya melesat ke atas. Pedang yang ditariknya beterbangan. Ia mengambilnya. Lalu dengan kakinya yang lihai melompat ke atas. Setelah lebih tinggi melayang di udara, tubuhnya segera melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi. Ia mengetuk pedangnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Aura putih menyelimuti pedangnya seperti api yang mendapatkan makanan terbaiknya.
Gadis itu mengayunkan pedang ke bawah.
Suara mendesing!!
Telinga Xuan Han terasa sakit dan bergema ketika mendengarnya. Ia melihat cahaya putih pedang yang menebas kepala harimau itu, membuatnya merinding. Gadis itu segera mendarat dengan wajah kelelahan, sementara kepala harimau itu terbelah, terjatuh dan mengeluarkan banyak darah.
Bunyi gedebuk akhirnya muncul ketika tubuh hewan besar itu terjatuh.
Gadis yang lebih muda menghela napas. Ia kemudian melambaikan tangannya. Lima cahaya pedang kembali masuk ke zithernya, lalu zither itu menghilang. Banyak keringat keluar dari dahinya. Ia menatap lega kakaknya. Tapi, sebelum dapat mendekatinya, ekspresinya jadi waspada. Ia segera menoleh dan secepat kilat melambaikan tangannya.
Pedang bersiul dan segera semak-semak terpotong serta beterbangan. Xuan Han yang berada di sana segera terkejut dan mengangkat kedua tangannya. Ekspresinya dipenuhi ketakutan. Ia dengan hati-hati berkata, “Dua Senior, a-aku tidak bermaksud jahat.”
Ia menatap pedang yang melayang-layang di depannya. Itu bercahaya terang diterpa sinar matahari. Sepertinya itu juga sangat tajam dan mematikan. Xuan Han tidak berani bergerak. Ia terus menatap pedang di depannya. Ia tahu, sedikit saja pergerakan, dan itu memicu tindakan bagi gadis itu, maka ia bisa segera mati.
Dua orang di depannya ini jelas bukan orang sembarangan. Dalam hidupnya yang singkat ini, ia tidak tahu tentang mereka dan mengapa mereka bisa bertarung seperti itu. Ditambah lagi, mereka membunuh harimau.
Gadis yang lebih tua menatapnya tajam beberapa saat. Xuan Han merasa tidak nyaman. Ia tetap diam.
Sementara gadis yang lebih muda membesarkan kedua pupil matanya. Tampaknya sangat bersemangat sembari berseru, “Orang? Akhirnya kita bertemu penduduk setempat di sini!”
Ia segera berlari mendekati kakaknya. Kakaknya itu berbalik dan pedang yang melayang di depan Xuan Han segera melesat dan kembali ke tangan gadis itu. Ia memasukkannya ke dalam sarungnya, menyimpannya.
Gadis yang lebih muda mendekati Xuan Han dan berseru, “Ka-kamu penduduk di sini?”
Gadis itu terlihat sangat antusias. Xuan Han memperhatikan rambutnya yang pendek dan bersih, juga gaun kuningnya yang terlihat mewah. Itu pasti rasanya nyaman sekali untuk dipakai.
“Namaku Xiao Meimei,” katanya enteng. “Siapa namamu? Bisakah kamu mengantar kami ke tempat tinggalmu?”
Xuan Han tidak tahu harus berbicara apa. Sepertinya dua gadis ini juga tersesat dan ingin mencari bantuan, sama halnya dengan dirinya. Namun, dibandingkan dengan keduanya, Xuan Han merasa jauh lebih lemah dan menyedihkan. Ia memakai pakaian usang, tidak sekuat mereka, bahkan kehilangan ingatan.
Xuan Han menjawab tenang, agak ragu-ragu, “Maaf, aku juga.... tersesat.”
“Tersesat?”
Xiao Meimei memperhatikan wajah Xuan Han yang pucat, pakaiannya yang kotor dan lusuh. Ia juga memperhatikan pedang di tangannya yang sudah tua.
“Kasihan sekali. Tidak apa-apa, kami juga tersesat. Jika kau berkenan, ikutlah dengan kami.”
Xuan Han merasa senang. Ia segera mengangguk. Lalu ia melihat gadis yang lebih tua berjalan ke mayat harimau itu, mengambil sesuatu dari lehernya dan tidak lama kristal ungu keluar. Xuan Han ingat tentang kristal yang didapatkannya dari pohon hidup sebelumnya, dan ia tanpa sadar bertanya, “Apa itu?”
Xiao Meimei menoleh. “Dia kakak seniorku. Namanya Kakak Li Yin. Dia seniorku di sekte.”
Li Yin memperhatikan kristal di tangannya yang berdarah. Ia melambaikan tangannya dan seluruh darah yang menyelimutinya segera hilang.
“Ini kristal roh,” katanya. “Setiap makhluk yang mengembangkan kultivasi pasti akan mengembangkannya. Ini sangat berharga.”
Ia menyimpannya dan menatap Xuan Han, sebelum akhirnya berjalan mendekatinya.
Dibandingkan Xiao Meimei, Li Yin jauh lebih anggun dan cantik. Tanpa sadar Xuan Han menatapnya sebentar dan ia kagum. Namun, ada pertanyaan yang muncul dalam benaknya, lalu bertanya, “Kakak, itu... Apa itu kultivasi?”
Xiao Meimei yang mendengar itu tanpa sadar membulatkan matanya dan bibirnya sedikit bergerak. “Kau tidak tahu apa namanya kultivasi?” Wajahnya terlihat terkejut dan sepertinya tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan Xuan Han barusan.