NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis yang misterius

Yuna yang baru saja mengambil dompet berwarna krem itu menoleh setengah.

"Maaf."

"Aku sudah berjanji bertemu seseorang."

Andito membeku.

"Seseorang?"

"Jangan-jangan..."

"Pacarnya waktu SMP?"

Berbagai kemungkinan langsung bermunculan di kepalanya.

Namun...

"YUNAAA!"

Suara yang begitu ceria mendadak memenuhi kelas. Melody muncul di depan bangku mereka sambil melambaikan tangan.

"Ayo! Kita cari kantin!"

Yuna melirik ke seseorang berambut panjang yang nampak malu-malu mengekor di belakang Melody.

Sontak, Melody pun menyadari arah tatapan itu.

"Oh iya! Kenalin!"

Melody menarik pelan tangan siswi di belakangnya.

"Ini Angel. Pasti kita bertiga bakal jadi sahabat sampai lulus!"

Angel hanya tersenyum malu.

"Halo, Yuna..." sapanya sembari melambai pelan.

Yuna memandang keduanya beberapa saat.

Lalu berdiri.

Karena posisi bangkunya berada di sisi tembok, Andito refleks menggeser kursinya agar memberi jalan.

Yuna berhenti sesaat di sampingnya.

"Maaf. Mungkin lain kali, Dito."

Andito mengangguk kecil.

"Eee... iya, gapapa."

Yuna membalas dengan anggukan singkat. Kemudian berjalan keluar kelas bersama Melody dan Angel.

Suara Melody masih terdengar riuh sepanjang koridor.

"Eh, katanya es teh di kantin enak banget!"

"Terus ada mi ayam juga!"

"Aduhh baru mikirin makanan udah ngiler aja aku."

Tawa mereka perlahan menjauh. Hingga akhirnya tenggelam di antara ramainya siswa yang berhamburan menuju kantin.

Andito masih berdiri di samping bangkunya. Menatap ke arah pintu yang baru saja dilalui Yuna.

Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Huh... yaudah lah. Baru juga hari pertama."

Ia turut mengambil dompetnya yang terselip di resleting paling depan tasnya. Lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

"Besok juga mulai akrab."

Meski begitu, entah mengapa, bayangan wallpaper Nikola Tesla di ponsel Yuna kembali melintas di kepalanya.

Andito menggeleng pelan.

"...Tapi serius deh."

"Itu bapak siapa anjir? Yang dipajang?"

....

Bel istirahat mengubah wajah sekolah dalam hitungan detik.

Koridor yang sebelumnya lengang kini dipenuhi derap langkah siswa. Tawa bersahutan dari berbagai arah, berpadu dengan suara kursi yang bergeser dan pintu kelas yang dibuka bergantian.

Di sisi timur gedung utama, sebuah area terbuka beratap panjang menjadi pusat keramaian.

Itulah kantin sekolah.

Deretan warung berjajar rapi memenuhi sisi kiri dan kanan. Ada yang menjual mi ayam, bakso, soto, nasi goreng, ayam geprek, hingga jajanan ringan yang memenuhi etalase kaca. Aroma kuah kaldu bercampur harum gorengan yang baru diangkat memenuhi udara, membuat siapa pun yang melewati lorong itu tanpa sadar menelan ludah.

Di tengah kantin, meja-meja panjang telah dipenuhi siswa dari berbagai angkatan.

Anak kelas sepuluh masih tampak kikuk memilih tempat duduk.

Sementara kakak kelas terlihat jauh lebih santai, beberapa bahkan sudah akrab menyapa penjual kantin layaknya pelanggan tetap.

Di salah satu sudut, Andito akhirnya bergabung dengan tiga temannya.

Rendy.

Michel.

Dan Rio.

Keempatnya duduk mengelilingi semangkuk soto, es teh, dan beberapa gorengan yang baru saja mereka beli.

"Nyaman bener nih bangku."

Michel mengaduk kuah baksonya.

"Iya, Njir. Gue sampe bisa selonjorin kaki gua nih."

Rendy mengangguk.

"Lapangannya juga lengkap pas tadi gue lihat. Ada gawang sama ring basketnya. Entar kita main kesana yok!"

"Boleh, boleh. Gak sabar gua."

Rio ikut menyela sambil tertawa kecil.

"Guru-gurunya juga asik semua keknya."

"Enggak, Anjir! Cuma Pak Baihaqi yang punya aura berbeda."

Michel yang hendak menyahut terlalu antusias, tersedak kuah baksonya.

"Asli! Kek punya aura hitam yang bikin kelas langsung suram!"

"Goblok! Gak sopan lu!"

Tawa kecil pecah di meja mereka. Andito hanya sibuk menyuap baksonya.

Sampai...

"Oh iya, Dit."

Andito menghentikan sendoknya di udara.

"Menurut lu... cewek yang jadi teman sebangku lu gimana?"

Andito menurunkan suapan baksonya. Lalu berpikir beberapa detik.

"Hmm..."

"Kayaknya..."

"Dia pinter."

"Kalem."

"Terus..."

"...to the point banget., Gila."

Ia kembali mengingat percakapan mereka sepanjang pagi.

"Ngobrol sama dia tuh rasanya kek ngobrol sama AI."

"Sama AI?"

"Terlalu analis. Bikin gue bingung harus nimbrung kek mana."

"Itu lu-nya aja yang bego kali?"

Ketiga temannya langsung tertawa. Namun Andito tak menyangkal, karena ia memang sedikit lemah di bagian akademik.

"Oh iya. Terus, terus?"

Andito kembali melanjutkan.

"Dia tuh kayak nggak mau buang-buang energi. Ngomong seperlunya. Ya gitu dah pokoknya."

Andito kembali menyuap baksonya.

"Hahaha kasihan amat lu!"

Seakan belum puas akan mendengar penderitaan sahabat semenjak SMP-nya itu, Rendy terus mencoba menginterogasi.

"Terus?"

Andito yang belum sadar, kembali meletakkan suapannya.

"Apa yak? Mungkin rapi, harum..."

Senyum Rendy semakin menyeringai.

"Cantik juga."

...

Ucapannya terhenti. Seolah terlalu eksplisit menjelaskan tentang semuanya.

Seketika ia pun menoleh ke arah ketiga temannya yang menatap dirinya dengan tatapan penuh antusias.

Atau mungkin... tatapan penuh godaan yang merasa puas.

Rendy mengangkat sebelah alis.

"Bentar."

"Cantik?"

Andito ikut membeku.

"Hah?"

"Lu tadi bilang cantik?"

Michel langsung menyenggol bahunya.

"Baru sehari udah merhatiin segitunya."

Andito buru-buru menggeleng.

"Goblok! Namanya juga cewek!"

"Ya pasti gue sadar dia cantik, anjir!"

Kalimat yang keluar terlalu cepat.

Terlalu spontan.

Dan...

Terlalu mencurigakan.

"Hahahahahaha!"

Rendy langsung tertawa sambil menepuk bahu Michel. Membuat Michel langsung tersedak kuah sotonya.

"Goblok kaget! Gue hampir innanilahi, Anjir!"

"Liat tuh temen lu! Belum aja dua hari sekolah, udah masuk ke penilaian fisik aja si Dito!"

Andito berdecak kesal. Namun juga entah mengapa, pipinya ikut memanas.

"Dasar temen-temen biadap," gumamnya lirih.

Ia mengambil sendoknya lagi. Lalu mencoba untuk klarifikasi agar semuanya tak semakin runyam.

"Yaudah lah."

"Pokoknya..."

"...minusnya cuma satu."

Tawa mereka berhenti serentak.

"Apaan?"

"Irit ngomong."

Mereka bertiga mengerjap mencoba menelaah.

Namun sang narasumber malah kembali menyuap baksonya.

"Serius."

"Kalau gue nggak nanya..."

"...dia juga nggak bakal ngomong."

Rendy menyeringai.

"Hati-hati aja."

"Hati-hati apaan?"

"Biasanya yang pendiam gitu..."

"...sekali akrab malah paling susah dilepas."

Andito mendengus pelan.

"Ah ngaco lu."

Namun entah mengapa...

Bayangan seorang gadis berkacamata dengan wallpaper Nikola Tesla di ponselnya kembali muncul di benaknya.

Ia kembali mengunyah sesuap bakso. Namun tak sepenuhnya merasakannya.

Karena pikirannya kini justru membayang ke tiap interaksi yang Yuna keluarkan.

Cara bicaranya.

Cara berpikirnya.

Bahkan wallpaper Nikola Tesla yang muncul di layar ponselnya.

Yang tanpa Andito ketahui, bahwa gadis yang baru dikenalnya itu bukan sedang berusaha menjadi pintar.

Melainkan sedang mati-matian berusaha terlihat biasa.

1
Alia Chans
benci banget jam olahraga 😭😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
andito kaya nemu temen harta karun, pake nangis bjirrr... /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
mampus andito.. mampus.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
/Doge/
Arni Arlinawati pratiwi
yuna.. andito.. 😭😭 mampus, /Facepalm/
Hs Mochi
dan lebih berkesan pastinya. jd pengen sekolah lagiiiii...😢
Hs Mochi
kebayang seru tapi ribet sih. harus cari orang ngumpet di sekolah🤣
Hs Mochi
eh.. seru ini.. jd teringat masa sekolah dulu. harus gesit dan lincah
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!