NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Bayang-Bayang Mata Merah

Hari ketiga perjalanan membawa rombongan mereka semakin dekat ke Desa Millbrook, namun jalan yang mereka lalui kini dipenuhi pemandangan yang tidak biasa—rombongan pengungsi kecil berjalan berlawanan arah, membawa barang seadanya, wajah mereka dipenuhi keletihan dan ketakutan yang belum sepenuhnya pudar.

Sasuke memperlambat langkahnya, memperhatikan salah satu keluarga pengungsi yang berhenti sejenak di pinggir jalan untuk beristirahat—seorang ayah dengan anak kecil di gendongannya, dan seorang wanita tua yang berjalan tertatih dengan tongkat kayu.

"Permisi," Sasuke menyapa pelan, mendekat dengan hati-hati agar tidak terkesan mengancam. "Kalian dari mana?"

Sang ayah mendongak, matanya waspada sejenak sebelum melunak melihat wajah Sasuke yang tidak mengancam. "Dari daerah pinggiran Kerajaan Aldric, Tuan. Kami memutuskan pergi begitu kabar tentang istana menyebar."

"Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" Sasuke bertanya, berusaha menjaga nadanya tetap santai meski rasa penasarannya membuncah.

Wanita tua itu, yang duduk beristirahat di sebuah batu besar, menjawab dengan suara serak. "Tidak ada yang benar-benar tahu, Tuan Petualang. Yang jelas, dalam semalam, seluruh garnisun istana lenyap tanpa jejak—ratusan prajurit, hilang begitu saja. Cucuku yang bekerja sebagai pelayan dapur berhasil kabur, dan dia bilang melihat sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan."

"Apa yang dia lihat?"

Wanita tua itu bergidik, menggosok kedua lengannya sendiri meski udara tidak terlalu dingin. "Sesosok berjubah hitam, berjalan tenang melewati lorong-lorong istana seolah tidak ada seorang pun di sana. Matanya—cucuku bilang matanya menyala merah seperti bara, dan setiap kali sosok itu menoleh ke arah seseorang, orang itu langsung ambruk seketika, tanpa suara, tanpa luka yang terlihat."

Sasuke mengerutkan dahi mendengar deskripsi itu, pikirannya bekerja cepat menganalisis informasi yang baru saja ia terima. Bukan kekuatan yang menghancurkan dengan kekerasan brutal, melainkan sesuatu yang jauh lebih senyap dan efisien—kematian yang datang tanpa perlawanan sama sekali, tanpa jejak luka yang bisa dipelajari. Jenis kekuatan yang sulit diantisipasi justru karena caranya bekerja begitu tidak lazim.

“Entah teknik apa itu”pikirnya, menyimpan setiap detail dalam ingatannya. “Aku perlu tahu lebih banyak sebelum bisa menilai seberapa berbahaya sosok itu sebenarnya.”

"Terima kasih atas ceritanya," Sasuke berkata, memberikan beberapa koin perak dari kantungnya pada keluarga itu meski mereka tidak memintanya. "Semoga perjalanan kalian selanjutnya lebih aman."

---

Ia kembali ke rombongan dengan pikiran yang berkecamuk, mendapati Saviera sudah menunggunya dengan tatapan bertanya, Elaina berjalan di sampingnya sambil menggenggam tangan Saviera, wajahnya penuh keingintahuan meski tidak sepenuhnya memahami situasi yang sedang terjadi.

"Pengungsi dari Aldric," Sasuke menjelaskan singkat begitu mereka kembali berjalan. "Ceritanya semakin mengerikan setiap kali kudengar."

"Kau masih berencana menyelidikinya?" Saviera bertanya, suaranya tetap tenang meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

"Belum sekarang," Sasuke menjawab, melirik sekilas ke arah Elaina yang berjalan riang tidak jauh dari mereka. "Kita selesaikan misi ini dulu. Setelah itu, baru kita putuskan langkah selanjutnya."

---

Mereka tiba di Desa Millbrook menjelang senja, disambut hangat oleh penduduk desa yang telah menunggu kedatangan rombongan dagang Tuan Harwick. Barang-barang diturunkan dengan cepat, dan Tuan Harwick, dengan wajah berseri-seri penuh kelegaan, menyerahkan bayaran misi mereka lengkap dengan bonus tambahan.

"Kalian benar-benar penyelamat," katanya, menjabat tangan Sasuke dengan penuh semangat. "Jika suatu saat aku butuh pengawalan lagi, aku akan mencari kalian bertiga secara khusus!"

Malam itu, mereka menginap di penginapan kecil desa, menikmati hidangan hangat khas pedesaan sambil beristirahat dari perjalanan panjang tiga hari itu. Elaina, yang kelelahan namun bahagia, tertidur lebih cepat dari biasanya, meninggalkan Sasuke dan Saviera duduk berdua di ruang makan penginapan yang mulai sepi.

"Jadi," Saviera membuka percakapan, menyeruput teh hangatnya, "apa rencanamu sekarang?"

Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati. "Aku ingin pergi ke Aldric. Bukan untuk menghadapi sosok itu secara langsung—aku tidak sebodoh itu untuk mengira diriku sudah cukup kuat menghadapi sesuatu yang bisa membunuh ratusan prajurit dalam semalam tanpa perlawanan. Tapi aku ingin melihat sendiri, mengumpulkan informasi lebih banyak."

"Kita," Saviera mengoreksi lembut, menatapnya lurus. "Kita ingin pergi ke Aldric."

Sasuke menatapnya, sedikit terkejut dengan ketegasan dalam suaranya.

"Aku sudah bilang," Saviera melanjutkan, senyum kecil namun penuh keyakinan di wajahnya, "kau tidak perlu memikul semuanya sendirian lagi. Itu berlaku untuk apa pun yang kau hadapi, termasuk misteri-misteri baru yang muncul di sepanjang jalan kita."

Sasuke menatapnya lama, sesuatu yang hangat menjalar di dadanya—perasaan yang masih terasa asing namun semakin sering muncul akhir-akhir ini, sejak pertemuan mereka di dungeon yang kini sudah runtuh.

"Baiklah," ia akhirnya berkata, senyum kecil muncul di wajahnya. "Kita ke Aldric."

Di luar jendela penginapan, malam Astral yang dipenuhi bintang asing menyaksikan awal dari babak baru dalam perjalanan mereka—satu misteri yang baru saja mulai terungkap, dan entah berapa banyak lagi yang menanti di depan.

---

*Bersambung ke Bab 14: Menuju Aldric*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!