Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005
Astoria Teknologi
Kunci itu tetap berada di meja kerja Seraphina selama tiga hari.
Ia tidak memakainya. Tidak menghubungi Reynard. Tidak mengirim pesan untuk bertanya kunci apa itu, rumah siapa, pintu mana, atau seberapa lama sebenarnya pria itu menunggunya.
Setiap pagi, setelah mandi dan mengenakan blazer, Seraphina hanya menatap benda kecil itu selama beberapa detik. Lalu ia memasukkannya kembali ke kotak laci paling atas, mengunci laci, dan berangkat ke kantor.
Kalau malam itu adalah mimpi, ia tidak akan membiarkan mimpi mengambil alih hidupnya.
Hidupnya sudah cukup lama diatur orang lain.
Kantor PT Astoria Teknologi menempati satu lantai kecil di gedung komersial lama dekat Kuningan. Bukan gedung paling baru, bukan gedung paling mewah, tetapi cukup bersih dan punya jaringan internet stabil. Bagi Seraphina, itu lebih penting daripada lobi marmer dan lift beraroma parfum.
Papan nama perusahaan baru dipasang pagi itu.
PT ASTORIA TEKNOLOGI
Huruf-hurufnya belum sempurna menempel di dinding kaca ketika seorang teknisi gedung berdiri menyamping, menatap Seraphina dengan ragu.
"Bu, posisi huruf A terakhir agak miring. Mau kami betulkan sekarang?"
Seraphina mengangkat kepala dari tablet. "Miring dua milimeter ke kanan."
Teknisi itu berkedip. "Ibu bisa lihat dari sini?"
"Bisa. Kalau nanti kami membuat sistem pengenalan objek untuk drone, dua milimeter bisa mengubah keputusan mesin."
Teknisi itu tertawa canggung karena tidak yakin apakah ia sedang bercanda. "Baik, Bu. Saya betulkan."
Di dalam kantor, enam meja kerja sudah terisi. Tidak banyak orang, tetapi setiap orang dipilih langsung oleh Seraphina setelah melewati wawancara yang membuat dua kandidat keluar dengan wajah pucat. Ada insinyur backend, spesialis keamanan data, analis sistem, dua programmer muda, dan satu staf operasional yang pandai mengurus hal-hal praktis sebelum diminta.
Tidak ada yang memanggilnya nona.
Di sini, mereka memanggilnya Bu Sera.
"Bu Sera," panggil salah satu programmer dari mejanya, "model deteksi anomali untuk simulasi lalu lintas pelabuhan masih false positive di jam sibuk. Kalau threshold diturunkan, noise-nya naik."
Seraphina mendekat, meletakkan tas di kursi tanpa duduk. "Tunjukkan log lima menit terakhir."
Layar monitor penuh angka, grafik, dan baris kode. Ia membaca cepat. Jari telunjuknya berhenti di satu kolom.
"Bukan threshold. Data latihnya bias. Kalian pakai pola Surabaya untuk skenario Jakarta."
Programmer itu mengernyit. "Tapi dataset Jakarta dari vendor belum lengkap."
"Maka jangan percaya vendor."
Ia mengambil keyboard, mengetik beberapa baris, membuka modul tambahan yang ia simpan semalam. Ruangan mendadak sunyi. Hanya terdengar suara jarinya menekan tombol, cepat dan teratur.
Lima menit kemudian, grafik berubah.
False positive turun hampir setengah.
Analis sistem yang duduk di belakangnya spontan berbisik, "Gila."
Seraphina menoleh.
Pria itu langsung duduk tegak. "Maaf, Bu."
"Tidak apa-apa. Asal setelah kagum, kalian bisa mengulang sendiri."
Beberapa orang tertawa kecil. Ketegangan pagi itu pecah.
Seraphina berdiri di tengah kantor kecilnya, melihat layar-layar yang menyala, kabel yang belum sepenuhnya rapi, kardus perangkat yang masih menumpuk di sudut. Bagi orang seperti Yolanda, tempat ini mungkin tampak seperti bisnis kecil dari perempuan yang ingin terlihat sibuk. Bagi Hendrawan, mungkin hanya aset tambahan yang bisa dipamerkan kalau menguntungkan.
Namun bagi Seraphina, ruangan ini adalah wilayah yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Bukan dari nama Lim.
Bukan dari belas kasihan siapa pun.
Ia menyusun konsep Astoria sejak masih di Surabaya, di sela riset sistem cerdas dan proyek keamanan data yang tidak pernah ia pamerkan ke lingkaran sosial Jakarta. Ia belajar dari dosen yang keras, laboratorium yang lampunya sering mati, dan mentor yang lebih peduli pada hasil daripada nama keluarga. Sebagian portofolionya bahkan tidak bisa ia buka sembarangan karena pernah bersinggungan dengan riset pertahanan.
Itu sebabnya ia sengaja terlihat biasa saja.
Orang-orang yang meremehkannya akan lebih mudah melakukan kesalahan.
Menjelang siang, staf operasional masuk membawa map kuning tebal.
"Bu, ini dokumen dari notaris. Akta final, NPWP perusahaan, dan pembukaan rekening korporasi sudah selesai. Tinggal tanda tangan untuk pengajuan izin tambahan."
Seraphina menerima map itu. "Bagus. Jadwalkan rapat legal sore ini."
"Sudah, Bu. Jam empat."
"Vendor perangkat?"
"Datang jam dua."
"Investor kecil yang kemarin memaksa bertemu?"
Staf itu tersenyum tipis. "Saya bilang Ibu tidak menerima orang yang memanggil AI sebagai aplikasi sulap."
Seraphina akhirnya tertawa pelan. "Pertahankan kalimat itu."
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, tawa itu terasa keluar tanpa dipaksa.
Namun rasa ringan itu tidak bertahan lama.
Pukul tiga lewat sedikit, resepsionis gedung menelepon. Ada kurir khusus yang membawa dokumen atas nama Seraphina Lim, hanya boleh diterima langsung oleh dirinya.
Seraphina keluar ke area depan kantor. Seorang pria berseragam hitam menyerahkan amplop putih tebal dengan logo emas yang terlalu mudah dikenali.
Hartono Group.
Jantungnya bergerak lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Dari siapa?"
"Pak Rey," jawab kurir itu sopan. "Beliau meminta saya memastikan dokumen ini sampai di tangan Bu Sera."
Bu Sera.
Bukan Bu Lim.
Seraphina menandatangani tanda terima, lalu kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu kaca sebelum membuka amplop.
Di dalamnya ada surat resmi kerja sama strategis antara Hartono Group dan PT Astoria Teknologi untuk pengembangan sistem analitik infrastruktur cerdas. Bahasanya rapi, legal, dingin. Nilai proyeknya cukup besar untuk membuat perusahaan kecil seperti Astoria langsung dilirik seluruh kota.
Di halaman terakhir, tanda tangan digital dan nama tercetak:
Reynard Hartono.
Di atas kartu nama yang diselipkan di antara dokumen, ada satu baris tulisan tangan.
Bisnis, bukan pribadi.
Seraphina menatap kalimat itu lama.
Lalu matanya turun ke laci meja yang terkunci, tempat kunci kecil dari Reynard masih tersimpan.
"Pembohong," gumamnya pelan.