Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aroma melati yang menguar dari roncean di sanggulnya membuat perut Cia bergejolak. Atau mungkin, itu bukan karena melati. Mungkin itu karena fakta bahwa dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit, statusnya di Kartu Tanda Penduduk akan berubah secara permanen.
Cia duduk kaku di tepi tempat tidur kamarnya, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Kebaya putih tulang bertahtakan payet mutiara membalut tubuhnya dengan pas. Wajahnya yang biasa polos tanpa riasan kini disulap menjadi begitu anggun, dengan sapuan blush on persik dan lipstik merah muda yang lembut.
Namun, matanya tak bisa berbohong. Ada jejak kelelahan dan ketegangan di sana, sisa-sisa badai emosi semalam suntuk.
"Tarik napas, Ci. Lo kelihatan kayak mau dieksekusi mati, bukan mau dinikahin," tegur Nayla yang sedari tadi sibuk merapikan juntaian kain batik di pinggang Cia.
Cia mengembuskan napas panjang, meremas jemarinya yang dingin sedingin es. "Gue masih ngerasa ini semua halusinasi, Nay. Semalam dia datang dengan seragam penuh lumpur dan darah, nyaris bikin gue jantungan. Terus sekarang... gue beneran mau nikah sama dia?"
Nayla tersenyum lembut, sebuah ekspresi langka dari sahabatnya yang biasanya bar-bar itu. Ia berjongkok di depan Cia, menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Dia pulang buat lo, Ci. Di saat logikanya dia bisa aja langsung masuk ruang medis atau istirahat di barak, dia milih ngebut ke sini buat nepatin janjinya sama keluarga lo," ucap Nayla bersungguh-sungguh. "Gue nggak tahu sekeras apa Kapten Kulkas lo itu, tapi satu hal yang pasti, dia cowok yang pegang omongan. Lo aman sama dia."
Ucapan Nayla sedikit meredakan gemuruh di dada Cia, tepat saat pintu kamar diketuk. Rania melongokkan kepalanya dari balik pintu, tersenyum menenangkan.
"Cia, sudah siap? Rombongan mempelai pria sudah duduk di depan penghulu. Ayahmu minta kamu turun sekarang."
Jantung Cia serasa melompat dari tempatnya. Waktunya tiba.
Dengan bantuan Nayla dan Rania, Cia melangkah keluar kamar, menuruni tangga rumahnya perlahan. Ruang tamu luas yang semalam menjadi saksi bisu tangis keputusasaannya, kini telah disulap menjadi area akad nikah yang sakral. Kain putih membentang, bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut.
Dan di tengah ruangan itu, duduk berhadapan dengan ayahnya, adalah pria itu.
Ren Adhyaksa tidak lagi mengenakan seragam loreng yang kotor. Pria itu dibalut PDU (Pakaian Dinas Upacara) berwarna hijau tua yang disetrika tanpa satu pun lipatan berlebih. Medali dan brevet kebanggaan berjajar rapi di dada kirinya. Rambutnya dipotong rapi sesuai standar militer.
Namun, yang membuat dada Cia berdesir bukan hanya ketampanan pria itu yang berlipat ganda dalam balutan seragam kebesaran. Di pelipis kiri Ren, luka yang semalam hanya ditutupi plester kasa kasar, kini telah dibersihkan dan ditutupi perban medis yang lebih rapi, meski sudutnya masih memperlihatkan sedikit memar kebiruan.
Ren menoleh saat mendengar langkah kaki Cia. Sepasang mata elang itu mengunci sosok Cia yang berjalan menunduk. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajah tegasnya, namun rahang Ren yang sedikit menegang dan jakunnya yang naik turun menelan ludah menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak kebal terhadap pemandangan di depannya.
Cia didudukkan di kursi tepat di sebelah Ren. Aroma kayu pinus dan mint yang maskulin menyapa indra penciuman Cia, bercampur dengan aroma samar antiseptik.
"Sudah siap, Kapten?" tanya Pak Penghulu dengan senyum kebapakan.
Ren menarik pandangannya dari Cia, menatap lurus ke arah ayah mertuanya, lalu mengangguk mantap. "Siap, Pak."
Ayah Cia meraih tangan kanan Ren, menjabatnya erat. Cia menahan napas. Ruangan mendadak hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan jepretan pelan kamera fotografer.
"Saudara Ren Adhyaksa bin Arman Adhyaksa," suara Ayah terdengar lantang, sedikit bergetar oleh emosi yang tertahan. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Almeera Cia binti Herman Prasetyo, dengan maskawin seperangkat alat salat dan logam mulia seberat lima puluh gram, dibayar tunai."
Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Dalam satu helaan napas yang tenang, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak, Ren membalas jabat tangan itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Almeera Cia binti Herman Prasetyo dengan maskawin tersebut, tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
Kata 'sah' yang menggema dari para saksi dan keluarga seolah menjadi palu godam yang meruntuhkan dinding antara dua dunia yang berbeda. Cia menunduk, air mata hangat menetes membasahi pipinya tanpa bisa ditahan. Bukan air mata ketakutan seperti sebulan yang lalu, melainkan sebuah perasaan kompleks yang terlalu asing untuk ia jabarkan.
Tangan besar Ren bergerak meraih tangan Cia. Ibu jarinya yang kasar dengan lembut mengusap punggung tangan gadis itu. Cia perlahan mengangkat wajahnya, membawa tangan suaminya itu ke bibirnya dan mencium punggung tangan Ren dengan takzim.
Kilat kamera kembali menyala saat bibir Ren menyentuh puncak kepala Cia yang berbalut sanggul melati. Hangat. Terlalu hangat hingga rasanya melelehkan sekeping es di dalam hati Cia.
"Terima kasih sudah bertahan," bisik Ren di sela-sela ciumannya pada puncak kepala Cia, suaranya sangat pelan, hanya untuk didengar oleh gadis itu.
Acara resepsi kecil-kecilan untuk keluarga dan kerabat dekat berlangsung hingga sore hari. Berdiri berjam-jam menyalami tamu membuat kaki Cia yang dibalut sepatu hak setinggi lima sentimeter terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
Setiap kali Cia sedikit oleng atau menggeser tumpuan kakinya, tangan kokoh Ren selalu berada di punggung bawahnya, menopangnya dengan stabil tanpa perlu diminta. Pria itu berbicara seperlunya dengan tamu, wajahnya kembali datar, namun perlakuannya terhadap Cia adalah hal yang sangat berbeda.
"Selamat, Ndan! Akhirnya laku juga," suara Bima yang ceria memecah hiruk-pikuk. Letnan Satu itu datang dengan kemeja batik rapi, tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
Di sebelah Bima, berdiri Lettu Maya Alesha, tampil anggun namun tetap tegas dengan kebaya kutubaru berwarna marun. Senyum di bibir Maya terlihat sempurna, namun matanya yang memindai Cia dari atas ke bawah memancarkan sesuatu yang lain.
"Selamat atas pernikahannya, Kapten Ren," ucap Maya sopan, menyodorkan tangannya.
Ren membalas jabatan tangan itu sekilas. "Terima kasih, Maya."
Maya beralih menatap Cia. "Selamat, Mbak Cia. Anda sangat beruntung. Tidak mudah menjadi istri seorang prajurit lapangan, apalagi komandan sekelas Kapten Ren. Banyak waktu dan ego yang harus dikorbankan. Saya harap Anda siap."
Nada suaranya halus, namun kata-katanya terasa seperti peringatan tersembunyi. Cia, yang terbiasa menghadapi puluhan konsulen galak di rumah sakit, tentu saja menangkap sinyal itu. Bukannya menciut, Cia justru mengangkat dagunya sedikit, membalas senyum Maya dengan senyum manis yang mematikan.
"Terima kasih, Mbak Maya. Kalau soal ego, saya ini koas kedokteran, ego saya sudah habis dihajar di rumah sakit setiap hari," balas Cia tenang. "Dan soal waktu, saya rasa itu tugas kami berdua untuk mencarinya. Bukan begitu, Mas?"
Cia sengaja memanggil Ren dengan sebutan 'Mas', merapatkan tubuhnya sedikit ke sisi pria itu. Ren menoleh, menatap Cia dengan sedikit kilat keterkejutan di mata elangnya sebelum sebuah rasa geli yang sangat tipis melintas di sana.
Tangan Ren di punggung Cia sedikit mengerat. "Istri saya benar, Maya. Rumah tangga adalah medan operasi kami berdua sekarang."
Wajah Maya sedikit menegang, meski ia segera menutupinya dengan senyum kaku. Bima buru-buru berdeham, menengahi suasana sebelum bertambah canggung. "Wah, udah lapar nih gue. Ke gubuk sate dulu ya, Ndan. Mari, Mbak Cia."
Begitu mereka berlalu, Cia menghela napas panjang, seketika melepas pelukannya dari lengan Ren. Pria itu menatapnya dari sudut mata.
"Kamu cemburu?" tanya Ren datar.
"Dih, GR banget," cibir Cia pelan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Gue—maksudnya, aku, cuma nggak suka nada bicaranya. Kesannya meremehkan banget. Dia pikir istri tentara cuma tahu cara nangis doang?"
Ren tidak menjawab, namun sudut bibirnya kembali berkedut samar.
Pukul sepuluh malam.
Rumah berangsur sepi. Para tamu sudah pulang, keluarga inti sudah masuk ke kamar masing-masing karena kelelahan. Cia melangkah masuk ke dalam kamarnya, tangannya sibuk memijat pelipisnya yang berdenyut pusing akibat jepitan sanggul yang terlalu kuat.
Begitu pintu ditutup, atmosfer di dalam kamar yang biasanya menjadi tempat paling aman bagi Cia, mendadak berubah menjadi arena canggung yang menegangkan.
Ren sedang berdiri membelakanginya, di dekat jendela. Seragam kebesarannya sudah ia tanggalkan dan disampirkan di sandaran kursi. Pria itu kini hanya mengenakan celana dinas dan kaus dalam putih tanpa lengan khas militer.
Langkah Cia terhenti. Udara serasa tersangkut di kerongkongannya. Dari belakang, punggung suaminya terlihat begitu lebar dan kokoh, dengan otot lengan yang tercetak jelas di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Namun, bukan itu yang membuat mata Cia membelalak ngeri.
Di punggung kanan Ren, tepat di area tulang belikatnya, kaus putih itu basah oleh bercak merah pekat yang mulai melebar. Darah segar.
Ren berbalik saat mendengar suara pintu tertutup. Napas pria itu sedikit lebih berat dari biasanya, dan wajahnya, yang sepanjang hari terlihat tangguh, kini tampak jauh lebih pucat. Ada keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya.
"K-kamu berdarah!" pekik Cia tertahan. Panik seketika mengambil alih kecanggungannya. Insting dokternya menyala bagai sirene ambulans.
Ia melempar tas jinjingnya ke atas ranjang dan setengah berlari menghampiri Ren. Tanpa ragu, tangan mungil Cia menyentuh lengan pria itu. Kulit Ren terasa dingin.
"Duduk di tepi kasur, sekarang!" perintah Cia dengan nada otoriter, melupakan fakta bahwa pria di depannya adalah perwira menengah bersenjata.
Ren sedikit terkejut dengan perubahan nada suara Cia, namun rasa nyeri yang sedari tadi ia tahan sepanjang acara resepsi membuatnya patuh tanpa banyak perlawanan. Ia duduk di tepi ranjang, menahan erangan saat bahunya bergerak.
"Ini cuma luka serempet, jahitannya mungkin sedikit terbuka," ucap Ren dengan suara parau.
"Sedikit terbuka apanya?! Ini pendarahan aktif, Kapten!" omel Cia, membuka laci meja belajarnya dengan kasar, mengeluarkan kotak P3K berukuran sedang yang selalu ia simpan. Ia kembali ke hadapan Ren dengan wajah serius.
"Buka bajumu," perintah Cia mutlak, tangannya mulai merobek bungkus kasa steril dan botol cairan NaCl.
Ren menatap Cia. Ada keraguan di mata tajam itu, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Cia, ini tidak pantas dilihat oleh—"
"Aku dokter! Calon dokter, maksudnya!" potong Cia tajam, matanya menatap tajam langsung ke mata Ren. "Dan sekarang aku juga istrimu. Jadi berhenti bersikap sok pahlawan yang tahan banting. Buka kausnya sebelum aku panggil Papa ke sini bawa gunting taman!"
Ren menghela napas pasrah. Dengan gerakan lambat yang diwarnai ringisan tertahan, pria itu menarik kaus putihnya melewati kepala dan melemparnya ke lantai.
Cia menahan napas untuk kedua kalinya malam itu.
Dada dan perut pria itu dipenuhi oleh otot yang terbentuk sempurna, pahatan kasar dari disiplin militer bertahun-tahun. Namun bukan itu yang membuat dada Cia sesak. Tubuh Ren adalah sebuah kanvas kelam dari pertempuran. Ada bekas luka tembak tua di tulang rusuk kirinya, luka sayatan memanjang di perut samping, dan kini... luka jahitan segar sepanjang tujuh sentimeter di bahu belakang yang merembeskan darah karena gesekan PDU yang ketat seharian penuh.
"Kamu gila," bisik Cia dengan suara bergetar. Tangannya yang mengenakan sarung tangan medis mulai membersihkan darah dengan hati-hati menggunakan kasa yang dibasahi NaCl. "Kamu memaksakan diri pakai seragam ketat seharian dengan luka begini? Apa komandanmu nggak mengajarimu soal infeksi?"
Ren sedikit menegang saat cairan dingin itu menyentuh luka terbukanya, namun ia menahan diri untuk tidak bergerak, membiarkan jemari Cia yang cekatan dan lembut bekerja di kulitnya.
"Keluargamu butuh aku berdiri tegak hari ini, Cia," jawab Ren rendah, kepalanya sedikit menunduk. "Dan aku tidak akan memulai pernikahan kita dengan menunjukkan kelemahan."
Tangan Cia terhenti sejenak. Matanya terasa panas. Pria kaku yang ia sebut 'kanebo kering' ini rela menahan sakit luar biasa hanya demi menjaga kehormatan keluarganya di depan para tamu.
Cia menempelkan perban baru dengan hati-hati, lalu menepuk pelan bahu Ren yang tak terluka. "Sudah selesai. Jahitannya aman, tapi jangan terlalu banyak gerak dulu malam ini."
Ren memutar tubuhnya perlahan, menatap Cia yang sedang membereskan sisa kasa kotor. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan.
Cia yang baru menyadari posisinya, mendadak salah tingkah. Pria di depannya bertelanjang dada, menatapnya dengan tatapan gelap dan intens yang membuat napas Cia kembali berantakan.
"T-terima kasih, Kapten," gumam Cia gugup, memundurkan tubuhnya sedikit.
Ren menahan pergelangan tangan Cia dengan lembut, mencegah gadis itu menjauh. Matanya menatap lurus ke dalam mata Cia, menembus dinding pertahanan gadis itu hingga ke dasar.
"Kemasi barang-barangmu besok pagi, Cia," ucap Ren, suaranya rendah dan dalam, menyapu wajah Cia layaknya angin malam.
"K-kemasi? Mau ke mana?"
"Mulai besok," Ren memberi jeda, membiarkan ibu jarinya mengusap pelan denyut nadi di pergelangan tangan Cia yang berdetak tak karuan. "Kamu akan pindah ke rumah dinas militer bersamaku. Di barak."
Cia mematung. Kehidupan setelah pernikahan yang sebenarnya, dengan segala aturan dan dunianya yang asing, baru saja akan dimulai besok pagi.