Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Tanaman yang Tidak Dikenal
Suara tawar-menawar terdengar dari segala penjuru pasar
Feng Bai Hu berdiri diam bersama Tie Niu
Tatapannya tertuju pada sebuah lapak sederhana di sudut pasar.
Seorang pria paruh baya berpakaian lusuh sedang duduk di belakang meja kayu.
Di atas meja itu terletak beberapa tanaman spiritual.
Sebagian besar merupakan tanaman biasa.
Rumput Roh.
Daun Angin.
Bunga Embun.
Namun ada satu tanaman yang menarik perhatian Bai Hu
Tanaman itu memiliki batang keperakan.
Daunnya berbentuk seperti bintang.
Dan pada ujung batangnya tumbuh bunga kecil berwarna biru tua.
Bai Hu mengernyit.
Ia belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya.
Ia merasa tanaman itu berbeda.
"paman berapa harga tanaman itu?"
tanya Bai Hu.
Pedagang itu menoleh.
Melihat seorang bocah gendut berdiri di depannya.
"Yang mana?"
"Yang ini."Bai Hu menunjuk tanaman berdaun bintang.
Pedagang itu menggaruk kepala.
"Oh, yang itu,Aku tidak tahu namanya,Aku menemukannya di dekat tebing Pegunungan Seribu Binatang,Karena terlihat cantik, aku membawanya."
Bai Hu memperhatikan tanaman itu lebih seksama.
Anehnya,Tidak ada energi spiritual yang terpancar.
Namun instingnya terus mengatakan bahwa tanaman itu tidak sederhana.
"Berapa harganya paman?"
Pedagang itu berpikir sejenak.
"Lima puluh koin perak."
Bai Hu hampir tersedak.
"Lima puluh?"
"Iya." ucap pedagang
"Itu terlalu mahal." ucap Bai hu penuh keluhan
"Kalau begitu berapa menurutmu?"
"Dua puluh."
"Tidak mungkin."
"Dua puluh lima."
"Terlalu rendah."
"Tiga puluh."
Pedagang itu menggeleng.
"Tidak bisa."
"Tiga puluh lima."
"Tidak."
"Empat puluh."
Pedagang itu mulai ragu.
Bai Hu langsung tahu pedagang mulai goyah.
"Empat puluh dan aku bayar sekarang."
Pria itu menghela napas.
"Lupakan."
"Empat puluh." ucap Bai hu lagi
"Baiklah." pedang itu menghembuskan nafas pasrah
Senyum Bai Hu langsung mengembang.
Kesepakatan tercapai.
Setelah transaksi selesai.
Tie Niu yang berdiri di sampingnya tampak kebingungan.
"kenapa membeli tanaman yang tidak diketahui?"
Bai Hu mengangkat bahu.
"Aku juga tidak tahu.Hanya penasaran." Bai hu menjelaskan
Tie Niu langsung menyerah.
Ia sama sekali tidak memahami cara berpikir sahabatnya.
Siang hari setelah berkeliling,, Tie Niu kembali membantu ayahnya sedangkan
Bai Hu kembali dan membawa tanaman tersebut kembali ke rumah.
Sesampainya di kediaman keluarga.
Ia langsung menuju perpustakaan.
Perpustakaan Keluarga Feng tidak terlalu besar.
Namun cukup untuk menyimpan berbagai catatan tanaman spiritual tingkat rendah.
Bai Hu mulai membuka buku satu per satu.
Ia membaca tanpa henti.
Hal yang sangat jarang terjadi.
Mungkin jika para tetua melihatnya.
Mereka pasti akan menangis haru.
Karena akhirnya si jenius keluarga mau belajar.
Sayangnya.
Yang dipelajari bukan teknik kultivasi.
Menjelang sore.
Bai Hu akhirnyadapat bernapas lega setelah menemukan sesuatu.
Dalam sebuah buku tua.
Terdapat gambar yang hampir identik dengan bunga yang ia bawa.
Matanya langsung membesar.
"Bintang Perak Biru."
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Menurut catatan tersebut.Bintang Perak Biru merupakan bahan utama untuk meracik Pil Penguat Tulang.
Pil yang sangat populer di kalangan kultivator Penempaan Tubuh.
Tanaman ini sangat sulit ditemukan.
Karena hanya tumbuh di daerah tertentu.
Nilainya jauh lebih tinggi dibanding tanaman spiritual biasa.
Bai Hu membaca sampai akhir.
mengulang dan memastikan dirinya tidak salah.
Setelah itu.
Senyum perlahan muncul di wajahnya..
"Empat puluh koin perak."
gumamnya.
"Hahaha..."
Senyumnya semakin lebar.
"Hahahaha!"
Tak lama kemudian.
Suara tawa aneh seorang bocah bergema dari dalam perpustakaan.
Beberapa pelayan yang lewat langsung merinding.
ketika Bai Hu kembali ke kediaman ia berpapasan dengan ibunya yang juga baru kembali ,,
"Bai Hu,, kenapa baru kembali,, ?? " ucap Liu Mei lan penuh tanya
Bai Hu menggaruk kepala belakangnya " Hehe ibu Aku baru kembali dari perpustakaan , "
Liu Mei Lan mengerutkan kening, memastikan bahwa ia tidak salah mendengar " dari perpustakaan? "
"Ibu , aku benar dari perpustakaan ,, tidak bohong aku baru selesai membaca mempelajari beberapa hal " ucap Bai Hu Memerasa tidak puas
Mendengar Itu Liu Mei lan tersenyum ,,, " Hehehe iya iya ibu percaya, Baiklah , ibu hanya mau memberi tahu bahwa kakakmu Tian yu , dan Yun he telah kembali ke sakte mereka ,, sedangkan Ling yun mengikuti Tian yu kembali ke sakte untuk ikut belajar / memasuki sakte ,, "
"Oh , baguslah " ucap Bai hu Dengan nada kesal lalu berlalu pergi menuju kamarnya ,,
Liu Mei Lan yang melihat itu hanya dapat tersenyum kecil ,, ia tau bahwa Bai Hu kesal karna kakak-kakaknya bahkan tidak menemuinya terlebih dahulu sebelum kembali ke sakte,
Keesokan paginya.
Bai Hu kembali ke pasar menemui Tie Niu kemudian
langsung menuju tempat pedagang kemarin.
Pria itumasih berada di sana.
ketika pedagang melihat Bai Hu datang.
Ia tersenyum.
"Hei Kau kembali lagi bocah gendut."
"Iya aku kembali paman ."
kemudian Bai Hu menunjuk tanaman bintang perak biru lain yang ada di lapak.
"Paman apa Semua tanaman seperti kemarin berasal dari tempat yang sama?"
Pedagang itu mengangguk.
"Benar sekali"
Mata Bai Hu langsung berbinar.
"Apa masih ada?"
"ya masih banyak." jawab pedagang itu
"Di mana?"Baihu kembali bertanya
Pria itu tertawa.
"Kau mau mencari sendiri, kenapa tidak beli saja kepadaku?"
" Tentu aku ingin mencarinya sendiri, uangku habis paman "jawab Bai Hu tersenyum
Pria itu menggeleng ,, kemudian menjelaskan lokasi tebing tempat ia menemukan tanaman tersebut.
Bai Hu mendengarkan dengan seksama.
Kemudian mengangguk puas.
Saat hendak pergi.
Pria itu tiba-tiba bertanya.
"hei bocah,, apa kau tahu sesuatu tentang tanaman itu?"
Bai Hu berhenti.
Lalu tersenyum polos.
"Tidak tau paman."
ucapnya kemudian ia pergi.
Bai Hu berjalan bersama Tie Niu mengikuti arah yang di tunjukan pedagang tadi,, hingga sampai di Pegunungan Seribu Binatang yang berdiri megah.
Hutan lebat membentang sejauh mata memandang.
Suara monster terdengar dari kejauhan.
Bagi kebanyakan anak berusia tujuh tahun.
Tempat ini sangat menakutkan.
Namun Bai Hu justru terlihat bersemangat.
Di sampingnya.
Tie Niu membawa keranjang besar.
"Kau yakin ini aman?"
tanya Tie Niu.
"Ya aku yakin,, selama kita tidak masuk terlalu dalam."
jawab Bai Hu.
Mereka terus berjalan.
Mengikuti petunjuk yang diberikan pedagang kemarin.
"hey kita sudah berjalan 1 jam lebih , apa tempatnya masih jauh?" ucap Tie Niu
,"Entahlah , mungkin masih jauh , mungkin juga tidak , sialan aku lelah sekali,, kita istirahat dulu disini ,, " ucap Bai Hu dengan napas yang berantakan
Mereka dudu sembari mengeluarkan air minum dan makanan ala kadarnya,,
jalan yang mereka lewati cukup aman karna bukan area yang di tandai Berbahaya ,
Setelah beberapa saat beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan perlahan hingga mereka tiba di ujung jalan dengan sebuah tebing yang cukup curam ,,
saat melihat sekeliling.
Mata Bai Hu langsung membelalak.
Tie Niu di sampingnya ikut terpana.
Di sekitar tebing.
Tumbuh puluhan tanaman Bintang Perak Biru.
Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang Bai Hu bayangkan,,.
Bai Hu merasa jantungnya hampir melompat keluar.
Dalam pandangannya.
Itu bukan tanaman.
Itu adalah tumpukan batu roh.
Puluhan.
Mungkin ratusan.
Bahkan lebih.
"Hahaha, akhirnya ketemu hahahahaha."
Ia mulai tertawa.
Tie Niu menelan ludah.
Ia sudah mengenal Bai Hu cukup lama.
Dan pengalaman mengajarinya satu hal.
Semakin mengerikan tawa Bai Hu.
Semakin besar keuntungan yang akan diperoleh.
Tak lamab,, Bai Hu mulai mengajari Tie Niu cara memanen tanaman bintang perak biru yang telah ia ketahui dari membaca di perpustakaan kemarin,, mereka mulai memanen tanaman dengan hati-hati.
Satu per satu.
Tidak ada yang terlewat.
Bai Hu menyisakan sebagian akar agar tanaman baru bisa tumbuh lagi di masa depan.
Mereka bekerja hingga matahari mulai tenggelam tidak mengambil tumbuhan di area tempat yang tidak terjangkau.
Keranjang Tie Niu penuh.
" Bai kurasa kita harus pulang."
kata Tie Niu.
Bai Hu mengangguk.
Namun sebelum pergi.
Ia sekali lagi melihat area tersebut.
Kemudian tersenyum.
Saat perjalanan pulang , itu cukup cepat ,, jauh lebih cepat dari waktu berangkat ,
"Bai, Aku akan pulang, jadi bagai mana dengan keranjang ini? Apa akan kau bawa ke rumah atau titip di tempatku? " Tie Niu bertanya
"Aku saja yang bawa " ucap Bai Hu tanpa pikir panjang ,,
Sesampainya di rumah hari sudah sore,
Ayahnya Fang Zhen Hai jarang dirumah bisa juga di katakan tidak pernah dirumah , sibuk dengan pekerjaan karna Ayahnya memegang jabatan kepala cabang
Sedangkan ibunya juga sesekali membantu pekerjaan ayahnya, hingga Bai Hu sudah terbiasa sendiri , toh makanan selalu di siapkan untuknya jadi dia tidak ambil pusing ,, apalagi uang jatah untuk kebutuhan dia selalu di kirimkan jadi dia tidak mempermasalahkan,
Malam hari.
Di kamar.
Bai Hu menghitung hasil panen.
Lebih dari empat puluh tanaman.
Nilai totalnya sangat besar bagi seorang anak.
Namun ia tidak langsung menjual semuanya.
Sebaliknya.
Ia mulai berpikir.
Jika dijual mentah.
Keuntungannya memang lumayan.
Tetapi masih kurang.
Jika diolah menjadi pil.
Nilainya akan berlipat ganda.
Masalahnya Ia tidak tahu cara membuat pil.
Sebuah ide muncul.
Matanya langsung berbinar.
"hehehehe,,,Keluarga Feng punya aula alkimia aku bisa memanfaatkanya hehehee."
Senyumnya semakin lebar.
Bersambung....
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut