Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMUTAR BALIKAN WAKTU.
Keesokan paginya, suara alarm dari ponsel Kirana berbunyi dengan sangat keras, memecah keheningan pagi yang masih buta. Kirana mengerang pelan, meraba nakas di samping tempat tidurnya, lalu mematikan dering yang bising itu. Ia melirik sekilas ke arah layar. Angka di sana masih menunjukkan pukul 4.10 pagi.
"Sebentar lagi... sepuluh menit lagi," gumam Kirana dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Ia berniat memejamkan matanya kembali untuk menyambung mimpi. Namun, saat kepalanya kembali menyentuh bantal, Kirana merasakan sesuatu yang aneh. Perasaannya hari ini terasa agak lain. Dadanya terasa jauh lebih ringan. Padahal seingatnya, semalam ia menangis tanpa henti hingga dadanya sesak karena meratapi surat ucapan ulang tahun dari Damar. Biasanya, setelah menangis sehebat itu, kepalanya akan langsung terasa pusing luar biasa saat terbangun, dan kelopak matanya akan membengkak parah. Kirana ingat betul, pada hari pertama suaminya meninggal, matanya bahkan sampai bengkak dan sulit untuk dibuka.
"Tapi kenapa hari ini tubuhku terasa sangat ringan?" gumam Kirana lagi, matanya masih terpejam rapat.
Rasa kantuknya perlahan memudar, digantikan oleh rasa heran yang mulai merayap. Kirana menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa bingung yang menggelayuti benaknya.
"Ah, sudahlah. Sebaiknya aku segera membersihkan tubuh dulu. Sebentar lagi sudah masuk waktu subuh," ucapnya pada diri sendiri.
Kirana pun akhirnya terpaksa membuka kedua matanya lebar-lebar. Namun, begitu pandangannya menjadi jernih, ia langsung tertegun. Seluruh tubuhnya mendadak kaku melihat pemandangan di sekelilingnya. Langit-langit kamar yang tinggi, dengan tirai abu-abu elegan yang sangat ia kenali.
"Loh, ini kan kamarku di rumah aku dan Kak Damar?" bisik Kirana, suaranya bergetar. "Kenapa aku bisa tidur di sini? Bukankah semalam aku berada di kamar kos Susan?"
Kirana langsung menegakkan posisi duduknya. Ia menunduk, melirik piyama satin bermotif bunga yang sedang melekat di tubuhnya. Rasa herannya semakin membubung tinggi ke langit-langit.
"Bukankah baju tidur ini sudah kubuang sebulan yang lalu karena jahitannya robek? Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?"
Dengan jantung yang mulai berdegup kencang karena panik, Kirana menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Ia menyalakan layar dan melihat jam digital menunjukkan pukul 4.30 pagi. Namun, bukan penunjuk waktu itu yang menjadi pusat perhatian utamanya, melainkan deretan angka tanggal yang tertera tepat di bawahnya.
Layar itu menampilkan tanggal lima Maret.
Kirana mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Tanggal lima Maret? Bukankah itu tanggal tiga minggu yang lalu sebelum kejadian?"
Ia meremas ponselnya dengan tangan yang mulai dingin. Otaknya mencoba mencari penjelasan yang masuk akal atas situasi gila ini. "Apakah aku sedang bermimpi sekarang? Apakah ini semua cuma efek kesedihanku yang terlalu dalam karena tidak bisa menerima kepergian Kak Damar?"
Gumam Kirana terus berlanjut di dalam kamar yang sunyi. Demi membuktikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi, Kirana langsung mengangkat tangan kanannya lalu mencubit pipinya sendiri dengan cukup kuat.
"Aw!" Kirana mengerang kesakitan sambil memegangi pipinya yang kini terasa panas.
Rasa sakit itu nyata. Kulit pipinya terasa perih, membuktikan bahwa kesadarannya saat ini bukanlah sebuah bunga tidur. Kirana terengah-engah, kombinasi antara rasa tidak percaya dan secercah harapan besar mendadak membuncah di dalam dadanya.
"Tunggu dulu... Kalau sekarang benar tanggal lima Maret, berarti... berarti Kak Damar belum meninggal?"
Karena rasa penasaran dan dorongan insting yang sangat kuat, Kirana langsung beranjak dari tempat tidur. Tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan, ia berlari kecil keluar dari kamarnya. Langkah kakinya bergerak cepat menyusuri koridor rumah, langsung menuju ke arah kamar utama milik Damar. Ya, semenjak hari pertama mereka menikah dua tahun lalu, mereka memang sudah memutuskan untuk pisah kamar atas kesepakatan bersama yang dingin.
Sesampainya di depan pintu kamar Damar, langkah Kirana terhenti. Jantungnya terus berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. Dengan tangan yang gemetar hebat, Kirana mulai memutar knop pintu kayu ek itu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Pintu terbuka sedikit. Suasana di dalam kamar Damar terlihat begitu gelap. Hanya ada berkas cahaya remang-remang dari lampu tidur di sudut ruangan yang menyala, memberikan siluet perabotan kamar yang maskulin. Kirana melangkah masuk dengan sangat berhati-hati. Seluruh tubuhnya masih bergemetar hebat di antara rasa takut dan rasa penasaran yang membuncah.
Langkah kakinya membawa Kirana berhenti tepat di samping ranjang besar tempat Damar biasa beristirahat. Di atas kasur, tampak sebuah gundukan tubuh di balik selimut tebal. Dengan keraguan yang amat sangat, Kirana mengulurkan tangannya yang dingin untuk menyentuh ujung selimut tersebut.
Namun, baru saja ujung jarinya hendak menarik kain selimut itu ke bawah, sebuah gerakan kilat terjadi di dalam kegelapan. Sebuah tangan kekar dan hangat mendadak muncul, langsung menangkap pergelangan tangan Kirana dengan sangat kuat. Sebelum Kirana sempat berteriak kaget, tangan itu menarik tanganya dengan satu sentakan bertenaga.
Gubrak!
Dalam sekejap mata, keseimbangan Kirana runtuh. Tubuhnya terjatuh di atas kasur empuk, dan detik berikutnya, ia sudah berada di bawah kukungan tubuh tegap Damar. Kedua tangan Damar mengunci pergerakannya di sisi kiri dan kanan kepalanya, sementara sepasang mata tajam milik pria itu menatapnya lurus-lurus menembus kegelapan.
"Apa yang kau lakukan di sini, Kiran?" tanya Damar dengan suara baritonnya yang berat khas bangun tidur. Nada suaranya terdengar sangat datar, namun ada guratan ekspresi heran yang tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya melihat keberanian sang istri yang tidak biasa ini.
Kirana tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Alih-alih merasa takut atau mencoba melepaskan diri seperti yang biasa ia lakukan dulu jika berdekatan, Kirana justru terpaku. Matanya menatap lekat-lekat setiap inci wajah tegap di atasnya. Kulitnya yang hangat, deru napasnya yang menerpa wajah, semuanya terasa begitu nyata.
Dengan gerakan perlahan, Kirana mengangkat tangan kirinya yang bebas. Jemarinya yang bergetar bergerak menyentuh pipi Damar, merasakan rahang tegas suaminya yang sedikit kasar karena bayangan janggut tipis.
"Apakah ini mimpi?" gumam Kirana dengan suara yang sangat lirih, air matanya mendadak kembali menggenang di pelupuk mata. "Apakah ini benar-benar Kak Damar?"
Gumamannya mengalun lembut di antara jarak wajah mereka yang begitu dekat. Meski suaranya sangat pelan, kalimat penuh ketidakpercayaan itu masih bisa terdengar dengan sangat jelas oleh indra pendengaran Damar, membuat sang suami semakin mengernyitkan dahi dengan tatapan yang semakin dalam.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪