NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Permainan Pikiran di Bawah Pohon Ek

Xavier Garrick adalah pria yang terbiasa memegang kendali penuh atas setiap situasi yang dihadapinya. Di meja kasino miliknya yang tersebar di berbagai belahan dunia Eropa, satu jentikan jarinya saja bisa membuat para taipan kehilangan jutaan dolar dalam semalam, atau membuat wanita-wanita tercantik dari kalangan atas berlutut memohon perhatian serta kemurahan hatinya. Bagi Xavier, manusia tidak lebih dari sekadar susunan kartu di atas meja blackjack—mereka memiliki pola, mudah dibaca, dan sangat gampang dimanipulasi jika kita tahu di mana letak keserakahan mereka.

Dan pola Alana Garrick—anak haram dari selir keempat yang rapuh dan penakut—seharusnya sudah dia hafal di luar kepala sejak bertahun-tahun lalu. Dalam ingatannya, Alana hanyalah seonggok daging tak kasat mata yang akan langsung gemetar ketakutan atau menangis histeris bahkan jika dia hanya menatapnya sekilas dari kejauhan.

Namun, keheningan yang membentang di antara mereka di bawah pohon ek siang ini terasa sangat berbeda. Keheningan itu mencekik ego Xavier yang tinggi. Tatapan mata Alana yang jernih namun datar dan kosong benar-benar mengusik kenyamanan sang pangeran kasino. Tidak ada binar kekaguman, tidak ada kepanikan, dan tidak ada air mata ketakutan. Gadis itu menatapnya seolah-olah Xavier hanyalah sebongkah batu jalanan yang tidak sengaja menghalangi pandangannya.

Xavier terkekeh renyah, sebuah tawa yang sengaja dibuat untuk mencairkan kekakuan yang tidak biasa ini sekaligus untuk menegaskan dominasinya. Dia melangkah maju satu langkah lagi, memotong jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tingginya sepenuhnya menutupi tubuh mungil Alana dari terik matahari siang.

"Well, 'Tuan Muda Xavier'?" Sebelah alis Xavier terangkat, suaranya dipenuhi nada ejekan yang kental. "Sejak kapan adik kecilku yang biasanya selalu bersembunyi seperti tikus tanah memanggil kakaknya sendiri dengan begitu formal, hm? Di mana tangisan cengengmu yang biasanya, Alana? Apakah tamparan keras dari Eleanor kemarin berhasil mengubah fungsi otakmu atau ingatanmu?"

Dengan gerakan kilat yang tidak terduga, Xavier mengulurkan tangan kanannya yang kokoh. Jemarinya yang panjang dan dihiasi cincin safir berukuran besar yang mahal itu mencengkeram dagu Alana dengan cengkeraman yang kuat, memaksa wajah gadis itu mendongak lebih tinggi untuk menatapnya. Xavier memiringkan kepalanya, sengaja menekan ibu jarinya tepat di atas pinggiran memar keunguan di pipi kiri Alana. Dia ingin memicu rasa sakit yang luar biasa, ingin melihat kerutan di dahi, dan di atas segalanya—dia sangat ingin memicu ekspresi ketakutan yang biasa ia lihat pada wanita lemah.

Jika itu adalah Elena, atau Alana yang dulu, mereka pasti akan langsung berlutut di atas tanah, menangis tersedu-sedu dan bersujud memohon ampun atas kelancangan sikap mereka di hadapan putra mahkota Garrick.

Namun, jiwa yang berada di dalam cengkeraman Xavier saat ini bukanlah Alana yang rapuh. Jiwa itu adalah seorang wanita pekerja keras dari dunia modern yang sudah ratusan kali menghadapi amukan atasan yang kasar, ancaman dari klien narsistik yang arogan, dan kerasnya benturan kehidupan jalanan. Mentalnya sudah ditempa seperti baja di bawah tekanan tenggat waktu korporat yang kejam.

Alana tidak menepis tangan Xavier dengan panik. Dia bahkan tidak mengedipkan matanya atau meringis sedikit pun ketika rasa perih yang menyengat kembali membakar luka di pipinya akibat tekanan ibu jari Xavier. Sebaliknya, Alana justru mengunci pandangannya, menatap langsung ke dalam manik mata hazel milik Xavier dengan sorot mata yang teramat dingin, stabil, dan tajam. Sentuhan tangan Xavier di dagunya diperlakukannya seolah-olah itu tidak lebih dari sebatang ranting pohon kering yang jatuh dan mengotori gaunnya.

"Anda sedang merasa sangat bosan, Tuan Muda Xavier," ucap Alana. Suaranya mengalun pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu jernih, tenang, dan dipenuhi oleh penekanan psikologis yang menusuk.

Gerakan ibu jari Xavier yang sedang menekan luka seketika terhenti. Matanya menyipit, memancarkan kilatan berbahaya yang biasa dia tunjukkan di dunia bawah. "Apa katamu?"

"Saya bilang, Anda sedang merasa sangat bosan," ulang Alana dengan ritme bicara yang teratur, tanpa ada getaran rasa takut sedikit pun. "Anda baru saja mendarat dari Eropa setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan bisnis, dan Anda merasa muak. Anda muak dengan pembicaraan tentang gaun musim panas terbaru, perhiasan berlian, dan segala kemewahan dramatis yang dipamerkan oleh ibu Anda di Mansion Tengah sejak pagi tadi. Anda keluar ke taman ini murni untuk mencari hiburan instan, dan secara kebetulan, Anda melihat saya—anak selir tak berguna yang memiliki luka memar di wajah."

Alana menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat sinis dan merendahkan di mata seorang Xavier Garrick. "Anda mengira, Anda bisa menggunakan saya sebagai mainan baru yang menarik untuk membunuh rasa bosan Anda hari ini. Anda ingin melihat saya menangis, memohon agar Anda menyelamatkan saya dari pernikahan politik Nyonya Eleanor, lalu Anda akan tertawa puas melihat penderitaan itu."

Alana menatap lurus ke dalam manik mata Xavier yang mulai menegang. "Tapi maaf, Tuan Muda. Di kasino mewah Anda di Eropa, mungkin Anda adalah bandar utama yang memegang semua kartu dan mengendalikan nasib para pemain. Tetapi di taman tengah ini, di bawah pohon ek ini, saya menolak dengan mutlak untuk menjadi alat taruhan ataupun hiburan Anda."

Xavier terpaku sepenuhnya di tempatnya berdiri. Tangannya yang semula mencengkeram dagu Alana perlahan-lahan kehilangan kekuatannya dan mengendur dengan sendirinya, jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Jantung sang pangeran kasino itu berdegup satu kali lebih kencang—bukan karena amarah yang meledak, melainkan karena rasa terkejut dan hantaman ego yang luar biasa besar.

Kalimat yang diucapkan Alana barusan bukan sekadar bantahan dari seorang adik tiri yang tidak tahu sopan santun. Itu adalah sebuah analisis psikologis yang sangat tepat sasaran, menelanjangi motif bawah sadarnya dengan begitu akurat hingga ke akar-akarnya. Bagaimana mungkin seorang gadis berusia delapan belas tahun yang selama hidupnya dikurung di paviliun belakang yang terisolasi bisa membaca isi kepalanya seperti sebuah buku yang terbuka?

Tatapan mata Alana saat ini bahkan terasa lebih mengintimidasi daripada tatapan para bos mafia saingan yang sering dia temui di luar negeri.

Sebelum Xavier sempat memulihkan kesadarannya dan membalas ucapan itu, Alana sudah berdiri dengan anggun dari bangku kayu tua tersebut. Dia merapikan rok gaun katun putihnya yang sederhana dengan gerakan yang sangat tenang, lalu memeluk buku tua bersampul kulit kusamnya erat-erat di depan dada.

"Waktu membaca saya siang ini sudah habis. Permisi, Tuan Muda Xavier," ujar Alana pendek. Dia memberikan sedikit anggukan kepala formal yang terkesan sangat dingin dan acuh tak acuh, lalu berbalik satu langkah untuk berjalan kembali menuju jalur paviliun belakang.

Namun, sebagai seorang perencana strategi yang andal, Alana tidak akan melupakan umpan utamanya yang sudah dipersiapkan sejak malam kemarin.

Tepat saat tubuhnya berbalik menjauhi Xavier, jemari kirinya yang tersembunyi di balik lipatan gaun dengan sengaja menarik ujung pembatas buku rajutan benang katun yang berada di dalam sakunya. Gerakan menarik itu dilakukan dengan sangat halus, presisi, dan terlihat sangat natural—murni seperti sebuah kecelakaan akibat ujung gaun yang tersangkut.

Pembatas buku bermotif anyaman klasik buatan Elena itu jatuh tanpa suara di atas rerumputan hijau taman, tepat beberapa sentimeter di dekat ujung sepatu kulit mahal buatan desainer ternama milik Xavier. Dan bersamaan dengan jatuhnya benda sederhana itu, embusan angin siang yang hangat menerpa taman tengah, membawa aroma terapi melati yang sangat lembut, menenangkan, dan murni, langsung menabrak indra penciuman Xavier dengan kuat.

Xavier tidak mengejar langkah kaki Alana. Pria flamboyan itu tetap berdiri mematung di bawah naungan pohon ek besar, menatap punggung adik tirinya yang berjalan menjauh dengan langkah kaki yang teratur, tenang, dan kepala yang tegak lurus—sama sekali tidak menoleh ke belakang bahkan untuk satu kali pun hanya demi melihat bagaimana reaksi kakaknya.

Punggung itu tidak lagi terlihat seperti punggung seorang "tikus kecil" yang rapuh dan menyedihkan. Punggung Alana saat ini memancarkan aura misterius dari seorang ratu kecil yang baru saja memenangkan putaran pertama permainan catur papan atas tanpa perlu mengeluarkan banyak energi atau keringat.

Xavier mengembuskan napas panjang yang tanpa sadar telah ditahannya di dalam dada sejak tadi. Ketegangan aneh yang baru saja dia rasakan perlahan mulai mengendur, digantikan oleh sensasi lain yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Pandangan mata hazelnya perlahan-lahan turun ke arah rerumputan hijau di bawah kakinya, mengikuti arah bau harum yang menenangkan tadi.

Matanya menangkap keberadaan sebuah rajutan pembatas buku katun sederhana yang ditinggalkan oleh Alana. Aroma melati yang menguar dari benda tersebut terasa begitu kontras dengan bau asap cerutu vanila premium miliknya, atau wangi parfum alkohol pekat nan mahal milik para wanita malam kasino yang biasanya selalu sukses membuat kepalanya pusing setelah beberapa jam. Aroma melati buatan paviliun belakang ini terasa sangat bersih, murni, menenangkan, dan... entah bagaimana, membuat siapapun yang menghirupnya merasa ketagihan.

Xavier perlahan berlutut dengan satu kaki di atas tanah, sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa celana kain desainer mahalnya yang bernilai ribuan dolar bisa kotor akibat tanah dan getah rumput taman. Dia memungut pembatas buku rajutan itu dengan jemarinya yang perlahan-lahan gemetar—bukan karena takut, melainkan karena rasa kegembiraan dan adrenalin yang aneh yang tiba-tiba meledak di dalam dadanya.

Xavier mengangkat benda rajutan itu mendekati wajahnya, menutup matanya sejenak saat dia menghirup dalam-dalam aroma melati yang melekat kuat di antara jalinan benang katun tersebut.

"Menolak menjadi alat taruhan, ya?" gumam Xavier sendirian di bawah pohon ek, mengulangi kalimat Alana dengan suara berbisik yang serak.

Detik berikutnya, sebuah tawa rendah yang terdengar sangat puas bin gila meledak dari tenggorokan Xavier Garrick. Tawa yang sudah sangat lama tidak pernah dia keluarkan lagi sejak dia menguasai seluruh bisnis kasino Eropa—tawa dari seorang penjudi ulung dan serakah yang akhirnya berhasil menemukan sebuah permainan baru yang sangat menantang, berbahaya, dan bernilai tinggi di dalam rumahnya sendiri.

Mata hazel Xavier yang kini menatap tajam ke arah jalur setapak menuju paviliun belakang berkilat dengan intensitas obsesi yang sangat pekat, gelap, dan berbahaya. Baginya, Alana yang sekarang bukan lagi pajangan membosankan. Alana adalah sebuah teka-teki, sebuah tantangan terbesar yang harus dia taklukkan, apa pun taruhannya.

Xavier menggenggam erat pembatas buku rajutan melati itu di dalam kepalan tangannya yang kuat, lalu berdiri tegak kembali dengan sebuah seringai lebar yang menghiasi wajah tampannya.

"Alana, Alana... kamu benar-benar berpikir bahwa kamu bisa pergi begitu saja setelah membuat pangeran kasino ini tertarik setengah mati, hm?" bisik Xavier dengan nada penuh kepuasan yang gila, memasukkan pembatas buku itu ke dalam saku jas dalamnya, tepat di atas jantungnya. "Mari kita lihat bersama, seberapa lama kamu bisa mempertahankan sikap acuh tak acuhmu itu saat aku mulai mempertaruhkan seluruh kekayaan dan hidupku untuk memilikimu di bawah kendaliku."

Bidak catur pertama Alana resmi menancapkan kukunya, dan tanpa disadari olehnya, Xavier Garrick telah melangkah masuk dengan sukarela ke dalam jebakan tak terlihat yang tidak memiliki jalan untuk kembali. Perang di dalam mansion Garrick kini telah bergeser arah, dan Alana baru saja mendapatkan bidak pelindung pertamanya.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!