Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Klien Penting
Pagi itu, Shana datang lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari penting. Untuk pertama kalinya sejak menjadi asisten Evan, ia akan mendampingi bosnya bertemu dengan calon klien terbesar perusahaan.
Semalamam ia hampir tidak bisa tidur. Mengecek jadwal berulang, Memastikan dokumen lengkap. Dan mempelajari profil klien yang akan mereka temui.
Meski begitu, rasa gugup tetap tidak bisa hilang.
"Shana."
Suara Evan, mengejutkan dirinya saat itu.
"Iya Pak?"
"Kalau kamu terus gugup seperti itu, klien akan berpikir kalau saya sedang mempekerjakan sandera."
Kedua mata Shana membulat, bagaimana bisa kegugupannya terbaca dengan sempurna.
"Saya tidak gugup, Pak."
"Kamu memegang tablet itu, seperti sedang memegang bom."
Shana buru-buru merapikan tingkahnya, sedangkan Evan tampak tersenyum saat itu.
Ia memang sangat gugup sekali, apalagi setelah banyak cerita yang ia dapatkan akan sosok kliennya ini.
Namanya Adit Sanjaya, seorang pengusaha senior yang sangat teliti. Dan sangat sulit diyakinkan. Banyak perusahaan yang gagal bekerjasama dengannya. Dia sangat pemilih dan penuh perhitungan.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di salah satu restoran eksklusif di pusat kota, yang merupakan tempat pertemuan mereka.
Ada sebuah ruang meeting kecil didalamnya, cukup untuk 5-7 orang. Sejak awal susana terasa formal. Pak Adit duduk di ujung meja dengan wajah serius. Ia tengah membaca proposal yang diberikan Evan dengan teliti.
Sesekali mengajukan pertanyaan yang cukup tajam.
"Kenapa saya harus memilih perusahaan Anda dibandingkan dengan perusahaan lain?"
"Karena kami menawarkan solusi yang fleksibel untuk kebutuhan perusahaan Bapak."
Jawaban Evan terdengar tenang dan meyakinkan. Namun sepertinya Pak Adit masih belum puas dengan jawabannya itu. Ia kembali mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.
"Menurut saya, penawaran perusahaan Anda masih kurang menarik."
Shana melirik Evan, dan pria itu tetap terlihat tenang.
"Tentu kami terbuka untuk masukan."
"Saya sudah sering mendengar jawaban itu berkali-kali."
Saat pembahasan memasuki bagian proyeksi keuntungan. Evan menoleh kepada Shana.
"Data yang saya minta."
Jantung Shana langsung berdegup lebih cepat. Ia segera menyerahkan map yang telah ia siapkan di kantor sebelum mereka pergi.
Namun beberapa menit kemudian, wajahnya memucat.
Salah..
Map yang ada saat ini adalah versi lama, bukan data terbaru. Pak Adit tampak kecewa sekali. Rasanya Shana ingin menghilang saat itu juga.
Namun sebelum situasi makin memburuk, Evan langsung mengambil alih.
"Maaf, Pak Adit."
Nada suaranya tetap tenang.
"Itu kesalahan dari kami, data terbaru akan segera kami kirim setelah pertemuan ini."
Shana menatap Evan tak percaya. Padahal kesalahan itu murni karenanya.
Tidak ada kepanikan, tidak menyalahkan siapa pun. Evan tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan rasa marah sekalipun.
"Baik, saya tunggu."
Pertemuan kemudian berlanjut, meski jantung Shana belum merasa tenang.
Tak berapa lama kemudian, seorang pelayanan datang dengan membawa beberapa minuman.
Saat hendak meletakkan gelas di depan Pak Adit, tangannya tak sengaja menyenggol ujung meja, yang akhirnya membuat gelas itu miring dan hampir jatuh.
Reflek, Shana langsung menangkapnya. Semua orang terdiam, termasuk pelayan yang tampak panik.
"Maaf, maafkan saya." ucap pelayan itu.
"Tidak apa-apa." jawab Shana lalu tersenyum dan pelayan itu pun pergi setelahnya.
"Terima kasih Shana." ucap Pak Adit dan untuk pertama kalinya sejak pertama kali mereka bertemu, baru kali ini Shana melihat Pak Adit tersenyum.
Suasana yang tadinya tegang, perlahan mencair. Setelah insiden kecil itu terjadi, pembicaraan menjadi jauh lebih santai dan terasa lebih ringan.
Pak Adit menjadi lebih terbuka, ia sesekali membicarakan perjalanan bisnisnya. Shana ikut menanggapi dengan sopan.
Saat pertemuan berakhir, Pak Adit menjabat tangan Evan.
"Saya suka tim Anda."
Evan tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Saya bersedia, melanjutkan pembicaraan kerja sama ini."
Jantung Shana kembali berdegup kencang, namun bukan karena gugup dari rasa takut tapi karena ia begitu senang mendengar ucapan Pak Adit.
Mereka berhasil.
***
Di dalam mobil, menuju kantor. Shana memberanikan diri berbicara.
"Pak."
"Hm?"
"Saya minta maaf soal dokumen tadi." Evan tetap menatap jalan di depan.
"Kamu sudah meminta maaf."
"Saya memang salah."
"Ya, kamu memang salah, tapi itu juga merupakan kesalahan saya."
Shana langsung menunduk.
"Karena semua orang bisa melakukan kesalahan."
Shana menoleh, dan Evan melanjutkan ucapannya.
"Yang penting jangan mengulanginya dan lebih berhati-hati lagi."
Hanya itu, tidak ada bentakan, kemarahan bahkan hukuman. Entah kenapa sikap tenangnya membuat hati Shana terasa hangat.
Malam harinya, Evan pulang ke rumah dengan perasaan cukup ringan.
Ia melangkah menuju meja makan, mengambil segelas air putih dan meneguknya. Evan tersenyum setelahnya. Ia kembali teringat dengan kejadian hari ini saat ia bersama Shana.
Wajah paniknya, wajah bersalahnya dan wajah bahagianya terlukis jelas dalam ingatan Evan.
"Ada apa?"
Terdengar suara nenek yang datang menghampirinya. Evan lupa bahwa saat ini neneknya sedang menginap di rumahnya.
"Tidak ada apa-apa." Evan menggeleng dengan cepat.
"Kamu sedang memikirkan seseorang." Selidik sang nenek dan berhasil membuat Evan gugup untuk menjawabnya.
"Siapa wanita itu?" Sang nenek kini sudah berada di hadapannya, matanya berbinar menanti jawaban dari sang cucu.
"Nenek ingat dengan wanita di taman beberapa hari yang lalu."
"Oh wanita itu, wanita yang berani memarahi kamu itu?" Evan mengangguk mengiyakan.
"Kamu bertemu dengannya lagi, dimana, kapan? Tanya sang nenek bertubi-tubi.
"Dia salah satu karyawan Evan di kantor, Nek."
"Oh ya, berjodoh sekali kalian."
"Tidak Nek, ini hanya kebetulan."
"Percaya dengan omongan Nenek mu ini, yang sudah banyak merasakan asam manis, asin, gurih kehidupan." Evan tertawa mendengarnya.
"Jadikan dia Asistenmu saja."
"Sudah, Nek."
"Wau, kau selangkah lebih maju dari kakekmu." Sang nenek tersenyum kembali.
"Besok Nenek ingin ke kantor mu."
"Untuk apa?" Evan tampak panik kemudian.
"Bertemu dengan calon istrimu." Ucap Nenek dan membuat ke dua bola mata Evan terbuka lebar.
"Nek, kami tidak ada hubungan apapun."
"Bukan tidak, tapi belumm.. "
"Nek.. ayolah."
"Oke.. Oke.. tapi kamu harus bergerak cepat, nanti ada yang ambil." Pesan nenek kepada cucunya.
Setelah mengatakan pesan untuk Evan, Sang nenek pergi meninggalkannya seorang diri di meja makan.
Evan menghela napas panjang. Neneknya memang tidak pernah berubah. Selalu terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Ia kembali meneguk air putihnya. Namun bayangan Shana muncul kembali di pikirannya.
Wajah paniknya saat salah memberikan dokumen. Ekspresi bersalahnya saat pertemuan selesai. Dan senyum leganya saat Pak Adit setuju bekerja sama.
Evan terkekeh pelan.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang melelahkan. Anehnya, justru hari ini menjadi hari yang menarik dalam beberapa waktu terakhir.
Mungkin neneknya benar tentang satu hal.
Pertemuan kedua mereka, bukanlah sebuah kebetulan biasa.
Dan entah kenapa, Evan tidak keberatan jika besok pagi, lusa dan seterusnya harus kembali bertemu dengan Shana.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭