Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25
“Nggghhh… Ahh… Riven…” Angie melenguh panjang. “Ahhh… Emmhhh… Aahhh…” Tubuh Angie bergerak naik dan turun secara lambat karena gerakan Riven yang pelan.
Meskipun gerakannya lambat, ukuran Riven yang besar tetap membuat setiap gesekan terasa begitu padat dan menyiksa dengan cara yang nikmat.
Riven menunduk, meraup bibir Angie dengan ciuman yang dalam dan lambat, menyelaraskan pagutan lidah mereka dengan ritme hisapan yang saling menekan di bawah sana.
Riven membiarkan ronde pertama ini berjalan seperti siksaan yang manis. Ia menuntut keintiman mereka terjalin tanpa ketergesaan. Hingga ketika dinding sensitif Angie mulai berkedut hebat meremas miliknya.
“Aaahh… Riv… Ahhmmm enakk… Aku akan keluar…. terus seperti itu Riv…. Aaaaahhh!!! Aku keluar…” Akhirnya Angie mencapai puncaknya dalam ritme yang lambat.
Riven yang juga sudah menahannya, ia ikut menggeram rendah dan menumpahkan pelepasan pertamanya di dalam sana. Pria itu mengambil napas sejenak hingga akhirnya memcabutnya pelan dan membuang pelindung itu ke tong sampah.
Samar-Samar Angie melihat Riven kembali merobek dan memasang lagi yang baru.
“Lagi?” Tanya Angie lemas.
Riven tak menjawab. Pria itu hanya mencium bibir Angie sebagai kode bahwa dirinya masih berada dalam keadaan panas.
Masuk ke ronde kedua, Riven memasukkannya dengan sekali dorong.
“Aahhh…!!!” Angie memekik kecil dan memeluk tubuh besar Riven, mengalungkan kedua kakinya ke pinggang Riven.
Kali ini Riven masih mempertahankan tempo yang sama. Pria itu tidak langsung menarik miliknya keluar, ia membiarkan kehangatan mereka tetap menyatu sementara miliknya kembali mengeras dengan cepat di dalam sana.
Beberapa detik pelukan mereka menyatu dalam keheningan dan Riven menciumi perlahan leher Angie sembari masih memeluk dengan erat tubuh mungil itu.
Saat itu Angie melepaskan kakinya namun Riven menuntun kedua kaki jenjang Angie kembali untuk melingkar di pinggang kokohnya, membuat tautan mereka menjadi jauh lebih dalam.
“Kau seperti orang lain saat begini. Baru beberapa jam lalu kau dingin tapi perhatian sekarang begitu berbeda…”
Riven tersenyum.
”Aku mengubur banyak sekali versi diriku dalam 29 tahun ini.” Kata Riven mencium bibir Angie dan menekan bagian sana lebih dalam lalu memutarnya pelan.
“Aahhmmmhhh…. Lalu… Sosok apa yang… Ahhh.. Ehmmm sekarang bersama ku…. Aahh..”
“Sosok yang akan jatuh cinta pada mu lebih dari yang kau kira. Jadi jangan pernah mengkhianatiku.” Riven menggoyangkan pinggulnya lagi perlahan.
Angie mengimbanginya.
“Ini sangat enak.” Kata Riven berbisik.
Angie tertawa. “Untuk pria yang baru sekali melakukannya. Kau sangat mahir. Aku mulai ragu.”
“Aku bersumpah demi tuhan.” Kata Riven.
“Jangan bawa-bawa Tuhan. Kita sedang melakukan hal yang tuhan benci.” Angie menangkupkan kedua tangannya di wajah Riven.
“Aahhmmm… Ahhh…”
Pada ronde kedua ini, gerakan Riven berubah menjadi lebih sensual dan lebih dalam. Setiap hunjaman lambatnya sengaja ditekan di titik-titik sensitif yang membuat Angie terus-menerus meracau tak keruan.
“Riven… ahh… lebih cepat… kumohon…” pinta Angie dengan mata berkaca-kaca, tersiksa oleh ritme lambat Riven yang justru terasa seperti candu yang membakar.
Namun, Riven justru berbisik parau di ceruk leher Angie, “Tidak. Nikmati setiap detiknya.”
Pria itu dengan sabar mengecupi bahu dan dada Angie, membiarkan gesekan konstan yang lambat itu perlahan-lahan mengikis seluruh kewarasan Angie untuk kedua kalinya.
Angie kembali dibuat kewalahan bukan karena kecepatan, melainkan karena kedalaman dan ketahanan fisik Riven yang luar biasa.
“Aahh… Emhhh…” Angie ikut menggoyangkan pinggulnya ketika Riven mendorong miliknya masuk lebih dalam dan menahannya.
“Aaahhh… Ini menyiksa… Ahhh… Aku akan keluar lagi…”
Riven mengulum payudara Angie dan mendorong miliknya lagi lebih lama dan menahannya.
”Aaahhhh….!!!” Ketika orgasme kedua Angie kembali pecah dengan tubuh yang bergetar hebat, Riven menyusulnya dengan desahan berat, menumpahkan gairahnya yang masih terasa sangat melimpah.
“Kehhk!!”
Beberapa saat Riven masih berhenti sejenak mengambil jeda, agar mereka merasakn kenikmatan itu secara bersama-sama. Setelah sedikit mereda Riven kemudian melepaskannya dan membuangnya ke tong sampah lagi.
Begitu ronde kedua usai dan Angie mengira ia bisa beristirahat, ia salah besar.
Dua ronde dengan ritme lambat dan sabar itu ternyata adalah batas terakhir dari kendali diri Riven.
Menatap tubuh indah Angie yang basah oleh peluh dan sisa pelepasan, sorot mata Riven sepenuhnya menggelap. Naluri primitif yang selama 29 tahun tertidur kini pecah total, mengubah pria yang tadinya sabar itu menjadi sosok yang sangat lapar.
Tanpa memberikan jeda sedetik pun bagi Angie untuk meraup oksigen, Riven yang telah memasangkan kembali pelindung, mencengkeram pinggang gadis itu dengan posesif.
“Riv…” Angie mendadak terkejut.
“Menunggging.” Perintah Riven.
“Tapi aku masih…”
“Sebentar saja…” kata Riven tanpa mau di bantah.
Angie pun pasrah ia menungging seperti yang Riven mau. Riven mulai memasukkannya dengan sekali dorong membuat tubuh Angie ikut terdorong maju.
“Ahhh…!!” Desah Angie.
Riven bergerak liar. Hentakannya berubah drastis menjadi memburu, brutal, dan menghantam tanpa ampun.
Angie seketika membelalak, benar-benar kewalahan dengan perubahan tempo yang mendadak mengerikan ini. Tubuh mungilnya terombang-ambing di atas ranjang, menerima setiap tumbukan dalam yang menghujam tanpa celah untuk menghindar.
“Riv… Ahhh.. Ehmmhh …”
“Kau membuat ku gila Angie…”
Malam itu seolah kehilangan ujungnya. Riven menjelma menjadi pria kelaparan yang tak kenal lelah. Ia terus mendominasi, membolak-balikkan tubuh Angie, dan menuntut lebih banyak lagi dengan posisi yang Riven mau.
Kekuatan fisik Riven yang superior memaksa Angie orgasme berkali-kali hingga suaranya serak, mengunci mereka berdua dalam pusaran ronde demi ronde yang membakar habis seluruh kewarasan.
————
Ketika fajar benar-benar menyingsing, berkas cahaya matahari pagi mulai menyelinap di balik celah gorden, menerangi kamar yang kini tampak berantakan. Aroma gairah, keringat, dan jejak-jejak pelepasan mereka memenuhi udara yang terasa hangat.
Riven akhirnya menghentikan hentakan terakhirnya dengan satu geraman rendah yang panjang.
“Keghk!!” Geramnya dan tubuhnya menyentak hebat menekan tubuh Angie yang sudah tak berdaya.
Tubuh kekarnya yang basah kuyup oleh peluh ambruk di atas tubuh Angie, menumpahkan sisa-sisa kekuatannya yang luar biasa ke dalam diri gadis itu untuk kesekian kalinya.
Napas Riven memburu parau di ceruk leher Angie, sementara jantungnya bertalu kencang di dada, beradu dengan detak jantung Angie yang melemah karena kelelahan yang teramat sangat.
“Terimakasih Angie.” Kata Riven bersamaan dengan napas nya yang tersengal.
Angie hampir tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Ia hampir pingsan di bawah gairah Riven yang meluap bagai merapi yang meledak.
Kedua matanya terpejam sayu, menyisakan jejak air mata di sudut kelopak matanya yang membengkak.
Tenggorokannya terasa luar biasa kering, dan suaranya sudah habis, hanya menyisakan desah napas pendek yang putus-putus. Setiap jengkal kulitnya terasa sensitif, berdenyut oleh sisa-sisa orgasme intens yang dipaksakan Riven pada tubuh mungilnya sepanjang malam.
Perlahan, setelah kesadarannya perlahan kembali dari kabut gairah yang primitif, Riven mengangkat kepalanya. Menatap wajah Angie yang pucat namun merona, dengan bibir yang sedikit bengkak dan digigit kecil, rasa posesif sekaligus bersalah yang aneh bergejolak di dada pria berusia dua puluh sembilan tahun itu.
Naluri liarnya yang mengamuk kini telah jinak, digantikan oleh kelembutan yang dalam.
Dengan sangat hati-hati, seolah takut mematahkan tubuh Angie yang tampak begitu rapuh di bawahnya, Riven menarik dirinya keluar.
Lenguhan pelan dan perih lolos dari bibir Angie saat milik Riven keluar dan tautan mereka terlepas, membuat Riven langsung mengecup dahi gadis itu dengan penuh sesal.
“Maaf... Aku keterlaluan,” bisik Riven, suaranya serak dan berat karena kelelahan sekaligus kepuasan yang absolut.
Angie tidak menjawab, ia hanya mampu menggerakkan jemarinya yang lemas untuk mencengkeram lengan kekar Riven, seolah mencari pegangan agar tidak tenggelam dalam rasa kantuk yang luar biasa.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor