Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak, Teh, dan Duke yang Terlalu Tenang
Aku selalu percaya bahwa orang yang menawarkan kontrak di tempat gelap pasti mencurigakan.
Apalagi kalau tempat gelap itu adalah penjara.
Apalagi kalau orang itu adalah Duke Utara yang dalam novel terkenal sebagai pria dingin, misterius, dan punya kebiasaan muncul di saat orang lain sedang mengalami krisis hidup.
Apalagi lagi, dia datang sambil membawa teh.
“Lady Evangeline,” ujar Duke Cassian North dengan suara tenang. “Apakah Anda ingin membaca kontraknya sekarang?”
Aku menatap gulungan kertas bersegel hitam di tangannya.
Lalu menatap wajahnya.
Lalu menatap cangkir teh yang ia pegang dengan elegan.
“Maaf, Duke North,” kataku hati-hati. “Tapi sebelum kita bicara kontrak, boleh saya bertanya satu hal?”
“Tentu.”
“Bagaimana Anda bisa membawa teh ke dalam penjara?”
Mira yang sejak tadi menempel di jeruji langsung mengangguk cepat. “Benar, Yang Mulia Duke! Bahkan hamba saja tidak diizinkan membawa sup hangat untuk Nona. Mereka bilang tahanan tidak berhak memilih tekstur makanan!”
Cassian menyesap tehnya pelan.
“Saya Duke North.”
Jawabannya singkat. Tenang. Tidak membantu.
Aku mengerjap. “Itu penjelasan?”
“Itu alasan.”
Aku terdiam.
Baiklah. Pria ini punya aura seperti seseorang yang jika meminta naga meminjamkan punggungnya, naga itu akan mempertimbangkan sambil berkata, “Baik, tapi jangan terlalu lama.”
Cassian mengulurkan gulungan kontrak itu melalui celah jeruji. Seorang pengawal hendak melarang, tetapi Cassian hanya meliriknya sekilas. Pengawal itu langsung mundur seolah baru mengingat bahwa dia masih ingin hidup sampai besok.
Aku menerima kontrak itu dengan perasaan campur aduk.
Di dunia modern, kontrak saja sudah membuatku pusing. Kontrak kerja, kontrak sewa, kontrak langganan aplikasi yang diam-diam memperpanjang otomatis. Sekarang, di dunia kerajaan, aku memegang kontrak dari Duke Utara yang mungkin berisi kalimat seperti: “Dengan ini pihak pertama menyerahkan jiwa, martabat, dan hak memilih menu sarapan.”
Aku membuka gulungan itu.
Tulisan di dalamnya rapi, hitam, dan sangat elegan.
Terlalu elegan untuk sesuatu yang mungkin akan menghancurkan hidupku.
Aku membaca kalimat pertama.
Perjanjian Kerja Sama Sementara antara Duke Cassian North dan Lady Evangeline Arvella.
Oke. Masih normal.
Aku membaca kalimat kedua.
Pihak Pertama, Duke Cassian North, sepakat memberikan bantuan strategis kepada Pihak Kedua, Lady Evangeline Arvella, agar tidak kehilangan kepala dalam waktu tiga hari.
Aku berhenti.
“Mengapa ditulis ‘tidak kehilangan kepala’?”
Cassian menatapku datar. “Karena itu tujuan utama Anda saat ini.”
Mira menjerit kecil. “Nona, hamba tidak sanggup membaca bahasa hukum yang terlalu jujur!”
Aku menekan pangkal hidung. “Lanjut.”
Aku membaca lagi.
Pihak Kedua sepakat bekerja sama dengan Pihak Pertama untuk mengungkap pihak yang sebenarnya bertanggung jawab atas percobaan peracunan terhadap Saintess Seraphina.
Ini masih masuk akal.
Pihak Kedua tidak diperkenankan melakukan tindakan bodoh yang mengakibatkan kematian lebih cepat dari jadwal.
Aku mendongak.
“Duke North.”
“Ya?”
“Apa maksudnya tindakan bodoh?”
“Menyerang Putra Mahkota, menampar Saintess di depan umum, mencoba kabur melalui jendela penjara yang lebarnya hanya cukup untuk kucing, atau berteriak ‘Aku adalah wanita dari dunia lain’ di ruang sidang.”
Aku membeku.
Mira juga membeku.
Cassian menyesap teh lagi.
Aku mencoba menjaga wajah tetap normal. “Contohnya sangat spesifik.”
“Saya senang menyusun kontrak dengan jelas.”
Dia tahu?
Tidak mungkin.
Apakah dia tahu aku bukan Evangeline asli?
Tidak. Tenang. Jangan panik. Jangan menunjukkan reaksi. Ingat, dalam dunia bangsawan, reaksi berlebihan sama saja dengan mengakui dosa. Kecuali Mira, yang tampaknya sudah menjadikan reaksi berlebihan sebagai profesi.
Aku menurunkan pandangan kembali ke kontrak.
Pihak Kedua wajib memberikan informasi yang diketahui kepada Pihak Pertama, termasuk tetapi tidak terbatas pada: musuh politik, kebiasaan mencurigakan para bangsawan, daftar orang yang mungkin ingin membunuhnya, dan alasan mengapa Pihak Kedua tiba-tiba menjadi lebih masuk akal dibanding biasanya.
Aku tersenyum kaku.
“Bagian terakhir tidak perlu ada.”
“Menurut saya perlu.”
“Menurut saya tidak.”
“Menurut saya sangat perlu.”
Aku menutup kontrak sebentar dan menatapnya. “Duke North, apakah ini kontrak hukum atau catatan gosip?”
“Di istana, keduanya sering memiliki fungsi yang sama.”
Aku tidak punya bantahan.
Mira berbisik dari samping, “Nona, hamba tidak mengerti semua isinya, tapi hamba merasa Duke ini berbahaya.”
Aku ikut berbisik, “Aku juga.”
Cassian berkata, “Saya bisa mendengar.”
Kami berdua langsung tegak.
Aku pura-pura batuk. “Baiklah. Saya punya pertanyaan. Mengapa Anda mau membantu saya?”
Cassian diam beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang sedikit.
“Karena kasus ini terlalu rapi.”
Aku menyipitkan mata. “Terlalu rapi?”
“Racun ditemukan di meja Anda. Para saksi langsung menyebut Anda bertengkar dengan Saintess. Putra Mahkota langsung marah. Dewan bangsawan langsung meminta hukuman mati. Dalam waktu kurang dari satu malam, semua orang sudah sepakat bahwa Anda bersalah.”
Dia melangkah lebih dekat ke jeruji.
“Lady Evangeline, bahkan pembunuh paling bodoh sekalipun tidak akan meninggalkan racun di mejanya sendiri.”
Aku hampir tersenyum lega.
Akhirnya. Seseorang di dunia ini punya otak.
“Tapi semua orang percaya saya pelakunya karena Evangeline memang punya reputasi buruk,” kataku pelan.
Cassian menatapku. “Anda mengatakan ‘Evangeline’, bukan ‘saya’.”
Jantungku langsung berhenti satu detik.
Sial.
Pria ini terlalu tajam.
Aku buru-buru memperbaiki ekspresi. “Maksud saya, reputasi saya.”
“Begitu.”
Nada suaranya jelas tidak percaya.
Mira menatapku dengan wajah polos. “Nona memang suka bicara tentang diri sendiri seperti orang lain kalau sedang stres. Dulu Nona pernah berkata, ‘Evangeline terlalu cantik untuk menderita,’ selama tiga jam di depan cermin.”
Aku menoleh perlahan ke arah Mira.
“Mira.”
“Ya, Nona?”
“Terima kasih sudah membuatku terdengar semakin tidak waras.”
“Sama-sama, Nona!”
Aku menarik napas panjang. Sekutu pertama: pelayan dramatis yang membelaku dengan cara mencurigakan. Sekutu kedua: Duke Utara yang terlalu cerdas. Musuh pertama: seluruh kerajaan. Kondisiku benar-benar menjanjikan.
“Baik,” kataku akhirnya. “Saya tertarik dengan kontraknya, tapi saya tidak akan menandatangani apa pun sebelum memahami keuntungan dan risikonya.”
Cassian tampak sedikit puas. “Bagus. Anda benar-benar berubah.”
“Anggap saja saya mengalami pencerahan setelah hampir mati.”
“Pencerahan yang sangat terlambat.”
“Lebih baik terlambat daripada tanpa kepala.”
Mira tersedu. “Kalimat itu menyedihkan tapi bijaksana.”
Aku kembali membaca kontrak.
Sebagai imbalan atas bantuan Pihak Pertama, Pihak Kedua wajib membantu Pihak Pertama memperoleh akses terhadap informasi internal keluarga Arvella dan lingkaran bangsawan yang terlibat dalam faksi istana.
Nah. Akhirnya muncul bagian beracun.
Aku mengangkat alis. “Jadi Anda ingin memakai saya sebagai pintu masuk ke keluarga Arvella?”
“Benar.”
“Jujur sekali.”
“Saya tidak suka membuang waktu.”
“Dan kalau keluarga saya ternyata tidak terlibat?”
“Maka Anda tetap selamat.”
“Kalau mereka terlibat?”
“Maka Anda punya alasan tambahan untuk tidak pulang.”
Aku terdiam.
Keluarga Arvella.
Dalam novel, keluarga Evangeline memang tidak banyak dibahas. Mereka hanya muncul sebagai keluarga bangsawan tua yang malu setelah Evangeline dihukum mati. Ayahnya, Marquess Arvella, bahkan tidak membelanya. Ibunya sudah meninggal. Kakak laki-lakinya sibuk di perbatasan. Keluarga itu lebih peduli reputasi daripada anak perempuan mereka sendiri.
Tapi sekarang setelah aku benar-benar menjadi Evangeline, detail yang dulu terasa tidak penting mendadak terasa seperti pisau di punggung.
Bagaimana kalau keluarga Arvella memang tahu sesuatu?
Bagaimana kalau Evangeline dijadikan kambing hitam bukan hanya oleh Seraphina, tapi juga oleh keluarganya sendiri?
Aku menggenggam kontrak itu lebih erat.
“Apa bukti Anda bahwa kasus ini melibatkan faksi istana?” tanyaku.
Cassian mengeluarkan selembar kertas kecil dari balik mantelnya. Ia menyelipkannya melalui jeruji.
Aku mengambilnya.
Di atas kertas itu ada simbol kecil yang digambar dengan tinta hitam: seekor burung gagak membawa mahkota patah.
Aku tidak mengenal simbol itu.
Tapi tubuh Evangeline bereaksi.
Tanganku tiba-tiba dingin. Dadaku sesak. Seperti ada memori lama yang terkunci dan mencoba menendang pintu dari dalam.
Mira yang melihat simbol itu langsung pucat.
“Mira,” kataku pelan. “Kamu tahu ini?”
Mira menggigit bibir. Matanya bergerak gelisah ke arah Duke, pengawal, lalu kembali kepadaku.
“Nona... itu lambang yang pernah muncul di surat-surat lama Tuan Marquess.”
Aku menatapnya tajam. “Ayahku?”
Mira mengangguk lemah. “Hamba pernah melihatnya sekali. Saat Nona masih kecil. Tapi waktu itu Nona marah karena hamba tidak sengaja masuk ke ruang kerja Tuan Marquess, lalu Nona menyuruh hamba pura-pura lupa.”
“Aku menyuruhmu pura-pura lupa?”
“Ya, Nona. Setelah itu Nona sendiri juga sepertinya lupa.”
Aku menahan keinginan untuk membenturkan kepala ke dinding.
Evangeline asli ini hidupnya seperti lemari arsip rusak. Banyak rahasia, tapi kuncinya hilang semua.
Cassian berkata, “Simbol itu ditemukan di ruang penyimpanan anggur tempat racun diperkirakan berasal.”
Aku menoleh padanya. “Kenapa informasi ini tidak masuk bukti sidang?”
“Karena sebelum penjaga kerajaan menyegelnya, kertas itu menghilang.”
Aku mengangkat kertas kecil itu. “Lalu bagaimana bisa ada pada Anda?”
Cassian tersenyum tipis.
“Saya mengambilnya lebih dulu.”
Aku mematung.
Mira berbisik, “Nona, apakah mencuri bukti termasuk tindakan bodoh yang dilarang kontrak?”
Aku menjawab pelan, “Sepertinya hanya berlaku untuk aku.”
Cassian tidak terlihat bersalah sedikit pun. “Jika bukti itu sampai ke tangan dewan istana, ia akan lenyap. Saya lebih suka menyimpannya sampai menemukan orang yang tepat.”
“Dan orang yang tepat itu saya?”
“Untuk saat ini.”
“Betapa menyentuhnya. Saya merasa seperti alat investigasi sementara.”
“Anda memang begitu.”
“Duke North, apakah Anda selalu setega ini pada wanita yang akan mati?”
“Tidak. Biasanya mereka tidak banyak bicara.”
Mira menutup mulut, antara ingin menangis atau tertawa.
Aku menghela napas. Anehnya, meskipun pria ini menyebalkan, aku merasa dia jauh lebih berguna daripada Putra Mahkota yang datang hanya untuk menuduh dan memamerkan wajah tampan.
Baiklah. Aku butuh sekutu.
Aku butuh akses informasi.
Aku butuh hidup.
Aku membuka gulungan kontrak lagi.
“Bagaimana kalau saya menolak?” tanyaku.
Cassian menjawab tanpa ragu. “Anda tetap boleh mencoba membuktikan diri sendiri. Namun Anda hanya punya tiga hari, tidak punya akses ke istana, tidak punya dukungan politik, dan reputasi Anda lebih buruk daripada cuaca musim dingin di wilayah utara.”
Aku menoleh ke Mira.
“Mira, reputasiku separah itu?”
Mira menunduk sedih. “Nona ingin jawaban jujur atau jawaban yang membuat Nona tidak semakin depresi?”
“Lupakan.”
Aku menggigit bibir.
Aku tidak suka terpojok. Tapi dalam situasi ini, kontrak Cassian mungkin satu-satunya tali yang tersedia. Memang talinya terlihat seperti bisa berubah menjadi jerat kapan saja, tapi tetap lebih baik daripada berjalan sendiri menuju tempat eksekusi.
“Ada pena?” tanyaku.
Mira terbelalak. “Nona! Anda benar-benar akan menandatangani?”
“Apa aku punya pilihan lebih baik?”
Mira berpikir keras. “Kita bisa menggali terowongan?”
Aku menunjuk lantai batu. “Dengan apa?”
Mira mengeluarkan sendok kecil dari sakunya.
Aku menatapnya.
Dia menatapku balik.
“Mira.”
“Ya, Nona?”
“Kenapa kamu membawa sendok?”
“Untuk berjaga-jaga kalau Nona diberi puding terakhir sebelum eksekusi.”
Aku menutup mata.
Kesetiaan Mira luar biasa. Kecerdasannya masih dalam tahap pengembangan.
Cassian menyerahkan pena bulu melalui jeruji. Aku menerimanya, lalu membaca bagian terakhir kontrak.
Kontrak ini berlaku sampai Pihak Kedua dinyatakan tidak bersalah, pelaku sebenarnya ditemukan, atau salah satu pihak mengkhianati pihak lain secara tidak sopan.
Aku berhenti. “Secara tidak sopan?”
“Pengkhianatan yang sopan masih bisa dinegosiasikan.”
“Duke North.”
“Ya?”
“Anda punya masalah.”
“Saya sering mendengar itu.”
Aku menghela napas, lalu menandatangani kontrak.
Evangeline Arvella.
Saat nama itu tertulis, segel hitam di ujung kontrak bersinar redup. Aku tersentak.
“Kenapa bercahaya?!”
Cassian menggulung kontrak dengan santai. “Kontrak bangsawan utara memakai sihir pengikat sederhana.”
Aku menatapnya ngeri. “Anda tidak bilang ada sihir!”
“Anda tidak bertanya.”
“Siapa yang bertanya apakah kontrak bisa menyala?!”
Mira langsung berlutut sambil menangis. “Nona, hamba gagal melindungi Anda dari dokumen bercahaya!”
Aku ingin marah, tapi jujur aku juga tidak membaca syarat penggunaan. Sepertinya kebiasaan buruk dari dunia modern ikut terbawa.
“Apa efeknya?” tanyaku cepat.
“Jika salah satu pihak melanggar isi kontrak, pihak lain akan mengetahuinya.”
“Itu saja?”
“Untuk pelanggaran ringan, ya.”
“Untuk pelanggaran berat?”
Cassian tersenyum.
Aku tidak suka senyum itu.
“Mungkin sedikit sakit.”
“Seberapa sedikit?”
“Tidak membunuh.”
“Standar Anda mengerikan.”
Cassian menyimpan kontrak itu. “Selamat, Lady Evangeline. Mulai sekarang, kita adalah sekutu.”
“Aku merasa seperti baru membeli asuransi dari iblis.”
“Iblis biasanya menawarkan kesepakatan lebih murah.”
Aku memijat pelipis. “Jadi langkah pertama apa?”
Cassian mengangkat tiga jari.
“Pertama, kita harus melihat daftar tamu pesta. Kedua, kita perlu memeriksa pelayan yang bertugas di meja anggur. Ketiga, Anda harus berhati-hati pada Saintess.”
Aku menatapnya. “Anda juga mencurigai Seraphina?”
“Saya mencurigai semua orang yang terlalu disukai banyak orang.”
Akhirnya. Orang waras kedua.
Mira mengangkat tangan ragu. “Yang Mulia Duke, apakah hamba juga mencurigakan karena hamba sangat menyayangi Nona?”
Cassian menatapnya sebentar. “Anda lebih berisik daripada mencurigakan.”
Mira tampak tersentuh. “Terima kasih, Yang Mulia.”
“Itu bukan pujian,” kataku.
“Kenapa semua orang hari ini memuji hamba dengan cara aneh?”
Belum sempat aku menjawab, suara langkah lembut terdengar dari lorong.
Berbeda dari langkah Lucien yang tegas atau Cassian yang tenang, langkah ini ringan, anggun, hampir seperti musik.
Aroma bunga lili menyusup ke dalam udara penjara.
Mira langsung menegang.
Cassian tidak bergerak, tapi matanya sedikit menyipit.
Aku tahu siapa yang datang bahkan sebelum melihat wajahnya.
Seorang gadis berambut pirang terang muncul di ujung lorong. Gaunnya putih bersih, terlalu putih untuk tempat sekotor ini. Matanya hijau lembut, wajahnya cantik seperti malaikat yang baru turun dari lukisan gereja. Di belakangnya, dua pelayan membawa saputangan, keranjang bunga, dan ekspresi penuh simpati yang terasa berlebihan.
Saintess Seraphina.
Tokoh utama perempuan.
Korban yang katanya hampir mati karena racunku.
Dia berhenti di depan sel, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Lady Evangeline,” ucapnya lembut. “Aku datang untuk memaafkanmu.”
Aku menatapnya.
Cassian menyesap tehnya.
Mira menahan napas.
Dan aku, penjahat yang dijadwalkan mati tiga hari lagi, tersenyum paling manis.
“Benarkah?” kataku pelan. “Aneh sekali.”
Seraphina berkedip.
Aku memiringkan kepala.
“Karena aku bahkan belum meminta maaf.”
Senyum Seraphina membeku.
Untuk pertama kalinya, gadis suci itu terlihat tidak sesuci biasanya.