Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Kopi hitam dan Kebohongan yang tak bertahan lama
Karya Vian's
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan tak terduga di toko lensa itu. Sore ini, jingga mulai merayap masuk melalui celah jendela Thalassa Coffee. Suasana kedai sedang tenang; hanya ada suara mesin kopi yang berdengung rendah karena pelanggan sudah mulai sepi.
Savya sedang berdiri di balik meja bar, jemarinya sibuk merapikan tatanan cangkir sambil sesekali melamun. Pikirannya masih sering melayang pada pria bernama Valerius itu, sebuah perasaan asing bagi gadis yang belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis—sebuah senyum hangat yang menjadi ciri khasnya.
Tring!
Bunyi lonceng pintu masuk memecah keheningan. Savya mendongak, bersiap menyambut pelanggan dengan sapaan ramahnya yang biasa. Namun, napasnya tertahan sejenak saat melihat sosok tinggi berjaket hitam itu melangkah masuk.
Pria itu, Valerius!
Savya sedikit terkejut, jantungnya memberikan reaksi yang lebih cepat dari logika. Namun, dengan segera ia menarik napas dalam untuk menetralkan ekspresinya—sebuah cara yang selalu ia gunakan untuk mendapatkan ketenangannya kembali. Ia tidak ingin terlihat terlalu kentara bahwa ia baru saja memikirkan pria itu.
"Selamat sore," sapa Savya dengan senyum ceria yang tertahan, berusaha tetap terlihat profesional di balik meja bar. "Selamat datang kembali di Thalassa Coffee, Tuan."
Valerius membalas dengan anggukan tipis dan tatapan yang sulit dibaca, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda—kini mereka bukan lagi orang asing yang hanya saling diam di sudut ruangan.
Valerius hanya memberikan anggukan singkat sebagai balasan sapaan Savya. Setelah menyebutkan pesanannya—kopi hitam tanpa gula yang sama seperti sebelumnya—ia melangkah dengan tenang menuju meja di sudut dekat jendela, tempat favoritnya yang kini seolah telah menjadi wilayah pribadinya.
Savya segera beralih ke mesin kopi. Jemarinya bergerak dengan ketelitian yang tidak biasa, seolah ia sedang meracik sesuatu yang sangat berharga. Namun, konsentrasinya tidak bertahan lama.
"Ciee... yang dari tadi melamun, ternyata nungguin 'tamu spesial' ya?" bisik Sila tiba-tiba sambil menyenggol lengan Savya dengan jahil.
Savya tersentak, hampir saja menjatuhkan sendok takarnya. "Sila! Apa sih? Jangan bicara sembarangan," jawab Savya pelan, berusaha menetralkan ekspresinya meski rona merah mulai merayap di pipinya.
"Eh, jangan bohong. Senyum ceriamu itu beda sore ini, Mbak," goda Sila lagi dengan kedipan mata yang membuat Savya semakin salah tingkah. Savya hanya bisa menunduk, pura-pura sangat sibuk dengan uap susu, berusaha menyembunyikan senyum yang tertahan di balik rambutnya yang dihiasi jepit bunga matahari.
Sementara itu, di sisi lain kedai, Farel tampak tidak terpengaruh oleh suasana menggoda di meja bar. Ia sibuk mengangkat nampan dan mengelap meja-meja yang berantakan bekas pelanggan sebelumnya. Bunyi gesekan kain lap dan denting cangkir yang dirapikan Farel menjadi latar belakang suara yang menenangkan, seolah memberikan ruang bagi Savya untuk tenggelam dalam kebingungan perasaannya sendiri.
Savya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum ia harus mengantarkan pesanan itu ke meja sudut. Baginya, ini adalah babak baru yang mendebarkan, karena ia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi rasa penasaran yang mulai terasa seperti sesuatu yang lain.
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan semburat jingga yang hangat di lantai kayu kedai. Karena rencana awal untuk tutup lebih awal dari biasanya, suasana di dalam Thalassa Coffee kini sangat sunyi. Hanya tersisa Valerius yang duduk tenang di tempat favoritnya, sementara suara denting alat makan yang dirapikan oleh Sila dan Farel terdengar sayu dari arah dapur dan area belakang.
Melihat nampan berisi kopi hitam yang sudah siap, Savya mengambil inisiatif sendiri. Meski jantungnya berdebar sedikit lebih kencang, ia memutuskan untuk mengantarkannya langsung, bukan membiarkan Sila yang sejak tadi terus mencuri pandang ke arahnya dengan wajah menggoda.
Savya melangkah mendekat ke meja sudut. Ia menarik napas panjang, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan untuk mendapatkan ketenangannya kembali. Saat ia meletakkan cangkir itu, aroma kopi yang kuat bercampur dengan wangi samar kayu cendana milik Vale yang pernah ia ingat.
"Ini pesanan Anda, Tuan," ucap Savya dengan suara lembut. Senyum cerianya muncul secara alami, meski ia berusaha menahannya agar tidak terlihat terlalu gugup di depan pria yang terus memenuhi pikirannya itu.
Vale mendongak, menatap Savya yang berdiri di depannya dengan jepit bunga matahari yang masih terpasang rapi di rambutnya. "Terima kasih, Nona" jawabnya singkat.
Savya masih berdiri di sana selama beberapa detik setelah meletakkan nampan kosongnya. Baginya, momen ini terasa seperti jeda yang ia butuhkan di tengah keriuhan pikirannya—sebuah ketenangan yang biasanya hanya ia dapatkan saat sedang sendirian membaca novel. Namun kali ini, ketenangan itu ia temukan di balik tatapan seorang pria yang masih menjadi misteri besar baginya.
Di kejauhan, Sila hanya bisa tersenyum simpul melihat pemandangan itu, sementara Farel terus fokus menyelesaikan tugasnya agar mereka bisa segera pulang.
Savya masih berdiri mematung sejenak setelah meletakkan kopi hitam itu. Tangannya meremas nampan kosong dengan sedikit kuat, mencoba mengalihkan rasa canggung yang menjalar hingga ke ujung jarinya.
"Apa ada yang lain, Tuan?" tanya Savya pelan, masih menggunakan panggilan formal yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Valerius mendongak. Saat mata mereka bertemu, ia tidak langsung menyesap kopinya. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis di depannya sore ini. Biasanya, mata Valerius selalu menangkap siluet kuning terang dari jepit bunga matahari yang terselip di rambut Savya—sebuah detail yang membuat gadis itu selalu tampak seperti pagi yang cerah. Namun hari ini, jepit itu tidak ada. Rambut Savya tersanggul sedikit lebih acak, memberikan kesan lebih santai namun tetap memancarkan kehangatan yang tulus.
Valerius hanya diam, membiarkan matanya mengamati detail kecil itu tanpa berniat mengucapkannya. Ia memperhatikan bagaimana Savya sesekali merapikan helai rambutnya yang jatuh, sebuah gerakan yang tampak lebih gugup namun entah mengapa terlihat sangat manis di mata Valerius.
Meskipun Savya berusaha menetralkan ekspresinya dan tetap tersenyum ceria, Valerius bisa merasakan ada antusiasme yang tertahan di sana. Baginya, ketiadaan jepit bunga matahari itu justru membuat sosok Savya terasa lebih nyata, lebih dekat dengan ketenangan yang sering ia cari di kedai ini, meskipun ada yang sedikit kurang. Valerius kembali menyesap kopinya, membiarkan pengamatannya menjadi rahasia kecil yang hanya ia simpan sendiri di tengah keheningan sore yang tenang.
Saat Valerius meletakkan cangkirnya yang masih mengepul, lalu mendongak menatap Savya dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa lebih bersahabat. "Vale," potongnya singkat. "Panggil saja Vale. Kurasa pertemuan kita yang tidak terencana di toko lensa kemarin sudah cukup untuk menghapus kata 'Tuan' itu, bukan?"
Wajah Savya memanas seketika. Ia mencoba menetralkan ekspresinya dengan menarik napas panjang, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan untuk menenangkan diri. "Baiklah... Vale, Kalau begitu panggil saja saya Savya." ucapnya dengan nada yang masih sedikit kaku namun diiringi senyum ceria yang tertahan.
Vale menyandarkan punggungnya, matanya menyapu sekeliling kedai yang kini sudah sepi karena Sila dan Farel sedang sibuk membereskan bagian belakang untuk tutup lebih awal. "Dunia ini terasa sempit, ya? Dari sudut jendela kedai ini, lalu tiba-tiba berpapasan di toko lensa, dan sekarang aku kembali lagi ke sini," ujar Vale memulai percakapan, seolah menarik benang merah dari semua pertemuan mereka.
Savya hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya tanpa sadar memainkan jepit bunga matahari di rambutnya.
"Kau tahu, Savya ?" Valerius melanjutkan dengan nada sedikit menggoda. "Padahal hanya tersisa aku sebagai pengunjung di sini, tapi kau terlihat sangat gugup sekaligus... antusias. Apa melayani satu orang pelanggan terakhir selalu seperti ini bagimu?"
Pertanyaan itu membuat Savya tertegun. Ia merasa tertangkap basah. Bagi gadis yang belum pernah menjalin hubungan asmara sebelumnya, setiap kata yang diucapkan Valerius terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Ia ingin menjawab dengan santai, namun rasa penasaran dan detak jantungnya justru saling beradu di dalam dada.
Savya segera menegakkan punggungnya, berusaha mengumpulkan kembali wibawa sebagai pemilik kedai yang tenang. Ia menarik napas panjang, sebuah kebiasaan yang selalu ia gunakan untuk menetralkan debar jantungnya.
"Ah, itu... Anda salah paham," sanggah Savya dengan senyum ceria yang dipaksakan sealami mungkin. "Saya tidak gugup. Hanya saja, kebetulan hari ini kedai memang akan tutup lebih cepat dari biasanya. Jadi, saya tidak merasa terlalu lelah dan masih menyimpan banyak energi untuk tetap ramah. Itu saja, tidak lebih."
Ia merasa alasannya cukup masuk akal, sampai sebuah suara dari arah belakang menghancurkan pertahanan itu dalam sekejap.
"Mbak Savya! Kami sudah selesai semua, ya!" seru Sila sambil berjalan menuju pintu depan bersama Farel.
Sila melirik ke arah meja sudut dengan tatapan jahil yang sangat kentara, lalu beralih menatap Savya yang kini mematung. "Sisa meja yang berantakan sudah dibereskan Farel, dan semua sisa kekacauan di dapur juga sudah beres. Karena Mbak bilang mau tutup awal, kami pamit pulang duluan ya, Mbak!"
"Eh? Tapi..." Savya belum sempat membalas ketika Farel hanya memberikan anggukan singkat tanda pamit.
"Hati-hati berduaan saja, Mbak! Kami pulang dulu!" goda Sila sekali lagi sebelum mereka berdua benar-benar menghilang di balik pintu, meninggalkan bunyi lonceng yang berdenting pelan sebagai penutup keheningan.
Kini, Thalassa Coffee benar-benar hanya menyisakan Savya dan Valerius.
Savya berdiri terpaku di depan meja Valerius, nampan kosong di tangannya terasa tiba-tiba sangat berat. Ia tidak berani menatap Valerius, namun ia bisa merasakan sepasang mata pria itu kini menatapnya dengan binar geli yang tertahan. Kebohongan kecilnya tentang "tidak lelah karena ingin tutup awal" justru berujung pada situasi yang jauh lebih mendebarkan bagi gadis yang belum pernah menjalin hubungan asmara ini.
Hening sejenak menyelimuti sudut kedai setelah Sila dan Farel pergi. Savya masih meremas pinggiran nampannya, merasa tertangkap basah oleh kebohongan kecilnya sendiri. Namun, Valerius dengan sigap menangkap kegelisahan itu.
"Sepertinya aku harus segera menghabiskan kopi ini dan pergi," ujar Valerius dengan nada suara yang sengaja dilembutkan agar tidak menambah kecanggungan. "Kedai ini mau tutup lebih awal, dan mungkin kau punya urusan penting lain yang menanti, sehingga kau menyiapkan banyak energi hanya untuk membereskan tempat ini sendirian."
Savya mendongak, menatap mata Valerius yang teduh. Mendengar alasan Valerius yang seolah "menyelamatkan" harga dirinya, Savya justru merasa ingin jujur. Ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat ingin mengutarakan isi hatinya.
"Sebenarnya... saya sedang tidak ada urusan apa-apa," jawab Savya pelan, namun dengan senyum ceria yang kini terasa lebih tulus. "Saya hanya sedang ingin saja menutup kedai lebih awal hari ini. Mungkin saya hanya butuh sedikit waktu tenang untuk diri saya sendiri."
Savya memberikan isyarat dengan tangannya agar Valerius kembali tenang di kursinya. "Jadi, Anda tidak perlu terburu-buru. Nikmati saja kopi hitam Anda sampai habis. Bagaimanapun juga, saya sendiri pemilik kedai ini, jadi tidak akan ada yang memarahi saya jika kita tutup sedikit lebih lambat dari rencana."
Valerius tampak sedikit terkejut dengan kejujuran Savya yang polos, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya. Ia kembali menyesap kopinya dengan santai, membiarkan aroma kopi dan kehangatan sore itu mengisi ruang di antara mereka. Savya, yang merasa sedikit lega karena sudah berkata jujur, mulai merasa bahwa rasa penasarannya pada pria ini bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah babak baru yang mendebarkan bagi dirinya yang belum pernah mengenal hubungan sebelumnya.
..." Story by Vian's."...