"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
"Jangan bergerak satu milimeter pun, Calla... Saya mohon."
Suara Alaric terdengar seperti bisikan frustrasi yang tertahan di tenggorokan. Jam dinding kayu di kamar masa kecilnya sudah menunjukkan pukul tiga pagi, namun sang Komandan Pasukan Khusus sama sekali belum memejamkan mata. Jangankan tertidur, bernapas dengan normal saja rasanya seperti sedang menjinakkan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Di bawah remang pendar lampu tidur, Alaric menatap wajah Calla yang berada tepat di bawah dagunya. Gadis itu sudah tertidur dengan sangat damai, napasnya teratur, dan bibir merah mudanya sedikit terbuka, memancarkan kepolosan yang luar biasa.
Namun, kedamaian itu sama sekali tidak mencerminkan posisi tubuhnya.
Tangan kiri Calla melingkar erat di pinggang tegap Alaric, sementara kaki kanannya yang mulus tanpa beban sudah naik dengan santai ke atas paha kokoh suaminya. Tidak tanggung-tanggung, posisi lutut Calla bahkan tepat berada beberapa sentimeter di dekat area sensitif Alaric—tempat di mana kejantanannya sudah menegang sempurna sejak dua jam yang lalu.
"Enghh... Papa..." gumam Calla dalam tidurnya.
Alih-alih menjauh, kepala Calla malah mendusel-dusel manja di ceruk leher Alaric, mencari posisi paling nyaman. Rambut panjangnya yang wangi stroberi bergesekan langsung dengan kulit leher Alaric, mengirimkan sengatan listrik tak kasat mata yang membuat seluruh otot tubuh sang komandan meremang hebat.
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Pria normal mana yang tahan menghadapi cobaan seperti ini? Menghadapi ratusan teroris di hutan belantara tidak pernah membuat jantungnya berdegup se-anarkis ini.
Ia kembali membuka mata, menatap lekat-lekat bibir pink Calla yang berjarak sangat dekat dari wajahnya. Ada dorongan purba yang sangat kuat di dalam dadanya untuk menunduk dan melumat bibir ranum itu, merasakan kehangatan istrinya yang sesungguhnya.
"Kamu benar-benar menguji iman saya, Ismut..." bisik Alaric parau, merutuki julukan konyol yang sialnya sekarang terasa sangat pas di hatinya.
"Paksu... dingin..." Calla kembali meracau kecil, tubuhnya semakin merapat, membuat seluruh lekuk tubuh piyamanya menempel sempurna pada tubuh kekar Alaric.
Alaric menarik napas dalam-dalam lewat hidung dan mengembuskannya perlahan lewat mulut, mencoba menerapkan teknik meditasi penenang pikiran yang diajarkan di barak militer. Namun, teknik itu gagal total ketika kaki Calla sedikit bergerak, menggesek santai pusat pertahanannya yang sudah berada di ambang batas.
Sial, umpat Alaric dalam hati.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, seperti sedang memindahkan ranjau darat, Alaric menyelipkan tangan kanannya ke bawah lutut Calla, mencoba menurunkan kaki nakal itu dari atas tubuhnya.
"Hmm? Paksu mau kabur ya?"
Alaric mendadak membeku. Kedua matanya melotot menatap Calla yang ternyata sudah membuka mata kucingnya sedikit. Tatapan gadis itu masih sayu karena mengantuk, namun sebuah senyuman jahil yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya.
"Saya tidak kabur. Saya hanya membetulkan posisi tidurmu, Calla. Kaki kamu... tidak sopan," ujar Alaric kaku, suaranya terdengar sangat serak dan berat.
"Bohong. Bilang aja Paksu tegang, kan?" celetuk Calla frontal, sama sekali tidak merasa malu walau posisinya saat ini sangat intim. Ia bahkan sengaja mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Alaric.
Wajah Alaric yang biasanya garang langsung merona merah tua dalam sekejap. "Callanta, jaga bicaramu. Kembali tidur."
"Nggak mau. Paksu dari tadi keringetan terus padahal AC-nya udah dingin. Jantung Paksu juga jedag-jedug kenceng banget kayak musik gym," bisik Calla, mendongak menatap rahang tegas Alaric yang mengeras. "Kenapa sih? Ismut kan udah bilang, kalau Paksu mau 'minta' sekarang juga boleh... Ismut kan istri yang solehot..."
Alaric memegang kedua pundak Calla, sedikit menjauhkan tubuh gadis itu agar ia bisa berpikir jernih. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Calla dengan sorot yang sangat dalam, pekat oleh hasrat yang tertahan namun juga penuh dengan rasa hormat.
"Calla, dengar saya," ucap Alaric, nadanya berubah menjadi sangat serius dan teduh. "Kamu baru saja kehilangan Papamu kemarin siang. Kamu sedang berduka, dan emosimu belum stabil. Saya tidak akan memanfaatkan keadaanmu hanya untuk memuaskan nafsu saya."
Calla tertegun. Tatapan matanya yang tadi penuh candaan perlahan melunak. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya mendengar ucapan pria berusia 38 tahun di depannya ini. Alaric melindunginya, bahkan dari dirinya sendiri.
"Tapi... Paksu tersiksa, kan?" tanya Calla lirih, jemari kecilnya bergerak menyentuh dada bidang Alaric, merasakan detak jantung suaminya yang masih bertalu kencang.
Alaric menghela napas panjang, lalu meraih tangan Calla dan menggenggamnya erat di atas dada. "Itu urusan saya. Menahan diri adalah makanan sehari-hari tentara. Sekarang, pejamkan matamu."
"Janji jangan pindah ke sofa?" Calla memastikan, menatap Alaric dengan pandangan memohon yang cengeng.
"Iya, saya berjanji. Saya akan tetap di sini, memelukmu sampai pagi," jawab Alaric lembut, sambil menarik kembali selimut tebal mereka hingga sebatas dada.
Calla tersenyum puas. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alaric, menghirup aroma maskulin suaminya yang menenangkan. "Makasih ya, Paksu kaku... Ismut sayang Papa, dan... Ismut juga mulai suka sama Paksu."
Alaric tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Ia hanya mengecup pucuk kepala Calla dengan lembut, lalu mengeratkan pelukannya, membiarkan kaki dan tangan istri cegil-nya kembali memenjarakan tubuhnya. Malam ini, sang Komandan Pasukan Khusus rela kalah dan menyerah total dalam dekapan istri imutnya.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨