NovelToon NovelToon
LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗

Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.

Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.

Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.

Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaluna dan Safira dalam bahaya

“Ton, gimana? Apa kamu tahu di mana keberadaan Letda Kaluna dan Letda Safira?” tanya Nakara.

Anton menggeleng lemah. Pria itu tak bisa berkata-kata, sebab kini ponsel Kaluna dan Safira sama sekali tidak bisa dihubungi.

“Ponsel mereka sudah tidak terlacak, Lettu,” jawab Anton. Ia nampak tertunduk.

Rasanya Anton sangat tidak becus. Mengemban tugas seperti ini saja gagal dan malah menimbulkan kepanikan seperti ini.

Seharusnya tadi ia tidak bersembunyi terlalu jauh, atau mungkin bisa saja ia ikut bersama Kaluna dan Safira.

“Cih, saya terlalu tinggi menilai kamu, Ton. Saya pikir orang yang banyak bicara itu cerdas, ternyata pepatah memang benar, tong kosong nyaring bunyinya,” rutuk Kalvin sinis.

Ucapan Kalvin terasa menusuk hati Anton, namun ia pun tak bisa mengelak. Mungkin sebagian perkataan Kalvin memang benar.

“Coba kamu pikir! Kalau terjadi sesuatu pada mereka, apa yang harus kita lakukan?” bentak Kalvin, netranya memerah menahan geram.

“Komandan, sudah. Lebih baik kita mengejar mereka,” ajak Nakara memutus perdebatan tak berfaedah itu.

Kalvin menghela napas, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Nakara dan Anton.

Nakara menepuk bahu Anton. Ia pun kesal dengan kelalaian Anton, namun ini bukan saatnya saling menyalahkan.

“Kemarikan ponselmu,” pinta Nakara.

Tanpa membantah, Anton segera memberikan ponselnya. Lalu menerima HT sebagai alat komunikasi mereka.

“Apa ada petunjuk ke mana Letda Kaluna dan Letda Safira dibawa?” tanya Nakara.

“Ada, Lettu. Terakhir Letda Kaluna sempat mengirim lokasi mereka. Itu jalan menuju pedalaman hutan,” jelas Anton lirih.

Nakara berdecak. “Tunggu Kapten Galang di sini. Teman-teman yang lain akan segera kemari. Saya dan Kapten Kalvin akan berusaha mengejar mereka. Semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan.”

Nakara segera kembali ke dalam mobil, sebab Kalvin tak henti membuat kebisingan dengan menekan klakson berulang-ulang.

Kembali Kalvin melajukan mobil itu dengan cepat, sementara Anton hanya bisa memandangi mereka.

Sakit jika mengingat perkataan Kalvin. Selama ini pria itu tak pernah marah meski Anton sering mengatai atau membicarakannya di belakang. Namun kali ini sangat terlihat jelas jika Kalvin benar-benar kesal padanya.

Anton menyadari jika ini kesalahannya. Ia sudah sangat lalai dalam menjalankan tugas. Ada dua rekannya yang saat ini sedang dalam bahaya. Jika terjadi sesuatu pada Kaluna dan Safira, sudah tentu ia akan sangat merasa bersalah.

“Ke mana orang itu membawa Kaluna dan Safira?” tanya Kalvin. Wajahnya begitu serius menatap jalanan di hadapan mereka.

“Ke arah pedalaman hutan, Vin,” jawab Nakara.

“Hah...” Kalvin dibuat syok oleh kenyataan itu.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kalvin kembali menginjak pedal gas lebih dalam. Membuat Nakara menghela napas panjang.

Tak henti-hentinya mulutnya merapalkan doa, berharap Kaluna dan Safira tidak kenapa-napa. Begitu pula dengan dirinya.

Cara mengemudi Kalvin yang tidak seperti biasanya membuat Nakara tegang. Namun ia tak berani protes, sadar kedua rekan mereka sedang dalam bahaya.

Maka dari itu, Nakara hanya bisa berdoa agar mobil yang dikemudikan Kalvin tidak mengalami kecelakaan.

...****************...

Seorang pria yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahun menyeret lengan Kaluna agar ia turun dari mobil. Perlakuan kasarnya membuat Kaluna terhuyung.

Melihat itu, Safira hanya bisa menghela napas panjang. Haruskah ia segera melawan? Situasi ini benar-benar menegangkan. Tidak mungkin ia bisa mengalahkan keenam laki-laki itu. Sialnya, senjata mereka sengaja ditinggal di dalam mobil.

“Hei, kamu! Cepat turun!” suara berat itu menginterupsi Safira, membuat wanita berusia dua puluh delapan tahun itu bergegas menyusul Kaluna.

Tidak seperti tadi, kali ini tatapan Yohanes begitu menjijikkan. Pria itu memperhatikan mereka dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Sejenak Kaluna dan Safira saling tatap, berusaha memahami kondisi dan situasi di sekitar. Lokasi mereka saat ini cukup jauh dari jalan utama. Jadi, mungkinkah ada orang yang bisa menemukan keberadaan mereka di sini?

“Kamu yakin aman, Han?” tanya salah satu pemuda yang tampaknya lebih muda dari Kaluna dan Safira.

“Aman. Mereka relawan kesehatan dari kota. Tidak ada yang akan mengenali mereka di sini,” jawab Yohanes santai.

Salah satu pria yang tadi mendapat hantaman pintu dari Kaluna kini memeluk tubuh wanita itu dari belakang.

Refleks, Kaluna menginjak kakinya lalu memutar tangan pria itu hingga mengerang kesakitan.

Peristiwa itu membuat rekan-rekan Yohanes saling tatap. Tentu mereka tidak menyangka jika Kaluna mampu melawan, bahkan dengan mudah membuat teman mereka kesakitan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Safira. Ia menginjak kaki laki-laki di sebelahnya, lalu berlari mendekati Kaluna.

Kedua wanita itu kini berdiri berdampingan, memandangi lima pria yang menatap mereka dengan sorot mata penuh kemarahan.

“Lun, kabur aja yuk! Nggak mungkin kita ngalahin mereka,” usul Safira.

Kaluna menghela napas, masih berusaha menahan pergerakan laki-laki yang berada di bawah kendalinya. Semakin pria itu memberontak, semakin kuat pula Kaluna memutar tangannya.

“Akhh... sialan! Sakit, jalang!” makinya kesakitan.

“Hei, kenapa kalian diam saja? Tangkap mereka! Perempuan jalang ini lebih baik kita habisi saja lalu buang ke dalam jurang. Tidak akan ada yang menemukan mereka!”

Meski sudah berada di bawah kendali Kaluna, pria itu masih saja melontarkan ancaman keji yang membuat Kaluna geram. Wanita itu memutar tangannya lebih kuat hingga terdengar bunyi dari bagian bahunya.

“Akkhh... sakit!” seru pria itu sambil terus berusaha memberontak.

Yohanes nampak bertepuk tangan, entah apa maksud tingkahnya itu. Namun Kaluna dan Safira benar-benar jengah melihatnya. Nyatanya wajah polos dan baik-baik tidak menjamin orang itu memiliki sikap yang baik pula.

“Hebat juga kalian. Ayolah jangan melawan! Kita bersenang-senang saja. Kalian orang kota pasti sudah biasa hidup bebas. Saya juga akan kasih uang, lumayan buat biaya kalian pulang nanti,” tawar Yohanes dengan santai.

“Cuihhh...” Kaluna membuang air liurnya tepat di hadapan Yohanes, membuat pria itu marah. Tangannya terkepal dengan urat menonjol di bagian kening dan rahangnya.

“Mau sok jual mahal kalian. Kalian mungkin bisa mengalahkan dia, tapi belum tentu bisa mengalahkan kami.” Yohanes berjalan mendekati Kaluna dan Safira, diikuti keempat temannya. Mereka sengaja berdiri melingkari Safira dan Kaluna agar kedua wanita itu tak mudah kabur.

“Lepaskan kami, maka kami akan memaafkan kalian! Tapi jika kalian tetap nekat, maka bersiap-siaplah kalian akan menyesal,” tekan Kaluna penuh keyakinan.

Nyatanya ancaman Kaluna disambut tawa nyaring dari kelima pria itu. Mereka semakin mendekat, membuat Kaluna akhirnya mau tak mau melepaskan tawanannya agar dapat melawan Yohanes dan empat teman lainnya.

“Kita mulai,” ucap Yohanes.

Perkelahian tak dapat dihindari lagi. Kaluna dan Safira tidak fokus melawan. Kedua wanita itu masih berusaha lari menuju jalan besar. Namun sialnya, kelima laki-laki itu kembali mengepung mereka.

“Hati-hati, Fir!” pesan Kaluna.

Seumur hidup baru kali ini Kaluna dan Safira melewati momen yang sangat menegangkan seperti ini.

Mereka berharap bantuan segera datang. Jika tidak, mungkin hidup mereka akan berakhir di tengah hutan itu.

Mah, bantu Luna, Mah, batin Kaluna.

Sangat disayangkan, perlawanan Kaluna dan Safira tak terlalu berarti bagi kelima laki-laki itu.

Meski sempat melawan, namun akhirnya Safira tak sadarkan diri setelah mendapat hantaman di bagian leher oleh salah satu teman Yohanes.

“Safira...” pekik Kaluna. Tubuhnya gemetar mendapati Safira tergeletak di belakangnya.

“Bajingan kalian! Laki-laki macam apa yang beraninya pada perempuan?” tak henti sumpah serapah Kaluna berikan pada Yohanes dan kawan-kawannya.

“Sepertinya dia melakukan penyamaran. Nama perkenalan berbeda dengan nama asli.” Yohanes menyipitkan mata, menatap curiga pada Kaluna yang nampak khawatir bercampur takut.

Apalagi saat Yohanes mulai berjalan mendekatinya. Tak mungkin ia meninggalkan sahabatnya di sana seorang diri.

Rekan Yohanes lainnya menggendong Safira, sementara salah seorang lainnya menyergap tubuh Kaluna dari belakang. Akibat panik membuatnya tak siap mendapat serangan mendadak itu, hingga akhirnya Yohanes bisa menangkapnya.

“Han, patahkan saja tangannya. Dia sudah bikin tangan saya cedera,” pinta salah seorang teman Yohanes.

Degup jantung Kaluna berdebar kencang. Jangankan memikirkan Safira, memikirkan nasibnya sendiri pun entah akan seperti apa. Kaluna benar-benar berharap jika ada orang yang melihat mereka di tengah hutan itu.

Dari kejauhan nampak salah satu pria itu melepaskan kaus yang Safira kenakan, lalu melemparkannya ke hadapan Kaluna, membuat Kaluna takut luar biasa.

“Tolong jangan apa-apakan teman saya,” mohon Kaluna dengan tubuh gemetar.

“Kenapa harus memohon? Sebentar lagi giliran kamu,” ucap Yohanes sambil mengusap pipi Kaluna.

1
Alfatia🌷
Udah mulai mau ngobrol sedikit lebih banyak nih yaaa🤣
Alfatia🌷
Gak bayangin kalau Kaluna tau itu calon iparnya, terus masih ngira Kalvin penyuka sesama jenis😭🤣
Laela Kurnia
bagus bgt 👌💯
Alfatia🌷
Udah senyum-senyum tipis nihh. Curiga lama-lama ngajak ketawa bareng🤣🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 aku aduin bapakmu loh.
Mutia Kim🍑: Jangan gitu kak, nanti Kalvin malah nggak mau balik ke Jakarta😭🤣
total 1 replies
Alfatia🌷
Kaluna, itu calon iparmu loh😭
Mutia Kim🍑: Kan dia nggak tau kak😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Yang ngasih nama anaknya siapa😭 kenapa inisial nya ngikut bapaknya semua🤣
Mutia Kim🍑: Authornya😎
total 1 replies
Alfatia🌷
Anton nyari kesempatan banget🤣
Alfatia🌷
Kalvin😭 jangan gitu lah. Nanti malah kepincut loh😌
Alfatia🌷
Luna, dia anak camer mu lohh!!😭
Alfatia🌷
Kalvin kayak Bapaknya banget kayaknya, bodo amatan😭
Mutia Kim🍑: Bener. Dua anak laki-laki Kaivan itu sama persis kayak bapaknya yg anti cewek🥲
total 1 replies
Alfatia🌷
Ahhhh😭 sedih banget bawaannya kalau lihat Raynand🥹 sehat-sehat Om Duda tua❤
Alfatia🌷
Raynand pasti kehilangan banget ya, trauma juga. Makanannya butuh waktu lama buat izinin Kaluna😌
Alfatia🌷
Huwaaa... aku juga sedih Kirana jadi gak ada😭😭
Aril Chan
Sangat luar biasa
Alfatia🌷
Kevan ngikut jejak Bapaknya, kah🤣 jangan sampai pas masih pengantin ditinggal tugas juga🤣
Mutia Kim🍑: Tapi dia kan belum mau nikah, katanya mau PDKT dulu😆
total 1 replies
Alfatia🌷
Masih nyimak, tapi... ini Kirana sahabatnya Ravela, kan? Hah... dia gak lihat anaknya nikah dong😭🥹
Mutia Kim🍑: Iya Kirana meninggal 😭😭
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
keren terus semangat ya/Drool/
Mayraa_Tapaa
semangat ka, aku mampir ya💪
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!