Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.Jalan Hidup dan Mati Xiao Xuan
Di balik punggung Xiao Xuan, cahaya samar berkedip-kedip, pertanda ia sedang berperang batin yang berat. Tangan kanannya tergenggam erat, bergetar pelan,
seolah ragu apakah harus memanggil kembali wujud sejati Rohnya yang telah menguras seluruh tenaganya kemarin. Sementara tangan kirinya mencengkeram saku di dadanya, meraba sisa-sisa jimat pelindung yang tinggal sedikit jumlahnya.
Ia tahu betul kondisinya saat ini. Tubuhnya masih terasa berat, meriang, dan kehabisan tenaga akibat serangan dahsyat yang ia lancarkan di hutan. Menghadapi satu Tetua Roh saja sekarang sudah sangat berisiko,
apalagi kini musuh yang datang adalah seorang Leluhur Roh ditambah dua orang Tetua Roh lagi. Perbedaan kekuatan itu bukan sekadar selisih angka, melainkan jurang yang tak terjangkau. Melawan berarti mati sia-sia.
Satu-satunya jalan yang masuk akal saat ini hanyalah lari.
Namun... pandangannya melirik ke arah Lang Xi yang terhuyung-huyung menahan sakit dada, dan Xue Ling yang wajahnya sudah pucat pasi namun tetap berusaha tampil tenang.
Kalau aku lari sendiri... aku pasti bisa lolos. Kecepatanku, ditambah sisa jimat yang ada, mereka takkan mampu mengejarku,
batin Xiao Xuan bergemuruh, matanya berkilat tajam penuh perhitungan. Tapi kalau aku membawa mereka berdua... peluang selamatnya kecil. Tapi membiarkan mereka di sini? Menjadi sasaran empuk pembantaian?
Gigi-giginya saling menggeram keras.
Tak ada pilihan lain. Aku takkan membiarkan siapa pun mati di hadapanku, bukan setelah mereka berbuat baik padaku. Kita lari... aku akan membawa mereka keluar dari sini, atau kita hancur bersama!
"Tuan-tuan... maafkan aku kalau aku kasar nanti..." gumamnya pelan, sorot matanya berubah tajam dan kejam, siap melakukan apa saja demi bertahan hidup.
Tepat saat tekad bulat itu terbentuk, dua kantong kain tebal melayang terlempar ke arahnya. Diikuti suara parau namun tegas milik Lang Xi.
"Xiao Xuan! Bawa Ling'er dan lari sekarang juga! Cepat!"
Lang Xi melemparkan kekayaan hasil penjualan obat itu kepadanya, lalu dengan sekuat tenaga memutar badannya, menghadap langsung ke arah kedua Tetua Roh yang bergerak maju.
Roh jiwanya sudah dipanggil keluar, meski aura yang dipancarkannya jauh lebih redup dari biasanya.
"Urusan ini aku yang tahan! Kalau kalian selamat, sampaikan uang ini pada keluarga saudaraku... katakan, Lang Xi mati demi persahabatan!"
"Lang Xi! Kau mencari mati sendiri?!" Hong Xi menggeram marah melihat lelaki itu berani memblokir jalan. Ia melesat maju, niatnya jelas menggunakan kekuatan mutlaknya sebagai Leluhur Roh untuk melenyapkan penghalang kecil yang terluka itu dalam sekejap.
"Duri Kayu Menusuk!"
Tanpa peringatan, sebuah ranting kayu tebal dan tajam melesat dari samping, tepat di belakang punggung Lang Xi, lalu melesat menusuk ke arah dada Hong Xi dengan kecepatan kilat.
Hong Xi terkejut setengah mati. Ia terpaksa menghentikan serangannya, mengangkat lengan besarnya untuk menangkis serangan mendadak itu.
DUKK!!
Duri kayu itu hancur lebur berkeping-keping saat bertemu tenaga dalam Hong Xi. Serpihan kayu halus berhamburan ke segala arah, menutupi pandangan seluruh ruangan dalam kabut debu sesaat.
"SEKARANG PERGI!!"
Suara Xiao Xuan melengking di tengah kekacauan itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyambar tangan Ling'er, lalu mencengkeram lengan Lang Xi yang masih agak linglung.
Dengan kekuatan fisik yang jauh melebihi ukuran tubuhnya, ia menarik kedua orang itu, melompat tinggi menerobos kaca jendela besar di ruangan itu, melesat ke luar ke dalam kegelapan malam.
"Sialan! Kejar mereka! Jangan biarkan ada yang lolos!"
Di balik kabut debu, Hong Xi meraung murka. Ia melihat bayangan tiga sosok menghilang ke malam. Kedua Tetua Roh di belakangnya segera berlari menerobos puing-puing mengejar ke arah jendela yang pecah berantakan itu.
Xiao Xuan mendarat di dinding luar, lalu menginjakkan kaki di bingkai jendela lantai satu, memanfaatkan teknik langkah ringan Ladder Cloud Step.
Kakinya bergerak secepat kilat, melompat dari satu titik pijakan ke titik lain, membawa dua orang di sisinya turun ke tanah dengan selamat dan mulus. Begitu menyentuh tanah keras, ia langsung berlari kencang sekuat tenaga, melesat di antara gang-gang sempit kota.
Ling'er berlari di sampingnya, napasnya terengah namun ia berusaha mengimbangi. Rasa krisis maut yang terasa begitu nyata di tengkuknya entah bagaimana memacu potensi tersembunyinya; kecepatannya ternyata tak kalah jauh dari Xiao Xuan sendiri.
Namun tak ada yang melihat, di balik punggung Xiao Xuan, jimat-jimat pelindung yang tertanam di dada dan punggungnya perlahan berubah menjadi abu halus.
Ia membakar sisa-sisa kekuatan roh dalam benda-benda itu hanya demi mendapatkan sedikit tambahan kecepatan, memeras setiap tetes kemampuan yang masih tersisa di tubuhnya.
"Anak ini... sangat gigih!"
Di atas atap rumah di kejauhan, Hong Xi melihat bayangan yang semakin menjauh itu dengan mata yang berapi-api penuh niat membunuh.
"Aku takkan membiarkanmu hidup. Kalau kau lolos hari ini, di masa depan kau pasti akan menjadi duri dalam daging yang tak mungkin kucabut. Kau harus mati, di sini, sekarang!"
Sebagai Leluhur Roh tingkat tinggi, Hong Xi melesat bagai burung pemangsa. Di belakangnya, dua Tetua Roh juga bergerak dengan kecepatan mengerikan. Jarak antara pengejar dan yang dikejar perlahan namun pasti semakin menipis.
Seberapapun cepatnya Xiao Xuan dan Ling'er, mereka tetaplah Master Roh. Di hadapan perbedaan tingkat kekuatan yang begitu jauh, bahkan dengan bantuan jimat kecepatan pun,
selisih kemampuan dasar itu takkan bisa ditutup selamanya. Ditambah lagi Xiao Xuan harus menopang berat tubuh Lang Xi yang terluka parah, kecepatan mereka perlahan melambat.
Hanya dalam waktu singkat, suara langkah kaki berat dan napas dingin sudah terdengar persis di belakang punggung mereka.
"Berhenti lari! Kau sudah sampai di ujung jalanmu, anak muda!"
Hong Xi melompat turun dari atap, mendarat kokoh di depan mereka, memblokir jalan setapak yang gelap itu. Kedua Tetua Roh mendarat di sisi kiri dan kanan, mengurung mereka sepenuhnya.
Hong Xi menatap tajam ke arah Xiao Xuan yang berdiri terengah, masih menopang Lang Xi. Senyum sinis terukir di bibirnya.
"Kau adalah Master Roh pertama yang membuatku, seorang Leluhur Roh, harus memimpin pasukan khusus untuk memburu. Kau hebat sekali, tahu?
Meskipun kau mati sekarang, kau boleh bangga. Namamu akan tercatat sebagai musuh yang paling merepotkan yang pernah kuhadapi."
Xiao Xuan perlahan melepaskan genggamannya pada Lang Xi, mendorong lelaki itu pelan ke belakang agar terlindungi oleh tembok. Wajahnya yang pucat kini dipenuhi keringat dingin,
namun sorot matanya sama sekali tidak berkedip. Ia menatap Hong Xi dengan tatapan yang sama tajamnya, penuh tantangan dan kebencian.
"Omong kosong!" Xiao Xuan mendengus kasar, lalu dengan gerakan cepat ia memanggil kembali Tongkat Emas Penghancur Langit ke tangannya. Sisa satu lembar Jimat Pemadatan Logam yang terakhir ia tempelkan tepat di badan tongkat itu.
"Kalau kau beri aku waktu beberapa tahun saja... kita lihat siapa yang akan mati di tangan siapa! Kau pikir kau hebat hanya karena sekarang kau lebih kuat? Tunggu saja!"
Tongkat besar itu, seolah merasakan semangat juang tuannya yang meluap-luap, kembali bersinar. Cahaya keemasan yang hangat namun ganas memancar terang dari ujung hingga pangkal,
diterangi oleh cahaya cincin roh di bawah kaki Xiao Xuan. Di jalanan yang gelap gulita itu, tongkat itu bagai lentera pembawa maut.
Di saat yang sama, tulang roh eksternal di punggung Xiao Xuan berdenyut kencang. Ia memaksakan sisa kekuatan terakhirnya, memacu setiap serat otot dan pembuluh darahnya.
Di bawah naungan malam, tubuh kurusnya perlahan membesar, menjulang lebih tinggi, bahunya melebar, dan kulitnya mengeras sekeras besi tempa. Ia mengerahkan segalanya. Tak ada lagi simpanan, tak ada lagi cadangan.
Karena ia tahu... tak ada jalan untuk mundur.
"Kalau mau berkelahi... mari kita berkelahi sampai darah menodai tanah!" Xiao Xuan meraung pelan, suaranya parau namun bergetar semangat. "Mati saja aku, aku akan gigit sedikit dagingmu sebelum aku jatuh!"
Melihat aura yang meledak-ledak dari tubuh pemuda yang tampak kurus itu, bahkan Hong Ya pun merasa bergidik ngeri.
Semangat juang yang tak kenal takut itu... keberanian yang melawan nasib itu... sungguh mengerikan. Seperti seekor serigala kecil yang terluka, namun siap mengoyak leher singa yang jauh lebih besar.
Namun ketakutan itu hanya sesaat. Hong Xi kembali menegakkan dada, tertawa keras dan kejam.
"Berisik! Aku akui kau punya bakat luar biasa. Mungkin benar, beberapa tahun lagi aku bukan tandinganmu. Tapi sayang sekali... kau takkan hidup sampai hari itu.
Di sini, sekarang, kau hanyalah semut yang akan kujepit mati. Mati dengan tenang saja, dan ingatlah untuk tidak terlalu berbakat di kehidupan selanjutnya!"
Roh jiwa Hong Xi melayang keluar, berwujud Ular Raksasa Bertanduk yang bersisik hitam pekat dan beracun. Mulutnya terbuka lebar, memancarkan aroma busuk dan mematikan.
Hong Xi mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, aura kekuatan empat puluh dua tingkat meledak sepenuhnya.
"Keahlian Roh Keempat serangan Langit Taring Ular!"
Ia tak mau mengambil risiko. Ia tak mau memberi celah sedikit pun. Ia langsung melepaskan serangan terkuatnya untuk memastikan pemuda jenius ini musnah seketika, tanpa sisa.
Xiao Xuan mencengkeram tongkatnya sekuat tenaga. Cahaya di tongkat itu semakin menyala terang, meski tangan pemuda itu gemetar hebat karena tenaga yang habis. Ia tahu ia takkan sanggup menahan serangan itu, tapi ia takkan lari. Ia akan memukul balik, bahkan jika itu berarti ia hancur berkeping-keping.
"Kau ingin aku mati... mimpimu saja..." geramnya, siap melompat maju.
Namun belum sempat kata-kata itu selesai terucap, sebuah angin kencang melesat dari kegelapan di atas sana.
WUSHHHH!!
Xiao Xuan hanya melihat kilatan cahaya hijau menyilaukan mata. Sesaat kemudian, sebuah senjata panjang berkilauan bagai daun zamrud melesat melewati tepat di samping bahunya, menebas udara dengan suara berdesing tajam.
Tombak itu terbang menembus udara, dan dengan kekuatan yang tak terbayangkan, ia menabrak serangan energi berbentuk mulut ular raksasa milik Hong Xi.
DERRRR!!!
Ledakan cahaya memancar, menerangi seluruh lorong jalan itu. Serangan maut Hong Xi hancur lebur seketika disambar tombak hijau itu.
Tanpa berhenti sedikit pun, tombak itu terus melaju, lalu menancap kuat ke tanah tepat di depan Xiao Xuan, berdiri tegak bagai pilar langit yang tak tergoyahkan.
Debu beterbangan. Keheningan melanda sejenak.
Tombak hijau itu memancarkan aura dingin, mengusir segala niat membunuh yang ada di sana, seolah menjadi benteng pelindung yang kokoh.
Xiao Xuan perlahan menurunkan tongkatnya, napasnya tersengal berat, matanya menatap takjub pada senjata asing yang tiba-tiba itu.
Hong Xi tertegun. Ia menatap tombak hijau itu, matanya menyempit tajam karena mengenali tekanan kekuatan yang terpancar darinya. Ia menoleh ke arah atap rumah di mana kilatan itu berasal, lalu berteriak marah.
"Siapa?! Siapa yang berani merusak urusanku?! Keluarlah! Kau mau mati rupanya?!"
Dari kegelapan di atas sana, terdengar suara berat, tenang, dan penuh wibawa, suara yang membuat darah Hong Xi seolah berhenti mengalir karena ketakutan.
"Hanya seorang Leluhur Roh tingkat empat puluh dua yang rendah diri... berani bertindak sewenang-wenang dan mencoba membunuh orang di jalanan kota?
Apakah kau benar-benar mengira pedang para penjaga Balai Roh sudah tumpul dan tak berfungsi lagi?!"
Sesosok bayangan perlahan turun dari ketinggian, melayang turun dengan anggun namun mengerikan. Saat kakinya menyentuh tanah, aura kekuatan yang dipancarkannya membuat kedua Tetua Roh di samping Hong Xi langsung berlutut gemetar ketakutan.
Di hadapan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah hijau, matanya tajam bagai elang, menatap Hong Xi seolah sedang menatap serangga mati.
"Kapten Pengawal Balai Kota ada di sini. Coba katakan padaku... alasan apa yang kau punya agar aku tidak langsung menangkap dan mengeksekusimu sekarang juga, Hong Xi?"