Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Alana tidak ingin berlarut-larut dalam rasa kesal. Perlahan, dia mengangkat kepalanya yang sempat terbenam di meja, lalu buru-buru mengajak Damar dan Naira ke kantin demi menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya.
Koridor kampus siang itu mulai ramai dipenuhi mahasiswa yang baru keluar masuk kelas. Suara obrolan bercampur tawa menggema di sepanjang lorong, bersahutan dengan bunyi langkah kaki dan dentingan notifikasi ponsel yang tidak ada habisnya.
Di antara kerumunan itu, Alana berjalan paling depan dengan wajah kusut luar biasa. Tangannya sibuk memeluk binder erat-erat ke dada, seolah benda itu adalah satu-satunya tameng yang menahannya agar tidak pingsan karena menanggung malu.
“Gue masih sakit hati,” gerutunya dengan nada tertahan.
Naira yang berjalan di sampingnya langsung terkekeh geli.
“Kenapa? Karena dimarahin?”
“Karena dipermalukan di depan rakyat jelata satu kelas, Naira!” jawab Alana dramatis. “Harga diri gue sekarang tinggal serpihan kerupuk warung, hancur lebur.”
Damar tertawa kecil dari barisan belakang. “Padahal lo sendiri yang cari gara-gara pakai tidur segala.”
Alana langsung balik badan dan menoleh cepat. “Lo tuh sebenarnya sahabat gue apa buzzernya Pak Arsen, sih?”
“Gue netral,” jawab Damar santai, mengangkat kedua tangannya.
“Netral dari mana? Tadi lo ketawa pas gue nggak bisa jawab pertanyaan dosen killer itu!”
“Ya habisnya muka lo lucu banget.”
“Semoga hidup lo dipenuhi tugas revisi sampai lulus,” sumpah Alana jengkel.
Naira kembali tertawa tanpa dosa melihat interaksi kedua sahabatnya, lalu merangkul bahu Alana pelan.
“Sudahlah, Na. Yang penting lo masih hidup dan bisa keluar dari kelas itu.”
“Belum tentu,” sahut Alana lemas, membiarkan tubuhnya diseret Naira. “Gue ngerasa roh gue masih tertinggal dan membeku di kursi kelas tadi.”
Mereka bertiga terus berjalan menuju kantin utama kampus. Karena jam istirahat baru saja dimulai beberapa menit yang lalu, suasana kantin sudah hampir penuh sesak.
Aroma gorengan, kuah bakso, mie instan, dan seduhan kopi instan bercampur menjadi satu di udara. Begitu menemukan satu meja kosong yang tersisa di sudut, Alana langsung menjatuhkan diri ke kursi dengan embusan napas panjang.
“Fix, gue mau pensiun aja jadi mahasiswa.”
“Lo baru jalan beberapa semester, Alana,” ucap Naira sambil memutar tutup botol minumnya.
“Justru itu! Perjalanan penderitaan gue masih panjang dan berliku.”
Damar mengambil posisi duduk di depan mereka berdua sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Pak Arsen emang galak dan mulutnya agak pedes, sih. Tapi kalau boleh jujur, cara dia ngajar tadi bagus banget. Gampang masuk ke otak.”
Alana langsung mendelik tajam, siap melayangkan protes. “Nah, tuh! Mulai lagi, kan?”
“Apanya?” tanya Damar bingung.
“Pembelaan terhadap manusia berhati kulkas itu.”
Naira ikut terkekeh, memperkeruh suasana. “Tapi emang harus diakui, dia ganteng banget, Na. Vibes-nya mahal.”
Alana spontan memukul permukaan meja dengan telapak tangannya pelan.
“Kenapa sih dari tadi semua orang cuma bahas gantengnya doang?!”
“Karena itu fakta yang menyegarkan mata,” jawab Naira tanpa ragu sedikit pun.
“Cowok ganteng di kampus ini juga banyak!”
“Tapi aura dingin-dingin tajirnya itu beda,” balas Naira makin heboh. “Tipe-tipe tokoh utama drakor kaya raya yang hobi nyakitin hati orang miskin lewat kata-kata.”
Alana langsung menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk kanan. “Nah! Itu dia! Dan gue adalah rakyat jelata yang jadi korban pertamanya!”
Damar kembali tertawa kecil melihat tingkah Alana. Namun belum sempat percakapan mereka berlanjut lebih jauh, atmosfer di dalam kantin mendadak bergeser.
Beberapa mahasiswi di meja sebelah mulai berbisik-bisik heboh sambil melirik ke arah pintu masuk utama kantin.
“Eh, itu… seriusan beliau ke kantin?”
“Pak Arsen, kan? Demi apa ke sini?!”
Alana yang saat itu sedang menyedot minumannya langsung tersedak kecil. “Uhuk! Hah? Siapa?” Refleks, kepalanya ikut menoleh ke arah pintu.
Dan benar saja, Arsen baru saja melangkah masuk ke area kantin bersama seorang pria lain yang tampak seusia dengannya.
Kemeja hitam pria itu masih tampak luar biasa rapi tanpa lecek sedikit pun, sama seperti tadi pagi. Tatapan matanya yang tajam tetap datar, memancarkan aura intimidasi yang langsung membuat area kantin yang tadinya berisik perlahan-lahan menjadi lebih tenang.
Beberapa mahasiswa bahkan otomatis membetulkan posisi duduk mereka menjadi lebih sopan.
Alana buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh meja.
“Kenapa lo malah ngumpet begitu?” bisik Naira heran melihat tingkah sahabatnya.
“Insting bertahan hidup. Jangan ajak gue ngomong dulu,” jawab Alana cepat dengan suara tertahan.
Damar hanya bisa menahan senyum geli melihat pemandangan itu.
Sementara di seberang sana, Arsen tampak berjalan santai menuju meja kosong di pojok kantin tanpa benar-benar memedulikan kasak-kusuk di sekitarnya.
Namun, sial memang tidak pernah mengetuk pintu sebelum datang. Saat Arsen berjalan melewati meja mereka, langkah kaki pria itu mendadak melambat sepersekian detik.
Tatapan tajamnya jatuh lurus pada binder milik Alana yang tergeletak pasrah di atas meja—menampilkan halaman penuh coretan bunga hasil ekspresi akademiknya tadi pagi.
Deg.
Jantung Alana serasa copot. Dia refleks menjulurkan tangan untuk menutup binder itu cepat-cepat.
Arsen yang melihat gerakan panik itu hanya mengangkat sebelah alisnya tipis. “Kreativitas mu cukup konsisten rupanya,” ujarnya datar, memecah keheningan meja mereka.
Naira langsung membungkuk, berpura-pura batuk demi menyembunyikan tawa yang hampir meledak, sedangkan Alana mendadak kaku seperti batu bata.
“Ini… bentuk pelampiasan batin aja, Pak,” jawab Alana dengan suara sepelan mungkin, berharap bumi mendadak terbelah dan menelannya.
“Sayang sekali pelampiasan batin mu tidak memberikan kontribusi apa pun untuk nilai akademik,” balas Arsen tenang, namun telak menusuk ulu hati.
Pria di samping Arsen bahkan sampai harus memalingkan wajah untuk menahan senyum geli mendengar sarkasme sahabatnya.
Sementara Arsen sendiri tetap memasang wajah datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lanjutkan makan siangnya,” ujarnya singkat sebelum akhirnya kembali melangkah pergi.
Begitu sosok tegap itu sudah berjarak cukup jauh, pertahanan Naira langsung jebol. Dia meledak tertawa sampai air matanya keluar. “YA AMPUN, ALANA! SUMPAH!”
Damar juga tidak bisa menahan diri lagi; dia memalingkan wajah sambil memegangi bahunya yang bergetar hebat karena tertawa tanpa suara.
Sedangkan Alana hanya bisa duduk mematung dengan tatapan mata kosong menatap bindernya.
“Hidup gue resmi selesai hari ini,” gumam Alana lirih, kehilangan separuh jiwanya.
“Lo lucu banget, Na, asli!” ujar Naira di sela-sela tawanya yang belum reda.
Alana langsung menunjuk dirinya sendiri, tidak terima. “Lucu dari mana?! Itu tadi namanya penindasan mental di depan publik!”
“Tapi dipikir-pikir aneh deh, kenapa dia harus repot-repot nyamperin meja lo cuma buat ngomong gitu?”
“Ya karena dia hobi melihat gue menderita!” sahut Alana mantap.
Damar akhirnya ikut bersuara setelah berhasil mengendalikan tawanya, dia menggeleng-geleng kecil.
“Tapi jujur, Na, entah kenapa pak Arsen kayaknya sengaja banget nyari celah buat nyindir lo.”
Alana terdiam sesaat mendengar ucapan Damar. Dalam hati, dia sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Tatapan Arsen tadi terasa agak membingungkan. Bukan tatapan marah, bukan juga kesal sepenuhnya.
Pria itu seperti sedang... memperhatikan dengan sengaja. Dan pemikiran itu justru membuat Alana merasa jauh lebih tidak nyaman.
“Na? Alana?” Naira melambaikan tangan di depan wajah sahabatnya yang mendadak melamun.
Alana langsung tersentak. “Hah? Kenapa?”
“Lo bengong lagi. Mikirin Pak Arsen ya?”
Alana buru-buru menggelengkan kepala dengan kuat. “Nggak! Ngapain banget. Gue cuma lagi mikir kenapa cobaan hidup gue di kampus ini mendadak berat banget.”
Meskipun mulutnya terus mengomel dan mengutuk sikap dingin sang dosen, diam-diam Alana harus mengakui satu hal dalam hati. Sejak menit pertama kelas pagi tadi dimulai... sosok pria menyebalkan itu terus saja berputar di kepalanya tanpa izin.