"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Penyangkalan Pagi Hari
"Singkirkan wajahmu dari pandanganku sekarang juga, Arga," desis Keysa dengan suara parau yang menyentak. Perempuan itu menarik tangannya sekuat tenaga dari cengkeraman kain kemeja suaminya seolah kain tersebut adalah bara api yang membakar kulitnya.
Arga yang tertidur di karpet lantai dengan posisi bersandar di tepi kasur langsung terjaga. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya terang dari jendela kaca yang luput ditutup rapat semalam. Laki-laki itu lekas berdiri, meregangkan otot punggungnya yang kaku dan berbunyi pelan akibat posisi tidur yang sangat buruk semalaman suntuk. Ia menatap Keysa dengan raut khawatir yang sama sekali tidak dibuat-buat.
"Suhu tubuhmu sudah turun?" Arga mengabaikan nada ketus istrinya. Laki-laki itu justru melangkah mendekat, berniat menempelkan punggung tangannya ke dahi Keysa untuk mengecek suhu secara langsung.
Keysa menepis tangan besar itu dengan kasar sebelum jari-jari Arga sempat menyentuh kulitnya. "Jangan berani menyentuhku lagi. Aku sudah sembuh. Keluar dari kamarku sekarang juga."
"Kamu berkeringat semalaman, Keysa. Aku hanya ingin memastikan demammu benar-benar hilang," ucap Arga sangat sabar. Suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan sosok tiran yang biasa membentak para manajer di kantor saat target laba tidak tercapai.
"Aku bilang keluar!" Keysa meninggikan suaranya, menarik selimut tebal itu hingga menutupi setengah dadanya sebagai bentuk pertahanan diri. Dia yang selama memasang tembok tinggi merasa sudah kecolongan. "Kehadiranmu di sini membuatku muak. Pergi mandi dan urus saja perusahaanmu. Aku tidak butuh perawat dadakan sepertimu."
Bentakan itu sama sekali tidak mempan. Arga menunduk menatap ujung kemejanya yang sangat kusut akibat cengkeraman tangan Keysa semalaman. Laki-laki itu menyeringai tipis, sebuah senyuman penuh arti yang sukses membuat dada Keysa berdesir tidak karuan.
"Kau mengusirku dengan kata-kata kejam, padahal semalaman penuh kau menggenggam kemejaku sampai kusut begini?" Arga menunjuk ujung kemejanya dengan tatapan menggoda. "Alam bawah sadarmu jauh lebih jujur daripada mulut tajammu, Keysa. Kau sama sekali tidak ingin aku pergi meninggalkanmu."
Wajah Keysa memerah seketika, entah karena sisa demam atau karena rasa malu yang tertangkap basah. Namun, otak briliannya langsung menyusun alasan logis dalam hitungan detik untuk membela diri.
"Itu efek samping obat keras dari dokter. Otakku berhalusinasi mengira kamu adalah bantal guling yang biasa kupeluk," bantah Keysa tanpa berkedip. "Jangan terlalu percaya diri, Arga. Aku memelukmu murni karena insting orang sakit yang kedinginan dan mencari kehangatan, bukan karena perasaanku luluh padamu."
Arga tertawa pelan. Tawanya terdengar berat, dalam, dan entah kenapa terasa sangat nyaman di telinga. "Baiklah, Nona Asisten. Bantal gulingmu ini akan keluar ke dapur membuatkan sarapan yang layak dimakan manusia, bukan adonan lem kertas seperti semalam. Mandilah dengan air hangat supaya ototmu rileks."
Laki-laki itu memutar tubuhnya dan melangkah santai keluar dari kamar tidur, menutup pintu kayu itu dengan sangat pelan di belakangnya.
Begitu pintu tertutup rapat, Keysa langsung merosot menyandarkan kepalanya ke bantalan kasur. Dadanya naik turun dengan cepat. Ia memegang dada kirinya, merasakan detak jantungnya yang berpacu jauh lebih liar daripada saat ia beradu tinju di sasana kemarin.
Perempuan itu menyadari satu fakta yang sangat mengerikan. Pertahanan logikanya benar-benar mulai goyah dan retak.
Perhatian kecil Arga, tatapan lembutnya, kesabarannya memasak bubur gagal, dan kesediaan laki-laki itu menjaganya semalaman penuh perlahan-lahan meruntuhkan tembok es yang ia bangun susah payah. Ini sangat berbahaya.
Keysa tahu persis bahwa Arga yang sekarang hanyalah versi sementara akibat kerusakan memori tengkorak. Saat ingatan suaminya itu kembali utuh seratus persen, Arga akan berubah wujud kembali menjadi monster gila kerja yang tidak segan melukainya. Ia tidak boleh tertipu oleh ilusi manis ini. Ia harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat.
Keysa menyingkap selimutnya dengan cepat. Tubuhnya masih sedikit lemas, namun tekad bajanya sudah kembali menyala terang. Ia berjalan menuju meja rias tempat Arga menyita semua barang elektroniknya kemarin.
Laki-laki itu memang mengunci tablet dan dua ponsel cadangannya di dalam laci atas. Namun Keysa adalah ahli strategi yang selalu punya rencana lain. Ia berjongkok, meraba bagian bawah laci rias tersebut, dan menarik sebuah ponsel lipat kecil yang direkatkan dengan selotip hitam. Ponsel rahasia yang hanya ia gunakan untuk urusan sangat darurat.
Keysa menekan tombol panggilan cepat nomor satu. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Harris. Ini Keysa," ucap Keysa dengan suara yang sudah kembali sedingin bongkahan es batu.
"Keysa? Tumben kamu menelepon menggunakan nomor darurat. Bukankah kamu sedang cuti sakit hari ini? Orang-orang di kantor pusat sedang heboh membicarakan CEO yang tiba-tiba membatalkan semua jadwal rapat dewan direksi penting demi merawat istrinya di rumah," lapor Harris dari ujung telepon.
"Aku tidak peduli dengan gosip murahan para pegawai kurang kerjaan itu," potong Keysa tajam, melangkah mendekati meja kerjanya. "Harris, dengarkan aku baik-baik. Kita harus mengeksekusi rencana pembatalan masa tunggu perceraian itu hari ini juga. Tidak ada penundaan lagi walau sedetik pun."
Terdengar hela napas panjang dari seberang sana. "Kamu sangat yakin dengan keputusan ini, Keysa? Suamimu sedang menunjukkan itikad baik. Mungkin kecelakaan itu benar-benar mengubah sifat aslinya secara permanen."
"Laki-laki brengsek tidak akan berubah menjadi malaikat hanya karena kepalanya terbentur aspal jalanan, Harris!" desis Keysa penuh penekanan. "Dia sedang merencanakan sesuatu. Dia bersikap terlalu manis, mengurungku di apartemen, dan memotong aksesku. Ini murni manipulasi psikologis tingkat tinggi. Aku tidak mau terjebak di dalam permainan ilusinya saat ingatannya kembali utuh. Aku harus mendaftarkan gugatan cerai itu sekarang juga sebelum dia sadar sepenuhnya."
"Baik, aku paham posisimu," jawab Harris mengubah nada bicaranya menjadi sangat profesional. Pengacara cerdas itu mendengar ketegasan mutlak dari kliennya. "Tapi kamu tahu aturan mainnya. Tim legal Alvandra Group menggunakan alasan bahwa Arga sedang tidak stabil secara kognitif pasca kecelakaan untuk menunda semua proses hukum pribadinya. Selama status medis pelindung itu masih berlaku, pengadilan tidak akan berani memproses gugatan ceraimu."
"Lalu apa gunanya celah hukum yang kamu temukan minggu lalu, karena sekarang Arga sudah baik-baik saja?" tuntut Keysa tidak sabar. Ia berjalan mondar-mandir di depan jendela kamar.
"Celahnya ada pada persetujuan pasien itu sendiri," jelas Harris taktis. "Aku sudah merancang sebuah dokumen evaluasi medis yang terlihat persis seperti dokumen persetujuan asuransi standar kantor. Jika Arga menandatangani dokumen itu, secara hukum dia menyatakan dirinya sendiri sadar penuh, sehat secara kognitif, dan siap menanggung segala konsekuensi hukum yang ada."
Keysa menghentikan langkahnya. Matanya menyipit memikirkan taktik brilian tersebut. "Maksudmu, dokumen itu akan membatalkan klaim pertahanan dari tim legalnya sendiri secara otomatis?"
"Tepat sekali. Dokumen itu akan menjadi bukti sah di mata pengadilan bahwa Arga Dirgantara sudah pulih total dan proses hukum perdata apa pun bisa dijalankan tanpa halangan medis lagi."
"Kirimkan salinan dokumen itu padaku sekarang juga," perintah Keysa tanpa ragu sedikitpun. Matanya berkilat penuh ambisi untuk membebaskan dirinya. "Aku yang akan memastikan Arga membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu pagi ini juga."
Harris di seberang telepon berkata. "Berkas sudah siap, Keysa. Kalau Arga menandatangani satu dokumen evaluasi medis ini hari ini, pihak pengadilan bisa langsung memproses pemanggilan sidang mediasi pertama minggu depan."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..