Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Jejak Darah "Project 1998"
Araya duduk di lantai kamarnya yang dingin, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa. Di layar ponsel hitamnya, sebuah file bernama 'Project 1998' terbuka. Matanya yang biasanya terlihat polos dan bingung kini menggelap, memancarkan aura dingin yang mematikan.
Di sana, tertulis nama ayahnya, Radit Lin, dan ibunya, Sarah. Mereka tercatat sebagai saksi kunci dalam sebuah sengketa lahan besar yang melibatkan Aditama Group puluhan tahun silam. Namun, yang membuat napas Araya tercekat adalah sebuah catatan kaki kecil di bawah laporan kecelakaan yang menewaskan mereka: 'Target dilikuidasi. Bersih.'
"Lilikuidasi...?" bisik Araya. Suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan yang mendalam. "Jadi, kecelakaan rem blong itu bukan takdir? Itu pembunuhan terencana?"
Araya mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Selama ini ia berpikir bahwa Keluarga Lin adalah satu-satunya musuhnya karena telah membuangnya. Namun sekarang, ia menyadari bahwa ia sedang tidur di bawah atap yang sama dengan monster yang mungkin bertanggung jawab atas kematian orang tuanya.
Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu kamar.
"Nyonya, Tuan Arkanza memanggil Anda ke ruang makan. Sekarang," suara Bi Inah terdengar ketus dari balik pintu.
Araya segera menghapus jejak tangisnya. Ia menyembunyikan ponselnya di tempat paling aman—di dalam boneka beruang tua yang ia bawa dari rumah kecil neneknya. Dengan sekali kedipan mata, ia kembali menjadi Araya yang rapuh dan ketakutan.
Di ruang makan, Arkanza sudah duduk di kepala meja. Ia tidak menyentuh makanannya. Di depannya, Leon berdiri sambil memegang tablet dengan wajah pucat.
"Duduk," perintah Arkanza singkat. Matanya tidak beralih dari tablet itu.
Araya duduk di ujung meja terjauh dengan kepala menunduk. "T-tuan memanggilku?"
Arkanza membanting tabletnya ke meja. "Leon, katakan padanya apa yang terjadi."
"Nyonya," Leon berdehem, "Seseorang mencoba membobol server cadangan Tuan Arkanza semalam dari dalam jaringan WiFi mansion ini. Lokasinya terdeteksi di sekitar Sayap Barat."
Araya berpura-pura terkesiap, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "WiFi? Apa itu... apa itu semacam virus? Aku benar-benar tidak tahu, Tuan. Semalam aku hanya mencari buku hukum itu karena takut..."
Arkanza bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Araya. Ia mencondongkan tubuhnya, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Araya merinding.
"Jangan bermain-main denganku, Araya. Kau tahu? Hacker bernama 'Z' itu meninggalkan jejak yang sangat rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang 'tersesat' mencari buku," Arkanza mencengkeram sandaran kursi Araya dengan kuat. "Jika aku tahu kau bekerja untuk keluarga Lin untuk mencuri rahasia perusahaanku, aku tidak akan segan mengirimmu ke dasar laut."
Araya menoleh sedikit, menatap mata tajam Arkanza dengan genangan air mata yang tampak nyata. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain nenekku, Tuan. Mengapa aku harus mengkhianati pria yang memberiku tempat tinggal? Aku bersumpah... aku tidak tahu apa-apa tentang 'Z' itu."
Arkanza menatap mata itu dalam-dalam. Ada kejujuran yang luar biasa di sana, namun insting bisnisnya terus berteriak bahwa wanita di depannya adalah sebuah anomali.
"Leon, blokir semua akses perangkat asing ke jaringan ini mulai sekarang. Dan kau," Arkanza menunjuk Araya, "Mulai hari ini, kau akan ikut denganku ke kantor. Aku tidak ingin membiarkan tikus kecil berkeliaran di rumahku tanpa pengawasan."
Araya tersentak. Ke kantor Aditama Group? Itu adalah pusat dari segala data. Jika ia bisa masuk ke sana, ia bisa mengakses arsip fisik dari tahun 1998 yang tidak ada di server digital.
"T-tapi Tuan, aku tidak mengerti pekerjaan kantor..."
"Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu duduk di depanku agar aku bisa melihat setiap gerak-gerikmu," pungkas Arkanza dingin sebelum melenggang pergi.
Setelah Arkanza menghilang, Araya menunduk, menyembunyikan seringai tipis di balik rambutnya yang terurai.
'Kau ingin mengawasiku, Arkanza? Silakan,' batin Araya. 'Kau baru saja memberiku tiket masuk ke jantung pertahananmu. Jika kau benar-benar pembunuh orang tuaku, aku pastikan Aditama Group akan runtuh dalam satu malam.'