Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Yang Tidak Pernah Sampai
Malam itu mansion keluarga Vareinne tidak ada lagi ketenangan.
Para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya. Bisikan terdengar di setiap lorong, sementara pengawal mulai berjaga lebih ketat setelah insiden di dapur.
Seseorang mati.
Dan itu cukup untuk membuat seluruh rumah mulai gelisah.
Arcelia Vareinne berjalan perlahan melewati koridor lantai dua bersama Lilian.
Setelah interogasi Sandra ditunda hingga pagi, Cedric memerintahkan semua orang kembali ke kamar masing-masing.
Tapi Arcelia tahu masalah ini tidak sesederhana itu, dan membuat perasaannya terus merasakan kegelisahan.
“Nona…” Lilian menatapnya khawatir. “Anda baik-baik saja?” tanya Lilian.
“Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja." tanya Arcelia sambil menunjuk wajahnya sendiri.
“Bukan begitu…” pelayan itu ragu-ragu. “Saya hanya merasa semuanya menjadi semakin berbahaya.” katanya pelan.
Arcelia tersenyum, "Bukankah sejak awal memang berbahaya?” kata Arcelia.
Tidak terasa langkah mereka telah meninggalkan lorong yang terasa sangat panjang.
Kaki mereka berhenti tepat didepan pintu kamar Arcelia, saat Lilian hendak membuka pintu,
Tap.. Tap..
Suara langkah kaki terdengar mendekati mereka, Arcelia menoleh ternyata ayahnya Duke Cedric Vareinne dan berdiri beberapa meter darinya.
Arcelia menatap ayahnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, sepertinya Duke Cedric baru kembali dari ruang bawah tanah.
Mantelnya masih belum dilepas, sementara wajahnya terlihat lebih lelah dibanding sebelumnya.
Lilian langsung membungkuk gugup melihat Duke Cedric yang tidak seperti biasanya. Dulu dia tidak akan pernah datang untuk sekedar bertanya kabar Arcelia.
Cedric tidak bicara beberapa saat tatapannya hanya tertuju pada Arcelia seolah baru menyadari sesuatu.
“Ayah belum tidur?” tanya Arcelia akhirnya.
“Belum, kenapa kamu juga belum tidur?" kata Duke Cedric nada suaranya tidak secuek biasanya.
Ada kehangatan tetapi masih terasa sedikit canggung. Seperti dua orang asing yang tidak tahu bagaimana harus berbicara.
“Aku belum mengantuk,” jawab Arcelia.
Cedric terdiam sebentar sebelum berjalan mendekat. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Ayah ingin menanyakan hal apa?." kata Arcelia mengerutkan keningnya.
Pria itu memperhatikan wajah putrinya cukup lama. “Kapan terakhir kali kau merasa tidak aman di rumah ini?”
Pertanyaan itu membuat Arcelia terkejut bahkan Lilian langsung menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
Suaranya seperti menggema keseluruh ruangan.
Arcelia tidak menyangka Cedric akan menanyakan hal seperti itu.
Arcelia menghela nafas, “Sudah sangat lama aku merasakan hidup dengan ketakutan."
Wajah Cedric berubah, terlihat wajah sedihnya. “Kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa pun pada ayah?”
Arcelia hampir tertawa, karena pertanyaan itu hampir seperti lelucon baginya.
"mengatakan? Mengatakan kepada siapa? Ayah? Ayah yang selalu sibuk." kata Arcelia, Air matanya tertahan dimatanya yang bisa percah kapan saja.
"mengatakan sesuatu yang tidak pernah didengarkan? seseorang yang selalu menjauh disetiap harinya." lanjut Arcelia.
Duke Cedric tersentak, tubuhnya sedikit gemetar. Bukan karena marah namun menyadari kesalahan yang telah ia lakukan selama ini.
"Tubuh ini menyimpan terlalu banyak kesedihan untuk pertanyaan sederhana itu." batim Arcelia.
“Aku pernah mencoba berkali-kali." kata Arcelia lagi, namun suaranya kali ini lebih tenang dari sebelumnya.
Tatapan abu-abunya berubah sedikit bergetar, bahkan terlihat ada air mata yang sedang ia bendung.
Arcelia memandang jendela besar di ujung lorong. Bulan sudah mulai terlihat karena hujan telah berhenti.
“Dulu Arcelia sering menunggu di depan ruang kerja Ayah.” Kalimat itu keluar perlahan. “Dia membawa gambar kecil, surat, atau hanya ingin makan bersama.”
Wajah Cedric berubah semakin sedih. Ingatan samar mulai muncul di kepalanya.
Seorang anak perempuan kecil berdiri di depan ruang kerja.
Tatapan mata merah anggur yang penuh harapan.
Namun dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Atau… Elena selalu bicara bahwa Arcelia hanya sedang mencari perhatian.
“Tapi pelayan selalu berkata Ayah sibuk,” lanjut Arcelia tenang. “Jadi lama-lama dia berhenti datang, berhenti berharap.” kata Arcelia memalingkan wajahnya.
Setelah Arcelia berhenti Duke Cedric hanya diam tidak tahu harus berbicara apa, karena dia sadar akan kesalahannya.
Bahkan Lilian tampak telah meneteskan air mata, karena hampir seluruh hidupnya dia telah tumbuh bersama dengan Arcelia.
[bib..! Bib...!]
[Emosi target meningkat.]
[Penyesalan berat terdeteksi.]
“Aku tidak pernah menerima surat apa pun,” gumam Cedric pelan.
Arcelia menoleh perlahan. “Ayah yakin?”
Tatapan mereka bertemu dan Cedric terlihat benar-benar terguncang.
Karena jauh di dalam dirinya, dia mulai menyadari kemungkinan yang mengerikan.
"Bagaimana jika selama ini seseorang sengaja menjauhkan putrinya darinya?" pertanyaan itu terus berputar didalam pikiran Duke Cedric.
“Ayah…” Suara lembut lain memotong suasana.
Lunaria Vareinne berdiri di ujung lorong dengan gaun tidur putih dan memasang wajah cemas. “Ayah belum tidur?”
Tatapan gadis itu langsung berpindah ke Arcelia. Lalu kembali tersenyum lembut.
“Aku mendengar keributan tadi malam,” katanya lirih. “Apa Sandra benar-benar mencoba mencelakai Kakak?” kata Lilian.
Tidak ada yang menjawab, namun Arcelia memperhatikan sesuatu. Dia menangkap bahwa Lunaria sedang gugup.
“Ayah sedang bicara denganku,” ucap Arcelia dengan suara datar.
Lunaria sedikit terkejut. Biasanya Arcelia lama tidak pernah bicara setajam itu.
“Maaf…” katanya pelan sambil menunduk. “Aku hanya khawatir.”
Cedric menatap kedua putrinya seperti sedang menangkap sesuatu kemudian mengusap pelipisnya pelan. “ini sudah terlalu larut malam lebih baik kalian kembali tidur.”
Namun sebelum Lunaria pergi—
“Ayah.” panggil Arcelia dengan tersenyum membuat Lunaria itu menoleh lagi.
“Aku baru ingat sesuatu.” kata Arcelia.
“Apa yang kamu ingat?." tanya Duke Cedric.
Arcelia tersenyum tipis. “Dulu aku memang sering menulis surat.”
Mata Lunaria langsung berubah sedikit karena terkejut dan takut sesuatu meskipun hanya sesaat. Namun Arcelia tetap menangkapnya.
“Sayangnya,” lanjutnya pelan, “surat-surat itu selalu hilang sebelum sampai.” kata Arcelia.
Duke Cedric langsung menatap Lunaria tanpa sadar. Dan itu cukup membuat gadis tersebut gugup.
“A-Aku tidak tahu soal itu…” kata Lunaria gugup bahkan reflek kakinya mundur setengah langkah.
“Tentu saja.” Arcelia tersenyum lembut. “Tapi aneh sekali, ya?” Tatapannya berubah tajam. “Padahal hanya orang dalam mansion yang bisa mengambilnya.” kata Arcelia
Wajah Lunaria memucat sedikit dan ia buru-buru menunduk. “Aku benar-benar tidak tahu…”
[Pendeteksi kebohongan aktif.]
[Kebohongan terdeteksi.]
"huh, sudah kuduga. Luniari ini pasti juga terlibat. Meskipun mungkin bukan pelaku utama tetapi jelas dia mengetahui sesuatu." batin Arcelia.
Duke Cedric hanya memandang kedua putrinya dalam diam.
Selama ini yang ia kira Arcelia yang menjauh namun sepertinya tidak seperti yang terlihat. Sesuatu sudah terjadi didalam mansion ini.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun Duke Cedric Vareinne mulai mempertanyakan keluarganya sendiri.