"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Operasi Senyap di Balik Selimut
Malam semakin larut di Kerajaan Ivalice. Alistair memutar kursi rodanya memasuki kamar utama dengan gerakan sepelan mungkin. Ia mengira akan menemukan kamar yang kosong atau setidaknya melihat Aurellia tidur di sofa, seperti yang biasa istrinya lakukan jika dipaksa satu ruangan dengannya.
Namun, pemandangan di depannya membuat Alistair tertegun. Aurellia sedang terlelap di atas ranjang besar mereka, tampak sangat nyenyak seolah itu adalah tempat terfavoritnya di dunia.
Alistair mendekat, jemarinya terulur menyentuh pipi gadis itu dengan sangat lembut. Hatinya bimbang. Ia senang dengan perubahan ini, tapi ia juga takut jika ini hanyalah sebuah trik kejam untuk menghancurkannya lagi. Perlahan, Alistair merebahkan tubuhnya di samping Aurellia dan memejamkan mata.
BUGH!
Sebuah tangan mendarat telak di dada Alistair. Belum sempat ia bereaksi, kepala Aurellia sudah merosot dan menempel nyaman di bahunya. Tubuh Alistair menegang kaku. Napasnya tertahan.
Istrinya... memeluknya dalam tidur?
Biasanya, jangankan dipeluk, duduk bersebelahan saja Aurellia akan langsung pergi seolah-olah Alistair adalah wabah penyakit. Alistair sempat ingin menyingkirkan tangan itu, tapi melihat wajah damai istrinya, ia justru tersenyum. Ia mengecup singkat kening Aurellia sebelum akhirnya ikut terlelap.
Tengah malam, Lia terbangun. Begitu menyadari posisi tubuhnya yang menempel erat pada Alistair, matanya langsung membelalak.
Aduh, Lia! Ini mah namanya lo cari kesempatan dalam kesempitan! Maruk banget sih meluknya! rutuk Lia dalam hati.
Dengan gerakan super pelan, ia mencoba bangkit. Namun baru saja ia bergerak satu inci, lengan kokoh Alistair justru menariknya kembali ke dalam dekapan yang lebih erat.
Lia menahan napas, jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton. Setelah perjuangan yang melelahkan, akhirnya ia berhasil melepaskan diri tanpa membangunkan sang Pangeran Agung.
Lia duduk di samping kaki Alistair. Ia menyibak selimut sutra itu perlahan. Insting medis putri Aurellia dalam dirinya tiba-tiba berdenyut kuat.
Di novel, Aurellia asli tidak pernah peduli pada kaki suaminya. Tapi bagi Lia, kekuatan medis ini terlalu berharga jika hanya dipakai untuk bersekutu dengan orang-orang jahat di istana.
Gue bakal bikin lo jalan lagi, Ali versi galak, batin Lia fokus.
Lia mengaktifkan mata batinnya, sebuah kemampuan medis tingkat tinggi yang secara ajaib langsung ia kuasai. Dalam penglihatan transparannya, Lia melihat sesuatu yang mengerikan. Ini bukan lumpuh biasa. Ada delapan titik sumbatan di lapisan saraf terdalam yang tidak mungkin bisa dideteksi oleh tabib biasa.
Lia segera mengalirkan energi bius melalui ujung jarinya agar Alistair tidak terbangun karena kesakitan.
Dan proses pencabutan pun dimulai.
Sumbatan pertama hingga keempat berhasil ia tarik dengan lancar. Namun, memasuki titik kelima sampai ketujuh, tenaga Lia mulai terkuras hebat. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Saat mencoba mencabut sumbatan terakhir yang paling besar, tubuh Lia bergetar hebat.
Uhuk!
Setitik darah segar keluar dari sudut bibirnya. Ada serangan balik energi yang melukainya secara internal, tapi Lia tidak peduli. Dengan satu tarikan energi terakhir, sumbatan itu berhasil tercabut.
Lia terengah-engah. Di telapak tangannya kini tergeletak delapan serpihan hitam pekat.
"Batu Pelumpuh Raga?" gumamnya heran.
Seingatnya, di novel tidak pernah dijelaskan tentang benda terkutuk ini. Seseorang sengaja ingin membuat Alistair cacat selamanya.
Lia menyimpan serpihan itu ke dalam kotak kecil di balik bantalnya. Ia ingin melakukan proses pemulihan saraf saat itu juga, tapi tubuhnya sudah terlalu lemas. Sambil mengusap sisa darah di bibirnya, Lia merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi membelakangi Alistair.
Tugas pertama selesai. Besok kita mulai terapinya, Sayang... batin Lia sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kelelahan yang luar biasa.