NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Akhir dari Pengkhianat dan Rahasia Tambang Es Spiritual

​Pengumuman Tuan Kota Zhao Wuji bergema seperti palu godam yang meruntuhkan keraguan terakhir di hati semua orang. Tidak ada sorak-sorai euforia, melainkan dengungan bisikan penuh rasa takut dan hormat.

​Seorang pemuda berusia lima belas tahun, meremukkan tiga ahli sekte besar tanpa terluka sedikit pun. Mulai detik ini, hierarki kekuatan di Kota Awan Merah telah ditulis ulang sepenuhnya dengan darah!

​Lin Tian tertawa keras, tawanya menggetarkan udara, melepaskan seluruh beban dan penghinaan yang ia rasakan selama tiga tahun terakhir. "Hahaha! Bagus! Sangat bagus, Chen-er!"

​Di sisi lain tribun, Kepala Keluarga Wang dan Keluarga Liu memiliki ekspresi sedap dipandang bagai baru saja menelan lalat mati. Kaki mereka gemetar, membayangkan pembalasan dendam dari monster muda ini di masa depan.

​Lin Chen berjalan menuruni arena yang hancur dengan langkah tenang. Zhao Wuji, sang Tuan Kota, secara pribadi turun dari tribun VIP untuk menyerahkan hadiah turnamen kepadanya. Di belakang Zhao Wuji, beberapa penjaga kota dengan cepat mengevakuasi tiga murid sekte yang cacat itu agar tidak memperburuk suasana.

​"Tuan Muda Lin," Zhao Wuji bahkan mengubah panggilannya, menunjukkan rasa hormat yang setara. Ia menyodorkan sebuah gulungan perkamen berstempel emas dan sebuah plakat kayu cendana berukir pedang. "Ini adalah akta kepemilikan Tambang Es Spiritual selama tiga tahun ke depan, dan ini... token penerimaan Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi."

​Lin Chen menerima akta tambang tersebut dan menyimpannya ke dalam cincin penyimpanannya. Namun, saat menatap token sekte itu, ia hanya tersenyum tipis. Ia mengambilnya, melempar-lemparnya pelan di udara layaknya mainan murahan.

​"Tuan Muda Lin," bisik Zhao Wuji dengan nada memperingatkan, "Kau memang jenius yang tak tertandingi di kota ini. Tapi Sekte Pedang Awan Surgawi memiliki ratusan Tetua di Ranah Inti Emas. Melumpuhkan empat murid mereka di depan umum... Tetua Bai tidak akan melepaskanmu. Token ini adalah satu-satunya pelindungmu. Jika kau masuk sebagai murid resmi, mereka tidak bisa membunuhmu secara terang-terangan karena aturan sekte."

​"Pelindung?" Lin Chen tertawa pelan. Ia menggenggam token kayu itu erat-erat. "Tuan Kota Zhao salah paham. Aku tidak butuh pelindung. Aku mengambil token ini semata-mata karena aku butuh kunci untuk menendang pintu depan sekte mereka suatu hari nanti."

​Zhao Wuji menelan ludah mendengarnya, punggungnya merinding. Ia sadar, naga muda di depannya ini memiliki ambisi dan kegilaan yang tak bisa diukur dengan akal sehat.

​Setelah Tuan Kota kembali, Lin Chen melangkah menuju rombongan Klan Lin. Ribuan murid klan yang sebelumnya memandangnya rendah kini serentak menundukkan kepala mereka, tak berani menatap langsung matanya.

​Lin Chen berhenti tepat di depan satu orang. Tetua Pertama, Lin Ye.

​Tubuh Lin Ye tersentak. Ia yang sejak tadi berusaha bersembunyi di belakang kerumunan kini terekspos sepenuhnya. Wajahnya yang biasa angkuh kini sepucat kertas putih. Keringat sebesar biji jagung menetes dari dahinya.

​"T-Tuan Muda Chen..." panggil Lin Ye dengan suara bergetar, mencoba memaksakan sebuah senyuman menjilat.

​"Tetua Pertama, kenapa kau terlihat begitu gugup? Bukankah sebulan yang lalu kau bilang ingin membersihkan pintu klan dari iblis sepertiku?" ucap Lin Chen datar.

​"Itu... itu hanya salah paham! Mata tua ini terlalu buta untuk melihat Gunung Tai! Kau adalah naga dari Klan Lin kita, bagaimana mungkin aku berani berbuat lancang padamu!" Lin Ye langsung berlutut di tanah. Harga dirinya sebagai Tetua Pertama hancur lebur demi mempertahankan nyawanya.

​"Salah paham?" Lin Chen menyipitkan matanya, hawa membunuh yang dingin membekukan udara di sekitarnya. "Kau memotong jatah obatku, membiarkan putramu menindasku, dan berkali-kali mencoba melengserkan ayahku dari posisi Kepala Klan. Jika aku hari ini tidak memiliki kekuatan, apakah kau akan menyebutnya salah paham?"

​Lin Ye meneteskan air mata keputusasaan. "Kepala Klan! Lin Tian! Ampuni aku! Demi mendiang ayah kita, ampuni nyawaku!"

​Lin Tian membuang muka, tak sedikit pun merasa iba. Kebaikan hatinya selama ini hanya dibalas dengan racun dan pengkhianatan.

​"Karena kau sangat menyayangi Lin Lang, sudah sepantasnya kau menemaninya merasakan hal yang sama," putus Lin Chen dengan suara tanpa emosi.

​Lin Chen mengangkat kakinya dan menendang telak bagian perut bawah Lin Ye.

​BAM!

KRAK!

​"AAARGH!" Lin Ye menjerit histeris sambil memegangi perutnya. Dantiannya pecah berkeping-keping. Seluruh Qi kultivasinya yang telah ia kumpulkan selama puluhan tahun menyebar dan menghilang ke udara. Ia seketika menua sepuluh tahun dalam satu tarikan napas.

​"Mulai hari ini, kau bukan lagi Tetua Klan Lin. Bawa putramu dan enyahlah dari kota ini," perintah Lin Chen.

​Tidak ada satu pun anggota faksi Tetua yang berani memprotes. Mereka hanya menunduk gemetar saat melihat Lin Ye yang kini cacat diseret pergi oleh beberapa pelayan setianya. Kanker yang menggerogoti Klan Lin dari dalam akhirnya dicabut hingga ke akar-akarnya.

​Malam Harinya.

​Kediaman Klan Lin menggelar pesta perayaan besar-besaran, tetapi Lin Chen tidak hadir. Ia menyelinap keluar dan menuju ke arah pinggiran utara kota, tepatnya ke lembah tersembunyi tempat Tambang Es Spiritual berada.

​Bulan purnama bersinar menerangi lembah berbatu tersebut. Udara di sini sangat dingin, cukup untuk membekukan napas orang biasa menjadi kristal es. Tambang ini adalah sumber urat nadi kekayaan Kota Awan Merah, menghasilkan bongkahan batu spiritual berelemen es yang sangat berharga di pasar kultivasi.

​Lin Chen berdiri di depan mulut gua tambang yang gelap gulita. Para penjaga kota telah ditarik mundur setelah akta tambang diserahkan pada Klan Lin.

​"Udara di tempat ini... sangat aneh," suara Mo Xuan tiba-tiba bergema, nadanya terdengar jauh lebih serius dari biasanya.

​"Aneh bagaimana? Bukankah ini hanya tambang batu es biasa?" tanya Lin Chen sambil menyalakan sebuah obor api di tangannya.

​"Batu es spiritual tingkat rendah tidak mungkin memancarkan Yin Qi (Energi Dingin) setajam ini," jelas Mo Xuan. "Saat siang hari di turnamen, aku sudah merasakan anomali ini. Hawa dinginnya bahkan bisa sedikit meredam gejolak Yang Qi (Energi Panas) dari Meridian Nagamu. Bocah, ada sesuatu yang bersembunyi jauh di dasar tambang ini."

​Mendengar itu, mata Lin Chen berbinar. Ia memiliki firasat bahwa hadiah turnamen ini jauh lebih besar dari yang dibayangkan semua orang.

​Tanpa ragu, Lin Chen melangkah masuk ke dalam terowongan tambang. Semakin dalam ia berjalan, suhu udara turun drastis. Es setebal beberapa sentimeter menutupi dinding batu. Obor di tangannya bahkan mulai meredup karena energi dingin yang ekstrem.

​Setelah berjalan menurun menyusuri terowongan berliku selama hampir satu jam, Lin Chen tiba di ujung area penggalian yang terbengkalai. Para penambang tidak pernah berani menggali lebih dalam dari titik ini karena suhu beku yang bisa membunuh mereka dalam hitungan menit.

​Di ujung terowongan itu, terdapat sebuah dinding batu padat berwarna biru pucat yang memancarkan kabut es tebal.

​"Hancurkan dinding itu," perintah Mo Xuan singkat.

​Lin Chen mengalirkan Qi Naga Emas ke lengan kanannya, mengepalkan tinjunya, dan memukul dinding es itu dengan kekuatan penuh.

​BOOOM!

​Dinding setebal tiga meter itu hancur berantakan. Hembusan angin badai es seketika menyapu keluar dari balik dinding, nyaris membekukan aliran darah Lin Chen jika saja Seni Pemakan Surga Sembilan Naga tidak langsung berputar liar untuk menghangatkan tubuhnya.

​Lin Chen melangkah melewati lubang yang ia buat. Di baliknya, ternyata terdapat sebuah gua kristal alami yang sangat luas dan indah. Ribuan stalaktit es menggantung dari langit-langit, memancarkan cahaya biru pendar.

​Namun, perhatian Lin Chen langsung tertuju pada pusat gua tersebut.

​Di sana, di atas sebuah altar es alami, mengambang sebuah kelopak bunga berukuran sebesar telapak tangan. Kelopak itu terbuat dari kristal es murni dan memancarkan fluktuasi energi spiritual yang begitu padat hingga udara di sekitarnya terdistorsi.

​"I-Ini... Astaga, bocah, keberuntunganmu benar-benar menentang hukum langit!" Mo Xuan berseru takjub. "Itu adalah Hati Teratai Es Surgawi! Benda spiritual tingkat Bumi yang membutuhkan waktu puluhan ribu tahun untuk terbentuk!"

​Napas Lin Chen memburu. Harta tingkat Bumi! Di dunia fana ini, benda spiritual dibagi menjadi tingkat Fana, Bumi, Surga, dan Ilahi. Bahkan sekte raksasa sekalipun akan berperang habis-habisan demi memperebutkan harta tingkat Bumi!

​Pantas saja ada tambang es spiritual di atasnya. Urat batu es itu hanyalah hasil rembesan aura dari Hati Teratai Es Surgawi ini selama ribuan tahun!

​"Dengan energi es murni ini, kau tidak hanya bisa menetralkan sisa racun panas di tubuh ayahmu, tapi kau juga bisa memadatkan Qi di Dantianmu untuk persiapan menerobos ke Ranah Inti Emas kelak!" kata Mo Xuan dengan penuh semangat.

​Lin Chen melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk mengambil Hati Teratai Es itu.

​Namun, tepat saat jari Lin Chen menyentuh aura dingin bunga tersebut, seluruh gua kristal itu tiba-tiba berguncang hebat.

​Dari dasar danau es beku di belakang altar, terdengar suara retakan keras yang memekakkan telinga. Permukaan es meledak ke atas.

​ROAAAAARRRR!

​Sebuah raungan buas yang membekukan jiwa bergema di dalam gua. Sesosok ular piton raksasa sepanjang dua puluh meter, dengan sisik sebening kaca dan tanduk tajam di kepalanya, muncul dari dalam danau es. Sepasang mata merah darahnya menatap Lin Chen dengan niat membunuh yang absolut.

​Binatang Iblis Tingkat 3 tahap menengah: Piton Tanduk Es Primordial! Kekuatannya setara dengan kultivator puncak Ranah Pengumpulan Qi Bintang 9!

​Bibir Lin Chen perlahan menyeringai. Hawa membunuh meledak dari matanya, mengimbangi tatapan buas ular piton raksasa tersebut.

​"Harta karun tingkat tinggi selalu didampingi oleh penjaga yang mematikan," gumam Lin Chen, Qi emas mulai meledak dari pori-porinya. "Kebetulan sekali. Aku sedang butuh inti iblis tingkat 3 untuk makan malamku."

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!