Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zoom
Roy hanya bisa berbesar hati. Tiga hari menemani Mia, yang dia kenalkan sebagai pacar kepada keluarganya ternyata tidak membuat bapak Esau Johan mengijinkan Mia tetap berada di Papua.
"Aku tidak akan merubah identitasku sebagai pacar. Meskipun cara itu tidak merubah keputusan papa kamu Mia. Aku sungguh mencintai mu Maria Theresia. Maukah kau tetap menjadi pacarku, pacar benaran bukan bohongan."
"Kak.......???"
"Aku sudah jatuh cinta padamu pertama kali melihatmu."
Maria Theresia Johan sudah di Jakarta di rumah sakit terbaik di Jakarta. Pihak Yayasan yang berada di Jakarta datang menemui Maria Theresia Johan di rumah sakit. Pihak yayasan membayar semua biaya rumah sakit.
"Saya orangtuanya Mia, akan membayar setiap kerugian akibat pengunduran anak saya."
"Papi ......"
"Tidak Mia, papi tidak mengijinkan." Pihak Yayasan sangat menyesali kejadian yang terjadi, akibat kelalaian pemerintah daerah menjawab tuntutan masyarakatnya. Berita pengunduran diri Mia sudah diterima Hans dan Yuli. Dan mereka sangat bersedih. Bahkan Yuli menangis.
"Selamat siang. Kak Hans dan kak Yuli benar???"
"Iya. Kalau boleh tahu siapa ini."
"Saya adiknya Maria Theresia Johan, saya Andre Johan. Saya datang mau mengambil barang - barang kakak saya."
Yuli menangis. Namun Dia tetap membantu Andre adiknya Mia membereskan pakaiannya. Yayasan sudah memberitahu kepada Hans. Namun secara pribadi dia dan istrinya belum siap berpisah dengan Mia. Roy ada disitu. Dia yang menemani Andre bahkan Andre di ajak tinggal bersama dengannya. Andre takjub dengan rumah sederhana punya Roy selaku ajudan bupati.
"Kak Roy lulusan STPDN ???"
"Iya."
"Kakak asli orang disini??"
"Iya, namun ada blesteran cina dari mamaku."
"Sama dong dengan mami kami."
Besok sorenya disekolah, anak - anak tidak bersemangat, bahkan mereka menangis mendengar bahwa miss Mia tidak mengajar lagi. Berita Mia mengundurkan diri, didengar oleh bapak bupati dan dia menyesali kejadian itu. Dia juga bersedih, karena tidak bisa menjaga Mia dengan baik.
Mia sudah sembuh dia hanya dua hari di rumah sakit. Dan sekarang dia sudah berada di apartemen. Bersama papi dan mami juga adek kembarnya. Mami dan Papinya mengajak Mia kembali ke Kalimantan, namu Mia tidak mau, dia memilih tetap di Jakarta. Papi dan maminya mengijinkan dengan syarat Mia tidak kembali ke Papua dan dia berjanji melanjutkan kuliahnya. Dia mengambil kuliah strata dua jurusan ilmu saint murni.
Barang - barangnya dari Mulia papua sudah sampai di Jakarta. Dikirim oleh Andre dari Jayapura. Mia sudah mulai sibuk dengan kuliah awalnya. Dia membuka handphonenya yang sudah di charge oleh adeknya Adrian Johan kembaran dari Andre Johan. Adrian sementara koas di rumah sakit tentara, sudah masuk bulan terakhir. Dia akan menjadi dokter penuh.
"Ade, tolong cece, hidupkan zoom meeting cece."
"Buat apa ce."
Mia menceritakan semua tentang anak didiknya yang ada di Mulia dan adeknya yang mempunyai jiwa kemanusiaan tinggi, pun membantu kakaknya. Disana mereka semua sudah siap waktu saluran tersambung. Adrian menyaksikan bagaimana lima belas anak yang gembira melihat miss mereka. Mereka menangis, laki - laki maupun perempuan. Mia tidak perna memutuskan komunikasi dengan kak Hans dan Yuli. Zoom ini dilakukan atas saran dari Roy.
"Miss rindu."
"Miss mohon maaf."
"Miss kembali ya. Kami rindu."
Kalimat itu yang Mia dengar, membuatnya menangis. Adiknya Adrian memeluk cecenya.
"Maafkan miss anak - anakku. Tetapi miss akan membantu kalian. Miss akan ada dengan kalian lewat zoom ini. Miss akan mengajar kalian. Membantu kalian. Dan miss menunggu kalian di Jakarta."
Mia senang sekali bisa melihat anak - anak senang. Dia juga melihat senyum manis dari Roy di antara lima belas anak.
Dua bulan lebih, Mia tetap bertemu dengan mereka lewat zoom meeting. Bahkan ketika mereka datang, Mia menyebut nama mereka satu persatu. Mereka sangat senang sekali mendengar nama mereka disebut.
"Selamat siang Alex."
"Miss i miss you. Mau peluk."
"See in Jakarta ya."
Kaka Hans dan kak Yuli yang membantu anak - anak hebat ini belajar muka dengan muka. Apa yang dilakukan Mia, dilakukan juga oleh pasangan suami istri ini. Bahkan dihari kesiapan terakhir. Mia kaget karena bapak bupati ada di barisan anak - anak yang duduk menerima materi bersama ajudannya.
"Selamat siang Miss Mia. See you in Jakarta ya."
"Siap bapak."
"Anak - anak akan berangkat lebih dahulu dari jadwal lomba. Karena mereka harus memanaskan jiwa mereka dengan memeluk miss kesayangan mereka."
"Siap bapak."
"Miss Mia aktivitasnya apa??"
"Saya sementara kuliah bapak strata dua."
"Itu suami miss kah??" Mia tertawa.
"Ini adik laki - laki saya pak. Kembar dia, satunya yang kemarin datang ke sana mengambil barang- barang saya. Dia sebentar lagi dokter umum bapak."
Anak - anak yang akan lomba mewakili papua dalam olimpiade sains anak dimulai bulan depan. Melalui pemerintah daerah mereka di berangkatkan sebulan sebelum lomba. Kak Hans dan Yuli ikut menemani Alex, Jojo, Maria, Sara dan Anna. Sesuai janji Mia, dia akan menjemput mereka. Mia membawa mobil sendiri.
Begitu di pintu kedatangan mereka berlima keluar melihat Mia, langsung lari memeluknya dan menangis. Semua orang dibandara itu melihat Adrian adiknya begitu terharu. Dia mengetahui bahwa kakaknya sangat dicintai oleh mereka ini.
Langsung mereka dibagi dan ada yang mengikuti mobil Mia dan juga Adrian. Kak Hans sudah melaporkan kepada Roy bahwa mereka sudah tiba selamat di Jakarta dan di jemput oleh Mia dan adiknya. Bupati yang sedang berada di Jayapura merasa senang. Mereka mampir makan di sebuah restoran yang ada di mall Indonesia. Kemudian mereka ke Apartemen yang disewa bagi mereka bertujuh setelah membeli semua kebutuhan mereka selama di Jakarta.
Apartemennya berdekatan dengan punya Mia dan adiknya. Hanya beda lantai.
"Miss Mia apartemennya satu lantai di atas kalian. Besok pagi miss akan bertamu disini. Kita akan belajar bersama."
Satu bulan mereka belajar dan mempersiapkan diri mereka, sambil mereka mengunjungi tempat - tempat wisata di Jakarta. Sehari sebelum lomba. Mia menyempatkan ada bersama mereka. Memberi semangat.
Waktu yang ditunggu tiba, Alex, Jojo, Maria, Anna dan Sara mengikuti lomba yang ada. Pemerintah propinsi dan daerah sudah ada di tempat kegiatan. Mia juga hadir. Dia mengamati anak didiknya sambil kuliah tiga puluh menit dengan dosennya. Lomba kali ini berbeda, mereka bertarung individual. Satu setengah jam pertama mulai terjadi pengurangan dari seratus soal yang diberikan kelima anak didik Mia masih bertahan. Skor nilai mereka tinggi - tinggi. Jam istirahat mereka berlima berlari ke arah Mia. Semua mata melihat mereka. Mia hanya memberi motivasi agar mereka konsentrasi dalam memecahkan setiap soal yang diberikan. Sampai babak seleksi ke dua mereka masih berlima. Babak terakhir yang di nilai adalah ketrampilan dalam memecahkan soal.
Alex urutan ke tiga dan mendapat emas. Jojo urutan kelima bersama Maria sedangkan Anna dan Sara urutan keenam dan ketujuh. Mereka semua masuk sepuluh besar. Kebanggaan bagi daerah. Sara menangis, namun Mia menguatkannya bersama Kak Yuli dan teman - temannya. Kelima anak ini mendapat beasiswa kuliah dimana saja. Mendapat tropi, medali terlebih uang tunai. Propinsi pasti juga memberikan terlebih daerah. Alex, Jojo dan Maria terpilih bergabung dengan tim Indonesia ke Jenewa Swiss.
Roy menyempatkan diri bertemu dengan Mia. Dia menanyakan lukanya dan Mia menyatakan sudah sembuh.
"Maafkan belum bisa memenuhi janjinya."
"Apa saya saja yang membawa kamu jalan - jalan."
"Jangan sombong non, kamu juga perantau disini." Mia tersenyum kepada Roy. Benar yang dia katakan bahwa Mia sama dengannya mereka di kota ini adalah perantau. Di Kalimantan baru Mia bukan perantau. Hubungan pertemanan Mia dan Roy berlanjut lewat media sosial. Meskipun jarak berjauhan mereka terasa dekat lewat alat canggih ini. Mia sudah tahu perasaan Roy secara terang - terangan Roy menyatakan itu dua kali. Di Jakarta ini yang kedua kali.