Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: PENGUMUMAN DI AULA KEHORMATAN
Aula Kehormatan Istana biasanya hanya dibuka untuk upacara kenegaraan yang paling sakral. Hari ini, ruangan itu dipenuhi para bangsawan, petinggi militer, dan jajaran menteri yang berbisik-bisik gelisah. Di ujung ruangan, Kaisar duduk di atas takhta emasnya, wajahnya tampak segar dan berwibawa, jauh dari sosok yang sempat dirasuki entitas kuno.
Axel berjalan perlahan menuju altar utama. Di belakangnya, Reynarda, Elysia, dan Valeria mengikuti dengan langkah seragam, memancarkan aura yang membuat para bangsawan yang tadinya ingin mencemooh langsung terdiam.
"Perhatian!" seru sang pembawa acara. "Kaisar akan memberikan dekrit resmi!"
Kaisar bangkit dari takhtanya, memandang seluruh aula dengan tatapan tajam sebelum pandangannya tertuju pada Axel.
"Selama ini, kekaisaran kita dikuasai bayang-bayang yang menyamar sebagai kesucian," suara Kaisar menggema ke seluruh penjuru ruangan. "Banyak dari kalian yang tertipu, atau bahkan berkolaborasi demi ambisi pribadi. Namun, hari ini, aku menyatakan bahwa konspirasi itu telah berakhir."
Kaisar menunjuk ke arah Axel. "Pemuda di depan kalian ini, yang sebelumnya kalian fitnah sebagai teroris, adalah orang yang mempertaruhkan jiwanya untuk menyelamatkanku dari ritual kegelapan yang dirancang para pengkhianat di dalam gereja."
Suasana aula mendadak hening total. Beberapa bangsawan yang terlibat dalam faksi Gereja mulai memucat.
"Mulai hari ini," lanjut Kaisar, "Axel diangkat menjadi Penasihat Agung Urusan Luar Biasa, dan kelompoknya—yang kini kita kenal sebagai Unit Khusus Kaisar—memiliki kewenangan penuh untuk melakukan penyelidikan tanpa perlu izin dari Dewan Menteri. Mereka bertanggung jawab langsung kepadaku."
Bukan tepuk tangan yang terdengar, melainkan gemuruh bisik-bisik ketidaksetujuan. Seorang menteri senior melangkah maju dengan berani.
"Yang Mulia! Memberikan kewenangan sebesar itu kepada orang asing tanpa latar belakang bangsawan adalah sebuah preseden berbahaya!"
Valeria bergerak cepat. Sebelum menteri itu selesai bicara, sang Ratu Dunia Bawah sudah berdiri tepat di belakangnya, belatinya terhunus tipis di bawah dagu sang menteri. "Kewenangan itu adalah harga untuk nyawa Kaisar yang hampir kalian biarkan mati. Apa kalian ingin mengulanginya?"
Menteri itu membeku, napasnya tersengal.
"Cukup, Valeria," suara Axel memecah ketegangan.
Axel melangkah maju, berdiri di depan sang menteri. Dia tidak marah, dia justru tersenyum—senyum yang bagi siapa pun yang melihatnya, terasa lebih menakutkan daripada ancaman senjata.
"Menteri," Axel berkata dengan tenang. "Saya mengerti kekhawatiran Anda soal preseden. Namun, saya tidak butuh posisi ini untuk memiliki pengaruh. Jika Anda ragu, tanyakan saja pada Duke Vallen kenapa dia memutuskan untuk pensiun mendadak pagi ini."
Nama Duke Vallen disebut, dan aula itu kembali menjadi sunyi senyap. Semua orang tahu Duke Vallen adalah salah satu pendukung terkuat faksi Gereja, dan kejatuhannya yang tiba-tiba adalah sinyal bahwa Axel bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng.
Kaisar mengangguk puas. Dia tahu Axel tidak membutuhkan perlindungannya; Axel cukup mampu untuk melindungi dirinya sendiri dengan cara yang jauh lebih brutal daripada pedang.
"Pengumuman selesai," tutup Kaisar. "Siapa pun yang ingin menentang dekrit ini, silakan sampaikan secara tertulis kepada Axel sendiri. Saya yakin dia akan dengan senang hati... 'mendengarkan' kekhawatiran kalian."
Saat upacara selesai, Axel berjalan keluar aula dikelilingi trio monster setianya.
"Host, data analitik menunjukkan peningkatan kebencian dari fraksi bangsawan sebesar 30%, namun tingkat ketakutan mereka melonjak hingga 85%. Anda baru saja membangun citra sebagai penguasa baru di balik layar."
Axel tersenyum kecil. "Bagus. Biarkan mereka takut. Takut adalah alat kontrol yang jauh lebih baik daripada kepercayaan."
"Jadi, Penasihat Agung?" Reynarda menyikut lengan Axel, matanya berbinar bangga. "Bagaimana rasanya dipanggil seperti itu?"
"Rasanya melelahkan," Axel menghela napas, meski tangannya kini merangkul bahu Reynarda dan Valeria secara bersamaan. "Dan aku yakin besok akan ada lebih banyak masalah di meja kerjaku."
Elysia mendekat, memegang lengan kiri Axel. "Apa pun masalahnya, kami yang akan menyelesaikannya. Kau hanya perlu duduk dan memimpin kami."
"Aku setuju," Valeria menyeringai. "Dan kalau mereka terlalu berisik, aku punya beberapa ide tentang bagaimana cara membuat mereka hilang tanpa jejak."
Axel tertawa. Dia kini memiliki segalanya: kekuasaan, sekutu yang mematikan, dan posisi yang cukup kuat untuk mengubah nasib kerajaan. Dan dia sadar, perjalanan ini baru saja benar-benar dimulai.
"Peringatan, Host. Mata-mata dari Kerajaan Seberang baru saja memasuki ibu kota. Mereka mengincar 'Penasihat Agung' yang baru. Sepertinya masa jabatan Anda tidak akan berjalan mulus."
Axel menatap lurus ke gerbang istana, matanya berkilat dingin. "Biarkan mereka datang. Aku sedang butuh hiburan."