Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Ares
“Kakak?!”
“Bapak lagi gak bercanda kan?” Riana mengernyitkan dahi, ‘Tunggu, apa ini kepribadian lain Zayn yang Ibu Rum bilang?’
“Ehem, Bapak gak ingat saya? Saya Riana Sekertarisnya Bapak?” ucap Riana, Zayn menggeleng pelan.
‘Wah fix ini kepribadian lainnya Zayn. Dan dia tadi manggil gue apa, Kakak? Maksudnya dia jadi anak kecil gitu?'
Riana memerhatikan ekspresi wajah Zayn, tatapan matanya juga berbeda dari Zayn atau pun Dewa, matanya membulat dengan bibir sedikit maju, menatapnya dengan tatapan polos, Riana menggaruk kepalanya tak gatal.
“Siapa nama kamu?” Tanya Riana, akhirnya memilih bertanya.
“Namaku Ares,” sahutnya.
‘Wah, tebakan gue bener ternyata ini kepribadiannya yang lain,’ batin Riana.
“Usia?”
“Delapan tahun,” sahutnya.
“Delapan tahun?”
‘Ini gila sih, apa ini ingatan dia dulu, tapi kenapa sampai jadi seperti ini?’
“Ares, kenapa kamu disini malam-malam lihat jam berapa ini, seharusnya anak kecil itu sudah tidur di jam begini,” Riana menunjukkan ponselnya yang menampilkan waktu pukul 23:46.
Dia menggeleng pelan, “aku tidak bisa tidur, kalau aku tidur, orang lain akan menggantikanku,” sahutnya.
“Tapi aku baru melihat Kakak disini, siapa Kakak?” lagi-lagi dia bertanya.
“Aku Sekertarisnya Zayn,” jawab Riana jujur.
“Oh,” dia manggut-manggut dengan mulut membulat membentuk huruf O.
“Ares, ini sudah malam sebaiknya kau kembali ke kamarmu,” ucap Riana seperti bicara pada anak kecil.
Dia menggeleng pelan, “aku takut tidur sendirian, bisakah Kakak menemaniku?” pintanya diiringi tatapan polos.
Riana terkejut dengan mulut sedikit menganga, permintaan Zayn atau Ares ini sungguh diluar dugaannya, meski dia mengaku sebagai anak usia delapan tahun tapi dilihat dari sisi manapun dia ini tetap Pria dewasa, dimana letak anak kecilnya. Riana memijat pelipisnya mencoba mencari solusi untuk masalah tak logisnya ini.
“Ehem, Ares. Kau tahu ada yang namanya batasan antara Pria dan wanita, Pria dan wanita tidak boleh tidur di kamar yang sama, kecuali dia pasang suami istri,” Riana mencoba memberinya pengertian.
“Tapi aku hanya anak kecil, aku bukan Pria Dewasa seperti Zayn,” ujarnya.
“Tetap saja, itu tidak bisa. Pergilah aku tidak bisa menemanimu tidur,” tolak Riana keras.
Dia bangkit berdiri dengan wajah tertunduk, kemudian berlalu pergi keluar kamar tamu yang Riana gunakan.
‘Entah darimana dia punya pikiran kalau dia ini anak kecil,’ Riana menghempaskan tubuhnya kembali, malam ini benar-benar penuh kejutan Riana tahu banyak hal yang seharusnya dia tak tahu.
Keesokan harinya. Zayn terbangun setelah matahari bersinar cukup terang, dia melihat layar ponselnya yang berada tepat di sampingnya.
“Ternyata masih pagi,” gumamnya sambil menaruh kembali ponselnya ke tempat semula.
Dia bangun dan mendudukkan dirinya, dia menoleh ke cermin besar di dekat dinding yang menampilkan pantulan dirinya, “Ares?” gumamnya saat dia melihat pakaian yang dikenakannya, yakni setelan piyama bermotif Ice cream berwarna putih berpadu merah muda.
“Sial. Karena terlalu lelah, akhir-akhir ini aku sering tiba-tiba tertidur, apa jangan-jangan selama itu seseorang mengambil alih tubuhku. Tunggu semalam bukannya aku pergi bersama Riana untuk bertemu Tuan Nicholas, pertemuan berakhir di jam sepuluh kami pulang dan setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.” Dia mencoba merangkai tiap ingatan yang muncul di kepalanya, namun lagi-lagi ingatannya buntu di tempat yang sama.
‘Apa aku berubah jadi orang lain di hadapan Riana? Sial.’
Dia lekas keluar kamar dan turun dengan cepat ke lantai bawah bahkan tanpa menggunakan alas kaki.
“Bu, apa semalam aku–?” ucapannya seketika terhenti saat melihat Riana tengah ikut menyiapkan sarapan di dapur bersama Bu Rum.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄