Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Teknik yang Tidak Tercatat
Hari pertama babak utama dimulai.
Langit tertutup awan mendung tipis. Udara lebih dingin dibanding beberapa hari terakhir.
Wei Mou Sha tiba di arena satu jam sebelum pertandingan pertama dimulai.
Bukan untuk pemanasan. Tubuhnya tidak membutuhkan ritual seperti yang dilakukan sebagian besar peserta lain. Ia datang lebih awal untuk duduk di tribun dan menonton dua pertandingan sebelum gilirannya.
Pengamatan langsung selalu lebih akurat daripada sekadar informasi.
Pertandingan pertama adalah Feng Bai melawan seorang kultivator bebas dari luar Wanhua.
Feng Bai menang dalam empat menit. Sangat bersih, rapi, tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Tekniknya jauh lebih terkontrol dibanding saat bertarung dengan Wei Mou Sha, jelas saat itu ia masih menyimpan sesuatu.
Pertandingan kedua adalah murid Aula Api Sejati melawan peserta dari Pedang Langit Utara.
Pertarungan yang lebih panjang, Api melawan angin, dua elemen yang saling bertolak belakang. Murid Aula Api Sejati menang setelah sebelas menit pertarungan tanpa henti.
Wei Mou Sha menyimpan semuanya dalam ingatannya, lalu ia turun ke area peserta saat namanya dipanggil.
Lawannya sudah berdiri di sisi lain nya.
Seorang pria bertubuh besar. Bahu lebar, leher nyaris tak terlihat, tubuh padat seperti dinding batu. Rambutnya pendek, kulitnya kasar, dan ukuran tangannya hampir dua kali lipat milik Wei Mou Sha.
Seragam merah tua dengan lambang yang asing, jelas berasal dari sekte luar Wanhua.
Di tribun, suara mulai berubah saat keduanya berdiri berhadapan.
"Yang kiri itu murid inti Sekte Bumi Merah Selatan. Kekuatan fisiknya terkenal di wilayah selatan. Katanya pernah menghancurkan batu setebal dua meter hanya dengan satu pukulan, tanpa qi khusus."
"Yang kanan siapa? Yang jubah putih?"
"Wei Mou Sha. Kultivator bebas. Yang kemarin di kualifikasi itu."
"Yang menang delapan detik?"
"Iya."
"Kasihan dia dapat lawan seperti itu."
Wei Mou Sha mendengar semuanya. Ia tidak menoleh sedikitpun ke arah orang orang yang membicarakan nya.
Tatapannya tetap lurus ke depan, tenang, tanpa emosi yang mengganggu penilaiannya.
Pria di depannya menatap balik dengan ekspresi yang sudah sangat ia kenali. Ekspresi seseorang yang merasa tidak perlu berpikir ulang.
Ini mudah.
Wei Mou Sha tidak keberatan.
Asumsi yang salah selalu lebih berguna daripada yang benar.
Instruksi diberikan. Lonceng berbunyi, dan pertarungan pun dimulai.
Pria besar itu bergerak lebih cepat dari yang tubuhnya perlihatkan.
Wei Mou Sha sudah memperkirakan ini.
Serangan pertama datang lurus, kepalan kanan mengarah ke dada. Tanpa tipuan dan tanpa teknik rumit.
Wei Mou Sha memiringkan tubuhnya ke kiri.
Kepalan itu lewat di sampingnya. Anginnya cukup kuat untuk menggerakkan rambutnya.
Kuat. Lebih kuat dari yang terlihat.
Pria itu tidak kehilangan keseimbangan. Tubuhnya langsung berputar, dan siku kiri mengarah ke kepalanya.
Wei Mou Sha menunduk.
Siku itu melintas tepat di atas kepalanya.
Bagus. Adaptasinya cepat.
Mereka bertukar posisi. Wei Mou Sha bergeser ke samping, sementara pria itu kembali berbalik menghadapinya.
Dua belas detik pertama, tidak ada yang menyentuh Wei Mou Sha.
Di tribun, suara mulai berubah.
"Tunggu... dia menghindari semuanya?"
"Tapi tidak menyerang balik."
"Atau memang tidak bisa?"
Pria itu tampaknya berpikir sama.
Setelah beberapa serangan yang terus meleset, ia mengubah pendekatan.
Bukan lagi pukulan tunggal. Ia mulai menyerang bertubi-tubi tanpa jeda, satu, dua, tiga. Kakinya ikut bergerak, sesekali menyapu untuk membatasi ruang gerak.
Strategi yang tepat untuk menghadapi lawan yang lebih kecil dan lebih cepat.
Wei Mou Sha tetap menghindar, tapi kali ini tidak hanya mundur. Ia bergerak melingkar, memotong sudut, mengubah arah secara tiba-tiba. Tidak memberi lawannya kesempatan membangun momentum.
Satu menit. Dua menit.
Belum ada satu pun serangan yang mengenainya.
Di tribun, seseorang akhirnya mengerti.
"Dia sedang menguras tenaga lawannya."
"Tapi kalau sekali kena..."
"Cukup sekali saja."
Wei Mou Sha memang menguras energi lawannya. Tapi bukan hanya itu.
Ia sedang memetakan.
Dengan tubuh sebesar itu, tekanan biasa pada titik qi tidak akan cukup. Otot dan massa tubuhnya terlalu tebal.
Pendekatannya harus berbeda.
Bukan menekan, tetapi mengalirkan. Memanfaatkan momentum lawan sendiri untuk menciptakan tekanan dari dalam.
Konsep yang pernah ia baca. Belum pernah ia praktikkan sebelumnya.
Malam nanti, ia akan mengevaluasi hasilnya.
Sekarang, ia hanya butuh satu momen. Dan akhirnya momen itu datang.
Pria itu meloncat maju sambil memukul, menambahkan seluruh berat tubuhnya ke dalam serangan. Variasi yang bagus. Tapi membutuhkan komitmen penuh.
Dan komitmen penuh berarti tidak bisa berubah arah.
Wei Mou Sha tidak mundur.
Ia justru melangkah ke dalam.
Kepalan itu meleset di samping bahunya, hampir menyentuh nya. Kini ia berada di sisi kanan lawannya.
Tangannya kemudian bergerak.
Bukan dua jari, Melainkan Empat titik sekaligus.
Chize di siku. Hegu di punggung tangan. Jianjing di bahu. Quepen di bawah tulang selangka.
Satu jalur dengan urutan terbalik.
Bukan menekan, tetapi mengalirkan.
Qi di lengan kanan pria itu yang baru saja dikerahkan sepenuhnya tiba-tiba kehilangan arah. Jalurnya saling bertabrakan, berbalik dan terputus.
Seperti arus sungai yang dipaksa berbalik sekaligus.
Pria itu berhenti. Tubuhnya bergerak maju, mundur, tegang, longgar, semuanya terjadi bersamaan.
Sepersekian detik kebingungan.
Itu sudah cukup.
Wei Mou Sha berdiri di sisi kanannya, satu tangan menyentuh tulang selangka lawannya.
"Tulang selangkamu bisa retak kalau kamu memaksakan qi ke arah yang salah sekarang."
"Sisi kanan lenganmu tidak akan bisa dipakai selama dua jam, sampai aliran meridiannya kembali normal." Ia menarik tangannya dan mundur satu langkah. "Kamu masih bisa menyerang dengan tangan kiri. Tapi kekuatannya akan turun sekitar enam puluh persen."
Pria itu menoleh. Ekspresinya sudah berubah, tidak lagi sesederhana tadi.
"Kamu..." suaranya berat. "Bagaimana kamu tahu tangan serangan dominan ku?"
"Dari cara kamu berdiri. Pembagian berat tubuhmu. Dan semua serangan terkuatmu selalu dari kanan." Wei Mou Sha menatapnya lurus. "Mau lanjut?"
Pria itu menatap tangan kanannya yang kini hanya menggantung. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, satu, dua bergerak, tapi tidak terkoordinasi.
"Dari mana kamu belajar itu?" tanyanya.
"Pengamatan."
"Pengamatan..." Ia mengulang pelan, seolah menimbang bobot kata itu.
Lalu ia mengangkat tangan kirinya.
Menyerah.
Langsung tanpa ragu. Dan lonceng berbunyi.
Tribun meledak serentak, tidak ada jeda seperti kemarin. Keras, sampai lantai arena terasa bergetar.
Wei Mou Sha berjalan ke tepi arena.
Namanya mulai terdengar di mana-mana. Nada kagum. Tidak percaya. Dan beberapa suara lain yang lebih pelan dan lebih dingin
Ia tidak berhenti.
Di area peserta, pria besar itu sudah duduk. Tangan kanannya tergeletak di pangkuannya, dan diperiksa oleh seorang tabib.
Wei Mou Sha melewatinya.
"Hei."
Ia berhenti.
"Teknik itu..." Pria itu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang jujur. "Belum pernah ada yang menjelaskan sebelum melakukannya."
Wei Mou Sha berpikir sejenak.
"Itu lebih efektif, Kalau kamu tahu sebelumnya, reaksimu akan berubah. Tekniknya tidak akan bekerja."
"Tapi kamu tetap menjelaskannya."
"Sesudahnya."
Pria itu terdiam. Lalu tertawa kecil.
"Namamu Wei Mou Sha kan?"
"Ya."
"Lu Tian." Ia mengangguk. "Semoga kita tidak bertemu lagi di arena. Tapi kalau di luar... aku ingin belajar teknik itu."
Wei Mou Sha menatapnya sejenak.
"Meridian bukan untuk dilawan dengan kekuatan," katanya. "Dipahami lebih efisien."
Ia lalu pergi.
Pertandingan terakhir hari itu: Lian Zhu Yue melawan murid Aula Api Sejati.
Wei Mou Sha kembali ke tribun.
Kali ini ia tidak hanya memperhatikan teknik. Ia mengamati hal-hal kecil, cara Lian Zhu Yue bergerak saat tidak diserang, arah pandang matanya sebelum lawan bergerak, dan kipas teratai merah di tangannya.
Kipas itu terbuka dua kali.
Setiap kali terbuka, sesuatu berubah pada lawannya.
Wei Mou Sha memusatkan perhatiannya ke sana.
Kipas itu bukan sekadar aksesori. Artefak kultivasi, kemungkinan besar berhubungan dengan jiwa, bukan serangan fisik. Cara ia membuka dan menggenggamnya menunjukkan latihan yang spesifik, bukan kebiasaan.
Lian Zhu Yue menang di menit kesepuluh.
Lawannya duduk di lantai dengan ekspresi kosong, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak diingat. Ia menyerah, tapi bahkan terdengar tidak yakin kenapa.
Setelah semua selesai, jadwal hari kedua ditempel.
Wei Mou Sha melawan Xue Han Ye.
Ia membaca nama itu dua kali.
Lalu melihat susunan lainnya, Feng Bai melawan sisa murid Aula Api Sejati. Pemenang keduanya akan bertemu di semifinal. Chen Liang Huo berada di sisi lain.
Artinya, jika semuanya berjalan seperti yang diperkirakan.
Final.
Jika mereka semua menang.
Wei Mou Sha tidak meragukan dirinya sendiri.
Tapi Xue Han Ye adalah variabel yang belum ia pahami.
Malam itu, di penginapan, Wei Mou Sha bermeditasi lebih lama dari biasanya.
Bukan untuk memulihkan qi. Dua pertarungan tidak cukup untuk mengurasnya.
Ia memeriksa segel.
Retakan yang dulu ia temukan kini sedikit melebar, tetapi tidak signifikan, hanya sehelai rambut. Tapi arahnya berubah, mengikuti titik lemah yang tidak terlihat sebelumnya.
Dan sesuatu di dalamnya, yang dulu samar, kini lebih jelas terasa.
Masih tidak bisa ia pahami. Tidak merespons saat ia mencoba menyentuhnya.
Tapi ada.
Perasaan itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, dulu. Di hari-hari terakhir sebelum ia melarikan diri dari laboratorium.
Wei Mou Sha membuka matanya.
Menatap langit-langit kamar dalam gelap.
Besok, Xue Han Ye.
Di bagian lain kota yang mulai terlelap, di sebuah kamar yang lebih layak dari penginapan Wei Mou Sha, seseorang duduk di depan meja.
Sebatang lilin menyala.
Rambutnya gelap. Wajahnya tenang.
Bukan kosong seperti Wei Mou Sha, tapi terkendali.
Di atas meja, selembar kertas dengan satu kalimat yang sudah dibaca berulang kali:
"Subjek menggunakan teknik meridian terbalik. Tidak ada catatan serupa dalam literatur kultivasi formal."
Di bawahnya, tulisan lebih kecil:
"Perlu konfirmasi identitas. Besok."
Xue Han Ye meniup lilin.