PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 Gema Takdir dan Manisnya Pengkhianatan
Aroma kayu cendana yang mahal bercampur dengan uap teh kamomil yang menenangkan memenuhi ruang tamu utama Kediaman Duke Wiraatmadja. Namun, keharuman itu tidak mampu meredam gelombang emosi yang masih menggantung berat di udara, seolah-olah atmosfer di ruangan itu telah berubah menjadi cairan pekat yang menyesakkan paru-paru. Suasana setelah "pingsannya" Rosalind yang dramatis bukan lagi tegang oleh amarah, melainkan penuh dengan penyesalan yang begitu kental hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau.
Duke Lyon duduk terdiam di kursi kebesarannya, matanya yang biasa menatap tajam ke peta strategi perang—menghitung jumlah pasukan dan arah mata angin—kini menatap kosong ke pola lantai marmer yang dingin. Di sebelahnya, Duchess Elena masih menggenggam sapu tangan yang sudah basah kuyup oleh air mata. Mereka berdua, bersama Evelyn, Celine, dan Lady Clara, seolah baru saja dipaksa melihat cermin retak yang memantulkan segala kegagalan, keegoisan, dan kebutaan mereka selama sepuluh tahun terakhir.
Di pojok ruangan, Martha masih berdiri dengan bahu yang bergetar hebat. Hatinya yang semula membeku oleh trauma dan keputusasaan kini mencair dalam rasa syukur yang tak terhingga kepada Nona Mudanya.
[(Batin Martha):]
"Terima kasih, Dewa... Terima kasih, Nona Muda Rosalind. Jika bukan karena batinmu yang ajaib itu, aku mungkin akan membawa rahasia penderitaan Lily sampai ke liang lahat. Adikku Lily... mawar kecilku yang malang. Kakak akan segera menjemputmu. Tidak akan ada lagi jeritan ketakutan di balik gerbang panti asuhan Gema Harapan, tidak ada lagi perut yang lapar. Kita akan memiliki rumah yang sebenarnya, dan kau akan tumbuh menjadi gadis yang paling bahagia di kekaisaran ini. Aku bersumpah akan mengabdikan seluruh sisa nyawaku untuk menjaga Nona Rosalind."
Suasana melankolis ini benar-benar menyentuh titik nadir. Namun, di tengah lautan air mata dan batin yang merintih itu, sang "pemeran utama" kita sedang berada di dunianya sendiri yang sangat berbeda frekuensinya.
Ritual Puding dan Monitor Takdir
Rosalind, yang tadinya "pingsan" karena kelelahan akting, kini sudah duduk tegak kembali. Ia bersandar pada tumpukan bantal beludru empuk yang menyangga punggungnya yang ringkih. Di depannya, tersaji sebuah nampan perak berisi puding karamel yang bergoyang-goyang menggoda setiap kali ada getaran langkah kaki, ditemani sepiring kecil biskuit mentega yang aromanya sangat mematikan bagi siapa pun yang sedang lapar.
["Slrruupp... ahhh, beneran deh, koki di sini perlu dapet kenaikan gaji lagi. Teksturnya lembut banget, nggak kalah sama dessert hotel bintang lima,"] gumam Rosalind pelan, tangannya dengan lincah menyendok bagian karamel yang paling gelap dan manis.
[Sistem Peri Nana (Muncul dengan gaya santai):]
***Nana** melayang di depan wajah Rosalind dengan kaki kecil yang menyilang. Di tangan kanannya, ia memegang sebungkus permen Yupi berbentuk beruang yang ia ambil secara "ilegal" dari inventaris supermarket sistem dimensi modern. Ia mengunyah permen kenyal itu dengan nikmat, menimbulkan bunyi kecap yang hanya didengar Rosalind***.
"{Nona, Anda benar-benar santai sekali, ya? Keluarga Anda di sini sedang mengalami krisis eksistensial, drama air mata, dan tobat massal, sementara Anda sedang melakukan ritual pemujaan karamel seolah-olah dunia baik-baik saja. Sungguh inang yang tidak punya perasaan!}"
[ (Rosalind):]
["Hish, diamlah Lalat Yupi! Justru karena mereka sedang sedih, aku harus makan agar energu aktingku terisi kembali. Kalau aku ikut-ikutan sedih, siapa yang bakal mengarahkan strategi di rumah yang penuh ular ini? Lagipula, gula adalah bahan bakar otak untuk berpikir licik. Nana, tunjukkan monitornya. Aku mau liat kondisi Lily di Panti Asuhan Gema Harapan sekarang."]
Nana menjentikkan jarinya. Sebuah layar monitor transparan muncul di depan mata Rosalind, menampilkan siaran langsung dari Desa Grier. Di sana, Lily tampak sedang bersembunyi di balik pohon sakura tua yang sudah meranggas, wajah kecilnya pucat pasi namun matanya terus menatap ke arah gerbang panti, menunggu keajaiban yang dijanjikan kakaknya.
Di sisi lain monitor, terlihat bayangan pasukan ksatria berbaju zirah perak yang dipimpin Xander sedang memacu kuda dengan kecepatan penuh, membelah jalanan setapak menuju panti tersebut.
[ (Rosalind):]
["Bagus... Kak Xander beneran kayak badai. Tapi Nana, aku kepikiran sesuatu yang agak berat. Aku ini kan merubah alur cerita novelnya secara brutal. Harusnya Rosalind mati, Lyon dipenggal, Elena mati sesak napas. Tapi sekarang... semuanya berubah total karena campur tanganku. Apakah aku bakal dapet hukuman dari 'Sistem Alam Semesta' atau 'Penulis' dunia ini karena merusak alur? Apa aku akan dikutuk jadi kodok kalau terlalu banyak spoiler lewat batin?"]
[Sistem Peri Nana (Sambil mengunyah permen Yupi-nya):]
"{Hukuman? Hmm, sejauh ini belum ada notifikasi merah dari Pusat Dimensi. Selama Nona mengumpulkan Poin Melon, Nona dianggap sebagai 'Agen Penyeimbang' yang memperbaiki bug narasi. Jadi, daripada mikirin hukuman, mending Nona mikirin gimana cara menguliti Hans Jarwo Kliwon itu nanti. Dia itu kunci dari semua racun di rumah ini, lho. Tapi itu urusan nanti Nona , sekarang nikmati saja puding mu.}"
Dialog Antar Jiwa yang Terluka
Sementara Rosalind asyik dengan sistemnya, batin keluarga Duke terus bersahut-sahutan di frekuensi yang sama, menciptakan "konser emosi" yang memilukan.
[(Batin Duke Lyon):]
"Aku adalah Singa Perbatasan yang gagal total. Aku mampu menaklukkan ribuan musuh tapi aku membiarkan putriku sendiri kelaparan di bawah atapku. Aku membiarkan pengabdian Martha menjadi beban yang menyakitkan. Hans Jarwo... kau pikir kau bisa bersembunyi? Aku bersumpah, jika aku tidak mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri, aku tidak layak menyandang nama Wiraatmadja!"
[(Batin Duchess Elena):]
"Rosalind... kau anak yang begitu ajaib. Di saat kau sendiri hampir mati, batinmu justru menyelamatkan Martha dan Lily. Maafkan Ibu yang lemah ini, Nak. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan sebutir debu pun menyakitimu atau membuatmu merasa sendirian lagi."
[(Batin Evelyn & Celine):]
"Kami benar-benar kakak yang sampah. Kami sibuk dengan gaun mewah dan pangeran palsu, sementara adik kami berjuang hidup dan mati. Rosalind, tolong... teruslah menghujat kami di dalam hatimu jika itu membuatmu merasa lebih baik. Kami pantas mendapatkan setiap hinaanmu."
Rosalind, yang mendengar semua itu sambil mengunyah pudingnya, hanya bisa menghela napas panjang dalam batinnya yang sarkastik.
[l (Rosalind):]
["Aduh, aduh... mulai deh sesi curhat massalnya. Telinga batinku rasanya mau pecah denger kalian minta maaf terus-menerus. Udahlah, yang penting sekarang kalian sadar dan nggak jadi beban lagi. Daripada cuma minta maaf lewat batin, mending beliin aku stok puding karamel buat setahun! Itu jauh lebih berguna bagi kesejahteraan ku daripada air mata buaya kalian!"]
Clara, istri Julian, menatap Rosalind dengan pandangan haru. Ia mendekati ranjang Rosalind, mencoba memberikan perhatian kecil yang tulus. "Nona Rosalind... apakah pudingnya enak? Perlu saya ambilkan lagi yang baru?"
Rosalind menatap Clara, si "Mawar Putih" yang juga pernah ia selamatkan dari fitnah memalukan.
[ (Rosalind):]
["Cakep! Ini baru namanya interaksi yang produktif. Lady Clara, kamu emang menantu idaman dan calon sekutu terbaikku. Boleh banget, ambilkan sepuluh lagi kalau lambungku muat! Tapi ingat Erika, pasang mode akting polos sekarang!"]
"Enak, Kak Clara... manis sekali. Seperti... seperti kebaikan Kakak kepada Rosalind," ucap Rosalind dengan senyum yang sangat manis, lengkap dengan sedikit sisa karamel di sudut bibirnya yang membuatnya tampak menggemaskan.
Kedatangan Tamu Agung
Tiba-tiba, suasana di ruang tamu yang penuh drama itu terganggu oleh suara pengumuman lantang dari ksatria penjaga di depan pintu utama.
"KEHADIRAN PUTRI MAHKOTA MYTHA LESTARI DAN PUTRI KEDUA AMELIA LESTARI DARI KEKAISARAN!"
Brak!
Pintu ruang tamu terbuka dengan anggun namun tegas. Dua putri kekaisaran itu melangkah masuk dengan gaun perjalanan mereka yang masih tampak sangat rapi dan berwibawa. Kehadiran mereka seolah membawa aura kemegahan yang seketika menutupi suasana duka di ruangan itu.
Duke Lyon dan Duchess Elena segera berdiri, menghapus sisa air mata mereka dengan gerakan cepat dan memasang topeng bangsawan yang kaku dan formal.
"Putri Mytha, Putri Amelia... suatu kehormatan luar biasa," ucap Lyon sambil membungkuk dalam, diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
Putri Mytha menatap sekeliling ruangan dengan mata tajamnya yang bagaikan elang. Ia melihat Martha yang berlutut di lantai, wajah-wajah keluarga Duke yang sembab, dan terakhir, ia menatap Rosalind yang masih memegang sendok puding dengan wajah tanpa dosa.
"Duke Lyon, sepertinya kediamanmu sedang tidak dalam kondisi yang stabil untuk menerima tamu," ucap Mytha dingin, namun pandangannya tidak lepas dari Rosalind. "Kami bertemu Xander di persimpangan jalan tadi, dan dia tampak seperti sedang memimpin pasukan menuju peperangan besar. Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Wiraatmadja?"
Putri Amelia tersenyum tipis, melirik ke arah Evelyn dan Celine yang tampak gemetar. "Kami datang untuk menjemput sahabat kami untuk minum teh, tapi sepertinya kami menemukan sesuatu yang jauh lebih 'berair' daripada sekadar teh hangat di sini."
****Rosalind membeku dengan sendok puding yang masih menempel di mulutnya.
[l (Rosalind):]
["Waduh... dua bos besar kekaisaran dateng tanpa undangan! Nana, kenapa mereka ke sini?! Jangan bilang mereka juga masuk dalam radius orang-orang yang bisa denger batinku?! Kalau iya, reputasiku sebagai Putri Suci yang rapuh beneran tamat hari ini juga! Mana aku lagi belepotan karamel begini lagi! Sialan, kenapa hidup di dunia novel nggak pernah ada tenang-tenangnya sih?!"]
Nana hanya terkikik geli di balik layar monitor sambil terus mengunyah permen Yupi-nya. "{Selamat datang di level selanjutnya, Nona. Selamat menghadapi para penguasa kekaisaran!}"
***Rosalind** menelan pudingnya dengan susah payah, menatap dua putri kekaisaran itu dengan mata bulatnya yang sengaja dibuat "polos**," sementara di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana baru untuk menguliti rahasia kerajaan yang jauh lebih besar*.