NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Awal Dari sesuatu

Pagi itu, matahari baru saja menembus jendela kamar Zaskia. Suasana rumah terasa hangat, namun ia sudah sibuk mempersiapkan kue pesanan kedua dalam jumlah banyak untuk dikirim ke tempat kerja Nadine.

Dari ambang pintu dapur, Nadine muncul.

“Kia, kamu udah siap belum?” tanyanya sambil menenteng tas.

“Udah dong.” Zaskia tersenyum lebar, menunjukkan kue-kue yang telah terbungkus rapi.

“Berangkat...!” ujar Nadine dengan gaya semangatnya—tangan kanan mengepal ke atas, tangan kiri di bawah, seperti mau berangkat perang.

Zaskia hanya menggeleng melihat tingkah random sahabatnya itu. Mereka lalu berangkat menuju tempat yang sama.

Di perjalanan menggunakan motor, mereka saling bertukar cerita. Persahabatan mereka memang sangat dekat, bahkan melebihi kedekatan Zaskia dengan adik kandungnya sendiri. Susah senang mereka selalu bersama. Apalagi selama proses pencarian Ibu Zaskia setelah laporan ke polisi, Nadine selalu menjadi saksi perjalanan hidupnya.

“Kalau sampai sekarang belum ada perkembangan dari kepolisian, setelah kabar ibumu ada di luar pulau...langkah kamu selanjutnya apa?” tanya Nadine, sekilas menoleh sebelum kembali fokus menyetir.

“Entahlah, Nad. Belum tahu. Yang jelas aku mau ngumpulin uang sebanyak-banyaknya. Polisi terlalu lelet.”

Nadine mengernyit. “Apa hubungannya?”

“Aku dengar ada agensi penyelidik yang bisa menangani kasus seperti ini. Semacam detektif. Cuma ya...butuh uang banyak buat sewa mereka. Prosesnya lebih cepat dari pada lewat polisi.”

Nadine hanya mengangguk karena mereka sudah hampir sampai pabrik.

Begitu masuk parkiran, ponsel Nadine berdering. Matanya membelalak saat melihat nama bosnya. Ia segera mengangkatnya, sementara Zaskia menunggu di samping motor.

Setelah percakapan selesai, Nadine berkata pelan, “Kia...Pak Irwan minta ketemu kamu.”

Zaskia spontan ingin menolak karena merasa sungkan—dia bukan karyawan. Tapi akhirnya ia mengiyakan.

Nadine mengajak Zaskia masuk dan langsung menuju ruangan Pak Irwan yang sudah menunggu. Setelah itu, Nadine pamit bekerja, meninggalkan Zaskia sendirian bersama bosnya.

Tangan Zaskia bertumpu di paha, sedikit menunduk. Pak Irwan menatapnya tegas dan berwibawa.

“Kamu yang namanya Zaskia?”

Zaskia mengangguk pelan. “Iya, Pak.”

“Saya dari dulu tidak suka kue dalam bentuk apa pun. Tapi lidah saya cocok dengan kue buatan kamu.”

Ia bersandar sedikit ke kursinya.

“Saya berniat kamu membuatkan kue untuk para karyawan setiap hari, kirim setiap pagi. Bisa nambah pesanan kalau ada tamu besar. Sementara itu, kamu stop dulu pesanan dari pelanggan lain, fokus ke pabrik saya saja. Saya akan jadi pelanggan tetap kamu.”

Ia berbicara panjang, seolah jawaban Zaskia sudah ia ketahui lebih dulu.

“Bukan begitu kok, Pak,” jawab Zaskia gugup.

“Jadi gimana?” Irwan menegaskan.

“Baik, saya terima, Pak.”

Irwan mengangguk senang lalu meminta nomor ponselnya agar mudah menghubungi.

“Oh ya, kamu kerja apa selain bikin kue?”

“Jualan kue saja, Pak.”

Irwan kembali mengangguk, tangan telunjuknya menyangga dagu, menatap Zaskia cukup intens—hingga membuatnya sedikit tidak nyaman. Kalau bukan urusan pekerjaan, Zaskia pasti sudah kabur dari ruangan itu.

“Apa kamu sudah menikah?”

Zaskia menggeleng. Entah kenapa, pria paruh baya dihadapannya saat ini banyak bertanya. Zaskia merasa tidak enak hati, tapi tetap menjawab selama masih batas wajar.

Ia menggeleng pelan.

“Umur kamu berapa sekarang?”tanyanya lagi

Zaskia merasa pertanyaan itu mulai terlalu jauh. Hubungan mereka hanya sebatas penjual dan pelanggan, tidak perlu sedetail itu.

“Maaf, Pak. Saya harus mempersiapkan bahan-bahan kue untuk besok,” katanya, memberanikan diri mengalihkan pembicaraan meski sedikit kikuk.

Irwan mengangguk mengerti. Ia berdiri lalu mengulurkan tangan. “Bisa dikatakan kita ini partner, kan?”

Zaskia ikut berdiri, tersenyum kecil lalu mengatupkan tangan di dada tanpa membalas uluran tangannya. Sejak kecil, ibunya selalu mengajarkan ia tidak boleh disentuh orang asing tanpa izinnya.

“Iya bisa, Pak. Maaf.”

Zaskia pamit keluar ruangan. Ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Tatapan dan logat bicara Pak Irwan menimbulkan sedikit rasa takut. Namun ia menepis pikiran buruk itu.

Baru saja ia meraih ponsel dari saku, layarnya menyala. Ada nomor baru mengirim pesan.

Saat membacanya, Zaskia tertegun.

“Saya Pak Irwan. Maaf tadi lupa memberi DP. Besok saat kamu mengantar kue, langsung masuk ke ruangan saya untuk ambil uangnya dan saya sekalian lunasi. Nggak perlu ajak Nadine. Kamu sudah dapat izin dari saya, jadi langsung masuk saja.”

Zaskia menghela napas pelan. Ia tidak membalas pesan Irwan. Justru ia menghubungi Nadine, meminta agar dia menginap lagi di rumahnya. Setelah itu, ia menutup ponselnya.

Waktunya sudah banyak terbuang dengan obrolan tadi. Ia harus cepat ke pasar untuk membeli bahan-bahan kue. Dengan langkah buru-buru, Zaskia meninggalkan area pabrik.

Di sisi lain...

Pak Irwan bos pabrik sepatu itu, duduk bersandar di kursi, dengan satu kaki bertumpu di paha, ia memandangi lampu-lampu di ruangannya yang tertata indah. Pikirannya langsung tertuju pada gadis yang mengobrol dengannya sepuluh menit yang lalu. Ia mengulum senyum tipis nyaris tak terlihat. “Tidak terlalu cantik, tapi dia sangat menarik,” gumamnya, lalu senyum dibibirnya nampak jelas.

Ia buru-buru membuka ponsel dan menggeser ke atas bawah seperti mencari kontak seseorang. Dan akhirnya ketemu, lalu memencet tombol call. Setelah tersambung,

“Cari latar belakang gadis itu, foto sudah saya kirim. Saya tunggu, secepatnya.” nadanya tegas, sedikit tidak sabar.

Dua belas menit kemudian ...

Ponselnya berdering...

Setelah mendengar dari penelepon Irwan menjawab dengan semangat. “Bagus, kumpulkan data-data informasi tentang dia, dan bawa ke saya sekarang.”

Tak lebih dari satu jam, seseorang yang di telepon Irwan datang, ia mengangguk dan langsung mempersilahkan duduk. Lalu orang itu menyerahkan data yang ia minta.

“Dia punya saudara namanya Rania Anggraini, selebgram terkenal. Mereka ditinggal ibunya sejak usia tujuh dan enam tahun, tidak ada yang mengetahui alasan kepergian ibunya. Dan tak lama, ayahnya menikah lagi dengan pemilik toko tempatnya bekerja.”

Orang itu mengangguk. “Benar, Pak.”

“Terus kenapa dia sekarang jualan kue, bukankah istri ayahnya yang sekarang orang kaya?”

“Perihal itu saya belum tahu, Pak. Gadis itu cukup tertutup, mungkin kita bisa cari info detailnya lewat teman atau sahabatnya.”

“Ah, ” Irwan berdecak kecil dan mengetuk kertas yang dipegangnya ke meja. “Saya baru ingat, kalau saya kenal dia lewat Nadine.”

“Nah, mungkin kita bisa tahu lewat dia, Pak.”

Irwan mengangguk. “Kamu benar, terima kasih jack, kamu aspri yang tidak pernah mengecewakan saya.”

“Sama-sama, Pak. Tapi kalau boleh tahu, apa yang membuat Bapak ingin tahu gadis ini?”

“Dia sangat menarik perhatian saya, apalagi saat dia menolak bersalaman dengan saya. Belum pernah saya temui gadis seperti itu, selalu menunduk sebelum menjawab pertanyaan, mungkin karena berhadapan dengan laki-laki asing seperti saya. Perempuan yang tidak mau disentuh laki-laki. Bukankah istimewa perempuan seperti itu?”

Jack mengangguk paham. “Benar, Pak.”

“Saya mau kamu awasi dia, jaga, jangan sampai lecet sedikitpun. kamu harus laporan ke saya aktivitas dia tiap menitnya. Apa sikap dia hanya pura-pura atau memang nyatanya seperti itu.”

“Siap, Pak.”

“Nice, sekarang kamu boleh pergi, Jack. Dan ini bonus untuk kamu.”

Jack tersenyum senang saat menerima amplop coklat berisi uang. “Terimakasih, Pak.”

Sementara itu, di ruangan yang sama, Irwan masih memandangi pintu yang tadi dilewati Zaskia.

Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

“Untuk sesuatu yang baik... Saya harus tahu lebih banyak tentang kamu Zaskia,” gumamnya.

Ia meraih ponsel, menunggu laporan berikutnya—seolah seluruh waktu di dunia ini hanya berputar mengitari satu nama, Zaskia Alifta

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!