Waktu terus berputar, layaknya takdir sang pencipta. Cakra Penggilingan selalu merekam keadaan. Waktu akan menjadi perekam setiap peristiwa, yang akan selalu menjadi saksi dari panggung sandiwara yang dimiliki setiap mahluk.
Ada peran wajar apa adanya, ada peran berpura-pura penuh intrik dan manipulatif selayaknya Kahanan yang ditetapkan sang Pencipta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopral234_TH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 5 - AWAL KEHIDUPAN BARU PART II
Muhibbin duduk di Balai Dangin rumah Luh Sekar, pandangan matanya menyapu sekeliling rumah yang asri itu. Terlihat pohon jepun sejenis pohon kamboja tertanam rapi ditengah-tengah pekarangan dan dari kulit-kulit kayu itu terlihat telah tumbuh belasan tahun dengan kulit pohon yang mulai mengelupas memberi kesan antik dan anggun.
Tiba-tiba dari arah belakang Balai Dangin, Luh Sekar datang bersama seorang lelaki tua dengan usia antara tujuh puluhan mengenakan sarong khas motif Negeri Pantai dan pakaian terbuat dari kain endek, mengesankan lelaki tersebut dari keluarga berada.
"Selamat pagi, Gus. Silahkan nikmati dulu minumannya." sambut lelaki tua itu ramah pada Muhibbin dan Sekar menaruh gelas berisi kopi di hadapan kedua lelaki tersebut.
"Kenalkan nama saya Nengah Wirata, panggil saja pak Nengah," ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangannya dan bersila dihadapan Muhibbin.
Muhibbin menyambut uluran tangan pak Nengah didepannya.
"Saya Muhibbin pak, panggil saja Ibbin." lanjut pemuda itu.
"Nak Bagus ini sebenarnya dari mana dan mau kemana?" tanya pak Nengah pada Muhibbin.
"Saya dari Negeri Batu Ular seberang laut pulau ini pak dan tujuan saya ke Negeri Pantai ini untuk mengadu nasib pak." jawab Muhibbin sambil tertunduk hikmad.
" Ouuhh ternyata Nak Bagus ini dari Dauh Tukat." timpal pak Nengah sambil manggut-manggut.
Dauh Tukad adalah sebutan negeri seberang pulau yang sering digunakan oleh masyarakat Negeri Pantai.
"Terus apa Nak Bagus sudah memiliki tujuan di negeri ini?" tanya pak Nengah kembali.
"Belum pak, Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini dan saya tak tau hendak kemana di negeri ini,"
jawab Muhibbin polos.
Pak Nengah manggut-manggut mendengarkan jawaban lelaki remaja di depannya. Dalam hati pak Nengah merasa salut dengan anak semuda ini sudah berani merantau jauh ke negeri seberang, lelaki tua itu teringat pada putra pertamanya yang telah meninggal akibat wabah sekitar empat tahun lalu dan jika putranya tersebut masih hidup kisaran seusia Muhibbin di depannya.
"Nak Bagus, jika Nak Bagus belum punya tujuan dinegeri ini, bagaimana kalau sementara tinggal dirumah bapak dan kamu bisa bantu-bantu bapak mengurus ternak, anggaplah kamu kerja dengan bapak," kata pak Nengah dengan tulus.
Ekspresi wajah muhibbin tak bisa menutup rasa kegembiraannya dan spontan dia menjura dan mencium punggung tangan pak Nengah.
"Terimakasih pak atas kebaikan bapak, Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan tak akan mengecewakan bapak." pungkas Muhibbin penuh kegembiraan.
Lelaki tua didepannya tersenyum dan merangkul pundak Muhibbin, ada rasa kerinduan yang menggelayut di dada lelaki itu pada almarhum putranya yang telah tiada.
"Sekar! antar Nak Bagus ke kamar kakakmu, biarkan dia istirahat dan tinggal di Balai Daja selama berada disini," pinta pak Nengah pada Sekar putri semata wayangnya.
"Nggih jik, tiyang akan antar bli Ibbin." jawab Sekar penuh hormat pada ayahnya dan beranjak mengantar Muhibbin.
Ajik adalah panggilan hormat untuk seorang ayah di Negeri Pantai.
Kedua remaja itu berlalu dari hadapan pak Nengah.
Tanpa terasa hari di hari berganti dan kehidupan keluarga pak Nengah seperti biasanya dilalui bersama Luh Sekar dan anak angkatnya Muhibbin.
Kehidupan di Negeri Pantai yang tenang mempengaruhi perkembangan berkesenian Muhibbun.
Disela-sela membantu ayah dan mengawasi adik angkatnya, Muhibbin menyempatkan diri dengan memperdalam pengetahuan sastra dan seninya.
Setiap akhir pekan Muhibbin berkumpul disebuah kedai seni yang sering dihadiri dan digunakan oleh para Seniman dan Sastrawan membuat pagelaran seni dan pameran seni rupa untuk menghibur para wisatawan yang semakin hari semakin ramai mengunjungi Negeri Pantai.
dan itu cincin peninggalan ayah mu buang ke laut aja. suruh bu dhe habsari mu nyelem kalau mau cincin nya. ambil ambil deh itu harta. padahal mah ga tau beneran ada apa ga itu harta. kok ya pada giblik percaya ma dongeng sampe bacok bacokan.
jujur saja aku agak kecewa dengan ending yang terkesan dipaksakan. jadinya seperti sinetron ikan terbang. 😄😄
aku pikir sebenarnya inti dari novel ini adalah masalah kotak giok hujan dan batu sulaiman madu yang aku sendiri bingung itu benda manfaatnya apa sih sampai jadi rebutan dan bantai bantai an begitu. tapi malah konsen utama ke hubungan rumit penuh keegoisan antara ibbin, disya, dan wati
kenapa terlalu menjaga sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. dan dulu juga diberikan oleh orang lewat yang tidak jelas asal usulnya pula?
juga para leluhur yang nyuruh untuk jaga .. jaga .. tapi ga ngasih penjelasan sama sekali kenapa harus dijaga? kenapa kalau jatuh ke tangan yang salah bisa jadi mala petaka? kan pada akhirnya menyesatkan para ahli warisnya dengan "dongeng" yang tidak jelas benar tidaknya.
dia merasa berjuang sendirian karena muhibbin karakternya mudah terombang ambing dan cenderung lemah dalam mengambil keputusan.
agak aneh kalau hanya berdasarkan surat perjanjian saja. kan harus ada surat persetujuan penguasa setempat juga supaya tidak dianggap illegal.
bisa diusut kan kebenarannya ke lembaga hukum setempat karena seharusnya lembaga negara punya salinan resminya.
hadehhh 😄😄
trus suruh muhibbin mengeruk harta nya bendowo. main cantik tanpa mengotori tangan sendiri. 😄😄
kok sempat sempatnya ngikutin muhibbin?
"takdir adalah akumulasi dari setiap keputusan yang kita ambil."
bukan berarti karena muhibbin ini anak penurut dan legowo terus dijadikan tumpuan terus menerus. dia juga kan butuh merangkai masa depannya sendiri.
geram juga aku tu sama keluarganya muhibbin. tidak ada kerjasama yang baik untuk menanggung "beban" bersama.
sikapnya seolah peduli sama orang lain padahal yang dipedulikan itu sebenarnya dirinya sendir.