NovelToon NovelToon
Pencuri Hati

Pencuri Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: amih_amy

Kecelakaan membawa Rein bertemu dengan jodohnya. Ia merasa terjebak karena harus menikah dengan seorang polisi, sedangkan dirinya adalah seorang pencuri. Rein menerima pernikahan itu karena merasa berhutang budi.

Bagaimana perjalanan hidup Rein bersama suaminya tersebut. Apakah mereka akan tetap hidup bersama, walaupun suaminya tahu jika Rein adalah penyebab kakaknya meninggal dunia? Ikuti kisah mereka ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Aska

...Happy Reading...

...****************...

Aska Raidhana—anak dari pasangan Ranti dan Bahar itu begitu dilema dengan usul dari orang tuanya tersebut. Selain dia masih belum siap untuk menikah, dia juga tidak mau sembarangan memilih istri. Bagi Aska, menikah cukup sekali, dan itu harus dengan perempuan yang dia cintai.

Namun, bagaimana dengan Abian? Anak kecil itu sudah cukup menderita selama ini. Melihat Abian ceria seperti dulu adalah hal yang paling keluarga mereka inginkan. Aska merasa senang ketika mendengar Abian sudah mau berinteraksi dengan orang lain, tetapi kenapa harus tergantung juga kepada Rein? Dia hanyalah orang asing.

"Bian, kamu nggak boleh bersikap seperti ini! Kak Rein punya keluarga. Dia tidak mungkin tinggal bersama kamu terus." Aska bersikap tegas kepada Abian.

Abian melirik sinis pada Aska, lalu menulis lagi di kertas.

"KAK REIN YATIM PIATU, DIA TIDAK PUNYA KELUARGA."

"Nggak, Sayang. Walaupun Kak Rein yatim piatu, Kak Rein masih punya saudara di kota. Mereka butuh Kak Rein juga," sahut Rein yang juga membaca tulisan Abian.

Abian menulis lagi.

"KAK REIN, BOHONG. KATANYA WAKTU KECIL KAK REIN TINGGAL DI PANTI ASUHAN KARENA TIDAK PUNYA SAUDARA."

Rein tersenyum pelik sambil menggigit bibir bawahnya. Dia merasa serba salah. Hal yang dia ceritakan kepada Abian malah menyudutkan dia sekarang. Semua itu memang benar.

"Gimana kalau kamu yang ikut Om Aska ke kota? Dengan begitu kamu bisa lebih mudah kalau mau ketemu sama Kak Rein di sana. Kamu juga harus melanjutkan sekolah."

Abian sejenak berpikir. Menimbang usulan yang dicetuskan oleh Aska barusan. Tak lama dia pun menggelengkan kepala, lalu menulis lagi.

"BIAN MAUNYA TINGGAL SAMA KAK REIN."

"Bian!" Aska tak sengaja membentak keponakannya. Sikapnya yang tegas membuatnya spontan melakukan itu.

Abian pun sedikit ketakutan, tubuhnya beringsut mundur ke tengah tempat tidur. Lalu melipat kedua kakinya untuk dia peluk. Air matanya mengalir tanpa disuruh. Abian menangis sambil menyelusupkan wajah pada kedua tangannya yang memeluk lutut. Ranti pun memeluk cucunya. Air matanya juga tumpah di sana.

"Hayu keluar, Ka! Abah mau bicara." Bahar mengajak Aska keluar kamar Abian. Sepertinya ingin berbicara serius dengan anak bungsunya tersebut.

***

"Ini yang abah dan ambu takutkan, Aska. Abian terus bergantung pada Rein. Abah dan Ambu sudah membicarakan hal ini sebelumnya, makanya kami mengusulkan agar kamu mau menikahi Rein saja." Bahar berkata setelah berada di dekat kolam ikan, berdua dengan Aska.

"Aku nggak bisa, Bah. Menikah nggak semudah itu. Bahkan kita nggak tahu asal-usul perempuan itu. Bagaimana kalau dia sebenarnya orang jahat?" Aska dengan tegas menolak.

"Apa kamu, teh, nggak kasian sama Bian? Selama enam bulan dia nggak mau ngomong dan ber-interaksi dengan orang lain, tapi cuma Rein yang berhasil bikin Bian mau ngomong. Apa kamu mau Bian jadi orang bisu lagi?"

Aska bergeming. Dia juga merasa kasihan dengan Abian. Namun, ini menyangkut masa depannya juga. Masa harus dengan menikah dengan perempuan yang baru saja dikenalnya?

"Kata kamu Bian juga harus kembali ke kota buat melanjutkan sekolahnya, tapi kalau keadaannya balik lagi kayak dulu, Bian nggak bisa masuk sekolah lagi, atuh." Bahar kembali menyerukan keresahannya.

"Bagaimana kalau Rein yang nggak mau menikah dengan aku?" cetus Aska. Dan berhasil membuat Bahar terdiam seribu bahasa, "dia juga punya hak untuk menolak, bukan?" imbuh Aska merasa mempunyai jalan keluar atas masalahnya. Mungkin Aska akan membuat Rein tidak setuju untuk menikah dengannya.

"Nya ... itu mah kudu ditanyain dulu sama Rein. Mungkin aja dia juga setuju, kan?" Bahar menggaruk kepalanya, sedikit tidak yakin, "Rein itu orangnya baik dan tulus, Aska. Abah bisa melihat dari cara dia berinteraksi dengan Bian. Abah ini mantan preman, jadi tahu mana orang yang jahat sama bukan," pungkas Bahar lagi.

Aska mendengus, dia bahkan seorang polisi. Seharusnya dia yang lebih tahu masalah itu. "Apa Abah lupa, kalau anak Abah ini polisi? Aska lebih sering berurusan dengan orang jahat," sindir Aska.

Bahar berdecak, "Halah, segala bawa-bawa profesi, mentang-mentang jadi polisi. Abah nggak takut sama kamu. Kamu mau tangkap Abah, hah? Sini, lawan Abah kalau berani?" Bahar sudah memasang kuda-kuda. Entah kenapa lelaki paruh baya itu tidak pernah suka jika anaknya menyebutkan profesinya. Bukannya malah bangga, Bahar sepertinya sakit hati karena dirinya harus pensiun jadi preman gara-gara anak-anaknya nekat jadi abdi negara.

"Abah, Aska ... kalian mau ngapain?" Ranti berteriak tak jauh dari tempat Bahar dan Aska berdiri. Lalu berjalan cepat mendekati mereka berdua.

"Cicing (diam), Ambu, cicing! Ini urusan mantan preman sama polisi yang nggak sopan sama orang tua. Ambu jangan ikut campur!"

"Hadeh, mulai lagi, deh!" Aska berdecak pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Bahar. Hal inilah yang membuat Aska selalu malas untuk pulang. Sang ayah selalu memancing keributan.

"Tuh, coba lihat, Ambu! Anak ini emang beneran kurang ajar sama Abah. Awas, Ambu! Jangan dihalangin! Biar abah kasih pelajaran sama dia." Bahar semakin geram mendengar decakan Aska yang terdengar pelan.

"Ih, si Abah. Siapa juga yang ngehalangin?" seru Ranti sambil mencebikkan bibir dan mendengus kesal. Suaminya selalu bersikap kekanakan.

Bahar berdiri tegak, lalu menatap istrinya. "Kenapa nggak dihalangin? Ambu mau Abah berkelahi sama Aska?" tanyanya yang membuat Ranti menggelengkan kepala.

"Tau, ah. Abah, mah, bikin suasana tambah ruwet aja. Itu si Bian kumaha (gimana)? Masih nggak mau ngomong juga dia," keluh Ranti kebingungan.

"Ya, kumaha, atuh? Abah juga nggak tahu. Anak kamunya juga nggak mau nikahin Rein."

"Bener, Aska? Kenapa masih nggak mau?" Ranti langsung beralih pada anaknya.

Aska menghela napas kasar. "Apa nggak ada cara lain, Ambu? Aku nggak bisa menikah dengan perempuan sembarangan. Lagipula Aska ini seorang polisi. Harus ada prosedur yang harus dijalani kalau mau menikah. Kalau mendadak begini, Aska bisa kena sanksi," terang Aska menolak dengan sopan.

"Gimana caranya coba? Kamu pikirin sendiri, atuh! Ambu, mah, udah nggak punya ide lain."

"Biarin, atuh, kena sanksi. Lagian abah juga nggak setuju kamu jadi polisi," celetuk Bahar yang hanya ditanggapi cebikkan bibir oleh Aska.

Aska berpikir keras, mencari jalan keluar lain selain menikahi Rein. "Bagaimana kalau kita sekeluarga pindah ke kota? Nanti suruh Rein juga tinggal bersama kalian di rumah pribadi A Dhana, sampai Bian terbiasa dengan keadaannya. Biar nanti aku tinggal di asrama dinas. Biar nggak timbul fitnah dari tetangga di sana." Usulan itu yang muncul di otak di Aska.

"Abah yang nggak mau," sanggah Bahar menginterupsi.

"Kenapa, Bah?" tanya Aska penasaran.

"Abah nggak bisa ninggalin ikan-ikan abah. Nanti mereka mati kelaparan. Mereka nggak bisa keluar dari kolam buat cari makan sendiri."

Aska mendengus sambil mengusap wajahnya kasar. Alasan abahnya selalu saja menyebalkan. "Kolam, kan, bisa dititipin sama Mang Umar, atuh, Bah!" serunya dengan emosi tertahan. Umar adalah adiknya Bahar.

"Eh, nggak boleh. Si Umar, mah, suka nggak tahu diri. Bukan ikannya yang dikasih makan, tapi dia yang makan ikannya. Nanti abah pulang, ikan abah tinggal sepasang. Abah nggak mau!" Bahar bersikeras menolak.

"Udah, atuh, Aska. Nikah aja sama Rein, ya? Daripada ribut kayak gini. Ambu, mah, pusing. Aduh ...."

"Ambu kenapa?" Aska langsung panik ketika melihat ibunya hendak jatuh sambil memegang kepala. Spontan dia menahan tubuh ibunya tersebut.

"Kepala Ambu pusing," ucap Ranti sambil meringis.

Aska tidak tega melihat ibunya seperti itu. "Ya, udah, Aska setuju. Tapi kita juga harus tanya sama Rein. Apa dia mau menikah sama aku?"

"Beneran, Aska? Kamu mau menikahi Rein?" Aska menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Ranti. Dan dia pun jadi heran, kenapa jawaban itu seolah menjadi obat penawar dari rasa sakit yang ibunya rasakan.

Ranti bahkan berjingkrak kegirangan sambil memeluk tubuh Aska, lalu beralih beralih memeluk suaminya. Keduanya berjingkrak pun bersama.

"Hayu, hayu, kita tanyain Rein. Semoga dia setuju juga," ajak Ranti dengan semangat.

...****************...

To be continue....

...Dukung author dengan like, favorit, sama komentarnya....

1
Fitri Riyani
Luar biasa
Qaisaa Nazarudin
Bagis novel kamu thor bikin para riders ngerasain nano-nano saat membacanya,Novel lain dari yg lain alur nya,Semoga sehat selalu dan sukses selalu outhornya, Teruskan berkarya ya thor..⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺☕☕☕☕☕☕☕☕🙏🙏🙏🙏
°ammy🌾👉ig: amih_amy: Terimakasih, Kak. 🥰🥰
Jika berkenan mampir di novel terbaruku yang lain, ya. Love sekebon 😍😍
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Pasti Asti tuh..Apa belom nikah2 juga si Asti? Masih mengharapkan Aska lagi kah??
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣ogeb,Ketahuanlan jadi nya,Harusnya pura2 aja baru sadar dari pingsan,Kalo gitu mah Rein tau kalian bohongin dia,Ntar Rein tambah marah lg yg ada..
Qaisaa Nazarudin
Apa yg Ambu bilang itu benar banget menurut,Rein itu udah keterlaluan banget, Aska dan Abian,Ambu aja bisa menerima takdir, Kenapa Rein gak? Belajar lah utk menerima takdir, ikhlasin semuanya,gak usah ngehukum diri sendiri lagi..
Qaisaa Nazarudin
Rein ini gak bisa di lembutin lagi,makin lama tingkahnya makin menjengkel kan..Aska harus tegas sekarang..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu juga yg mau aku kata kan..
Qaisaa Nazarudin
Kok aku lama2 tambah jengkel dan bosan dgn sikap Rein yg gini ya..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Mungkin itu lebih baik buat Darren..
Qaisaa Nazarudin
Aaahhh akhirnya ketemu nih,Waahh gak sabaran aku,Gimana nih reaksi Aska dengan Abian pertama ketemu Rein disana?? 😁
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah..Nyesek thor...
Qaisaa Nazarudin
memang plot twist yg manis nih outhor nya..mantopp ..👍👍👍
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣🤣 Ratu tega Ratu nya Abah..😂😂👍👍
Qaisaa Nazarudin
Oh ternyata Rein bersama Abah dan Ambu? Alhamdulillah apakah Aska tau?
Qaisaa Nazarudin
Hadeeuuhh kurang cekap Aska,kesel aku, Rein udah depan mata juga,ogeb..
Qaisaa Nazarudin
Yeeeezzzz akhirnya ketemu,Seret Rein pulang pak polisi,Gregetan aku dengan keras kepala nya Rein..😂
Qaisaa Nazarudin
Duuhh Kasian banget Darren pasti itu ulah preman2 itu...
Qaisaa Nazarudin
Rein terlalu keras kepala,Kasian Abian, Coba lah sekali-sekali mengalah demi Abian Rein,Kamu pernah merasakan hidup sendiri,Harusnya kamu paham apanyg Abian rasakan..
Qaisaa Nazarudin
Hidup seperti ini kah yg mau Rein jalanin?? Udah bagus Aska rencanain utk masa depan mereka,Aska juga menerima Rein apa adanya,Tapi Rein malah berulah lagi,Bwak2 Abian lagi,Hadeuuhh..
Qaisaa Nazarudin
Mampos kamu Darren,Mungkin dgn cara Darren di tangkap,Rein akan pulang kerumah..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!