NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Crazy Rich/Konglomerat / Pengantin Pengganti / Ibu Pengganti
Popularitas:309.7k
Nilai: 5
Nama Author: penulisrahasiaofficial

Tujuan Zeya ke Jakarta hanya untuk melanjutkan S2, kerja dan hidup bahagia dengan laki-laki yang dia cintai. Agar tidak mengurangi jatah bulanannya, Zeya tinggal bersama kakak dan abang iparnya. Kebetulan abang iparnya adalah dosen dia di kampus. Dosen killer yang jutek dan galak terhadap mahasiswa.

Tapi takdir justru berkata lain, Ambar—kakak kandung Zeya ternyata didiagnosis Leukimia. Ambar yakin kalau hidupnya tidak lama lagi, dan dia memiliki wasiat; agar Zeya menjaga anak semata wayangnya, Ciya, dan suaminya, Digta, dengan cara menikahinya.

Tentu saja hal tersebut membuat Zeya dan Digta terkejut. Zeya tidak mungkin menikahi kakak ipar sekaligus dosen killernya. Digta juga tidak mungkin menikahi adik ipar sekaligus mahasiswi-nya yang bego-nya minta ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulisrahasiaofficial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Dosen Monster Titisan Jin Tomang

Zeya sudah menyelesaikan urusan kampusnya. Tapi, Zeya tidak tahu dimana keberadaan Digta. Karena saat Zeya menuju parkiran, mobil Digta masih terparkir di pelataran kampus.

Zeya coba menghubungi Ambar.

“Kenapa, Zey?” Tanya Ambar setelah panggilan tersambung.

“Mba, alamat rumah Mba dimana sih, tepatnya. Karena aku mau pesan ojek online untuk pulang.”

“Loh, kenapa harus naik ojek? Tunggu Mas Digta saja, lah.”

“Engga ah, Mba.” Zeya tidak ingin berada satu mobil lagi dengan Dosen galak.

“Kenapa nggak mau? Sebentar ya, Mba coba hubungi Mas Digta dulu.” Ambar memutuskan sambungan sepihak.

Zeya menatap ponselnya dengan nanar. Bukan itu maksud dan tujuannya menghubungi Ambar. Zeya hanya ingin tahu alamat lengkap rumah Ambar agar Zeya bisa pulang dengan tentram naik ojek online. Udah, itu saja cukup.

Dibentak oleh Digta saat di cafe tadi, sudah sangat cukup membuat Zeya trauma harus bertemu Digta lagi.

Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Ambar.

“Iya, Mba?” Sahut Zeya tanpa semangat.

“Lima menit lagi Mas Digta selesai kelas. Kamu tunggu saja di parkiran ya, Zey.”

“Mba, tapi, kan—“ belum sempat melengkapi kalimatnya.

Ambar sudah memutuskan sambungan.

“Arrghh!” Zeya meracau kesal.

Ia benar-benar sudah tidak punya pilihan lain selain menunggu Digta di parkiran. Perempuan itu pun berdiri tepat di sebelah mobil, sambil menggesek-gesekkan sepatu-nya ke tanah.

Waktu berlalu begitu cepat sampai tak terasa kalau Zeya sudah menunggu hampir satu jam.

“Lima menit apanya.” Zeya menggerutu kesal, lagi. Ia tidak mungkin menghubungi Ambar, karena semuanya akan sia-sia.

Akhirnya, setelah kaki Zeya pegal karena terlalu lama berdiri. Digta pun datang menuju parkiran. Lelaki itu tidak bilang maaf, atau menyapanya. Melainkan langsung masuk ke dalam mobil begitu saja.

Bahkan, Digta tidak mengajak Zeya untuk masuk juga ke dalam mobil. Apa Digta tidak melihat Zeya?

Ah, tidak mungkin.

Zeya mendengus sebal. Sekarang, apa? Zeya harus bagaimana.

TIINNNN!

Klakson mobil Digta pun berbunyi kencang sampai membuat Zeya nyaris terlompat. Lalu jendela kaca di sebelah Zeya terbuka.

“Mau masuk nggak?” Tanya Digta galak.

Zeya mengerutkan dahi.

Ih, dasar aneh! Kalau ternyata dari tadi dia nungguin aku. Kenapa nggak memintaku untuk masuk saja! Gumam Zeya dalam hati.

Akhirnya Zeya pun masuk ke dalam mobil.

“Lama banget, buang-buang waktu saya saja,” gerutu Digta menyebalkan.

Kalau saja Zeya tidak ingat Digta adalah kakak ipar sekaligus Dosennya, mungkin Zeya sudah melilit leher Digta dengan seatbelt!

***

Tidak ada pembicaraan yang perlu dibicarakan selama di mobil, hingga suasana mobil menjadi dingin dan mencekam.

Dan Zeya, tidak mungkin juga meminta tanda tangan KRS-nya di mobil dengan Digta. Bisa-bisa, Zeya bukan sekadar diusir dari mobil, tapi dilindas dengan mobil yang dikendarai Digta!

Sampai mobil berhenti di pelataran rumah, Digta keluar lebih dulu dari mobil. Dan disusul oleh Zeya.

“Hai, Mas. Gimana ngajarnya hari ini?” Tanya Ambar lembut sambil mengambil tas kerja Digta dan mencium tangan Digta.

“Alhamdulillah, baik,” jawab Digta juga tersenyum.

Zeya menatap Digta dengan jijik. Giliran dengan Ambar saja, Digta bersikap sok manis seolah menjadi lelaki yang takut istri. Giliran dengan Zeya dan mahasiswa lainnya, Digta berubah jadi monster berwujud jin tomang!

“Aku sudah siapin air hangat untuk mandi kamu, Mas,” ucap Ambar lembut.

“Terima kasih, sayang. Aku ke kamar dulu.” Digta pun berlalu menuju kamarnya.

Lalu, tatapan Ambar berpindah kepada Zeya. “Gimana kuliahnya hari ini? Lancar, kah?”

“Aku belum bisa ikut kelas kalau KRS-ku belum ditandangani oleh Pak Digta.” Zeya tersenyum penuh paksa.

Ambar mengerutkan dahi. “Loh, Mas Digta dosen pembimbing kamu?”

Zeya mengangguk putus asa.

“Wah, bagus dong, Zey. Akan lebih mudah berkomunikasi dengan Mas Digta karena kalian serumah.”

“Mudah bagi Mba Ambar, tapi nggak mudah bagi aku.” Zeya memukul dadanya dengan dramatis. Lantas, Zeya mengambil lembar KRS-nya di dalam tas. “Ini. Kalau begitu, aku minta tolong Mba Ambar saja untuk bujuk Mas Digta agar mau tandatangani lembar jadwal kuliahku. Karena aku sudah berusaha memintanya di kampus. Dan Mas Digta malah ngomel-ngomel.” Zeya mengerucutkan bibir. “Sekalian ini punya temenku juga. Karena dia, sudah trauma dengan wajah Mas Digta yang menyeramkan.” Setelah memberikan KRS miliknya dan Jerry kepada Ambar.

Zeya pun langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya begitu saja.

***

Zeya mandi dan keramas guna membuang sial di hari pertama berada di kampus.

Setelah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, Zeya menggosok-gosok rambutnya yang basah menggunakan handuk. Lalu, Zeya menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan melempar handuk basahnya ke lantai.

Zeya berbaring sambil mengotak-atik ponselnya. Membuka media sosial teman-temannya yang muncul di beranda.

Ada yang sudah menikah, ada yang sudah mendapatkan pekerjaan bagus, dan ada juga yang bahagia ketika melanjutkan jenjang magister. Berbeda dengan Zeya yang harus hidup menderita bersama Ambar dan juga Digta.

Zeya pun menghubungi Dian untuk menyampaikan uneg-uneg-nya.

“Ha? Apa, Zey?” Sahut Dian setelah terhubung. Dian menerima telepon sambil teriak-teriak, karena mungkin musik di sekitarnya membuat pendengarannya terganggu.

“Aduuh, Mama lagi di mana, sih? Kenapa musiknya kenceng banget?”

“Mama lagi nonton konser nih, Zey. Pak Gubernur undang Lesti Kejora!”

“Dih, nonton dengan siapa?”

“Papamu, dong. Siapa lagi?”

“Sejak kapan Papa sula dangdut? Biasanya juga hobby music rock.”

“Yee, kamu nggak tahu ya. Kalau Papa kamu tuh, jago banget goyang setiap denger lagu dangdut.”

Zeya terkekeh geli, kemudian membalikn tubuhnya jadi tengkurap di kasur.

“Oh iya, Ma. Aku pengin cerita….”

“Cerita apa sih, Zey?”

“Boleh nggak, Mama bujuk Papa, agar aku bisa pindah dari rumah Mba Ambar.”

“Kenapa harus pindah, sih?”

“Aku nggak betah di sini! Suaminya Mba Ambar itu nyebelin, tahu! Rasanya, pengin aku bejek-bejek.”

“Hush, kalau Mba kamu denger, kamu nggak menghargai suaminya. Dia pasti sedih.”

“Tapi, Mas Digta memang semenyebalkan itu, Ma. Pelaseee, aku mau nge-kost aja, Ma. Aku nggak mau tinggal di sini.”

“Nggal bisa, Zey. Itu sudah keputusan bulat kami.”

“Aaah, Mamaaa… kenapa gini banget sih, nasibkuuu!” Zeya menghentak-hentakkan kakinya di kasur.

“Ntar, lama kelamaan, kamu juga bakalan nyaman tinggal di sana, Zeya.”

“Ih, Mama!!!” Zeya cemberut kesal.

“Udah dulu, ah. Mama jadi nggak bisa menikmati dangdutannya nih.”

Dan sambungan diputus begitu saja oleh Dian. Zeya benar-benar sudah tidak punya harapan lagi selain mengikuti skenario yang ada.

TOK TOK TOK

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk, lalu kepala Ambar melongok di depan pintu kamar.

“Zey….” Ambar masuk ke dalam kamar Zeya.

“Kenapa, Mba?”

“Sorry, Mas Digta nggak mau tanda tangani KRS-nya, kalau bukan kamu sendiri yang samperin dia.”

“Apa?” Zeya melotot kaget.

Maunya apa sih itu Dosen Monster titisan Jin Tomang! Ketika di samperin di kampus, dia malah marah-marah. Sekarang, nggak disamperin, Digta justru minta disamperin.

1
Fi Fin
ga suka sifat zeya yg celdis dan semaunya
Fi Fin
kok ortunya zeya ga peka ya ..bukanya resiko ya kalo adek perempuan tinggal sama kakak pere.puan yg sdh menikah
Aisyarani
suka sma alur cerita nya
Yusuf Maulana Efendi
whatt
Irna R
seru ceritanya saya suka
Dennoona
siapa naroh bawang disini 😭😭😭😭
fatia al jelani
🤣🤣🤣
Ani MB
semangat Thor 😍😍
Ani MB
lanjut Thor...aku padamu
Tiurma sari
Pertama kali komen. Mau bilang hayu di up 🤣
dyve
sekali*
Rani Syulfiani
ditunggu kelanjutan ceritanya...
semangat thor..
Cucu u
up... up... up... up
Irma Wati Lapadu
thor smgt...
lanjut crtnya slnya pnsran
Cucu u
kapan up lagi ka, d tunggu
Wandi Fajar Ekoprasetyo
kak othor......apa kabar nya,semoga baik².aja ya,kangen nih sama kisah selanjutnya.......semangat kakak.......
N13
kenapa karakter zeya begini amat, dia kan sdh s1, harusnya lebih dewasa dong, bkn anak labil yg baru lulus SMA
N13
toxic
N13
alamak, jd perempuan kok sempurna x ya zeya, pemalas, jorok, nggak disiplin, arghhh sumpah nyebelinnn
N13
lah bkn nya zeya kamarnya di lantai satu, othornya lupa ini mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!