Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Ravin dan Arum di 500 Tahun Lalu
Langkah kaki pria itu terdengar terburu-buru memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Kemeja kerjanya masih sedikit basah oleh hujan, wajahnya tampak lelah setelah perjalanan jauh, namun matanya penuh kecemasan sejak menerima pesan dari mantan istrinya satu jam lalu.
Ravin kecelakaan. Tabrak lari. Sekarang koma.
Pesan singkat itu terus terngiang di kepalanya.
Selama lima tahun terakhir dia mencoba hidup jauh dari keluarganya setelah perceraian yang buruk. Tidak ada ulang tahun, tidak ada makan malam keluarga, bahkan suara anak-anaknya pun mulai asing di telinganya.
Namun malam itu…
dia kembali sebagai seorang ayah yang ketakutan kehilangan putranya.
Pintu lift terbuka cepat.
Begitu keluar, seorang gadis langsung berlari ke arahnya.
“Ayah!”
Selina memeluk tubuh pria itu erat sampai menangis. Suaranya bergetar menahan sesak yang sejak tadi ditahannya sendirian.
Pria itu terdiam beberapa detik sebelum perlahan membalas pelukan putrinya. Tangannya gemetar mengusap kepala Selina yang sudah tumbuh lebih dewasa dari terakhir kali ia lihat.
“Selina…”
Gadis itu menangis makin keras.
“Ayah kenapa baru datang…” suaranya lirih penuh kecewa. “Kak Ravin belum sadar dari tadi…”
Wajah pria itu langsung runtuh mendengar nama putranya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasa bersalah menghantam dirinya begitu keras.
Dia gagal menjadi suami.
Dan sekarang…
dia takut sudah gagal menjadi ayah.
“Ayah minta maaf…” ucapnya pelan dengan suara serak. “Ayah harusnya ada buat kalian.”
Selina hanya menunduk sambil menghapus air mata. Meski kecewa selama bertahun-tahun, malam itu dia tetap butuh ayahnya.
Mereka berjalan menuju ruang ICU.
Di balik kaca besar, Ravin terbaring lemah dengan alat medis memenuhi tubuhnya. Suara monitor berdetak pelan membuat suasana terasa makin menyakitkan.
Pria itu membeku.
Anak laki-laki yang dulu sering marah padanya… sekarang terbaring tak bergerak.
Wajahnya pucat.
Ada luka di pelipisnya.
Dan tangan Ravin dipenuhi goresan darah yang mulai mengering.
Napas pria itu terasa berat.
“Dokter bilang… mobil yang nabrak Kak Ravin langsung kabur,” bisik Selina lirih.
Rahangan pria itu langsung mengeras.
“Polisi belum nemuin pelakunya?”
Selina menggeleng pelan.
Hening beberapa saat.
Pria itu terus menatap Ravin tanpa berkedip, matanya mulai memerah menahan emosi yang bercampur antara sedih dan marah.
“Ayah bakal cari orang itu.”
Nada suaranya rendah, tapi penuh amarah.
“Siapapun yang bikin anak ayah kayak gini… ayah gak bakal diem.”
Selina perlahan menatap ayahnya.
Untuk pertama kali setelah lima tahun…
dia melihat sosok ayah yang dulu begitu melindungi keluarganya.
Namun tepat saat itu…
bunyi monitor jantung Ravin tiba-tiba berubah cepat.
Piiip… piiip… piiip…
Perawat dan dokter langsung berlari masuk ke ruangan ICU.
Selina panik.
“Ayah…!”
Sementara pria itu hanya berdiri terpaku dengan wajah pucat, melihat tubuh putranya tiba-tiba bergerak kecil di atas ranjang rumah sakit.
.........
Langit sore di desa itu berwarna jingga redup. Jalan tanah yang mereka lewati masih basah oleh sisa hujan pagi, sementara rumah-rumah kayu berjajar sederhana dengan asap tipis keluar dari tungku masak penduduk.
Ravin berjalan cepat di depan dengan wajah kusut penuh emosi. Jaket hitam modern yang dikenakannya membuat semua orang desa memandang aneh ke arahnya. Beberapa anak kecil bahkan berbisik ketakutan melihat sepatu dan pakaian asing yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Namun Ravin sudah terlalu kesal untuk peduli.
“Ini benar-benar gila…” gumamnya pelan sambil mengusap wajah frustrasi.
Arum yang berjalan di belakang hanya menunduk diam.
“Dari semua masalah di hidupku…” Ravin tertawa kecil penuh kesal. “Aku tidak pernah membayangkan bakal terjebak di masa lalu lima ratus tahun gara-gara semua ini.”
Arum mengecil pelan mendengar itu.
Ravin berhenti mendadak lalu menatap langit dengan napas berat.
“Hidupku normal sebelumnya.”
Suaranya mulai terdengar emosional.
“Aku cuma mau datang ke ulang tahun Dewi malam itu.”
Tatapan Ravin berubah penuh penyesalan.
“Tapi sejak bertemu denganmu… semuanya jadi berantakan.”
Arum menunduk makin dalam. Jemarinya saling menggenggam gelisah.
“Maaf…”
Hanya itu yang bisa dia ucapkan.
Ravin menghela napas kasar lalu kembali berjalan.
“Kamu selalu bilang maaf.”
“Aku memang salah…” suara Arum lirih hampir tenggelam oleh angin sore. “Tapi waktu itu kamu bilang… kalau aku butuh bantuan, kamu akan membantuku.”
Ravin langsung diam beberapa detik.
Arum mencoba tersenyum kecil meski wajahnya tampak sedih.
“Aku juga akan menepati janjiku.”
Ravin melirik sekilas.
“Aku akan membantumu kembali hidup… kembali dekat dengan Dewi… dan membalas semua pengorbananmu.”
Tatapan Arum terlihat benar-benar tulus kali ini.
“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini.”
Namun Ravin justru tertawa pelan penuh lelah.
“Kita bahkan belum tahu bisa kembali atau tidak.”
Hening kembali menyelimuti mereka.
Orang-orang desa terus memperhatikan aneh saat Ravin dan Arum melewati pasar kecil. Penampilan mereka terlalu berbeda untuk zaman itu. Rambut Ravin yang rapi modern, pakaian hitamnya, bahkan cara bicara mereka membuat beberapa penduduk mulai berbisik curiga.
“Orang kerajaan?”
“Bukan…”
“Pakaiannya aneh…”
Arum mulai merasa tidak nyaman mendengar bisikan itu.
Dia berjalan sedikit lebih dekat ke Ravin.
Sementara itu perutnya sejak tadi terasa sakit karena lapar. Sudah hampir sehari penuh mereka tidak makan apa pun sejak terseret ke masa lalu.
Namun Arum memilih diam.
Dia tahu Ravin sedang marah besar padanya.
Kalau dia mengeluh lapar sekarang… mungkin Ravin akan semakin kesal.
Arum diam-diam memegang perutnya pelan sambil menahan rasa lapar itu.
Langkahnya mulai melambat sedikit.
Ravin yang menyadarinya akhirnya menoleh dengan wajah masih dingin.
“Kenapa?”
Arum langsung menggeleng cepat.
“Tidak apa-apa.”
“Kamu jalan seperti orang mau pingsan.”
“Aku baik-baik saja.”
Namun beberapa langkah kemudian…
suara kecil dari perut Arum terdengar jelas di tengah suasana hening.
Arum langsung membeku malu.
Wajahnya memerah sampai telinga.
Ravin menatapnya datar beberapa detik sebelum mengusap wajah frustrasi.
“Serius…”
Arum makin panik.
“A-aku tidak lapar.”
“Perutmu barusan bicara sendiri.”
Arum menunduk malu sambil menggigit bibir kecil.
“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu lagi…”
Kalimat itu membuat Ravin terdiam sesaat.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di masa lalu, dia melihat Arum bukan sebagai roh menyeramkan…
melainkan seorang wanita yang benar-benar ketakutan dan sendirian.
“Hei… Aruna!”
Suara pria dari belakang tiba-tiba memanggil membuat Ravin dan Arum langsung menoleh bersamaan.
Seorang pria berpakaian pengawal kerajaan berdiri tidak jauh dari jalan desa. Pedang tergantung di pinggangnya dengan lambang kerajaan di pakaian besinya. Tatapannya terlihat terkejut saat melihat wajah Arum.
“Atas nama kerajaan, kenapa kamu ada di sini?” tanyanya bingung.
Ravin dan Arum saling pandang.
“Aruna?” bisik Ravin pelan.
Arum juga tampak bingung.
“Aku tidak mengenalnya…”
Namun pengawal itu mulai berjalan mendekat.
“Kami mencarimu sejak pagi. Tuan Yudra marah besar karena kamu menghilang dari kuil.”
Mata Arum langsung membesar mendengar nama itu.
Tubuhnya refleks mundur satu langkah.
Ravin yang melihat perubahan wajah Arum langsung sadar ada sesuatu yang tidak beres.
Tanpa berpikir panjang dia langsung menggenggam tangan Arum.
“Lari.”
“Hah—”
“Cepat!”
Ravin menarik Arum berlari meninggalkan desa. Orang-orang langsung panik melihat mereka berdua kabur, sementara suara pengawal mulai terdengar memanggil prajurit lain.
“Kejar mereka!”
Napas Ravin mulai memburu saat mereka melewati jalan setapak hutan kecil. Arum yang mengenakan pakaian panjang hampir beberapa kali terjatuh karena langkahnya terlalu cepat.
“Aku capek…” ucap Arum terengah.
“Kalau berhenti kita ditangkap.”
Mereka terus berlari sampai akhirnya tiba di sebuah pohon beringin besar di dekat tebing pantai.
Deburan ombak terdengar jelas.
Langit sore mulai berubah keemasan dengan angin laut yang dingin menerpa wajah mereka.
Ravin langsung menarik Arum bersembunyi di balik akar besar pohon beringin itu. Mereka menahan napas beberapa detik sampai suara langkah para pengawal perlahan menjauh.
Hening.
Hanya suara ombak dan napas mereka yang tersisa.
Ravin akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke pasir pantai dengan lelah.
“Gila…” gumamnya sambil menatap langit. “Apa lagi sekarang…”
Arum duduk pelan di dekatnya sambil memeluk lutut.
Rambut panjangnya bergerak tertiup angin pantai.
Beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana laut yang indah namun terasa asing bagi Ravin.
Akhirnya Ravin menoleh ke arah Arum.
“Jelaskan semuanya.”
Arum menunduk pelan.
“Aku… hidup di zaman ini.”
Ravin diam mendengarkan.
“Aku mati lima ratus tahun lalu… lalu dihukum.”
Tatapan Arum perlahan berubah sedih.
“Mereka bilang aku melakukan dosa besar.”
“Apa yang kamu lakukan?”
Arum menggeleng pelan.
“Itu yang tidak aku ingat.”
Ravin mengernyit.
“Aku merasa… semua itu bukan salahku.”
Suara Arum mulai melemah.
“Aku yakin ada seseorang yang membuat semuanya terlihat seperti ulahku.”
Angin pantai berhembus pelan saat Arum menatap laut kosong di depannya.
“Tapi dewa menghapus ingatanku…”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku bahkan tidak bisa mengingat keluargaku sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak Ravin mengenalnya, Arum terlihat benar-benar rapuh.
Bukan seperti roh menyeramkan di kuil.
Melainkan wanita yang kehilangan seluruh hidupnya.
“Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya…”
Air mata jatuh perlahan dari wajahnya.
“Aku sendirian selama lima ratus tahun…”
Namun Ravin justru mendecak pelan lalu membuang wajahnya ke arah laut.
“Jangan sok sedih di depanku.”
Arum langsung terdiam.
Ravin menutup matanya sambil menghela napas panjang.
“Aku juga korban di sini.”
Nada suaranya masih kesal, tapi tidak setajam sebelumnya.
“Aku kehilangan hidupku gara-gara semua ini.”
Arum menunduk pelan sambil menghapus air matanya sendiri.
“Aku tahu…”
Suasana kembali hening.
Langit sore makin gelap perlahan sementara ombak terus menghantam pantai.
Dan untuk pertama kalinya…
Ravin mulai sadar kalau misteri tentang Arum jauh lebih besar dari yang dia bayangkan.
.. . .. . .
Studio latihan ballerina sore itu terasa lebih ramai dari biasanya. Musik piano terus diputar berulang kali, namun suasana para penari justru dipenuhi keluhan karena satu orang tidak datang sejak latihan dimulai.
“Dewi lagi gak masuk?”
“Serius cuma karena cowok kecelakaan dia jadi hilang begini?”
“Satu hari doang sih, tapi formasi jadi berantakan…”
Beberapa ballerina terlihat kesal sambil beristirahat di pinggir ruangan. Pelatih mereka bahkan beberapa kali menghela napas karena posisi utama yang biasanya diisi Dewi kosong begitu saja.
Lia yang sejak tadi diam akhirnya menoleh.
“Keadaan Ravin memang parah,” ucapnya pelan mencoba membela.
Salah satu teman mereka langsung menyilangkan tangan.
“Tapi acara pertunjukan tinggal dekat.”
“Dia pemeran utama.”
“Semua orang latihan capek-capek, masa dia tiba-tiba gak datang?”
Lia terdiam.
Dia sebenarnya paham perasaan Dewi. Sejak Ravin koma akibat tabrak lari, Dewi memang terlihat berubah drastis. Gadis itu bahkan hampir tidak membalas pesan siapa pun.
Namun di sisi lain…
teman-teman mereka juga tidak sepenuhnya salah.
Apalagi Ravin bahkan bukan pacar Dewi.
Belum pernah ada hubungan resmi.
Belum pernah ada pernyataan cinta.
Tapi Dewi terlihat seperti kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.
Sore harinya Lia akhirnya memutuskan pergi ke rumah Dewi.
Cuaca mendung membuat suasana rumah besar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Saat pintu dibuka pelayan, aroma masakan hangat langsung tercium dari dalam.
Lia sedikit terkejut melihat Dewi berada di dapur.
Rambutnya diikat asal, wajahnya tampak lelah, sementara tangannya sibuk menata beberapa kotak makanan di meja.
“Kamu masak?”
Dewi menoleh pelan.
“Oh… Lia.”
Suaranya terdengar lesu.
Lia berjalan mendekat lalu melihat ada beberapa lauk dan sup hangat yang sudah disiapkan rapi.
“Mau dibawa ke mana?”
“Buat ibu dan adiknya Ravin.”
Jawaban itu membuat Lia terdiam sesaat.
Dewi kembali melanjutkan pekerjaannya sambil menunduk.
“Mereka pasti belum sempat makan dengan benar sejak di rumah sakit.”
Lia memperhatikan sahabatnya cukup lama.
Biasanya Dewi selalu tampil cantik dan penuh energi. Tapi sekarang matanya sembab dan wajahnya pucat karena kurang tidur.
“Kamu gak datang latihan cuma karena ini?”
Dewi berhenti bergerak.
Beberapa detik suasana menjadi hening.
“Aku cuma… gak mood latihan hari ini.”
Lia menghela napas pelan.
“Dewi, semua orang lagi kesal di studio.”
“Aku tahu.”
“Kamu bahkan cuma absen sehari tapi mereka langsung ribut.”
Dewi tertawa kecil hambar.
“Hebat ya… baru sehari aja mereka marah.”
“Karena kamu pemeran utama.”
Lia mendekat pelan.
“Aku ngerti kamu khawatir sama Ravin. Tapi kamu juga gak bisa ngilang begitu aja.”
Tatapan Dewi perlahan turun.
“Aku tahu…”
Suaranya terdengar lemah.
“Tapi waktu lihat Ravin di rumah sakit…” napasnya bergetar kecil. “Aku takut.”
Lia diam mendengarkan.
“Aku takut dia gak bangun lagi.”
Kalimat itu membuat suasana langsung terasa berat.
Dewi menahan air matanya sambil menggenggam erat kotak makanan di tangannya.
“Aku bahkan belum sempat bilang banyak hal ke dia…”
Lia perlahan menatap sahabatnya dengan iba.
Untuk pertama kalinya dia sadar…
perasaan Dewi pada Ravin ternyata jauh lebih dalam daripada yang semua orang kira.