Chairil Rafqi Alfarezel terjebak di antara dua pilihan. Rezel yang sudah memiliki seorang kekasih, terjebak dengan pesona adik angkatnya yaitu Carissa Xavira Ranjana.
Namun atas permintaan orang tua kekasihnya yang menginginkan Rezel untuk segera menikahi anaknya, Rezel akhirnya menyetujui dan segera melamar Mella untuk menjadi istrinya.
Namun lagi - lagi Rezel menelan kenyataan pahit, bahwa saat hari bahagianya bersama dengan Mella justru merupakan duka yang mendalam baginya. Mella meninggal dunia, seminggu sebelum pernikahannya dengan Rezel.
"Rezel .... ! Papa mau, kamu tetap menikah besok!" ujar Vano mengambil kesempatan untuk menjodohkan Rezel dengan Vira. "Karena undangan sudah tersebar. Apa kata orang - orang nantinya, kalau pernikahan mesti di batalkan," sambung Vano mengambil keputusan.
"Pa! Jangan egois dong, baru tadi pagi calon istriku di kubur Pa," jawab Rezel yang menolak keinginan Papanya.
"Papa tidak menerima penolakan dari kamu, pokoknya kamu tetap bakal menikah dengan Vira besok!" ucap Vano dengan tetap memaksa Rezel.
"Pa, Vira itu sudah aku anggap sebagai adek aku sendiri Pa. Mana mungkin, aku harus menikahi seorang bocah seperti dia! Papa jangan egois dong!" ucap Rezel beralasan.
Bagaimanakah kelanjutan kisahnya, apakah Rezel nantinya bersedia menikahi Vira atas permintaan Papanya? Yuk kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafasya Alfindra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Ramzi
"Vira!" panggil Ramzi menatap Vira dengan penuh kerinduan.
"Iya, ada apa Pak?" tanya Vira. "Apa bapak butuh sesuatu, biar Vira ambilkan!" sambungnya lagi.
Ramzi begitu bahagia bisa melihat wajah putri yang selama ini ia rindukan. Apalagi Ramzi sudah mencari Vira bertahun - tahun lamanya, bahkan ia sudah mencari Vira saat ia mengetahui jikalau Arkana dan Zalfa meninggal dunia.
Ramzi berharap bisa dekat dengan putrinya, meski pun putrinya sama sekali tidak mengenalinya. Namun, ia sangat berharap suatu saat Vira mau menerimanya.
"Kenapa bapak menatap saya seperti itu?" tanya Vira penasaran dan merasa sedikit takut jikalau Ramzi akan berbuat macam - macam kepadanya.
Ramzi lalu berjalan mendekati Vira dan berniat ingin memeluk tubuh putri yang saat ini berada di depan matanya. "Bapak mau ngapain?" ujar Vira yang terus berjalan mundur.
Ramzi tersenyum mendengar ucapan putrinya. "Bolehkan saya memelukmu?" tanya Ramzi yang sangat ingin memeluk tubuh putrinya. Namun, membuat Vira merasa takut dengannya.
Degh
Vira terasa ngeri mendengarnya dan dengan segera mungkin ia membuat alasan agar bisa pergi dari Ramzi.
"Pak, saya ke belakang dulu!" pamit Vira yang berusaha kabur dari jangkauan Ramzi.
"Ish ..., apa - apaan Papanya Aldi! Masa iya, dia mau memeluk gue. Benar - benar tidak tahu di umur!" batin Vira yang merasa Papa Aldi punya kelainan dan menyukai daun muda seperti dirinya.
"Sepertinya, gue mesti kabur dari rumah ini," ujar Vira yang berniat akan pergi dari rumah Aldi. "Dari pada Bapak tua itu berbuat macam - macam dengan gue! Ya, gue mesti kabur!" sambungnya lagi yang merasa hidupnya terancam jikalau ia masih bertahan disini.
"Vira!" panggil Reska saat melihat Vira memanjat pagar rumahnya. "Ayo! Mau kabur kemana?" ujar Reska dengan menarik baju belakang Vira.
"Mak lampir satu ini, malah kesini lagi!" batin Vira berucap dengan kesal. "Bagaimana caranya mau kabur kalau ketahuan sama mak lampir,"
"Hehehe ..., jangan di tarik Nyonya. Nanti, saya jatuh loh!"
"Oke, mau turun sendiri atau mau di turunin!" canda Reska.
"Nyonya baiknya!" puji Vira yang sebenarnya mengetahui akal bulus Reska. "Iya, bantu saya untuk turun Nyonya," sambung Vira yang mempunyai ide untuk mengerjai Reska dan begitu juga sebaliknya dengan Reska.
"Sini tangannya!" ujar Reska tersenyum dan berusaha menjangkau tangan Vira agar nanti bisa di tariknya kuat - kuat.
Vira yang mengerti maksud dari tujuan Reska, dengan segera meloncat turun dan menjatuhkan tubuhnya ke Reska.
"Aaaaaaa ...," teriak Reska kesakitan di bagian perutnya. "Kamu gila ya!" ujar Reska dengan sangat kesal.
"Berat Vira!" sambungnya lagi.
Ramzi menatap interaksi dari ibu dan anak tersebut. Ramzi tersenyum senang melihat mereka berdua dan berharap Reska suatu saat mau menerima kehadiran Vira di rumahnya. Meski pun, Reska sama sekali belum mengetahui hal yang sesungguhnya yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu.
"Maaf Nyonya, tubuh saya tidak bisa bangkit karena terlalu nyaman disini," canda Vira. Namun kenyataannya, Vira benar - benar merasa nyaman berada di pelukan Reska.
Reska menatap kesal kepada Vira. "Kenapa matanya, mirip sekali dengan suami saya?" batin Reska yang mulai merasa tidak karuan.
Reska berusaha mendorong tubuh Vira ke sampingnya. Lalu dengan segera ia berdiri dan berlari memasuki rumahnya.
"Aneh! kenapa dia jadi kabur duluan," ujar Vira menatap punggung belakang Reska.
"Nggak mungkin! Ini pasti tidak mungkin terjadi," ujar Reska mondar - mandir dengan berbicara sendiri.
Ramzi masuk ke dalam kamarnya dan menatap ke arah istrinya. "Kamu kenapa?" tanya Ramzi heran dengan sikap Reska.
"Tidak apa - apa!" ujar Reska yang tidak mau memberitahukan suaminya. Namun, ia berniat untuk mencaritahunya nanti.
"Kamu mau kemana?" tanya Reska melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi.
"Mau keluar sebentar!" jawabnya dan langsung pergi meninggalkan istrinya.
Ramzi keluar dari kamarnya dan dengan segera menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Mau kemana dia jam segini?" ujar Reska mendadak mencurigai suaminya.
Reska mengambil jaket dan langsung berlari keluar. "Aku harus mencaritahunya," batin Reska yang merasa suaminya saat ini mencurigakan.
"Nyonya mau kemana?" tanya Vira menarik tangan Reska yang sedang terburu - buru.
"Sial!" ujar Reska kesal.
Reska menatap vira dengan sangat murka, karena sudah berani menggagalkan tujuannya yang sedang mengikuti suaminya.
"Lepaskan tangan saya anak brengsek!" teriak Reska yang akan melayangkan satu pukulan ke wajah Vira. Namun, langsung di cegah oleh Aldi.
"Mama!" teriak Aldi dari jauh.
Aldi berjalan tertatih - tatih mendekati Mamanya dan juga Vira. "Ma, apa salah Vira terhadap Mama? Kenapa Mama tega memukulnya?" ujar Aldi menatap Reska dengan tatapan kesal.
"Kamu benar - benar ya! Bukannya membela Mama malah membela orang lain," ujar Reska kesal dengan anaknya yang selalu membela Vira.
Reska berlari keluar dari rumahnya, meninggalkan Aldi dan Vira. "Mudah - mudahan suamiku belum jauh!" batin Reska.
"Daniel! tolong antarin saya ya!" ujar Reska menyuruh sopirnya.
"Baiklah, kamu tenang saja! Karena saya akan membawa kemana pun kamu ingin pergi" ujar sopir tersebut dengan segera mengeluarkan mobilnya.
"Kita sekarang mau kemana Res!" ujar sang sopir. Karena sedari tadi Reska sama sekali tidak memberitahukan arah tujuannya.
"Kita jalan terus!" ujar Reska yang masih belum puas mencaritahu keberadaan suaminya.
Daniel merasa bingung dengan sifat Reska kali ini, karena tidak biasanya Reska mengajaknya untuk berputar - putar tidak tahu arah tujuan.
Daniel memberhentikan mobilnya dan menatap Reska. "Sebenarnya kamu mau kemana?" tanya Daniel menyelidiki.
"Itu bukan urusanmu!" sahut Reska dengan jutek.
Daniel merasa sakit hati terhadap ucapan Reska. "Apa katamu?" ujar Daniel dengan mendekatkan wajahnya dan ingin berbuat jahat kepada Reska.
"Kamu jangan kurang ajar terhadap saya ya! Perlu kamu ketahui, kalau saya! bukan Reska puluhan tahun lalu yang kamu kenal dulu!" kesal Reska.
Daniel tertawa mendengarnya. "Kamu benar - benar perempuan yang tidak punya hati!" ujar Daniel yang merasa sangat kecewa dengan sikap Reska.
"Hahaha ...," Reska tertawa melihat sikap Daniel terhadapnya.
"Daniel .... Daniel! Pantas saja sampai sekarang, kamu belum juga kunjung menikah," ujar Reska yang mulai mengerti, tujuan Daniel bersikap baik selama ini terhadapnya.
Daniel memundurkan tubuhnya, lalu menarik napasnya dalam - dalam. Kata - kata Reska saat ini memang benar adanya, jikalau ia masih mengharapkan Reska untuk menjadi miliknya. Karena sampai saat ini ia sudah berusaha untuk sabar menunggu Reska kembali ke pelukannya.
"Jangan banyak berharap terhadap saya!" ujar Reska yang tidak ingin menghianati suaminya.
"Kalau kamu masih ingin bekerja menjadi sopir pribadi saya. Tolong, kamu hargai saya sebagai Nyonya kamu. Karena saya sama sekali tidak tertarik lagi dengan pria seperti kamu!" sambung Reska.
Daniel terdiam dengan ucapan Reska, selama ini ia sudah berusaha untuk selalu dekat dengan Reska. Bahkan sudah beberapa tahun ini, ia dengan setia menjadi sopir pribadi dari mantannya. Namun, ternyata ia salah menduga. Kedekatannya dengan Reska sama sekali tidak berpengaruh apa - apa terhadap perasaan Reska terhadapnya.
"Baiklah! Saya meminta maaf. Namun, saya akan berusaha menunggumu sampai kapan pun," ucap Daniel memalingkan wajahnya dan dengan segera menghapus air mata di pelupuk matanya.
"Ternyata sesakit ini!" batin Daniel dengan memegang dadanya.
..........
Jangan lupa like dan komen ya!
Mira, mendingan Lo sama Angga aja deh, udah ganteng, baik, perhatian lagi .paket komplit
ya pasti betahlah, kan ada dokter Irfan 🤭🙈