NovelToon NovelToon
Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Nikahmuda / Contest / Tamat
Popularitas:683.7k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

Blurb :
Apa yang salah dengan pernikahan Maula dan Khayru? Hingga mereka putuskan untuk berpisah. Apa karena pernikahan mereka tidak lazim? Usia yang terpaut terlalu jauh, atau mungkin konflik batin terlalu berat yang dialami anak seusia Maula, membuat dia melawan perasaannya sendiri.

Terlepas dari itu semua, mereka saling menyayangi dan mengasihi hingga waktu pun tak mampu merubah keadaan dan perasaan yang ada.

Cukupkah perpisahan untuk menyadarkan mereka? Atau mungkin membuat keduanya semakin terbiasa?

Ikuti kisah cinta seorang gadis yang sudah dinikahi kakak angkatnya sejak dia berusia sepuluh tahun. Bagaimana perjalanan cinta seorang adik, harus berubah menjadi cinta seorang istri terhadap suami?

Note :
Hak IJBAR wali merupakan bentuk kekuasaan seorang wali mujbir (ayah & kakek) untuk menikahkan putri/cucunya tanpa persetujuan yang bersangkutan, secara paksa atas dasar tanggung jawab. Ini dilakukan dalam bentuk perlindungan seorang ayah terhadap putrinya karena dirinya dipandang lemah/tidak memiliki kemampuan untuk bertindak.
(Dikutif dari berbagai sumber)

Mohon maaf jika dalam tulisan ini terdapat banyak kesalahan. Mohon dimaklumi, saya masih belajar. 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Saudari sepupu

“Abang mau lihat siapa yang datang. Kamu tidur duluan saja.” Sambil mengerjapkan mata yang mulai mengantuk, Khayru bangun dan menyibak selimutnya.

“Aku mau lihat juga siapa yang datang bertamu malem-malem begini, kaya gak ada waktu lain saja.” gumam Maula sambil naik ke punggung Khayru.

“Kamu bisa jalan sendiri, 'kan?” sindir Khayru sambil mendelik ke wajah Maula yang sudah menempel di pundaknya.

“Bisa, kalau gak lagi ngantuk. Aku dah gak ada tenaga buat jalan, tapi gak mau ditinggal sendiri di kamar.”

“Ini salah satu cara suami untuk memuliakan istri, Bang. Abang mau protes?” ucap Maula lagi saat suaminya tak kunjung bangkit dari tempat duduk.

“Kalau ustazah Maula sudah ngasih tausiah, Umi Khadijah lewaaaatt,” gumam Khayru sambil berdiri dengan tubuh Maula yang menempel di punggungnya. Dia mulai melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Sang tamu berdiri sambil tersenyum ketika tuan rumah sudah berada di hadapannya.

“Selamat malam ....” Khayru menyapa tamu. Namun tiba-tiba dahinya mengkerut, matanya menatap, coba mengingat. Dan ... yah, akhirnya dia ingat bahwa perempuan yang tengah bertamu ini tak lain adalah Katia--asisten manajer hotelnya di Lombok.

Khayru menurunkan Maula terlebih dahulu lalu mempersilakan tamunya untuk duduk. Yang dia tanyakan pertama kali tak lain adalah kondisi hotel saat ini. Dia berpikir bahwa di sana mungkin tengah ada masalah besar hingga Katia sendiri yang datang menemuinya ke Jakarta, akan tetapi masalah besar apa kiranya yang terjadi hingga tidak bisa dibicarakan melalui telepon.

“Tidak! tidak! Kedatangan saya ini bukanlah untuk membicarakan masalah hotel. Bahkan saya sudah resign dari pekerjaan saya, Pak.” kilahnya menepis dugaan yang dilontarkan Khayru saat itu. Ini membuat Khayru semakin mengerutkan keningnya.

“Lalu ...?” Khayru menunggu penjelasan.

Katia paham dengan situasi yang membingungkan ini. Dia segera menunjukkan sebuah kartu nama dari kantong kecil yang ada di dalam tasnya. Karena kartu nama itulah ia jauh-jauh datang ke kota Jakarta.

“Seminggu yang lalu, inak(ibu) meninggal dunia. Saya menguburkannya di dekat kuburan papuk(nenek). Di sana ada seseorang yang menunggu kedatangan inak hanya untuk memberikan kartu nama ini. Saya yang menerimanya karena inak sudah tiada.”

“Kamu ... cucu dari papuk Asmarani?” tanya Khayru dengan dahi yang semakin berkerut.

Katia mengangguk. “Saya hanya mengikuti perintah Tuak(paman). Dia bilang, saya harus segera menghubungi nama yang ada di kartu ini.”

Dengan mata berbinar, Khayru menatap sambil meremas tangan Maula. Ini akhir dari pencariannya selama ini. Ibu dan adik perempuan Tuan Zul sudah meninggal, tapi paling tidak Maula masih memiliki saudara sepupu yaitu Katia.

Maula tidak begitu menangkap maksud dari obrolan mereka. Dia hanya membalas tatapan Khayru sambil mengangkat alisnya, tanda bahwa ia belum paham.

“Katia ini saudari sepupu kita, Dek. Kamu gak mau peluk dia?” tawar Khayru sambil tersenyum. Maula meyakinkan apa yang baru saja dia dengar dengan telinganya lalu mengangguk sambil beranjak mendekat dan memeluk Katia tanpa berkata apa pun. Dia hanya tersenyum kecil menatap Katia yang tidak yakin dengan kata 'Saudari' yang diucapkan Khayru.

“Ki-kita bersaudara? Bagaimana bisa?” Katia memandang Maula dan Khayru begantian sambil menggelengkan kepalanya.

“Ini sudah terlalu malam. Besok saja kita lanjutkan. Kita butuh istirahat.”

“Maafkan saya karena sudah mengganggu. Sebenarnya saya tiba di Jakarta sejak siang tadi. Cuma, tadi agak kesulitan mencari alamat dan baru ketemu malam-malam begini.”

“Tidak masalah. Kebetulan kami juga belum tidur.”

Khayru melihat Maula yang semakin tidak fokus karena dikuasai rasa kantuknya. Dia memanggil Bik Sulis supaya mengawal Katia menuju kamar tamu lalu mengulurkan tangan pada Maula supaya dia bangun dari duduknya.

“Gendong lagi, Bang,” rengeknya setengah mengantuk. Dia sudah berkali-kali menutup mulutnya karena menguap sejak turun dari kamar.

“Orang lain itu semakin gede makin dewasa kelakuannya. Bukannya tambah manja.” Khayru mengangkat tubuh Maula yang langsung melingkarkan tangan di leher suaminya.

“Umi bilang, bermanja-manja pada suami itu dapat pahala.” Matanya sudah setengah terpejam, tapi kesadarannya masih mampu untuk merespon.

“Umi bilang sama kamu, gak, kalau suami juga harus dikasih jatah? Bukan cuma memanjakan istrinya.”

“Jatah apa, Bang? Yang harus ngasih jatah, kan, suami. Uang belanja, uang saku, uang perawatan ....”

“Ah, sudahlah. Gak akan pernah connect juga kalau ngomongin itu,” gumamnya sambil terus berjalan hingga tiba di depan kamar. Lagi pula semakin dibahas akan semakin sulit Khayru menjelaskannya.

“Emang Abang mau aku ngelakuin apa?”

“Bukain pintunya!”

“Cuma buka pintu?” Dia mulai memutar knop lalu mereka masuk.

Membaringkan Maula dan juga dirinya di atas tempat tidur. Ingin rasanya membahas sesuatu yang lain di sana. Namun, tiba-tiba hal itu menjadi sangat tabu baginya. Dia memilih topik lain supaya suasana tidak menjadi kaku.

“Gimana perasaanmu setelah bertemu saudari sepupu? Abang lihat ekspresimu biasa saja tadi.” Mereka hanya berbaring saling menghadap sesekali berebut guling dan selimut yang akhirnya mereka gunakan bersama-sama.

“Abang mau lihat aku teriak sambil loncat-loncat karena senang? Duh sayangnya ini sudah malem, mata juga udah ngantuk banget. Jadi ... yah ekspresiku cuma gitu-gitu aja,” jawab Maula, ngasal.

“Gak gitu juga kali, ah,” cibirnya.

“Abang kan tau kalau aku ini selalu butuh waktu untuk bisa akrab dengan orang baru. Akan terlihat aneh kalau aku tiba-tiba sok kenal sok dekat. Apa lagi kalau sama mahluk yang namanya cowok, bisa kena jitak jidat aku, nih.”

“Itu, sih, genit namanya. Gak usah tebar pesona, cuma sedikit senyuman saja, biar orang yang melihat, ikut bahagia. Kan ada tuh hadist keutamaan senyum.”

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ (رواه الترمذى)

“Senyum manismu di hadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)

“Anak-anak TK udah pada hafal hadist ini, loh.”

“Abang mau bilang, aku kalah sama anak TK, ya? Kenapa, sih, aku gak ada bagus-bagusnya sedikit pun di mata suami.” Dia mulai mencubiti perut suaminya sambil mengerucutkan bibirnya.

Sambil terkekeh, Khayru segera menarik Maula dalam dekapannya, sebelum dia benar-benar merajuk.

Di waktu yang bersamaan, Katia yang baru saja memasuki kamar tamu, hanya duduk sambil memandangi seisi kamar mewah yang selama ini hanya bisa ia lihat di hotel tempat ia bekerja. Entah harus percaya atau tidak jika saat ini dia telah menjadi bagian dari keluarga Alm. Zulfikar Arifin--kakak dari Harnum Hepita yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandungnya sendiri. Begitu takut ia bangun dari mimpi indahnya, hingga tak ingin memejamkan mata sedikit pun. Biarlah ia tetap terjaga sampai pagi demi memastikan bahwa ini benar-benar sebuah keberuntungan dalam hidupnya. Dan bukan hanya sekadar bunga tidur malam ini.

To Be Continued ....

1
Nety
demi cinta rela gatal" ya bang 😂😂
Nety
tu kan bang itu pulang, pasti yg tdi yg mobil ny nabrak mobil Maula yg katanya kecelakaan di sengaja itu 😂😂
Nety
d pikir kaki Maula bola bekel kali ya di rendem pake minyak tanah bkl meral 🤣🤣🤣
Nety
screen shoot chat dari s Risa Maula terus kirim ke suami mu biar dia tau kelakuan pegawai ny ke gimna
kartini toladi
bgus ceritanya
Shyfa Andira Rahmi
gara2 tunangan kamu itu😤😠
Shyfa Andira Rahmi
membingungkan gimana...kmu sndiri yg bikin ulah😡
Dennoona
kok jadi deg-degan ya
Dennoona
kebanyakan bawang thor....,
sampe pedih mata gue 😭😭😭
J-nine
👍👍👍👍👍
Meri Delvia
bagus banyak pengetahuan tentang agamanya
Be Kty
Luar biasaceritanya bener bener lain dr yg lain, menarik,bnyk pengetahuanya the best deh..br tahu aku ada cerita sekerrn ini
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus sukses
Sulamiatun Maydiah
bisa untk menambah ilmu ,sbb di dalam bnyk mengandung ilmu agama
Nurul S
Biasa
Ami Usrekk
ya aloh episode ini mengandung bawang😭😭😭banyak bngt
Wukir Sari
nyesek banget pas baca part ini. emang ga gampang sih ngelepasin orang yg kita sayang Krn alasan demi kebahagiaannya dan harus mengorbankan perasaan dan sayang kita. rasanya sakit dihati Namun harus selalu terlihat kita baik2 aj padahal tidak sedang baik2 aj, perang batin
matcha
haaaay otor..aku orang Lombok loo..kok pinter bgt bahasa sasaknya..tw budaya2 Sasak jg..kereeen..semangat🥰🥰
Iis Sumiati
ceritanya bagus,,, menarik, tidak membosankan,,,, dan banyak ilmunya Kalou mnurut aq sih,,,,, good bgt pokonya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!