NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035

Di Sebelahnya

Jam pertama hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Sekar mencoba fokus pada papan tulis, tetapi matanya beberapa kali bergerak ke kaca kecil di pintu. Bayangan tinggi itu sudah tidak terlihat. Mungkin Kevin diminta menunggu di ruang guru. Mungkin ia berdiri di koridor. Mungkin ia sedang memegang buku catatan biru dengan wajah seperti hendak masuk ruang sidang.

Yola menulis sesuatu di pojok buku Sekar.

Calon penghuni baru membuatmu tidak fokus.

Sekar mencoret kata calon.

Yola membaca coretan itu, lalu menggigit bibir menahan tawa.

Ketika bel pergantian jam berbunyi, kelas langsung lebih hidup. Beberapa siswa pura-pura membereskan buku sambil melirik pintu. Dinda bahkan menukar posisi duduk sedikit agar bisa melihat lebih jelas.

Bu Wati mengetuk meja dua kali.

"Tenang. Ini kelas, bukan acara jumpa artis."

Kelas tertawa kecil.

Pintu terbuka.

Kevin masuk.

Seragamnya rapi. Rambut hitamnya membuat wajahnya tampak lebih tenang, meski rahangnya tetap kaku. Di satu tangan ia membawa tas, di tangan lain buku catatan biru dan map cokelat. Untuk sesaat, kelas benar-benar diam.

Kevin berdiri di depan, bukan di belakang seperti biasanya saat kelas gabungan. Bu Wati menatapnya dengan ekspresi yang jelas mengatakan jangan macam-macam.

"Perkenalkan diri," kata Bu Wati.

Kevin menatap kelas.

Beberapa detik berlalu.

"Kevin Senja Halim," katanya akhirnya. "Mulai hari ini pindah ke kelas ini."

Yola berbisik sangat pelan, "Pidato nasional."

Sekar menunduk, menahan senyum.

Bu Wati menambahkan, "Kevin pindah untuk kebutuhan akademik dan pengawasan sekolah. Ibu ulangi, ini bukan bahan gosip. Kalau ada yang ingin membantu belajar, silakan. Kalau ingin mengganggu, simpan niat itu sebelum Ibu yang simpan nama kalian di buku catatan."

Tidak ada yang berani membalas.

Bu Wati melihat susunan meja. "Yola, kamu pindah ke sebelah Dinda dulu. Kevin duduk di sebelah Sekar."

Kelas langsung berbunyi pelan.

Yola mengangkat tangan dengan wajah dramatis. "Bu, saya berkorban demi masa depan bangsa."

"Terima kasih atas pengorbanannya. Pindah sekarang."

Dinda tertawa dan menarik kursi kosong di sebelahnya. Yola pindah sambil membawa buku, lalu sebelum duduk ia melewati Sekar dan berbisik, "Jangan lupa aku sahabat pertama."

Sekar hampir menjawab, tetapi Kevin sudah berjalan ke arahnya.

Langkahnya tidak cepat. Mungkin karena semua mata menempel padanya. Mungkin karena meja di sebelah Sekar terasa lebih sulit dicapai daripada jarak dari kelas lamanya ke kelas baru.

Ia berhenti di sisi meja.

"Boleh?" tanyanya pada Sekar, padahal Bu Wati sudah menentukan tempat.

Sekar menatapnya.

Pertanyaan itu kecil, tetapi membuat dadanya hangat. Kevin tidak lagi datang dan mengambil ruang begitu saja. Ia meminta.

"Boleh."

Kevin duduk.

Kursinya berderit pelan. Beberapa siswa kembali berbisik, tetapi Bu Wati hanya menatap sekali dan kelas langsung diam. Pelajaran berikutnya dimulai. Bahasa Indonesia, analisis teks. Kevin membuka map, mengeluarkan fotokopi, lalu mencari buku pelajaran dari tasnya.

Sekar pura-pura memperhatikan papan tulis.

Tidak berhasil.

Dari sudut matanya, ia melihat Kevin menata alat tulis dengan sangat serius. Pulpen hitam, pulpen biru, penghapus, buku catatan biru. Semua diletakkan terlalu lurus untuk orang yang dulu biasa melempar tas begitu saja.

"Rapi sekali," bisik Sekar.

Kevin tidak menoleh. "Jangan ganggu siswa baru."

"Siswa baru yang kemarin bilang matematika sok berkuasa?"

"Itu opini akademik."

Sekar menahan tawa.

Bu Wati mulai menjelaskan struktur teks argumentasi. Kevin mencoba mengikuti. Ia menulis judul, tanggal, lalu berhenti saat Bu Wati menyebut istilah yang tidak ia kenal. Sekar menggeser buku catatannya sedikit, menunjukkan kata kunci yang ia tulis.

Kevin melihat.

Ia tidak langsung menyalin. Ia membaca dulu, mengerutkan dahi, lalu menulis dengan bahasanya sendiri.

Sekar melihat itu dan merasa lebih bangga daripada saat melihat angka 76.

Di tengah pelajaran, sebuah kertas kecil mendarat di meja Sekar dari arah Yola.

Jangan senyum terlalu jelas. Bu Wati melihat.

Sekar cepat-cepat melipat kertas itu.

Kevin melirik. "Apa?"

"Tidak ada."

"Dari Yola?"

"Tidak ada."

"Berarti dari Yola."

Sekar menahan tawa lagi.

Pelajaran berjalan lebih tenang setelah itu. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada pernyataan romantis di depan kelas. Hanya Kevin yang duduk di sebelah Sekar, membuka buku, menulis catatan, sesekali bertanya pelan, "Ini maksudnya apa?" dan Sekar menjawab dengan suara rendah.

Namun bagi Sekar, justru kesederhanaan itu yang membuat tenggorokannya hangat.

Di kehidupan lalu, ia tidak pernah punya hari seperti ini. Tidak pernah melihat Kevin duduk di sebelahnya sebagai teman sekelas, rambut hitam, buku terbuka, tangan bertanda gigi bergerak di atas kertas.

Saat pelajaran hampir selesai, Bu Wati meminta mereka membaca halaman pertama bab baru.

Kevin mengambil buku Bahasa Indonesia dari tasnya. Sampulnya baru disampul plastik bening. Ia membuka halaman pertama.

Sekar tidak sengaja melihat bagian dalam sampul.

Di sana, pada sudut kanan atas yang biasanya dipakai untuk menulis nama pemilik buku, ada tulisan tangan Kevin yang besar dan sedikit miring.

Sekar.

Di bawahnya, lebih kecil, ada satu baris lain.

Jangan kabur. Duduk di sebelahnya dan belajar.

Sekar menatap tulisan itu, lalu menatap Kevin.

Kevin tidak melihatnya. Atau pura-pura tidak melihat. Telinganya merah sampai ujung.

Bu Wati masih menjelaskan di depan kelas.

Yola menoleh dari kursi barunya, menangkap ekspresi Sekar, lalu mengikuti arah pandangnya. Begitu melihat tulisan itu, ia membuka mulut tanpa suara.

Kevin akhirnya menutup buku sedikit, cukup untuk menyembunyikan halaman pertama.

Namun terlambat.

Sekar sudah melihat namanya di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!