Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?
Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strange (part 4)
Mereka menyantap sarapan yang telah siap di meja makan dengan santai. Tidak hanya fokus pada makanan mereka masing-masing, mereka juga mengobrol ringan.
Elden memulai dengan melemparkan pertanyaan pada Gevio karena ia sadar, akibat pekerjaannya, ia telah banyak kehilangan waktu bersama dengan sang anak. Pria itu selalu pulang larut malam dan kasus yang menyeret perusahaannya baru-baru ini, membuat Elden harus terpaku dengan pekerjaannya hingga tidak bisa menghabiskan waktu bahkan di akhir pekan sekali pun dengan istri dan anaknya.
Walau hanya mengobrol di pagi hari saat sarapan, Gevio begitu menghormati sang ayah yang selalu menyempatkan diri untuk mengetahui kegiatannya. Gevio senang dan ia mulai menceritakan kegiatannya dengan begitu bersahabat di depan orang tuanya.
Akan tetapi, setiap membahas perihal Rebecca —yang diucapkan tidak sengaja, Gevio berubah kaku. Anak itu tidak mau menatap mata ibu dan ayahnya. Saat Elden beradu pandang secara tidak sengaja dengan mata kecil Gevio, wajah anak itu akan bersedih dengan bibir yang berkerut. Kemudian, ia akan diam saja sampai sarapan mereka habis.
Setelah sarapan, mereka berangkat secara bersama-sama. Erie bergabung ke dalam mobil Elden, sementara mobilnya dibawa oleh pengawalnya. Ia akan menggunakannya nanti, karena ia tidak akan pergi ke butik bersama dengan suaminya.
Begitu tiba di depan gerbang sekolah, Gevio turun terlebih dahulu dari mobil. Seperti biasa ketika ia berangkat bersama kedua orang tuanya, mereka selalu mengusirnya cepat-cepat dari mobil. Entah apa yang dilakukan ibu dan ayahnya di dalam sana.
Lima menit setelah Gevio turun, Erie membuka pintu mobil dan keluar dari mobil berwarna abu-abu itu. Ia menghampiri putranya yang sudah menunggu di luar dan langsung menggenggam tangan anak itu. “Pergilah, Elden,” ucapnya kepada sang suami yang masih ada di dalam mobil.
“Kau benar-benar tidak ingin berangkat bersamaku? Aku bisa menunggu di sini kalau kau mau,” tawar Elden.
Erie menggeleng. “Urusanku masih lama di sini, Elden. Aku akan pergi ke butik sendiri. Lagi pula, A7 sudah membawa mobilku ke sini.”
“Baiklah,” ujar Elden menyerah.
Pria itu mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah Gevio yang ada di sebelah Erie. “My Prince, Daddy berangkat dulu. Bersenang-senanglah di sekolahmu,” saran Elden. Berbeda dengan orang tua lain yang ingin anaknya melakukan banyak hal seperti belajar yang rajin, berperilaku yang sopan dan dengar-dengaran terhadap guru, Elden justru ingin anaknya menikmati masa-masa kecilnya dengan bebas tanpa tuntutan apa pun.
Gevio tersenyum seraya menganggukkan kepala. “Baik, Daddy,” jawabnya dengan mengiyakan perkataan sang ayah.
Bibir Elden tersenyum guna membalas senyuman anaknya. Lalu, pandangnya kembali lagi pada istrinya. “Sayang, aku berangkat. Jika terjadi sesuatu kau harus langsung menghubungiku. Kau mengerti, Vallerie?” tekan Elden. Padahal Erie hanya ingin berbicara dengan wali kelas Gevio, tetapi ucapan Elden terkesan seperti Erie hendak berbicara dengan seorang penjahat. Elden juga tidak tahu mengapa ia mengatakan hal itu. Aneh sekali.
“Baik, Tuan. Cepatlah Anda pergi ke kantor sebelum Mario datang kemari menjemput Anda,” canda Erie.
“Baiklah, aku pergi,” pamit Elden.
“Hati-hati Daddy!” seru Gevio sebelum pengawalnya menutup pintu dan mobil itu pergi meninggalkan mereka.
“Apa kau siap, My Prince?” tanya Erie sambil memandang wajah anaknya,
Gevio tersenyum. “Iya, Mommy!” katanya antusias. Hari ini ibunya akan bertemu dengan wali kelasnya untuk menanyakan tentang Rebecca. Sudah pasti Gevio merasa senang karena ia berpikir, sebentar lagi ia bisa bertemu dengan gadis itu dan memberikan kadonya serta mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung meskipun sudah terlambat beberapa hari.
Mereka melangkah dengan mantap ke dalam pekarangan sekolah. Erie mengantar Gevio terlebih dahulu ke dalam kelas. Di sana, Erie bertemu dengan beberapa orang tua yang juga mengantarkan anak mereka. Dengan ramah Erie menyapa mereka dan mereka juga membalas sapaan Erie. Sebenarnya Erie bisa saja mencari informasi tentang Rebecca dari para orang tua itu. Namun, Erie tidak mau. Lebih baik ia mencari tahu dari wali kelas yang seharusnya lebih kompeten mengenai masalah anak tersebut.
Di dalam kelas di samping tempat duduk Gevio, Erie berjongkok. Ia menyugar rambut anaknya agar terlihat rapi. “Kau tidak perlu khawatir, My Prince. Mommy akan mencari tahu kabar tentang Rebecca,” ujarnya setelah melihat Gevio memandangi sebuah kursi kosong yang ada di sebelahnya. Erie bisa menebak kalau itu adalah kursi yang biasanya diduduki oleh Rebecca. Pantas saja mereka begitu dekat karena tempat duduk mereka saja bersebelahan seperti itu.
“Terima kasih Mommy,” kata Gevio. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Erie dan mencium pipi ibunya dengan cepat. “Gevio sayang Mommy,” ungkap anak itu secara tiba-tiba.
Erie terenyuh. Hatinya seperti baru saja ingin meledak saking senangnya. Rasanya begitu luar biasa, benar-benar seperti sihir. Tindakan Gevio yang mencium pipinya saja sudah membuat Erie sangat bahagia ditambah ucapan anak itu yang begitu manis. Untuk mempertahankan kebahagian putranya, Erie berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apa pun juga.
Perempuan itu mengangkat bibirnya dan membentuk seulas senyuman terbaiknya pada hari itu. Ia berkata, “Mommy pergi ke kantor dulu untuk menemui wali kelasmu. Nanti siang, Daddy akan menjemputmu dan kita akan makan siang bersama di Icebarland.”
“Iya Mommy. Titip salam untuk Aunty,“ balas Gevio. Aunty yang dimaksud di sini adalah Tina. Jika bukan Erie yang menjemput, maka Gevio tidak akan bertemu dengan Tina. Itulah sebabnya, Gevio menitip salam kepada wanita yang sering ia kerjai itu.
Erie mengangguk. “Baiklah. Nanti Mommy sampaikan salammu pada Aunty Tina.” Perempuan itu mengecup kening putranya terlebih dahulu sebelum ia berdiri. “Mommy pergi dulu,” pamit Erie sembari melangkah keluar dari kelas Gevio.
Ketika sudah menemukan kantor para guru, Erie mengetuk ruangan yang bertuliskan nama Florence, nama sang wali kelas putranya. Karena pintu itu terbuat dari kaca, maka Erie bisa melihat seorang wanita duduk di meja kerjanya sambil bermain dengan ponselnya.
Erie mengetuk pintu. Baru dua kali diketuk, terdengar suara dari dalam dan beberapa detik kemudian, wanita yang berumur lima puluh tahun itu keluar dari ruangannya untuk menyambut Erie.
“Selamat pagi, Mrs. Florence,” ucap Erie ketika pintu itu terbuka.
Dengan senyuman ramah, Florence menjawab, “Selamat pagi, Nyonya Alvaro. Silakan masuk.” Ia membuka pintu ruangannya, membiarkan Erie masuk ke dalam.
“Apakah boleh?” tanya Erie meminta izin agar A7 yang berada di belakangnya ikut masuk ke dalam.
“Ah, tentu saja tidak masalah, Nyonya. Silakan masuk, Tuan,” kata Florence yang juga mempersilakan A7 untuk masuk ke dalam.
“Terima kasih, Mrs. Florence,” balas Erie.
Di sofa yang ada di dalam ruangan itu, Erie duduk dengan santai. Tak lama setelah Erie duduk, Florence berbicara lagi. “Anda ingin minum apa, Nyonya?” tawar Florence.
Erie menjawab, “Apa saja boleh Mrs. Florence.”
“Kalau boleh, bisakah Anda memanggil saya Flo saja?” Wanita paruh baya itu menyergah. “Karena rasanya saya sedikit merasa canggung jika dipanggil dengan nama panjang seperti itu,” imbuhnya.
“Ah, baiklah kalau itu yang Anda inginkan. Saya akan memanggil Anda dengan sebutan Ibu Flo saja. Apakah itu sudah lebih baik?” ujar Erie.
“Terima kasih, Nyonya. Itu jauh lebih baik.”
Wanita yang kini disebut Erie sebagai Ibu Flo itu berdiri dari sofa. Ia hendak berjalan keluar. Namun, baru sampai di dekat pintu, ia membalikkan badannya. “Oh, benar saya lupa. Anda ingin minum apa, Tuan?” tanya Ibu Flo pada A7 yang dengan setianya berdiri di belakang Erie.
Dengan cepat A7 menolak. “Terima kasih atas tawaran Anda, Nyonya. Anda bisa mengabaikan keberadaan saya di sini,” tukas laki-laki itu dengan tegas.
Ibu Flo mengernyit. Meski ia tidak terlalu mengerti, tetapi ia hanya bisa mengangguk lalu melenggang pergi untuk menyiapkan minuman bagi Erie.
Sepeninggalan Ibu Flo dari ruangan itu, Erie menggerak-gerakkan telunjuknya, sebagai isyarat untuk memanggil A7. Dan dengan sigap, A7 yang menyadari isyarat Erie segera mendekati sofa Erie. Dari arah belakang, A7 menunduk agar bisa mendengar ucapan Erie yang ia nilai akan rahasia.
“Apa kamera yang ada dipenjepit dasimu itu aktif?” tanya Erie sambil berbisik. Ia bahkan menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya agar pembicaraan mereka tidak terbaca oleh CCTV yang ada di atas mereka.
A7 mengangguk sebagai balasannya. Ia sengaja tidak berbicara agar mengikuti alur yang dibuat oleh majikannya itu.
“Baguslah,” lanjut Erie. “Tolong kau rekam seluruh sudut ruangan ini. Tapi usahakan jangan sampai tindakanmu itu terlihat mencurigakan.”
Lagi, A7 mengangguk untuk menjawab perintah dari Erie.
Apa yang membuat Erie memberikan perintah itu pada A7? Jawabannya hanya satu, yakni kecurigaan. Erie merasakan perasaan yang aneh ketika masuk ke dalam ruangan itu. Pertama karena sambutan Ibu Flo yang terlihat mencurigakan karena wanita yang berusia dua kali dari usianya itu tidak merasa terkejut sama sekali dengan kehadiran Erie yang terbilang mendadak. Seharusnya, wanita itu akan kaget dan merasa tidak nyaman.
Bagi para orang tua di negara itu, sangat jarang jika mereka datang mengunjungi kantor wali kelas kecuali ada masalah dengan anak mereka. Tetapi dalam kasus Erie, tidak ada masalah pada Gevio. Ibu Flo tidak langsung bertanya-tanya tentang alasan Erie datang. Ia malah dengan santainya menawarkan minum seperti sedang menunggu kedatangan Erie.
Kedua, meja kerja Ibu Flo yang terlihat bersih. Yah, kalau bersih dari kotoran saja memang wajar. Bersih di sini berarti tidak ada benda apa-apa di atas sana. Bagaimana dengan komputer atau laptop? Minimal buku dan pulpen seharusnya ada di meja itu.
Ini terbilang aneh, karena sebelum pergi ke ruangan Ibu Flo, Erie sempat melihat-lihat ruangan guru lain. Walau hanya sekilas, dari pintu-pintu kaca mereka Erie bisa memperhatikan meja-meja para guru-guru itu. Tidak ada yang ‘sebersih’ meja Ibu Flo. Bahkan ada yang begitu berantakan karena diisi oleh setumpuk buku-buku gambar dari para murid. Bukankah ini sangat mencurigakan?
XXXXX
Menurut teman-teman mencurigakan gak si Ibu Flo ini? Coba bisa tulis pendapat teman-teman di kolom komentar ya. Danke ^^
By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼