Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam itu, suasana di rumah megah tersebut diselimuti ketenangan. Setelah makan malam usai, para pelayan telah selesai merapikan meja makan dan kembali menjalankan tugas masing-masing. Keheningan perlahan menguasai setiap sudut ruangan.
Di ruang keluarga, Rayan tampak bersandar santai di sofa, jemarinya menggenggam segelas air putih. Cahaya lampu berwarna hangat memancar lembut, membentuk bayang-bayang tipis yang mempertegas garis wajahnya. Sorot matanya terlihat tenang, tetapi menyimpan banyak pikiran yang tak sempat diungkapkan.
Alya mengayunkan langkah perlahan ke arah Rayan. Kedua tangannya bertaut erat, seolah berusaha meredam kegelisahan yang terus mengusik hati. Napasnya terasa berat, dipenuhi keraguan. Sesampainya di hadapan Rayan, ia menghentikan langkah, menyisakan jarak beberapa langkah di antara mereka sambil menundukkan pandangan.
Alya menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara. Jemarinya saling bertaut gelisah, sementara pandangannya terus mengarah ke lantai. "Kalau... kalau tidak keberatan," ucapnya lirih, "kamu pakai saja kamar yang itu." Ia berhenti sejenak, menarik napas pendek sebelum melanjutkan. "Aku akan tidur di kamar Fariz malam ini. Tadi aku sempat melihat barang-barangmu sudah ada di sana, jadi sepertinya kamar itu memang sudah disiapkan untukmu." Nada suaranya terdengar canggung. Alya tetap menghindari tatapan pria di hadapannya, seolah khawatir sorot matanya akan membongkar kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan.
Pria itu mengangguk pelan. "Baik," jawabnya singkat, tanpa membantah sedikit pun.
Rasa lega perlahan mengendurkan ketegangan di dada Alya. Ia menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk penghormatan, lalu berbalik dengan niat menuju kamar Fariz. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang itu, sebuah gerakan dari belakang membuatnya menghentikan langkah. Rayan bangkit dari duduknya di sofa. Suara pria itu terdengar datar dan tenang, tetapi cukup tegas hingga Alya refleks mematung dan menoleh ke arahnya.
"Fariz sudah tidur?" tanyanya pelan, suaranya tenang namun terdengar penuh perhatian.
Alya memutar tubuhnya perlahan. Begitu nama putranya disebut, sorot matanya seketika berubah menjadi lebih hangat. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Belum," jawabnya lembut. "Sejak masih kecil, Fariz memang tidak terbiasa tidur sendirian. Biasanya aku akan tetap menemaninya sampai matanya benar-benar terpejam."
Rayan memandang Alya dalam diam selama beberapa saat. Setelah itu, ia menganggukkan kepala pelan. "Kalau begitu, istirahatlah," ucapnya tenang. "Selamat malam."
"Selamat malam juga," balas Alya lirih. Ia menundukkan kepala sejenak sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan tenang, meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Beberapa saat kemudian, suasana kamar Fariz dipenuhi keheningan yang menenangkan. Anak itu telah berbaring nyaman di ranjang mungilnya sambil mendekap erat boneka beruang kesayangannya. Di sisi ranjang, Alya duduk dengan sabar, mengusap dan menepuk pelan dada putranya dengan gerakan yang lembut.
Fariz mengembuskan napas panjang disertai sebuah kuapan kecil. Kelopak matanya perlahan terasa semakin berat hingga akhirnya mulai menutup, tanda kantuk telah menguasainya.
"Mama... jangan pergi, ya," gumam Fariz dengan suara cadel yang nyaris tenggelam oleh rasa kantuk. Jemarinya meraih ujung pakaian Alya seolah ingin memastikan sang ibu tetap berada di sisinya.
Butiran bening kembali mengalir di pipi Alya. Namun, kali ini bukan karena luka atau kepedihan yang menghimpit dadanya, melainkan rasa lega yang perlahan memenuhi hatinya.
Ia kemudian merebahkan tubuh di samping Fariz, merengkuh putranya dengan pelukan hangat seolah ingin memastikan anak itu selalu merasa aman dan dicintai.
*****
Sementara itu, Rayan melangkah memasuki kamar utama. Ia tidak langsung beristirahat. Kakinya membawanya menuju balkon, lalu ia berdiri dalam diam sambil memandangi taman yang diselimuti cahaya temaram malam.
Suasana di luar begitu tenang, tetapi isi kepalanya justru dipenuhi berbagai pikiran. Bayangan Alya dengan penampilannya yang sederhana terus muncul tanpa diminta. Wajah wanita itu, yang tampak canggung namun penuh ketulusan, seolah enggan meninggalkan benaknya.
Di sela keheningan, suara cadel Fariz juga kembali terngiang di telinganya. Suara polos anak itu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan, membuat Rayan tanpa sadar mengembuskan napas panjang sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke langit malam.
Di dalam kamar utama, Rayan baru saja melepas jas yang sejak tadi dikenakannya. Ia melipatnya sekadarnya lalu meletakkannya di sandaran kursi di sudut ruangan.
Belum sempat beristirahat, ponsel di atas meja bergetar pelan. Rayan melirik layar yang menyala, lalu mengembuskan napas tipis saat melihat nama yang tertera. Ibunya menelepon.
Rayan membiarkan dering itu berbunyi beberapa saat. Tatapannya tetap tertuju pada layar ponsel sebelum akhirnya ia menghela napas pelan dan menekan tombol jawab.
"Halo, Bu," sapa Rayan singkat. Nada suaranya tetap tenang, nyaris tanpa menunjukkan emosi.
Dari balik sambungan telepon, suara Nyonya Salsabila terdengar mantap dan berwibawa. Nada bicaranya jelas, menyiratkan ketegasan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
"Rayan, besok pagi datanglah ke rumah utama. Zahra juga akan berada di sana, dan ayahmu ingin membicarakan sesuatu denganmu. Jadi, jangan terlambat dan jangan membuat kami menunggu."
Rayan tidak segera menjawab. Pandangannya melayang ke arah balkon yang masih terbuka, seolah mencari ketenangan di balik gelapnya malam.
Entah mengapa, suara lembut Alya bersama celoteh cadel Fariz kembali memenuhi pikirannya. Kenangan singkat itu berputar tanpa henti, membuatnya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengalihkan perhatian ke percakapan di telepon.
"Maaf, Bu. Besok aku belum bisa datang. Saat ini aku masih ada urusan di luar kota," jawab Rayan tenang.
"Di luar kota?" ulang Salsabila dengan nada yang mulai mengeras, terdengar jelas ketidakpuasannya. "Rayan, ini bukan perkara yang bisa dianggap sepele. Ayahmu sudah menjadwalkan pertemuan ini karena menyangkut keluarga Mahatma. Jangan bersikap seolah semuanya bisa ditunda sesukamu. Besok, kamu harus datang."
Rayan memejamkan matanya selama beberapa detik. Garis rahangnya menegang, sementara jemarinya mencengkeram ponsel sedikit lebih erat, berusaha menahan gejolak yang mulai muncul dalam dirinya.
"Aku sudah menjelaskan kalau saat ini aku masih berada di luar kota, Bu," ujar Rayan dengan suara rendah namun mantap. "Aku tidak mungkin pulang dalam waktu dekat. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Ayah dan keluarga Mahatma."
"Rayan..." panggil Salsabila, berusaha melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin tegas. Namun, Rayan lebih dulu menyela.
"Aku akan kembali setelah semua urusanku selesai," ucap Rayan mantap. "Untuk saat ini, biarkan aku menyelesaikan apa yang harus kulakukan. Jadi, jangan memaksaku pulang sekarang."
Tanpa memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menanggapi, Rayan langsung mengakhiri panggilan itu. Ia menurunkan ponselnya perlahan, sementara tangan satunya terkepal kuat di sisi tubuh, seolah sedang menahan emosi yang bergejolak di dalam dada.
Rayan menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja nakas di samping ranjang. Setelah itu, ia melangkah menuju jendela dan berdiri dalam diam, memandangi taman yang diselimuti pekatnya malam. Cahaya lampu dari halaman memantulkan bayangan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin.
Di tengah keheningan itu, sebuah kesadaran perlahan mengusik benaknya. Cepat atau lambat, keluarganya pasti akan mengetahui siapa Alya sebenarnya, begitu pula dengan keberadaan Fariz. Saat hari itu tiba, ia tahu tidak akan mudah menghadapi segala pertanyaan, penolakan, dan konflik yang mungkin muncul.
Namun, untuk malam ini, Rayan memilih menyingkirkan segala kekhawatiran dari pikirannya. Yang ia inginkan hanyalah membiarkan Alya dan Fariz menikmati ketenangan di rumah baru itu, tanpa gangguan, tanpa tekanan, setidaknya untuk satu malam.
*****
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Wirajaya, udara di ruang tamu terasa dipenuhi ketegangan. Nyonya Salsabila masih duduk tegak di sofa, jemarinya menggenggam ponsel dengan erat seolah berusaha meredam kekesalan yang terus mengusik pikirannya.
Ucapan Rayan beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinganya. Nada suaranya terdengar datar, tetapi begitu tegas hingga tak menyisakan ruang untuk dibantah. Penolakan itu disampaikan tanpa keraguan, sesuatu yang jarang dilakukan putranya kepada keluarga.
Nayla, yang sejak tadi duduk diam di sofa di samping sang ibu, dapat merasakan perubahan suasana yang begitu jelas. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan, membuatnya memilih mendekat dengan langkah pelan.
Dengan ragu-ragu, ia mengulurkan tangan dan menggenggam lembut punggung tangan ibunya, berharap sentuhan kecil itu dapat sedikit meredakan ketegangan yang memenuhi ruangan.
"Bu..." panggil Nayla pelan, berusaha memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Kak Rayan memang sering teguh pada keputusannya, tapi aku rasa dia tidak berniat membangkang Ibu ataupun Ayah. Mungkin benar ada sesuatu yang tidak bisa dia tinggalkan sekarang, sehingga dia memilih tetap di sana."
Nyonya Salsabila mengembuskan napas perlahan, seolah berusaha meredakan gejolak yang memenuhi dadanya. Ia meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan tenang, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Sorot matanya tetap tajam dan penuh wibawa, tetapi di balik ketegasan itu terselip kelelahan yang sulit disembunyikan, seakan beban yang dipikulnya semakin berat dari hari ke hari.
"Memangnya urusan apa yang sampai harus didahulukan?" tanya Nyonya Salsabila dengan nada yang tegas. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Apa ada sesuatu yang lebih penting daripada masa depan perusahaan keluarga? Lebih penting daripada nama baik keluarga Wirajaya yang selama ini kita jaga dengan susah payah?" Kalimat terakhirnya terdengar sedikit bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang berusaha mengendalikan emosinya.
Nayla menurunkan pandangannya sejenak. Senyum tipis kemudian menghiasi sudut bibirnya, seolah berusaha meredakan ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan. Dengan sikap tenang, ia mencoba mencairkan suasana agar percakapan tidak semakin memanas.
"Bu, Kak Rayan memang bukan orang yang banyak menjelaskan perasaannya," ucap Nayla pelan. "Dia sering terlihat dingin dan keras kepala, tetapi selama ini setiap keputusan yang diambilnya selalu punya pertimbangan. Aku yakin kali ini pun ada alasan yang benar-benar penting. Mungkin kita hanya belum mengetahuinya."
Salsabila mengarahkan pandangannya kepada putrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan itu bertahan cukup lama, sementara raut wajahnya tetap tenang hingga sulit ditebak apa yang sedang berkecamuk di dalam benaknya.
Keheningan perlahan menyelimuti ruang tamu. Tidak ada suara yang memecah suasana selain detik demi detik dari jam dinding yang berdetak pelan, menambah kesan hening sekaligus menegangkan.
Pada akhirnya, Salsabila mengembuskan napas pelan. Jemarinya terangkat untuk mengusap keningnya perlahan, seolah berusaha meredakan penat dan beban pikiran yang sejak tadi terus menghimpit.
"Kamu selalu berusaha memahami Kak Rayan, Nayla," ujar Salsabila dengan nada yang mulai melunak, meski ketegasannya masih terasa. "Tapi ada tanggung jawab yang tidak bisa terus diabaikan. Ayahmu sudah menaruh harapan besar pada pertemuan ini. Kalau Rayan tetap bersikeras menolak, dampaknya bisa meluas dan menimbulkan persoalan yang jauh lebih rumit bagi keluarga."
Nayla mempererat genggamannya pada tangan sang ibu. Sentuhan itu lembut, namun cukup hangat untuk menunjukkan bahwa ia ingin tetap berada di sisi Salsabila dan memberikan dukungan di tengah kegelisahan yang sedang dirasakannya.
"Bu, untuk sekarang jangan terlalu memikirkan hal itu," ucap Nayla lembut. "Besok aku akan menghubungi Kak Rayan dan mencoba berbicara baik-baik dengannya. Mungkin dia akan lebih terbuka kalau yang mengajaknya bicara adalah aku."
Salsabila kembali terdiam. Ia tampak mempertimbangkan setiap ucapan putrinya dengan saksama. Perlahan, sorot matanya kehilangan sedikit ketajamannya dan berubah lebih lembut, meski ketegasan yang menjadi ciri khasnya masih terpancar jelas saat ia hendak berbicara.
"Kalau begitu, Ibu akan memberimu kesempatan untuk berbicara dengannya," ujar Salsabila pelan. "Tapi sampaikan dengan jelas, Rayan harus segera pulang. Ada banyak hal yang tidak bisa terus ditunda, dan keluarga ini tidak mungkin menunggu tanpa kepastian."
Nayla menganggukkan kepala pelan sebagai tanda mengerti. Namun, di dalam hatinya, ia menyadari bahwa persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan satu percakapan.
Ia mengenal ibunya dengan baik. Salsabila tidak akan mudah melepaskan keinginannya agar Rayan memenuhi harapan keluarga, terutama yang berkaitan dengan keluarga Mahatma. Di sisi lain, Nayla juga memahami sifat kakaknya. Rayan adalah pria yang teguh memegang pendiriannya. Sekali mengambil keputusan, ia tidak akan mengubahnya hanya karena tekanan atau desakan siapa pun.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Nayla tidak bisa mengusir firasat yang terus mengusiknya. Ada sesuatu yang terasa janggal, seolah Rayan sedang menyimpan sebuah rahasia yang sengaja belum ingin diketahui oleh siapa pun di keluarganya.
Pintu ruang tamu terbuka perlahan. Zayan Wirajaya melangkah masuk dengan sikap tenang yang selalu memancarkan kewibawaan. Tatapannya menyapu ruangan sejenak sebelum berhenti pada Salsabila, lalu beralih kepada Nayla yang masih menggenggam lembut tangan ibunya, seolah sedang berusaha menenangkan wanita itu.
"Salsabila," panggil Zayan dengan suara rendah yang tenang, tetapi sarat wibawa. Tatapannya beralih kepada sang istri sebelum ia melanjutkan,
"Aku sudah mengetahui apa yang baru saja terjadi."
Salsabila mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Raut wajahnya masih menyimpan kekecewaan yang belum sepenuhnya reda, meski ia berusaha mempertahankan sikap tenang di hadapan mereka.
"Rayan tetap tidak mau datang," ujar Salsabila dengan nada kecewa. "Dia berdalih masih berada di luar kota dan tidak bisa meninggalkan urusannya. Padahal Zahra sudah kita minta datang secara khusus. Menurutmu, apakah alasan seperti itu pantas kita terima?"
Zayan tidak buru-buru menanggapi ucapan istrinya. Dengan langkah tenang, ia menghampiri kursi utama lalu duduk dengan punggung tegak. Jemarinya meraih pipa elektrik yang hampir tak pernah disentuhnya, kecuali ketika ada persoalan yang benar-benar menyita pikirannya.
Sesaat kemudian, alat itu menyala. Embusan uap tipis melayang perlahan di udara, seolah menjadi penanda bahwa pikirannya sedang bekerja keras menimbang setiap kemungkinan. Keheningan yang menyelimuti ruangan pun terasa semakin pekat, dipenuhi ketegangan yang belum menemukan jalan keluar.
"Rayan memang bukan anak yang mudah diarahkan," ujar Zayan setelah beberapa saat terdiam. "Sejak kecil dia selalu teguh pada pendiriannya. Namun, aku mengenal putraku dengan baik. Jika dia mengatakan sedang berada di luar kota dan belum bisa kembali, berarti memang ada sesuatu yang menurutnya harus diselesaikan terlebih dahulu."
Salsabila tampak hendak menyela ucapan suaminya, tetapi sebelum sempat berbicara, Nayla lebih dulu mengalihkan pandangannya kepada sang ayah. Sorot matanya memancarkan secercah harapan, seolah ia menemukan seseorang yang akhirnya memahami keputusan Rayan.
"Jadi... Ayah juga percaya kalau Kak Rayan pasti punya alasan?" tanya Nayla. Ada secercah harap yang terpancar dari matanya saat menunggu jawaban sang ayah.
Zayan menganggukkan kepala pelan. Tatapannya tetap tajam dan penuh wibawa, namun tidak memancarkan kemarahan, melainkan ketenangan yang sulit ditebak maknanya.
"Kamu benar, Nayla," ujar Zayan tenang. "Kakakmu bukan tipe orang yang bertindak tanpa pertimbangan. Kita tidak bisa memaksanya dengan cara yang keliru. Jika terlalu ditekan, dia justru akan semakin menjauh."
Salsabila terdiam tanpa kata. Kali ini ia tidak mencoba menyanggah. Ia tahu, suaminya selalu mampu melihat sisi lain dari anak-anak mereka hal yang kerap terlewat olehnya ketika terlalu larut dalam upaya menjaga nama besar keluarga.
Zayan meletakkan perlahan pipa rokok elektriknya di atas meja. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kepada Salsabila. Sorot matanya tenang, memadukan kelembutan dan ketegasan dalam satu waktu.
"Besok, biar aku sendiri yang menemui Rayan," ucap Zayan mantap. "Aku ingin mendengar langsung penjelasannya dari mulutnya, bukan hanya lewat telepon."
Nayla mengembuskan napas pelan, seolah beban di dadanya sedikit terangkat. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, sederhana namun tampak tulus.
"Terima kasih, Ayah," ucap Nayla pelan, dengan nada hangat yang penuh rasa lega dan hormat.
Namun di balik ketenangan sikapnya, Zayan menyimpan rasa ingin tahu yang tak bisa diabaikan. Ia mengenal Rayan lebih dari siapa pun, dan nalurinya mengatakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan putranya dari keluarga Wirajaya sesuatu yang tidak kecil, dan belum waktunya diungkapkan.