Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Seperti malam-malam sebelumnya, Kila selalu menghabiskan sepertiga malamnya dengan tahajud, begitu juga malam ini dia bersujud, bermunajat, berkeluh kesah, mengadukan isihatinya, kekecewaannya pada Illahirabbi.
Bahkan perut besarnya tak menghalangi dirinya memperbanyak rakaat pada tahajudnya, hingga Azan subuh berkumandang.
Kila keluar ruang sholat setelah melaksanakan dua rakaat sholat subuhnya. beranjak kekamarnya, menghampiri suaminya yang terlihat terlelap dengan nyenyak.
"Mas, bangunlah" ujar Kila menguncang tubuh Rico pelan, perlahan Rico membuka matanya yang masih berat karena kantuk.
"Jam berapa sayang" suara Rico terdengar serak khas orang bangun tidur.
"Masih pagi mas, bangunlah sholat subuh" sahut Kila, mata kantuk Rico menatapnya dengan tatapan penuh.
"Sholat subuh sayang?" tanya Rico hati-hati, dia teringat janjinya semalam pada Kila, mungkin sekarang Kila tengah menagih janjinya.
"Mas gak lupakan sama janji mas, tapi itu sih terserah mas, mau di maafin atau gak" ujar Kila seraya beranjak bangkit dari samping Rico menuju sofa di sudut ruangan.
"Aku ingat sayang" ujar Rico seraya beringsut menuju kamar mandi, tampak Kila meliriknya sekilas kemudian fokus pada Alqur'an kecil di tangannya.
Lima belas menit kemudian Rico sudah keluar kamar mandi, menghampri Kila yang masih membaca Alqur'an.
"Sudah siap mas" Kila menghentikan bacaannya menatap Rico yang juga menatapnya.
"Aku sholat pakai apa sayang" tanya Rico bingung, sebab dia tak memiliki baju koko sama sekali.
"Pakai baju kaos dan celana bahan mas, itu udah aku siapin" ujar Kila, seraya mengarahkan jari telunjuknya ke tumpukan baju Rico.
Rico memakainya kemudian beranjak keluar kamar, pergi keruang sholat melaksanakan perintah istrinya melaksanakan sholat subuh.
Lima belas menit berlalu, Rico pun sudah kembali lagi kekamarnya, mendekati Kila yang masih asik dengan bacaannya.
"Sudah selesai sholatnya mas?" tanya Kila saat Rico sudah duduk di sampingnya.
"Sudah, nyonya baru saja selesai" ujar Rico dengan nada berseloro. Kila mencibir kesal pada panggilan nyonya oleh Rico.
"Jangan hanya subuh, sholat yang lain juga harus mas kerjakan, aku tidak menerima alasan apa pun" ujar Kila menatap suaminya yang terlihat semakin tampan pagi ini.
"Iya sayang," ujarnya membalas tatapan Kila, seraya bergeser semakin dekat.
"Aku ada wudhu mas" Elak Kila. Rico tak mengindahkan Kila, dia meraih qur'an kecil di tangan Kila, melatakkannya di meja, lalu dengan sekali gerakan Kila sudah berada di dekapan tubuh hangatnya. Kila tak menolak dia mengikuti kemauan suaminya.
"Sayang hari ini aku kembali kerja" ujarnya seraya membuka hijab yang di kenakan Kila, seketika wangi rambut Kila memenuhi indra penciumannya.
Rico memejamkan matanya, menikmati aroma lembut tubuh Kila yang menenangkan jiwanya.
"Iya mas, gak apa" sahut Kila.
"Sayang, mungkin Nana tidak bisa sering menemani mu, dia sedang merawat Alan" tutur Rico seraya membelai rambut panjangnya.
"Tidak apa mas"
"Sayang apa kau masih marah padaku" tanya Rico hati-hati. Kila menggelang.
"Aku hanya sedih mas" sahutnya lirih.
"Kenapa sayang, apa masih ada kesalahan yang aku lakukan padamu" tanya Rico bingung.
"Kesalahan yang mas lakukan untuk diri mas sendiri, yang membuat ku sedih, tidak tenang sepajang hari" ujar Kila menengadah menatap suaminya, manik matanya jelas memancar kesedihan.
"Apa kesalahanku sayang, katakanlah siapa tau aku bisa memperbaikinya" ucap Rico penuh kelembutan, seraya mencium kening Kila dengan hangat.
"Ada amal baik manusia yang terus mengalir pahalanya tak terputus sampai dia meninggal, begitu juga amal buruk, atau dosa manusia yang tetap mengalir walau dia tidak lagi melakukan dosa itu," Kila menghentikan ucapannya, nenatap suaminya penuh kesedihan.
"Apa aku melakukan dosa itu sayang" tanya Rico penasaran. Kila mengangguk tegas.
"Kenapa bisa," tanya Rico lagi dengan perasaan heran.
"Mas membuka club malam, apa tujuan di bukanya tempat itu, tentu saja untuk bersenang-senang melakukan dosa bukan, mas tau, karena mas pemilik tempat itu, mas menyediakan pasilitasnya, otomatis segala dosa yang mereka lakukan, mas kebagian, ada jatah dosa yang mengalir setiap saat terus menerus selama orang masih saja mengunjungi tempat yang mas buat" ujar Kila kesedihan terpancar di bola matanya.
"Neraka itu pedih mas, satu dosa saja belum tentu kita sanggub menanggungnya, ini apa lagi dosa ribuan pengunjung club malam" bulir bening kini mulai menetes di sudut matanya, Rico terdiam ucapan Kila sungguh mengejutkan hatinya, dia tak tau kalau agama serumit itu, bahkan dosa orangpun harus dia yang tanggung.
"Mas tau, luka mas ini saja menyakiti hatiku" ujarnya seraya menyentuh lembut bahu Kiri rico yang masih di balut perban.
"Apalagi derita mas kelak, menanggung dosa pengunjung club yang ribuan orang, aku tak mampu menahan sakitnya mas" ujar Kila terisak pelan, Rico tak tau harus bicara apa hanya pelukan dan ciuman hangan yang mampu dia berikan untuk menenangkan Kila.
"Apa yang harus aku lakukan sayang" ujar Rico lirih.
"Tutup semua tempat maksiat yang mas dirikan, bertobatlah mohon ampun, Allah maha pengasih, maha penyayang, dia pasti menerima tobat mas" ujar Kila menatap lembut suaminya dengan derai air mata.
"Menutup tempat itu tak semudah itu sayang, apa lagi banyak kariawan menggantungkan hidup di sana" sahut Rico hati-hati tak ingin salah bicara.
"Serahkan urusan mas pada Illahirabbi, minta petunjuk padanya, insyaallah akan di permudah pelaksanaannya nanti,untuk kariawan buatlah usaha yang halal buat mereka, cukuplah mas memberi mereka kerja dengan hasil yang tidak halal selama ini, gunakan asetmu untuk membantu mereka, mas tau, setiap rupiah yang mas miliki akan di pertanyakan kegunaannya kelak, dengan membantu mereka setidaknya mas mengunakan harta mas di jalan yang benar" Rico kembali tehenyak dengan penuturan istrinya, seumur hidup mengumpulkan pundi-pundi rupiah tak pernah terpikir bakal di mintai pertanggung jawaban atas hasil keringat sendiri, kenapa agama terdengar begitu rumit.
"Aku akan pikirkan sayang" ujarnya dengan menghela nafas panjang, mendengar itu Kila menggelang tegas.
"Harus" tegasnya.
"Baiklah sayang" ujarnya menyerah. Kila tersenyum senang, ditatapnya wajah Suaminya dengan penuh cinta kemudian melabuhkan kecupan hangan di kening, hidung, pipi dan bibir seksi milik suaminya.
"Sayang" desahnya lembut, perlakuan manis Kila membuat gemuruh di dadanya. wanita yang baru kepala dua ini begitu penuh kejutan, kelembutan hatinya mampu menaklukan keras hatinya.
Sungguh karunia yang tak terhingga bagi Kila, bisa berjalan sejalan dengan pasangan hidupnya menatap arah yang sama,
**
Rico tecenung di ruang kejanya, memikirkan perkataan Kila tadi, agar menutup bisnis malamnya.
"Bram bisa keruanganku" ujar Rico pada Bram di sambungan telpon kantornya.
Tak berapa lama Beramantio datang keruang kerja Rico.
"Ada apa apa bapak memanggil saya" ujarnya seraya menempatkan diri duduk di depan meja kerja Rico.
"Bram aku akan menutup semua clab malam yang kita miliki" ujar Rico menatap Bram yang terlihat tercengang mendengar penuturan Rico.
"Apa masalahnya separah itu pak, hingga harus menutup club" ujar Bram.
"Tidak, aku tidak bisa jelaskan alasannya, yang pasti club akan di tutup" ujarnya tegas.
"Aku minta kau adakan rapat dengan pimpinan cabang, utarakan keinginan kita, sampaikan juga, aku akan membuat usaha baru dan akan menerima mereka sebagai pekerjanya" jelas Rico.
"Bapak buka usaha untuk mereka" Bram mengernyitkan alisnya.
"Ya jika mereka bersedia, kalau ada lowongan lain silahkan saja tidak apa, terserah mereka mau kerja di mana" jelas Rico lagi.
"Club pusat pak"
"Sama setelah tutup aku buatkan usaha baru buat mereka"
"Apa ini ide nyonya pak" tanya Bram penasaran.
Rico tertawa kecil, Bram memang paling paham dengan Rico dia tau ini pasti bukan idenya.
"Yah begitulah Bram" ujarnya dengan helaan nafas panjang. Bram pun ikut tertawa, wanita memang berbahaya kelembutannya mampu merubah lelaki sekeras Erico.
.
.Happy reading 🥰
jangan malas kasih like and vote ya sayang 🙏🙏🙏🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣