Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
BAB 8: Harga Sebuah Rahasia
[Sudut Pandang: SURA]
Bisnis di The Sanctum berjalan lancar. Terlalu lancar.
Sura duduk di kursi beludru barunya, memutar-mutar keping "Token Riset" di sela-sela jarinya. Di sekelilingnya, puluhan mahasiswa sedang bermain kartu dan dadu, berpura-pura sedang mendiskusikan probabilitas statistik. Lila sibuk di meja kasir, menukarkan koin emas mahasiswa dengan keping plastik, mengambil potongan 10% untuk "biaya administrasi".
"Bosan?" tanya Kian yang sedang membaca koran di sebelahnya.
"Aku merasa seperti penjaga taman kanak-kanak," gerutu Sura. "Menangkap penipu kartu teri, melerai pertengkaran anak manja... Mana tantangannya?"
Tiba-tiba, pintu berat The Sanctum terbuka.
Suasana ruangan yang bising mendadak senyap sejenak. Yang masuk bukanlah mahasiswa biasa.
Seorang gadis jangkung dengan rambut perak yang disanggul rapi melangkah masuk. Jubahnya bersulam benang biru langit—warna khas Faksi Silver Quill (Diplomat & Cendekiawan). Wajahnya pucat pasi, matanya merah seperti habis menangis.
Dia adalah Elara, putri Menteri Keuangan Kerajaan. Salah satu siswi paling populer dan paling suci di akademi.
Elara tidak memedulikan tatapan orang-orang. Dia berjalan lurus menuju meja Sura dan Kian. Tangannya gemetar saat meletakkan sebuah kantong uang yang berat di atas meja.
"Aku dengar kalian menerima pekerjaan kotor," bisik Elara, suaranya parau.
Kian melipat korannya perlahan. Senyum bisnisnya terpasang. "Kami lebih suka istilah 'penyedia solusi alternatif', Nona Elara. Silakan duduk. Teh atau racun?"
Elara tidak tertawa. Dia duduk di tepi kursi, meremas tangannya sendiri.
"Aku butuh kalian mencuri sesuatu," katanya.
Sura menegakkan duduknya. Ini baru menarik. "Dari siapa? Mantan pacar? Saingan debat?"
Elara menggeleng. Dia menelan ludah dengan susah payah.
"Dari kantor Profesor Horgath."
Sura dan Kian bertukar pandang. Horgath adalah Guru Sejarah Politik. Pria tua bungkuk yang bau bawang dan memiliki hobi aneh mengoleksi barang sitaan murid. Masuk ke kantor guru adalah pelanggaran tingkat berat. Hukumannya bukan skorsing, tapi penjara bawah tanah.
"Itu permintaan yang mahal, Nona," kata Kian tenang. "Apa barangnya?"
"Sebuah... surat," Elara menunduk. "Aku menulis surat untuk kekasihku. Isinya... sangat pribadi. Horgath menyitanya saat aku tidak sengaja menjatuhkannya di kelas tadi pagi. Dia bilang dia akan membacakannya di depan kelas besok pagi sebagai contoh 'kegagalan etiket'."
"Kekasih?" tanya Sura. "Kenapa takut? Bukankah pacaran itu legal?"
Elara mendongak, air mata menggenang di matanya. "Kekasihku adalah anak tukang kebun akademi. Jika ayahku tahu aku berhubungan dengan rakyat jelata... dia akan mencoretku dari silsilah keluarga. Dan jika Horgath membacakannya..."
"Reputasimu hancur. Hidupmu tamat," sambung Sura. Dia mengerti ketakutan itu. Ketakutan orang kaya yang terancam jatuh miskin.
Kian mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Tuk. Tuk. Tuk.
"Kantor Horgath ada di Menara Timur lantai empat," gumam Kian, otaknya mulai bekerja. "Dia punya anjing penjaga—bulldog yang tidur di depan pintu. Dan kuncinya adalah model gerigi ganda buatan pandai besi kurcaci."
"Aku bisa mengatasi kuncinya," kata Sura cepat. "Aku butuh 3 menit."
"Anjingnya?" tanya Kian.
Sura merogoh sakunya, mengeluarkan sisa daging dendeng dari makan siangnya. "Setiap anjing punya harga."
Kian tersenyum. Dia menoleh pada Elara.
"Kami terima. Tapi biayanya bukan uang."
Elara bingung. Dia mendorong kantong uangnya. "Tapi di sini ada 200 koin emas!"
"Simpan uangmu," kata Kian, menyingkirkan kantong itu. "Ayahmu adalah Menteri Keuangan. Suatu hari nanti, aku akan butuh tanda tangannya untuk sebuah izin dagang. Saat hari itu tiba, kau yang akan memastikannya terjadi."
Elara terbelalak. Kian tidak meminta bayaran sekarang. Dia menanam benih utang budi untuk masa depan. Itu jauh lebih mahal daripada emas.
"Baik," bisik Elara. "Dapatkan surat itu kembali. Tolong."
Malam itu, hujan turun deras, menyamarkan suara langkah kaki di atap Menara Timur.
Sura bergelantungan di tali tambang, basah kuyup, sementara Kian menunggu di koridor bawah sebagai pengawas.
"Posisi aman," suara Kian terdengar lewat corong pipa komunikasi yang menghubungkan kamar-kamar. "Horgath sedang makan malam di aula besar. Kau punya 20 menit sebelum dia kembali untuk minum teh herbalnya."
Sura mendarat di balkon kantor Horgath. Jendelanya terkunci, tapi kacanya tua dan rapuh. Sura menggunakan pisau tipis untuk menggeser tuas jendela dari luar. Klik. Terbuka.
Dia melompat masuk. Bau kertas tua dan tembakau menyengat hidungnya.
Di sudut ruangan, seekor bulldog gemuk sedang mendengkur di atas karpet. Sura melempar dendeng yang sudah dia taburi sedikit obat tidur (racikan dari kelas Toksikologi). Anjing itu terbangun sebentar, memakan dendengnya dengan lahap, lalu kembali tidur lebih lelap.
"Maaf, Sobat," bisik Sura.
Dia menyalakan senter kecil, mengarahkannya ke meja kerja Horgath yang berantakan. Tumpukan kertas menggunung.
"Sial, di mana dia menyimpannya?"
Sura mengobrak-abrik tumpukan itu. Esai murid, surat tagihan, majalah dewasa... ah, Horgath ternyata punya sisi gelap.
Akhirnya, mata Sura menangkap sebuah laci terkunci di bawah meja. Kunci gerigi ganda.
Sura mengeluarkan kawatnya. Ini bagian tersulit. Dia harus merasakan pin di dalam lubang kunci tanpa melihat. Satu, dua, tiga...
Klik.
Laci terbuka.
Di dalamnya, ada tumpukan barang sitaan: ketapel, novel romantis, dan... sebuah amplop merah muda dengan segel lilin berbentuk hati. Surat Elara.
Sura menyambar surat itu. Tapi saat dia hendak menutup laci, matanya menangkap sebuah buku catatan kulit hitam di bawah tumpukan barang sitaan.
Di sampulnya tertulis: Daftar Aset Potensial.
Rasa penasaran Sura terusik. Dia membuka buku itu.
Isinya adalah daftar nama murid-murid berprestasi, lengkap dengan kelemahan mereka.
Elara: Hubungan gelap dengan tukang kebun.
Jarek: Kecanduan judi.
Vesper: Memalsukan data riset.
Dan di halaman terakhir...
Sura (Valerine): Asal usul tidak jelas. Kemampuan tangan mencurigakan. Perlu diawasi.
Darah Sura berdesir. Horgath bukan sekadar guru mesum. Dia pengumpul informasi. Dia memeras murid-muridnya.
"Sura! Horgath naik tangga! Dia melewatkan hidangan penutup!" suara Kian terdengar panik di pipa komunikasi.
"Sial!"
Sura menyambar surat Elara. Dia ragu sejenak, lalu memutuskan mengambil buku catatan hitam itu juga. Ini terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Sura melompat keluar jendela tepat saat pintu kantor terbuka. Dia bergelantungan di tali, menahan napas saat Horgath masuk dan berteriak marah melihat jendelanya terbuka dan lacinya kosong.
Kembali di The Sanctum, Sura melempar surat merah muda itu ke Elara yang menunggu dengan cemas.
"Ini suratmu," kata Sura, napasnya masih memburu. "Masih tersegel. Kami tidak membacanya."
Elara memeluk surat itu sambil menangis lega. "Terima kasih... terima kasih banyak."
"Pergilah," kata Kian. "Dan ingat janji kita."
Elara mengangguk dan berlari keluar.
Begitu Elara pergi, Sura mengeluarkan buku catatan hitam Horgath dari balik bajunya. Dia melemparnya ke hadapan Kian.
"Kita dapat bonus," kata Sura.
Kian membuka buku itu. Matanya melebar saat membaca isinya. Dia menyeringai—senyum yang membuat Sura merinding.
"Horgath memeras setengah murid di akademi ini," gumam Kian. "Buku ini adalah tambang emas, Sura."
"Namaku ada di sana," kata Sura tajam. "Dia curiga padaku."
"Kalau begitu, bagus kita mengambilnya," Kian menutup buku itu. "Sekarang Horgath tidak punya apa-apa. Dan kita... kita memegang rahasia semua orang."
Kian menatap Sura dengan tatapan baru. Tatapan hormat.
"Kau tidak hanya pencuri yang hebat, Sura. Kau punya insting politik. Mengambil buku ini adalah langkah jenius."
Sura bersandar di kursinya, lelah tapi puas.
"Jadi," tanya Sura. "Apa yang akan kita lakukan dengan buku ini? Memeras Horgath balik?"
"Lebih baik," jawab Kian, matanya berkilat dalam cahaya lilin. "Kita akan merekrut orang-orang yang ada di daftar ini. Horgath sudah melakukan riset pasar untuk kita. Dia sudah mencari siapa saja murid yang punya masalah."
Kian mengangkat gelasnya.
"Terima kasih, Profesor Horgath. Anda baru saja membantu Faksi Golden Key menyusun pasukan."