INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 10 skakmat pertama
🌸🌸🌸🌸
Jam dinding di ruang kerja CEO Apex Media menunjukkan pukul sepuluh pagi tepat. Suasana di lantai delapan tampak begitu bergairah. Reno duduk di kursi kebesarannya dengan senyum yang terus mengembang. Di sampingnya, Sella sedang membolak-balik majalah gaya hidup mewah, sibuk memilih interior baru untuk apartemen yang dijanjikan Reno.
"Reno, nanti sore kita jadi kan lihat penthouse di kawasan Dharmawangsa?" tanya Sella dengan suara manja, mengusulkan lokasi hunian baru untuk mereka.
Reno terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahal. "Tentu saja jadi, Sel. Hari ini aku merasa bebas banget. Masalah Nadia sudah tuntas. Dia sudah tanda tangan surat cerai dan angkat kaki dari rumah tanpa menuntut apa-apa. Wanita penakut itu akhirnya sadar posisi."
Sella tertawa renyah, mengelus lengan kemeja Reno. "Aku kan sudah bilang, dia itu cuma gertak sambal. Tanpa kamu, dia itu bukan siapa-siapa."
Tiba-tiba, pintu ruang kerja CEO diketuk tiga kali dengan ketukan yang teratur dan tegas. Tanpa menunggu sahutan dari dalam, pintu kayu jati itu terbuka lebar.
Bimo melangkah masuk. Namun kali ini, Bimo tidak datang sendirian. Di belakang Manajer Keuangan Senior itu, berdiri tiga orang pria berstelan jas hitam rapi dengan gestur tubuh yang sangat formal dan dingin. Pria yang berdiri paling depan membawa sebuah map dokumen tebal berwarna cokelat tua dengan segel resmi.
Reno mengerutkan dahi, raut wajah santainya mendadak terusik oleh kedatangan tamu tak diundang tersebut.
"Bimo! Kamu nggak punya sopan santun banget, ya? Masuk ke ruangan saya tanpa diizinkan!" tegur Reno dengan nada tinggi dan angkuh. "Dan siapa orang-orang ini?"
Pria berjas hitam di depan Bimo melangkah maju satu tapak. Ia mengeluarkan kartu identitas resminya dan memperlihatkannya pada Reno.
"Selamat pagi, Pak Reno Pratama. Saya Hendra Wijaya, Kepala Tim Hukum Finansial dari PT Cakrawala Capital," ujar pria itu dengan suara berat, tenang, namun memancarkan wibawa yang menekan.
Mendengar nama PT Cakrawala Capital, alis Reno bertaut. Nama holding investasi itu memang tertera di dokumen hukum penyertaan modal awal perusahaannya lima tahun lalu, namun selama bertahun-tahun nama itu hampir tak pernah terdengar aktif dalam operasional harian.
"Cakrawala Capital?" ulang Reno seraya terkekeh sinis. "Mau apa kalian ke sini? Saya tidak ada jadwal pertemuan dengan perwakilan holding hari ini."
"Kami datang bukan untuk membuat jadwal pertemuan biasa, Pak Reno," sahut Pak Hendra tanpa terpengaruh oleh nada meremehkan Reno. "Kami berada di sini untuk menyerahkan Surat Pemberitahuan Resmi penonaktifan fasilitas korporasi sekaligus pemanggilan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)."
Sella melipat tangannya di dada, melayangkan tatapan tajam pada Pak Hendra. "Hei, Pak! Kamu tahu sedang bicara sama siapa? Ini Reno Pratama, Pendiri dan Pemilik Tunggal Apex Media! Jangan sembarangan bicara soal penonaktifan di ruangannya sendiri!"
Pak Hendra menoleh sekilas pada Sella, menatap kalung berlian di leher wanita itu dengan tatapan menilai yang amat dingin, lalu kembali menatap Reno.
"Pemilik tunggal?" Pak Hendra tersenyum tipis—sebuah senyuman hukum yang sarat akan ironi. "Tampaknya ada kekeliruan pemahaman struktur hukum yang sangat fatal di kepala Anda, Pak Reno."
Pak Hendra meletakkan map cokelat tebal itu tepat di atas meja kerja Reno, di depan mata sang CEO.
"Berdasarkan Akta Penyertaan Modal No. 42 dan Sertifikat Kepemilikan Saham yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, PT Cakrawala Capital adalah pemegang saham mayoritas mutlak sebesar 60 persen atas PT Apex Media Nusantara," papar Pak Hendra dengan intonasi yang tegas dan tidak bisa diganggu gugat.
Reno tertawa keras, meski ada sedikit getaran canggung di ujung suaranya. "Hahaha! Jangan mengada-ada! Modal awal perusahaan ini dari uang pribadi istri saya, Nadia! Bukan dari perusahaan holding manapun! Jangan coba-coba memeras saya dengan sertifikat bodong!"
"Uang pribadi yang disetorkan oleh Nyonya Nadia Kirana lima tahun lalu... secara sah dan mengikat disalurkan melalui entitas PT Cakrawala Capital," potong Pak Hendra cepat.
Pak Hendra membuka lembar pertama dokumen di meja Reno, menunjuk pada kolom nama pemilik modal utama holding tersebut.
"Dan untuk informasi Anda, Pak Reno... pemilik tunggal, pendiri, sekaligus Chief Executive Officer dari PT Cakrawala Capital dengan kepemilikan saham 100 persen adalah Nyonya Nadia Kirana."
DEGG.
Ruangan mewah itu mendadak hening seketika. Suara pendingin udara seolah mati.
Wajah Reno yang tadinya memerah penuh kesombongan mendadak pucat pasi. Bibirnya menyunggingkan ketidakpercayaan, namun matanya yang membelalak menatap tulisan bercetak tebal di atas kertas resmi itu: Nadia Kirana - Pemilik Tunggal PT Cakrawala Capital.
"N-Nadia...?" gagap Reno, suaranya tercekat di tenggorokan. "Nggak... Nggak mungkin! Nadia cuma istri rumah tangga biasa! Dia nggak punya perusahaan holding!"
"Nyonya Nadia sengaja memberikan kepercayaan penuh kepada Anda untuk mengelola anak perusahaan ini selama lima tahun terakhir," lanjut Pak Hendra dengan nada dingin tanpa ampun. "Namun, berdasarkan hasil pemantauan sistem dan temuan tim audit independen kami pagi ini, telah ditemukan dugaan penggelapan kas korporasi dan penyalahgunaan wewenang yang sangat berat."
Pak Hendra memberikan sinyal pada asisten di sampingnya untuk menyerahkan lembaran faktur dan bukti transaksi.
"Hari ini, atas perintah langsung dari Pemegang Saham Mayoritas, PT Cakrawala Capital resmi memberlakukan tindakan penertiban hukum pertama:"
Pak Hendra membacakan poin-poin poin poin tindakan tegas tersebut satu per satu:
"Pertama, pembekuan seluruh kartu kredit korporat eksekutif atas nama Reno Pratama dan Sella Anindya efektif per detik ini."
"Kedua, pembatalan seluruh pengajuan alokasi dana khusus, termasuk pencairan DP mobil atas nama Maya Pratama dan renovasi ruang kerja Direktur Pemasaran."
"Ketiga, penyegelan sementara seluruh akses sistem keuangan korporasi hingga diadakannya RUPS Luar Biasa tiga hari dari sekarang."
Sella yang berdiri di samping Reno mendadak panik. Ia menyambar ponsel mewahnya, mencoba membuka aplikasi perbankan dan kartu kredit korporat yang baru saja dipakainya belanja tadi pagi. Layar ponselnya langsung menampilkan notifikasi merah bertuliskan: Transaction Declined - Account Blocked by Corporate Trustee.
"Reno! Kartu kredit aku nggak bisa dipakai! Ini maksudnya apa?!" jerit Sella dengan suara melengking panik, wajah cantiknya mendadak pudar dari pesona kemewahannya.
Reno berdiri mencengkeram tepi meja kerjanya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa percaya diri, angkuh, dan jumawa yang ia agung-agungkan selama bertahun-tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Dunia yang ia bangun dengan kebohongan egonya sendiri kini merosot tajam menuju jurang kehancuran.
"Gak bisa! Kalian gak bisa melakukan ini secara sepihak!" teriak Reno murka, mencoba menggertak. "Aku ini CEO Apex Media! Aku yang punya nama di perusahaan ini!"
Pak Hendra menatap Reno dengan pandangan prihatin yang amat dalam—sebuah tatapan dari seorang profesional hukum kepada pria yang baru saja menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pion di atas papan catur.
"Anda hanyalah Direktur Utama yang diangkat oleh pemegang saham mayoritas, Pak Reno," ujar Pak Hendra sinis. "Dan jika dalam RUPSLB tiga hari lagi Anda tidak bisa mempertanggungjawabkan penggelapan uang perusahaan sebesar satu miliar rupiah ini... Nyonya Nadia Kirana tidak hanya akan mencopot jabatan Anda secara tidak hormat, tetapi juga menyerahkan Anda langsung ke pihak kepolisian."
Pak Hendra merapikan jasnya, membalikkan badan, lalu melangkah menuju pintu keluar bersama timnya.
Sebelum melangkah keluar, Bimo sempat menengok ke arah Reno yang berdiri terpaku bagai patung dengan wajah pucat bagai mayat.
"Saya sudah peringatkan kamu berulang kali, Reno," bisik Bimo pelan dengan nada kasihan. "Kamu mengira Nadia adalah pelengkap... tanpa tahu seluruh kerajaan yang kamu banggakan ini berdiri di atas namanya."
Pintu ruang kerja CEO tertutup rapat dengan dentam halus.
Reno terduduk lemas di kursi mewahnya, matanya menatap kosong pada lembaran kertas di meja. Ringkasan bukti penggelapan kas dan nama Nadia Kirana sebagai pemilik mutlak seluruh asetnya terpampang nyata.
Di sebelahnya, Sella mulai panik dan mencecar pertanyaan demi pertanyaan, namun suara Sella terdengar mengalun kabur di telinga Reno.
Bait kata-kata terakhir Nadia sebelum pergi dari rumah tadi pagi kembali bergema menggelegar di dalam kepala Reno, menghantam jiwanya dengan telak:
“Saya keluar dari rumah ini tanpa menuntut hartamu... karena seluruh harta yang kamu banggakan itu, sebenarnya adalah milik saya.”
Nadiaa kamu kerennn🐦🔥
🌸🌸🌸🌸