Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Langsung saja Edwin menarik tangan Wilona menjauh dari Susan dan Zuraida.
"Lepaskan?," Wilona berontak dari pegangan Edwin. Edwin melepaskan tangan Wilona.
"Kamu yakin bayi itu milik Arfan?." Tanyanya menyelidik.
"Tentu saja ini bayiku dan Arfan." Tegas Wilona.
"Aku tidak mau main-main lagi Wilona. Benar itu bayimu dan Arfan atau justru bayi kita?."
Wilona menatap lekat wajah Edwin. Sebagian perasaannya masih menjadi milik pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Kalau itu bayi kita Wilona, kita menikah dan bangun rumah tangga. Berikan kasih sayang kita pada bayi kita Wilona. Aku sangat senang jika benar bayi itu bayiku Wilona." Edwin memegang kedua sisi wajah Wilona.
"Aku sangat mencintaimu dan Wilona, ayo kita menikah." Kata Edwin lagi.
Zuraida dan Susan saling pandang.
"Kamu sakit apa?," tanya Zuraida menatap wajah pucat Susan.
"Pencernaanku bermasalah."
"Aku temani ke dokter saja, biarkan Wilona bicara dengan pria itu."
Susan mengangguk, dia sudah kesakitan. Zuraida memapahnya. Kini mereka duduk di ruang tunggu untuk dipanggil dokter.
"Bagaimana perasaanmu saat ini Zuraida?."
Zuraida tersenyum.
"Aku mencoba untuk baik-baik saja."
"Pasti sulit menerima kenyataan Wilona mengandung anak Arfan."
"Kamu benar."
Kemudian Susan dipanggil ke ruangan dokter. Diperiksa lalu diresepkan obat.
"Udah sering kamu ke sini?."
"Iya, Zuraida. Aku berobat jalan saja. Aku takut kalau di operasi."
Zuraida mengantuk obat Susan lalu diberikannya pada Susan.
Edwin datang menghampiri keduanya.
"Udah selesai?," tanyanya pada Susan.
Susan hanya mengangguk.
"Terima kasih Zuraida."
"Sama-sama."
"Bisa kita bicara sebentar?." Tanya Edwin pada Zuraida.
"Bicara saja Zuraida. Aku bisa menunggu di sana." Kata Susan lalu berjalan sampai kursi lalu duduk.
Edwin dan Zuraida mencari tempat sepi untuk bicara.
"Mau bicara apa?."
"Aku belum ada bukti kalau bayi Wilona adalah milikku."
Wajah Zuraida menunjukkan keterkejutannya.
"Tapi aku merasa yakin kalau itu bayiku. Secepatnya aku akan cari tahu dokter kandungan yang memeriksa Wilona. Aku minta kamu dan Arfan jangan sampai berpisah karena kehamilan Wilona sampai kita benar-benar tahu milik siapa bayinya itu."
"Kenapa kamu begitu yakin?."
"Kita bukan anak kecil lagi. Hubungan aku dan Wilona sudah layaknya suami istri hanya tanpa status saja."
Cukup mengagetkan Zuraida tapi itu hidup orang lain bukan dirinya.
"Itu aja yang mau aku bicarakan."
"Baik."
Kemudian Zuraida pamit pada Susan dan Edwin.
"Wilona tak mengaku kalau itu bayiku."
"Bagaimana kalau memang bukan?."
Edwin terdiam. Bisa juga iya. Itu hanya perasaannya yang masih sangat mencintai Wilona.
"Aku akan memastikannya supaya aku bisa menentukan langkah aku ke depan."
Susan hanya mengangguk.
Susan kembali ke apartemen. Suaminya tidak ada di sana. Arfan harus pergi ke kantor karena urusan pekerjaan. Zuraida tersenyum membaca pesan suaminya di atas kasur. Pria itu memintanya tanpa busana saat pria itu tiba di apartemen nanti.
Suaminya itu sangat maniak.
Zuraida duduk di sofa, kembali ingat obrolannya dengan Edwin. Tapi bagaimana bisa? Orang Zuraida juga melihat video suaminya dan Wilona.
Seperti permintaan suaminya, Zuraida tanpa busana saat suaminya mengabari sedang dalam perjalanan ke apartemen. Wajah yang selalu polos kini dipoles tipis guna menyambut kepulangan suami tercinta.
Setelah ini Zuraida tidak tahu akan masa rumah tangganya bersama Arfan. Tapi ssst ini ia mau menghabiskan waktunya bersama pria itu.
Zuraida sudah berdiri tepat di depan pintu saat Arfan mengabari sudah di pintu.
Klik
Arfan membuka pintu dan...
Langsung saja menyerang istrinya dengan sebuah ciuman yang sangat hangat. Zuraida membalasnya, bahkan perempuan itu sangat agresif. Arfan mencurahkan segala perasaannya terhadap Zuraida. Mereka berakhir di tempat tidur.
"Nanti malam kita pulang ke rumah." Arfan mengelus punggung polos istrinya.
"Mas udah tahu orang tua mas udah pulang."
"Iya, aku membaca pesan mereka. Tapi aku belum mau bicara pada mereka."
"Karena saya."
"Bukan sayang. Terkadang orang tua juga melakukan kekeliruan. Nanti kita bicara pada Wilona."
"Mas mau bertanggung jawab padanya?."
"Kalau iya itu bayiku pasti aku tanggung jawab pada putraku tapi bukan dengan menikahi Wilona. Aku cinta mati sama kamu sayang."
"Saya cinta kamu juga mas."
*
Arfan dan Zuraida tiba di rumah. Sean dan Sena menyambut keduanya penuh antusias. Memeluk mereka silih berganti dengan luapan kegembiraan.
"Zuraida, aku rindu padamu." Kata Sena dalam pelukan Zuraida.
"Hanya Zuraida yang kamu rindukan Sena?." Tanya Arfan seakan ia cemburu.
"Daddy juga, aku rindu sama daddy."
Pelukan mereka terlerai. Zuraida langsung menemani Sean dan Sena ke kamar. Arfan ke kamar kemarin beberapa dokumen yang dibawa pulang.
Suara Arfan terdengar sama Wilona. Perempuan itu mencarinya sampai kamar.
"Aku senang kamu kembali Arfan." Wilona hendak memeluk pria itu namun Arfan segera menghindar. Perempuan itu memasang wajah sedih.
"Bayi kita mau memeluk daddynya." Rengeknya manja.
"Kita harus bicara." Kata Arfan.
"Iya kita memang harus bicara banyak tentang kita dan masa depan kita."
Arfan menggeleng.
"Kita tunggu istriku dulu."
"Kamu membawa Zuraida pulang ke rumah ini?." Tanya Wilona dengan wajah tidak suka.
"Tentu saja Wilona. Di mana ada aku di situ ada istriku. Lagi pula yang akan kita bicarakan harus ada Zuraida juga. Apa pun yang terjadi pada diriku Zuraida harus mengetahuinya."
Wilona terdiam kemudian Zuraida datang memasuki kamar. Perempuan itu tidak aneh lagi dengan sikap berani Wilona.
"Saya menganggu kalian nggak?," tanyanya santai.
"Nggak sayang, aku menunggumu."
"Cepat katakan Arfan Zuraida sudah ada bersama kita."
"Bayi yang di perut Wilona bukan milikku."
Zuraida dan Wilona sama-sama tercengang.
"Kamu bicara apa Arfan?," kemudian Wilona marah. Tentu saja tidak terima dengan pernyataan Arfan.
Namun Zuraida tetap tenang, diam mendengarkan. Belum bisa senang dengan pengakuan suaminya karena belum ada bukti.
"Aku sakit hati dengan kata-katamu Arfan." Kata Wilona lagi. Matanya sudah basah.
Kemudian Arfan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghubungi seseorang sembari menekan pengeras suara.
Wilona memicingkan mata saya tahu yang dihubungi Arfan adalah dokter sekaligus sahabatnya yang merupakan suami sahabatnya itu adalah klien dan teman dari Arfan juga.
"Ada apa Arfan?."
"Di hadapanku sekarang ada Wilona dan juga istriku. Tolong kau berkata jujur pada kami, apa benar aku ayah dari bayi yang dikandung Wilona saat ini?."
"Kenapa kau bertanya padaku Arfan?."
"Karena aku tahu kamu dokter kandungan Wilona untuk bayinya yang sekarang. Berbeda dengan Sena dan Sean dulu di mana aku mengetahui detail setiap laporan kedua anak kembarku. Jadi aku minta kamu bicara jika tidak mau hubungan kerjaku dan suamimu berantakan karena satu kesalahan."
"Arfan aku mohon," Wilona menangis memegangi tangan Arfan.
"Aku benar-benar mengandung anakmu, tolong percaya padaku." Katanya lagi.
"Apa benar itu anakku."
Bersambung