Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?
Ketemu lagi setelah lima tahun?
Sekarang dia menjadi bos di tempat kerjaku, apa-apaan coba?
Tuhan memang suka bercanda.
Aku Aisyaha Alexandria Maharmita dan inilah kisahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Diam-Diam
Air mata Syaha tak mau berhenti mengalir meskipun panggilan telpon Anna sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Lagi-lagi ingatan di Venice memenuhi kepala Syaha. Love in Venice or Sad in Venice?
Isakan tangis telah berubah menjadi dengkuran halus. Syaha tertidur di sofa setelah lelah menangis.
Ceklek
Pintu apartement Syaha terbuka. Diambang pintu seorang pria dewasa dengan tubuh tegapnya mengamati keadaan dengan mata elangnya.
Gelap.
Tangan pria itu menekan tombol lampu. Matanya mengerjap beberapa kali. Mencari sesuatu yang menjadi tujuannya kemari.
Itu dia.. Gumamnya pelan. Dengan langkah lebar pria itu mendekati objek yang dia cari. Wanitanya, kekasihnya, istrinya.
Ray tak bisa menahan senyumnya ketika memandang wajah ayu Syaha. Tak pernah berubah. Tetap cantik seperti lima tahun lalu.
"Sayang.." Suara Ray lirih. Tangannya mengelus pipi mulus Syaha.
Dengan gerakan yang pelan sekali dan hati-hati, Ray meraih tubuh Syaha dalam gendongannya. Kepala Syaha terbenam dalam pelukannya.
Langkah kaki Ray bergerak dengan hati-hati, dia takut membangunkan Syaha.
Di luar pintu sudah menunggu tiga asistennya.
"Tuan anda sudah kembali?" Tanya salah satu dari mereka.
"Apakah pesawatnya sudah siap?" Tanya Ray.
"Sudah Tuan.."
"Kita berangkat sekarang.."
"Baik Tuan.."
-----
Rasa kantuk menempel erat di kelopak mata Syaha. Rasanya enggan untuk membuka mata. Tapi gesekan kulit yang terasa dingin memaksa matanya untuk terbuka.
Langit-langit dengan lampu gantung kristal memendarkan cahaya silau menjadi pemandangan pertamanya. Setahu dia, apartment miliknya tak memiliki lampu klasik seindah itu. Langit-langit kamarnya juga berwarna putih polos bukan kuning keemasan.
Sentuhan kulit dingin tadi terasa lagi. Mata Syaha yang masih berkabut menoleh kearah asal sentuhan.
Wajah nan tampan rupawan dengan dada yang telanjang tertidur pulas di sebelahnya. Dengkuran halus terdengar jelas. Tangan pemilik wajah nan tampan itu melingkar erat di perutnya.
"Mas Ray apakah ini nyata?"
Syaha membelai pelan pipi Ray. Tangannya merapikan anak rambut yang menutupi dahi dan mata Ray. Wajah putih yang sempurna. Bola mata biru dengan bulu matanya yang panjang menyentuh pipinya. Ketampanan yang paripurnah.
Ketika tangan Syaha membelai bibir merah yang menggoda itu, sang pemilik bibir membuka matanya.
Syaha terkesiap. Tubuh yang memeluknya dengan dada telanjang itu nyata. Bukan hanya mimpinya.
"Mas Ray!" Teriak Syaha dengan suara parau. Tangannya mendorong tubuh Ray menjauh.
Seperti disiran air ketika tidur. Mata Ray terbelalak karena kaget.
"Arrrghh.. Ada apa Ais?" Tanya Ray mencoba untuk sadar.
"Apa yang kamu lakukan di apartementku?" Suara Syaha melengking.
"Pelan-pelan.. suaramu membuat telingaku sakit.." Ray menutup salah satu telinganya dengan tangan. Kesadaran yang masih loading ditambah suara teriakan Syaha, membuat kepala Ray sakit.
"Ka.. kamu.. kapan kamu masuk kesini?" Ulang Syaha.
"Hei ini dirumahku.." Jawab Ray yang telah berhasil mengumpulkan nyawanya.
"Hah? Apa?!!" Mata Syaha melotot. Suaranya lebih tinggi.
"Jangan teriak-teriak. Sekali lagi teriak aku cium kamu.."
Mata Syaha membulat sempurna. Dia tidak takut dengan ancaman Ray, namun dia tak menyangka ancaman itu yang keluar dari mulut Ray.
Melihat kediaman Syaha, muncul ide untuk menggoda Syaha.
"Ais mau mandi bareng Mas Ray?" Senyum jahil Ray terbit.
"Hah?" Mulut Syaha terbuka lebar.
"Sarapan mungkin sudah dihidangkan. Tentunya kita harus segera turun untuk makan pagi.. Ais mau makan dengan wajah seperti itu?" Ray terkekeh. Melihat rambut Syaha yang acak-acakan dan wajah tanpa makeup Ray gemas. Wajah itu lah yang dia rindukan setiap pagi lima tahun lamanya.
Ray sangay menyesali kebodohannya lima tahun lalu.
"Dasar mesum... aku tidak mau dekat-dekat kamu.." Syaha melemparkan bantal ke arah Ray namun gagal. Ray berhasil menepis serangan Syaha.
"Mas Ray aja yang dekat-dekat Ais.. kalau Ais ga mau.." Ucap Ray seraya bangkit dari ranjang.
"Mandilah.. Mas Ray tunggu di bawah. Mas akan mandi di kamar sebelah.." Ray melangkah mendekati pintu.
"Tunggu.." Cegah Syaha
Ray menoleh.
"Dimana ini?" Tanya Syaha polos.
"Di rumahku.."
"Tapi seingatku rumahmu tidak seperti ini.." Mata Syaha mengamati keadaan sekitar.
"Rumahku di London.." Jawab Ray.
"Hah? London? Bagaimana kamu membawaku kesini? Naik pesawat? Kenapa aku tidak terasa? Aku biasanya peka terhadap suara atau gerakan kecil.." Racau Syaha. Dia tak habis pikir bagaimana caranya Ray membawanya ke London. Tidak mungkin lewat teleportasi. Pasti mereka ke London menggunakan pesawat kan? Tapi Syaha sama sekali tak bangun karena guncangan di dalam pesawat. Tidak. Otak Syaha tak bisa bekerja.
"Karena kamu sangat nyaman tidur dalam pelukanku sayang.." Senyum Ray mengembang. Memang itu kenyataannya.
"Tidak mungkin!" Syaha protes keras.
"Mandilah.. baju ganti sudah disiapkan di lemari dekat kamar mandi. Aku membawamu kemari buru-buru. Jadi aku tidak membawa barangmu satupun.." Jelas Ray menunjuk salah satu pintu di ujung ruangan.
"Kali ini aku tidak dilayani untuk mandi kan?"
Syaha ingat terakhir kali dia berada di rumah Ray di Jakarta. Selama tiga hari itu Syaha selalu dilayani, dari hal remeh hingga hal penting.
"Tidak. Aku sudah mengatakan kepada semua pelayan untuk tidak baik ke atas sampai kita turun.. aku akan menunggumu di bawah.."
Berasambung...