Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: (FLASHBACK) CAPEK !
Hari Sabtu, yang harusnya jadi hari libur buat leyeh-leyeh, justru diwarnai pengumuman penting yang mengharuskan Dimas tetap harus berangkat ke sekolah jam sembilan pagi.
Dimas yang matanya masih lengket karena mengantuk melirik jam dinding di kamarnya.
Pukul 07.00 pagi.
Masih pagi... batinnya sambil menguap lebar. Enaknya ngapain ya sebelum siap-siap?
Hmm... oh iya, jalan-jalan santai aja deh sebentar.
Tanpa buang waktu, Dimas bergegas masuk ke kamar mandi dan membasuh mukanya agar kesadarannya terkumpul. Seusai menyegarkan diri, ia melangkah ke garasi, mengambil sepedanya, berniat menikmati udara pagi mengelilingi kota kecilnya yang asri.
Sebelum mengayuh pedal, Dimas menyempatkan diri berpamitan ke dalam rumah.
"Kak! Aku jalan-jalan naik sepeda dulu ya!" teriaknya.
"Iya, jangan lupa balik lagi buat sarapan!" balas kakaknya dari dapur.
"Siap!"
Dimas mulai menaiki sadel dan mengayuh sepedanya keluar halaman. Di sepanjang perjalanan, ia menikmati langit pagi yang membentang biru cerah, sambil melempar senyum dan sapaan akrab ke beberapa tetangga yang berpapasan dengannya.
"Halo, Pak!" sapa Dimas ramah.
"Halo, pagi, Dimas! Hati-hati di jalan!" balas bapak paruh baya itu.
"Ya, Pak!"
Saat asyik mengayuh santai dan mengedarkan pandangan ke sisi kiri jalan, netranya menangkap sosok familiar yang sedang duduk jongkok di pinggir sungai kecil. Itu Agus, teman sebayanya, yang sedang serius memegang joran pancing.
Dimas lantas menghentikan laju sepedanya, memarkirkannya di pohon terdekat, lalu menguncinya. Ia berjalan menghampiri Agus yang tampak tegang menunggui pelampung.
"Oi, lagi mancing nih? Emang udah dapat berapa ikan?" tanya Dimas usil sambil melongok ke dalam ember kosong di sebelah Agus.
Agus menoleh sekilas, lalu menghela napas panjang. "Oh, lu, Dim. Belum dapat apa-apa nih, dari tadi zonk mulu."
Dimas tertawa kecil. "Yaa... elu-nya aja yang emang gak jago."
Agus mendengus tak terima. "Eleh, sok tahu banget. Emangnya lu jagoan mancing?"
Dimas mengangkat kedua tangannya membela diri. "Eh, jangan serius gitu lah, kan cuma bercanda dikit."
"Iye-iye, serah lu deh," gerutu Agus.
Namun, tepat di ujung percakapan itu, permukaan air sungai mendadak riuh. Pelampung Agus tersentak ke bawah dengan kuat, menandakan ada ikan besar yang menyambar umpan.
Mata Agus langsung melotot kaget. "Eh, anjir!"
"Wih, dapet tuh!" seru Dimas ikut panik sekaligus bersemangat. "Ayo! Tarik, Gus! Jangan sampe lepas!"
Ikan itu melompat ke udara karena tarikan kuat Agus. Tanpa buang waktu, Agus buru-buru menyambar ember di dekatnya untuk menampung tangkapan tersebut.
"Wih, lumayan gede juga! Enak tuh kalau dimasak jadi ikan bakar!" puji Dimas berbinar.
"Pakai nanya, jelas enaklah," jawab Agus bangga sambil melepaskan kail dari mulut ikan. "Btw, lu sendiri gak ada kegiatan, kah? Kayak PR atau bimbingan gitu? Kalau gue sih bebas, soalnya gue kan putus sekolah."
Dimas terdiam sejenak, lalu melirik jam tangannya. "Hmm... ya, sebenarnya ada sih, jam 9 nanti. Cuma ini kan masih jam setengah delapan, jadi masih lama."
"Ohh, kalau gitu daripada gabut, lu mau ikut mancing?" tawaran Agus sambil menyodorkan joran cadangan.
"Wih, boleh nih?"
"Ya boleh, asal jangan becanda mulu kayak tadi."
"Amanlah, gampang itu!"
Agus mulai menggeser duduknya ke kiri, memberi ruang, dan Dimas langsung mengambil alih joran pancing.
"Jadi... gimana cara nungguinnya biar dapet?" tanya Dimas penasaran.
"Tuh, perhatiin pelampungnya. Kalau gerak-gerak jangan langsung ditarik kenceng, pelan-pelan aja ditarik ulur biar ikannya kehabisan tenaga dan gak lepas," jelas Agus telaten.
"Ohh, ok, paham."
Mereka pun kembali fokus menunggu sambaran ikan di bawah teriknya matahari pagi, sampai-sampai rasa bosan mulai merayap pelan.
Kring! Kring!
Suara alarm dari ponsel Dimas mendadak berdering nyaring, memecah keheningan sungai.
Dimas seketika melompat berdiri, matanya melebar saat melirik layar ponsel. "Wah, gawat! Udah jam delapan lewat!"
Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari kecil menuju sepedanya. Duh, semoga gak telat sampai sekolah! batinnya panik.
Sesampainya di rumah, Dimas bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan diri seadanya, lalu menyambar sepotong roti tawar untuk mengganjal perut. Karena menyadari waktunya benar-benar mepet, ia memutuskan untuk meninggalkan sepedanya dan beralih menggunakan motor.
Tak butuh waktu lama, Dimas sudah tiba di area sekolah. Ia buru-buru memarkirkan motornya di tempat biasa, lalu berjalan cepat menyusuri koridor menuju ruang guru untuk menemui Pak Taryo.
Begitu sampai di depan pintu, ia langsung mengetuk dan melangkah masuk.
"Hmm... Pak, kenapa saya harus disuruh berangkat hari libur begini?" tanya Dimas dengan napas sedikit tersengal.
Pak Taryo tersenyum tipis, lalu menyodorkan secarik kertas putih di atas meja. "Oh, ini, Bapak cuma mau memberikan kertas ini ke kamu."
Dimas mengernyit bingung. "Kertas apa, Pak?"
"Coba dilihat sendiri."
Dimas meraih kertas itu, membukanya, dan seketika matanya terbelalak tak percaya.
"WIH, ranking 7?!" teriaknya histeris.
Pak Taryo mengangguk tenang. "Iya, selamat ya, Dimas."
"Wah, makasih banyak, Pak!"
"Jangan berterima kasih pada Bapak. Berterima kasihlah pada diri sendiri yang sudah mau berusaha keras, dan kepada Tuhan," pesan Pak Taryo bijak.
"Iya, Pak!"
Dimas kembali melirik kertas nilai di tangannya dengan senyum yang tidak bisa dikontrol. "Jadi... gak ada kelas tambahan, kan, Pak?"
"Gak ada. Bapak cuma mau ngasih itu saja, jadi gak masalah kalau kamu agak telat tadi, toh ini hari libur."
"Ohh, gitu... yaudah kalau gitu gue pergi dulu ya, Pak!"
"Siap!"
Keluar dari ruang guru, Dimas langsung melompat-lompat kegirangan di sepanjang koridor. Rangking 7! Ini adalah pencapaian akademik terbaiknya seumur hidup.
Syukurlah, ternyata usahaku selama ini gak sia-sia... batinnya penuh rasa syukur. Haa... yaudah lah, daripada diem terus di depan gerbang gini, mending gue balik ke parkiran.
Dimas berjalan santai menuju tempat motornya terparkir. Begitu sampai, ia langsung mengenakan helm, menstarter mesin, dan tancap gas membelah jalanan pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga.
Beberapa menit berlalu setelah urusan sekolah yang mendebarkan itu selesai, kini Dimas sudah kembali santai di kamarnya, merebahkan diri sambil memegang ponsel untuk bermain game favoritnya.
"Oi, tembaklah musuhnya! Jangan malah diem aja!" seru Dimas kesal sambil menyalakan mikrofon in-game-nya.
Ia mendengus pelan saat karakter timnya tumbang begitu saja. "Duh... ternyata masih ada yang lebih bot dari pada gue..."
Dimas menggelengkan kepala pelan. "Haa... nanti deh, kapan-kapan gue mau minta tips jago main ini sama Raka."
Jempolnya bergerak menutup aplikasi game. "Untuk sekarang, perut gue keroncongan juga. Mending gue cari makan siang dulu."
Dimas melangkah gontai menuju dapur dengan perut yang sudah berkeroncongan hebat. Namun, setibanya di sana, meja makan tampak kosong melompong tanpa ada satupun tudung saji penutup makanan. Tidak ada aroma masakan sama sekali. Yang ada di atas meja hanya selembar kertas catatan kecil di samping beberapa lembar uang kertas.
Dengan rasa penasaran bercampur lelah, Dimas mendekat dan membaca tulisan tangan sang kakak di kertas itu.
“Untuk adikku tercinta, ini Kakak ada duit buatmu. Pakai buat makan siang ya, Kakak ada urusan pekerjaan mendadak jadi gak bisa buatkan kamu makanan di rumah. - Dari kakak tersayangmu.”
Dimas tertegun sejenak menatap tulisan tersebut. Senyum tipis yang hangat perlahan terbit di bibirnya.
Haa... Kakak... batinnya penuh rasa haru. Semoga urusan kerjaanmu lancar dan kamu baik-baik saja di sana.
Dimas mengambil uang pemberian kakaknya dari atas meja, menyelipkannya ke saku celana, lalu memutuskan kembali keluar rumah. Mengingat motornya baru saja dipakai tadi, kali ini ia memilih menaiki sepedanya kembali untuk berkeliling mencari warung makan terdekat.
Tak butuh waktu lama, ia menemukan sebuah warteg sederhana yang tampak bersih di pinggir jalan. Dimas memarkirkan sepedanya di depan warung, lalu melangkah masuk dan langsung menghampiri etalase kaca yang penuh dengan berbagai lauk pauk menggugah selera.
"Pak, pesan rendangnya satu ya," ujar Dimas kepada penjaga warung.
"Baik, Nak. Mau dibungkus atau makan di sini?" tanya bapak pemilik warung ramah.
"Makan di sini aja, Pak."
"Baik, silakan duduk dulu, tunggu sebentar ya, Ibu ambilkan nasinya."
"Iya, Pak. Terima kasih," balas Dimas sopan, lalu berjalan mencari kursi kosong di sudut warung sambil menunggu makanannya disajikan.
Ditemani kepulan asap tipis dari piring nasi hangat di hadapannya dan aroma rendang yang menggugah selera, Dimas menatap ke luar jendela warteg. Hiruk-pikuk kendaraan yang lalu-lalang di jalanan seolah berputar lambat di matanya. Hari ini benar-benar melelahkan sekaligus penuh kejutan—dari pagi yang diisi dengan insiden mancing bersama Agus, kejutan tak terduga berupa rangking 7 dari Pak Taryo, hingga catatan kecil penuh perhatian dari sang kakak di rumah yang kosong.
Ia menyuap sesendok makanan ke dalam mulutnya, merasakan kombinasi rasa gurih bumbu rendang dan kelegaan yang perlahan menghangat di dada. Selama ini ia selalu merasa tertinggal, selalu merasa gagal dan diabaikan. Namun, di penghujung hari yang panjang dan melelahkan ini, Dimas akhirnya sadar bahwa roda kehidupan memang berputar. Lelah yang ia rasakan hari ini terbayar lunas oleh senyum bangga orang-orang di sekitarnya dan bukti nyata bahwa usahanya tidak pernah sia-sia.
Hari ini capek banget, batin Dimas sambil tersenyum kecil menatap langit sore yang mulai jingga. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bangga sama diriku sendiri.