Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karpet Darah
Di dalam ruang chat, sebuah pesan tergeletak diam di sana.
【Kalau sudah bangun, balas pesanku.】
【Aku sudah bangun.】
Tak lama kemudian, layar ponsel kembali menyala dengan cahaya yang menyilaukan.
Silvia menundukkan kepala dan kembali melihat pesan yang baru masuk di layar.
Begitu membaca pesan tersebut, wajahnya yang semula datar seketika dipenuhi senyuman.
Minnie yang kebetulan melihat senyum di wajah Silvia langsung tertarik, “Nelia bilang apa?”
Silvia menekan layar beberapa kali, lalu mengangkat kepalanya dan menatap bulan terang di langit, “Dia lagi ngambek. Katanya, setelah aku pulang nanti, nggak akan mudah membuatnya baikan kalau belum memberinya sepuluh kue stroberi.”
“Hahaha!” Minnie menepuk-nepuk setir dengan kedua tangannya sambil tertawa, “Kalau begitu, nanti aku bantu kamu membelikannya lima.”
Senyum tipis masih menghiasi wajah Silvia. Ia mematikan layar ponselnya.
“Kita hampir sampai.” Tatapan Minnie tetap lurus ke depan.
Mendengar suara Minnie, Silvia mengangkat pandangannya dan melihat ke arah depan.
Di tengah gelapnya malam, perlahan muncul sebuah tembok tinggi yang menjulang. Tembok itu berdiri kokoh menjulang dari tanah, diam-diam memisahkan dunia di dalam dan di luar tembok.
Mobil off-road berhenti tepat di depan gerbang.
Minnie menurunkan kaca jendela dan menjulurkan kepalanya keluar.
Penjaga yang berada di barisan paling depan menggenggam senapan panjang di tangannya. Begitu melihat Minnie, wajahnya seketika berubah menjadi penuh hormat dan senyum menjilat, “Wakil Ketua, Anda sudah kembali.”
Tiba-tiba, penjaga terdepan itu mengangkat tangan dan menyentuh earpiece di telinganya, ekspresinya seketika berubah.
Senjata di tangannya sedikit bergoyang, sementara tatapannya sesekali melirik perempuan yang duduk di samping Minnie. Ia mengangkat pandangan kepada bawahannya yang berdiri di belakang, “Ikatkan perempuan itu.”
Minnie mengernyitkan kening. Ia mengambil pistol dari sakunya dan langsung menodongkannya ke kepala pemimpin penjaga, “Katakan pada Ryan untuk berhenti membuat masalah seperti ini. Kalau tidak, aku nggak menjamin berapa banyak orang yang masih akan berdiri di malam ini.”
“Lepaskan dia.” Suara Ryan terdengar dari alat komunikasi.
Beberapa penjaga saling berpandangan.
“Brongg—!”
Di balik tembok, cahaya lampu terlihat sedikit redup.
Minnie perlahan mengemudikan mobil masuk ke dalam area yang dikelilingi tembok. Di sekeliling mereka, tampak barisan orang yang begitu padat, semuanya mengenakan pakaian tempur berwarna hitam.
“Nggak perlu takut.” Minnie menggenggam kemudi lebih erat. Suaranya terdengar sangat lembut, “Mereka semua dilatih langsung olehnya.”
Ia terdiam sejenak, warna matanya perlahan menjadi lebih gelap, “Jadi, setidaknya di tempat ini, nggak akan ada yang berani menyentuhmu.”
Silvia memeluk ponselnya di depan dada, matanya tertuju pada barisan orang yang berdiri rapi menghadang jalan mereka.
Minnie menatap pria yang berdiri tepat di tengah barisan itu cukup lama sebelum akhirnya mengertakkan gigi dan berkata, “Turun. Nanti berdiri di belakangku.”
Minnie turun lebih dulu dan berdiri tepat di hadapan pria tersebut.
Silvia berdiri sedikit di belakang Minnie, tatapannya tetap tenang saat menatap pria itu.
“Wakil Ketua.”
Tatapan dingin pria itu tertuju pada Silvia. Tanpa sadar, Silvia bergeser sedikit lebih jauh ke belakang Minnie.
“Ryan.” Nada suara Minnie terdengar sangat dingin. Tatapannya tajam menyapu beberapa pria yang berdiri di samping Ryan, terutama medali yang tergantung di dada mereka.
Pada akhirnya, pandangannya kembali jatuh pada Ryan, “Di mana Adrian?”
Ryan tetap tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya masih tertuju pada Silvia, mengamatinya dari atas sampai bawah beberapa kali.
Minnie melangkah maju dan sepenuhnya menutupi Silvia dengan tubuhnya. Ia kembali berbicara, kali ini dengan suara yang jauh lebih rendah, “Ryan, aku tanya sekali lagi. Di mana Adrian?”
Barulah tatapan Ryan beralih kepada Minnie. Ia bergeser ke samping dan membuka jalan yang cukup lebar bagi mereka untuk lewat.
Minnie meraih telapak tangan Silvia yang terasa agak dingin di belakangnya, lalu menggandengnya melewati beberapa orang tersebut.
Di dalam kompleks kediaman, cahaya lampu terlihat begitu terang.
Kontras dengan kegelapan pekat di luar, begitu memasuki kediaman itu, Silvia tanpa sadar sedikit memejamkan matanya.
Namun, saat Silvia melangkah masuk ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di atas karpet, Adrian terlihat meringkuk dengan keadaan berantakan, kedua matanya tertutup kain.
Pakainnya sudah sepenuhnya basah oleh darah, aroma amis darah yang samar memenuhi udara.
Ekspresi Minnie seketika berubah. Ia langsung melepaskan tangan Silvia dan berlutut di sisi Adrian. Keningnya berkerut dalam, “Adrian... Adrian.”