NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RACUN BERKEDOK MADU

Kurungan Istana Dingin adalah tempat di mana waktu seolah berhenti, menyisakan keheningan yang perlahan-lahan mengikis kewarasan.

Di sanalah Shen Meili kini menghabiskan harinya, terjebak di antara dinding-dinding batu yang berlumut, jauh dari kemewahan sutra merah dan tusuk konde emas yang dulu di agungkannya.

Sebaliknya, bagi Gu Rulan, setiap hari di ibu kota adalah panggung kemenangan.

Setelah insiden di Perjamuan Agung, posisinya sebagai putri bangsawan dari wilayah barat kian tak tergoyahkan. Setiap faksi di istana berlomba-lomba mengirimkan hadiah, mencoba mendekati teratai salju misterius yang membawa kunci kekayaan perdagangan barat. Namun, tidak ada yang lebih gigih daripada Li Feng.

Siang itu, di Paviliun Rembulan kompleks kediaman Gu, aroma harum teh krisan menguar lembut. Rulan duduk di balik tirai tipis, jemarinya bergerak lincah di atas senar kecapi, melantunkan nada yang terdengar sedih namun memikat.

Di seberang tirai, Li Feng mendengarkan dengan tatapan yang dipenuhi pemujaan dan ambisi gila. Baginya, penundaan pernikahannya dengan Shen Meili bukanlah musibah, melainkan berkah tersembunyi. Kini, jalannya untuk mendapatkan Rulan dan seluruh jaringan bisnis barat terbuka lebar tanpa ada gangguan dari Putri Ketiga yang pencemburu.

"Nona Rulan," panggil Li Feng lembut begitu petikan kecapi terakhir memudar. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap siluet Rulan di balik tirai. "Kontrak kerja sama mengenai hak monopoli kavaleri di Lembah Tengkorak telah resmi diverifikasi oleh Kementerian Keuangan pagi ini. Dengan ini, aliansi kita telah sah secara hukum."

Rulan menyibak tirai sutra dengan gerakan anggun, memperlihatkan wajah porselennya yang dihiasi senyuman manis yang mematikan.

"Jenderal Li begitu efisien dalam bertindak. Keluarga Gu merasa sangat beruntung memiliki pelindung sehebat Anda di ibu kota ini."

Li Feng tertawa bangga, hatinya membubung tinggi. "Ini baru permulaan, Rulan. Pasukan berkudaku akan segera berangkat ke barat minggu depan untuk menjemput tiga ribu kuda perang pertama kita. Begitu kavaleri ini terbentuk, posisiku di militer akan mutlak. Tidak akan ada yang bisa menandingiku, bahkan Perdana Menteri sekalipun."

Pria itu kemudian menurunkan suaranya, matanya berkilat penuh gairah serakah. "Dan jika... jika Nona Rulan bersedia, setelah semua ini stabil, aku ingin memohon kepada Yang Mulia Kaisar untuk menganugerahkan pernikahan di antara kita.

Kau jauh lebih layak menjadi pendamping seorang panglima daripada wanita mana pun di kekaisaran ini."

Mendengar lamaran tersebut, jantung Rulan berdesir bukan karena cinta, melainkan karena rasa kepuasan yang luar biasa pekat. Pria ini, yang dulu membuangnya ke dasar jurang demi kekuasaan, kini dengan sukarela menyerahkan seluruh masa depan dan kesetiaannya demi ilusi kekuasaan yang ia tawarkan.

"Jenderal Li... kata-kata Anda begitu mengejutkan bagi pelayan rendah ini," Rulan menundukkan kepala, berpura-pura malu seraya menyembunyikan kilat kejam di matanya.

"Namun, saya mempercayai visi Anda. Pergilah ke barat, jemputlah kejayaan Anda. Aku akan menunggu kepulangan Anda di ibu kota dengan kontrak kerja sama yang lebih besar."

Li Feng berdiri, membungkuk hormat dengan binar kemenangan yang seolah-olah dunia sudah berada di dalam genggamannya. Ia segera berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa, berniat mempersiapkan keberangkatan pasukannya ke wilayah barat secepat mungkin.

Begitu sosok Li Feng menghilang dari pandangan, senyuman manis di wajah Rulan langsung menguap, digantikan oleh ekspresi sedingin es. Ia mengambil cangkir teh bekas Li Feng, lalu menuangkan isinya ke tanah dengan pandangan jijik.

"Nona, semua berjalan sesuai rencana," Xiaoyu tiba-tiba muncul dari balik pilar, memegang sebuah gulungan kertas kecil. "Pasukan kavaleri inti keluarga Li, berjumlah lima ribu prajurit terbaik, akan bergerak menuju Lembah Tengkorak minggu depan. Mereka sepenuhnya berjalan menuju perangkap."

"Bagus," Rulan berdiri ia berjalan menuju tepi balkon. "Lembah Tengkorak akan menjadi makam bagi ambisi Li Feng. Begitu pasukannya dihancurkan oleh Pasukan Bayangan, dia tidak akan memiliki apa-apa lagi untuk mempertahankan posisinya di istana."

Tepat pada saat itu, embusan angin kencang meniup dedaunan di halaman, membawa hawa dingin yang mendadak mencekam. Suara langkah kaki yang sangat ringan terdengar dari arah dalam ruangan.

Rulan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma dupa kayu cendana hitam yang khas langsung memenuhi udara.

"Kau melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik, teratai kecilku," sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa terdengar di dekat telinganya. Long Junwei berdiri di belakangnya, jubah hitam bersulam naga peraknya berkibar pelan ditiup angin.

"Semua ini berkat dukungan dan jaringan informasi Anda, Yang Mulia," jawab Rulan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit sore yang mulai menggelap. "Li Feng telah menelan umpan itu bulat-bulat. Pekan depan, sayap militernya akan patah."

Namun, Long Junwei tidak memberikan respons yang biasa. Pria itu terdiam sejenak, menatap profil samping wajah Rulan dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Perlahan, Junwei mengangkat tangan kanannya, jemarinya yang kokoh menyentuh helai rambut Rulan yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu.

Sentuhan tiba-tiba itu membuat Rulan sedikit tersentak. Ia menoleh, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik sang Pangeran Bayangan.

Selama setengah tahun ini, hubungan mereka murni didasari oleh keuntungan politik dan balas dendam. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Long Junwei.

"Aku menyelamatkanmu karena ingin menjadikannmu senjata, Gu Rulan," bisik Junwei, langkahnya maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka hingga Rulan bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu di tengah angin sore yang dingin. "

Namun, melihatmu bergerak dengan begitu anggun menghancurkan musuh-musuhmu... aku mulai berpikir bahwa menempatkanmu di dalam istana Han sebagai bidak sementara adalah sebuah pemborosan."

Alis Rulan bertaut sedikit, rasa waspada mendadak bangkit di dalam dirinya. "Apa maksud Anda, Yang Mulia? Bukankah kesepakatan kita adalah meruntuhkan istana ini bersama-sama?"

Long Junwei tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang sarat akan dominasi.

"Kesepakatan itu tidak berubah. Istana Han akan runtuh. Namun, setelah istana itu hancur... aku tidak berniat membiarkanmu pergi atau menjadi milik orang lain. Aku ingin kau berdiri di sampingku, di atas tahta yang baru."

Jantung Rulan berdegup lebih cepat, bukan karena terpesona, melainkan karena ia menyadari satu hal. Long Junwei adalah serigala yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya daripada Li Feng. Menjadi sekutunya berarti berjalan di tepi jurang yang siap menelannya kapan saja.

Sebelum Rulan sempat membalas ucapan Junwei, dari arah koridor bawah, seorang pengawal bayangan berlari tergesa-gesa dengan wajah pucat pasi. Pengawal itu langsung berlutut di bawah balkon, napasnya tersengal-sengal.

"Melapor... Melapor, Yang Mulia Pangeran, Nona Gu!" seru pengawal itu dengan suara bergetar hebat.

"Katakan," perintah Junwei dingin, matanya beralih dari Rulan ke pengawal tersebut.

"Mata-mata kita di Istana Dingin baru saja mengirimkan pesan mendesak. S-Shen Meili... Putri Ketiga, telah melarikan diri dari kurungan dua jam yang lalu dengan bantuan faksi rahasia Perdana Menteri!"

Rulan tertegun. "Melarikan diri? Penjagaan Istana Dingin begitu ketat, bagaimana mungkin dia bisa keluar tanpa memicu alarm?"

"Bukan itu saja, Nona!" pengawal itu menelan ludah dengan susah payah, wajahnya dipenuhi ketakutan yang amat sangat. "

Sebelum melarikan diri, Shen Meili meninggalkan sebuah pesan tertulis di dinding selnya yang ditulis dengan darah. Pesan itu mengatakan... dia telah mengetahui identitas asli Gu Rulan yang sebenarnya adalah Shen Xianle, dan dia saat ini sedang bergerak menuju kediaman Jenderal Li untuk menyerahkan bukti hidup dari Paviliun Anggrek!"

Mendengar laporan itu, atmosfer di balkon seketika membeku.

Rahasia terbesar Rulan identitas aslinya yang merupakan fondasi dari seluruh rencana balas dendam ini telah bocor ke tangan musuh bebuyutannya yang kini sedang berada dalam kondisi frustrasi gila.

Jika Li Feng mengetahui bahwa "Gu Rulan" yang ia puja dan ia serahkan seluruh rahasia militernya adalah Shen Xianle yang pernah ia bunuh, maka seluruh rencana kavaleri di Lembah Tengkorak akan berbalik menjadi bumerang yang akan menghancurkan Rulan dan Kediaman Bayangan malam ini juga.

Rulan mencengkeram pembatas balkon dengan erat, matanya melebar saat menatap hamparan ibu kota yang mulai diselimuti kegelapan malam.

 Angin malam menderu kasar, meniup tirai-tirai sutra di sekeliling mereka, menandakan bahwa badai yang sesungguhnya... baru saja dimulai.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!