Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN TIGA PULUH TIGA
SATU HARI SEBELUM UJIAN SEMESTER GANJIL
Malam ini terlihat dari jendela kamar langit sedang turun hujan yang lumayan deras. Sambil membaca buku pelajaran sesekali Langit melanjutkan tulisan pada laptopnya dengan ditemani secangkir cokelat hangat.
"Sruppttt....." suara Langit menyeruput coklat hangat di cangkirnya.
"Belajar dulu dah, kelar baru lanjut nulis lagi, untung aja besok ujian pertama matematika sama Bahasa Inggris , jadi cuma paling latihan soal-soal aja kali ya" ucap Langit pada dirinya sendiri.
Langit terlihat serius membaca-baca buku matematikanya dan sesekali mencoba rumus-rumus dengan soal yang dibuatnya sendiri di sebuah kertas kosong. Berkali-kali Langit mengulang soal-soal yang dibuatnya dengan merubah angkanya hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Langit menatap jam dinding dikamarnya, kemudian Langit memutuskan untuk berhenti belajar dan melanjutkan menulis ceritanya. Langit menutup buku-buku pelajarannya dan meletakkan kembali kedalam tas sekolah agar bisa sesekali dibaca setibanya disekolah sebelum masuk.
Langit terlihat mulai melanjutkan menulis pada laptopnya.
"Tak terasa besok ujian semester ganjil dimulai, lebih dari 4 bulan sudah gue berada disekolah ini dan kenal dengan DIA. Suka cita, canda tawa, pertengkaran telah gue laluin dengan DIA. Entah mengapa kini gue harus memulai pertengkaran kembali dengan DIA. Tapi sepalsu apapun kebaikan DIA kemarin-kemarin gue tetep bahagia, karena itu bisa menjadi semangat gue menjadikan gue tetap tersenyum. Semoga sehabis ujian ini ya bertepatan dengan pergantian tahun bersamaan dengan bertambahnya usia gue , gue bisa mendapat jawaban tentang DIA..........."
Setelah cukup lama Langit berjibaku dengan laptopnya, mata Langit mulai terlihat lelah dan beberapa kali menguap karena mengantuk. Langit akhirnya menyimpan tulisannya lalu mematikan dan menutup laptopnya. Diluar rumah Langit , hujan masih terlihat turun dan terlihat juga lampu dikamar Langit mulai meredup hingga perlahan padam.
Mentari sudah mulai bersinar, suasana di depan sekolah SMA Merah Putih mulai penuh didatangi para siswa yang sengaja datang lebih pagi. Terlihat beberapa siswa sedang membaca-baca buku didepan kelasnya, ada pula yang sibuk membuat catatan kecil di sebuah kertas yang disimpan di kaos kaki, saku, atau di tempat pensilnya. Di depan kelasnya, Langit terlihat duduk di lantai sambil bersandar pada sebuah tiang, Langit menyempatkan diri membaca-baca kembali buku matematika miliknya. Disaat Langit sedang serius membaca buku, melintaslah Rindu yang dengan sengajanya menyenggol buku yang dipegang Langit hingga terjatuh.
"Eh sorry, makanya kalau belajar tuh di rumah kalau nggak ya di kelas lah, jangan dijalan ngalingin jalan tau" bentak Rindu.
Langit menoleh kearah Rindu dengan rasa kesal memenuhi wajahnya. Tapi tak berlangsung lama, Langit segera mengambil bukunya yang jatuh dan pergi meninggalkan Rindu, Langit terlihat berjalan menuju dalam kelasnya.
Tak berselang lama, bel sekolah berbunyi dan terlihat seluruh siswa mulai memasuki kelasnya masing-masing termasuk Rindu yang terbawa emosi dengan sikap dingin Langit kepada dirinya.
Di kelas yang berbeda, tampak Langit dan Rindu sedang mempersiapkan perlengkapan ujiannya, mulai dari pensil 2B, penghapus, rautan, hingga papan sebagai alasnya. Guru pengawas mulai membagikan soal-soal ujian kepada setiap siswa secara acak, hingga tidak ada siswa yang duduk berdekatan memperoleh soal yang sama. Langit terlihat sangat serius mengerjakannya, walau sesekali terlihat sahabatnya mulai bertanya jawaban kepada Langit, entah caranya atau langsung jawaban pastinya. Begitu pula dikelas Rindu, nampak Gina yang kurang menggemari matematika berusaha mencari jawaban dari Rindu yang kebetulan pandai dibidang tersebut.
Sembilan puluh menit sudah berlalu, bel pun telah berbunyi menandakan waktu bagi para siswa telah usai dalam mengerjakan Ujian semester jam pertama tersebut. Para Siswa mulai mengumpulkan lembar jawaban dan lembar soal di meja guru secara terpisah, dan seluruh siswa langsung meninggalkan ruang kelas dengan membawa tas mereka masing-masing.
Walau ini waktunya istirahat, tak nampak banyak siswa yang menyempatkan diri untuk beristrahat di kantin, kebanyakan para siswa sibuk membaca-baca buku dan mempelajari mata pelajaran yang akan di ujiankan di jam kedua ini.
Hal yang berbeda terlihat dari Langit, dia tidak menghabiskan waktu untuk beristirahat atau membaca-baca buku, Langit terlihat tengah berbincang dengan Allisya di depan meja piket, entah apa yang mereka bicarakan hanya saja terlihat senyum dan tawa kecil menghiasi setiap obrolan mereka. Tanpa disengaja Rindu melihat peristiwa itu, belum hilang kesalnya kepada Langit ditambah lagi teman-temannya mulai memanas-manasi Rindu , hingga terlihat wajah Rindu yang memerah menahan emosinya.
Bel telah berbunyi menandakan ujian jam kedua segera dimulai, seluruh siswa mulai bergegas memasuki kelasnya, begitupun Langit yang berpisah dengan Allisya menuju kelasnya masing-masing. Suasana sekolah nampak hening dari sisi luar, hingga waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 11.00 dan bel pulang sekolah pun berbunyi. Tar berselang lama, para siswa terlihat keluar dari kelasnya masing-masing , terlihat ada siswa yang berjalan menuju ke parkiran sepeda motor, ada juga yang keluar gerbang menuju jalan raya menanti kendaraan umum yang biasa melintas.
Terlihat Langit sedang memundurkan sepeda motornya, tanpa disadari ternyata Rindu tengah berada dibelakang sepeda motor Langit, hingga terjatuh Rindu dibuatnya karena tersenggol oleh Langit. Lutut kanan Rindu sedikit lecet terkena aspal, perlahan Rindu berusaha bangun dari jatuhnya sambil menahan perih. Sementara itu, Langit yang mengetahui sepeda motornya menyenggol seseorang dibelakangnya , bukannya berniat untuk meminta maaf tetapi malah balik menyalahkan.
"Mbak kalau jalan liat-liat dong, udah tahu gue mau mundurin motor, minggiran kek jalannya" ucap Langit sambil melanjutkan menghidupkan sepeda motornya.
Rindu merasa sudah sampai pada titik atas batas sabarnya, sambil membersihkan pakaiannya yang kotor akibat terjatuh, Rindu mengeluarkan handphone miliknya dan terlihat menghubungi seseorang selagi sepeda motor Langit terlihat mulai menjauhi gerbang sekolah. Sesaat memacu sepeda motornya, Langit menyempatkan diri melihat kearah Rindu, disaat Rindu sedang menghubungi seseorang dengan handphone miliknya.
"Liat aja lu ya, bakalan gue bales lu, nggak bakalan selamet dah lu, dasar cowok freak" kesal Rindu sambil menyimpan handphonenya kembali kedalam tas.
Langit mulai terlihat menjauh dan meninggalkan Rindu dengan memacu sepeda motornya. Baru beberapa kilometer Langit meninggalkan sekolahnya, dia merasa ada 3 sepeda motor yang sedang membuntutinya. Dari sepeda motor yang dilihat Langit melalui kaca spinnya, Langit tak mengenal mereka. Langit kian memacu sepeda motornya lebih cepat demi menghindari mereka, tapi seperti yang dilihat merekapun menambah kecepatan mengikuti Langit.
Tiba di jalanan yang sepi, kiri kanan hanya terlihat sebuah tanah kosong dan perkebunan kecil milik warga, Salah satu sepeda motor yang dari tadi membuntuti Langit, akhirnya berhasil menyalip sepeda motor Langit dan langsung menghalangi laju sepeda motor Langit. Dia menghentikan sepeda motornya tepat didepan sepeda motor Langit, hingga memaksa Langit untuk berhenti. Langit langsung turun dari sepeda motor dan menanyakan maksud dari orang tidak dikenal yang menghalangi lajunya.
"Maksudnya apa nih?" tanya Langit sambil melepaskan helm dan meletakkannya di atas sepeda motor.
Belum menerima jawaban dari orang yang menghalangi jalannya, Langit menerima tendangan dari arah belakang, yang kebetulan teman dari orang tak dikenal tersebut telah hadir disana. Langit yang dalam keadaan tidak siap, langsung terjatuh setelah menerima tendangan itu. Langit lalu bangkit kembali, dan tanpa mengetahui sebabnya , Langit akhirnya berkelahi melawan mereka berempat seorang diri.
Langit yang menguasai beladiri berhasil melawan mereka pada awalnya, hingga salah seorang dari mereka mengambil tanah dan melemparkan kearah wajah Langit yang membuat pandangan Langit sedikit terganggu, pada saat itulah yang lainnya mulai menyerang Langit, hingga akhirnya Langit terjatuh tak berdaya.
"Makanya jadi cowok jangan belagu lu, udah bikin cewek jatoh gara-gara motor lu, malah galakan lu, yang salah tuh lu liat aja kalo sampe temen gue kenapa-kenapa lagi gara-gara lu, habis lu sama gue" bentak laki-laki tak dikenal tersebut dan langsung berlalu meninggalkan Langit yang tergeletak dipinggir jalan.
Langit terlihat tergeletak dipinggir jalan dengan tubuh penuh memar, hingga beberapa warga yang kebetlan melintas melihatnya dan membawa Langit kesebuah rumah warga yang letaknya beberapa ratus meter dari lokasi Langit berkelahi.
Waktu sudah menunjukkan memasuki senja, terlihat matahari mulai nampak hendak menyembunyikan cahayanya. Terlihat Langit dengan sepeda motornya mulai memasuki rumah dan langsung memarkirkan sepeda motor ditempat biasanya. Dengan kaki yang terpincang-pincang, Langit berjalan memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Langit langsung menghidupkan laptop untuk melanjutkan menulis tulisannya. Walau dengan menahan sakit sekujur tubuh yang sudah diobati dengan minyak urut, Langit melanjutkan tulisannya tersebut hingga tanpa sadar malam sudah semakin larut, dan dirinya lupa bahwa besok Langit masih dalam masa ujian semesteran. Langit baru menyadari hal tersebut setelah rasa kantuk telah menghampirinya.
Keesokkan harinya, seperti biasa siswa/i SMA Merah Putih terlihat tergesa-gesa memasuki pintu gerbang sekolah, maklum saja beberapa menit lagi pintu gerbang akan ditutup dan bagi yang terlambat tak akan diijinkan untuk masuk. Langit terlihat datang dengan sepeda motornya walah kaki dan sekujur tubuh hingga wajahnya tampak memar akibat peristiwa kemarin. Rindu berjalan dengan terpincang-pincang setelah turun dari sepeda motor untuk menuju ke kelasnya. Rindu yang sedang bersama Gina dan Jesika berdiri dikoridor sekolah, mereka melihat Langit yang sedang berjalan dengan terpincang-pincang , tanpa segan mereka menertawakan Langit.
"Kenapa lu? Dikeroyokin ya? Makanya jangan senga jadi orang, lu pikir semua orang bakal diem aja?" sindir Rindu.
"Kok dia bisa tau, berarti bener filling gue kalau kemarin emang rencana dia" bingung Langit dalam hatinya.
Langit tak bergeming sama sekali mendengar ucapan Rindu, dia berlalu melintasi Rindu tanpa memperdulikan keberadaan Rindu. Beberapa langkah Langit sudah meninggalkan Rindu, tiba-tiba Langit terjatuh dengan sendirinya, sambil memegangi kaki kanannya Langit berusaha bangkit walau sulit. Rindu yang melihat hal tersebut tak mau menyia-nyiakannya, dia mnghampiri Langit dan tanpa sungkan menertawakan kejadian yang menimpa Langit tersebut. Setelah puas menertawakan Langit, Rindu langsung pergi menuju kelasnya. Robby dan Rizky yang sudah terlebih dahulu tiba disekolah, terlihat sedang keluar dari kelasnya seakan-akan sedang mencari seseorang.
"Kemana sih tuh anak, tumben udah jam segini belum masuk dari tadi WA gue juga nggak dibales" tanya Robby.
"Sama, gue WA gue telepon juga nggak diangkat, semalem aja gue mau nanyain kisi-kisi yang di fotokopian ke dia, ehh nggak ada jawaban" jawab Rizky.
"Iya gue takut ada kenapa-knapa loh sama dia" Robby merasa cemas.
"Huss lu ngomongnya, nggak boleh ngomong jelek lu" ucap Rizky.
Di tengah perbincangannya, Robby terlihat terkejut melihat kearah Langit yang masih berusaha menahan sakit dalam duduknya.
"Eh itu bukannya Langit? Kenapa tuh dia?" tanya Robby sambil menunjuk kearah Langit.
"Eh iya kenapa itu, yuk kesana mban" ucap Rizky sambil bergegas berlari kearah Langit bersama Robby.
Setibanya di tempat Langit berada, Rizky dan Robby segera membantu Langit untuk berdiri dan menuntunnya hingga tempat duduk di kelasnya. Sepanjang jalan Langit terlihat menahan sakit, dan sepanjang jalan pula siswa lain memperhatikan sikap Langit tersebut. Setibanya di bangku kelas, Langit langsung mendudukinya dan mengangkat kaki kanannya menggunakan tangan agar masuk ke bawah meja. Robby dan Rizky semakin merasa bingung ada apa dengan Langit? Kemarin masih baik-baik saja, sekarang tubuhnya dipenuhi luka lebam dan memar-memar.
"Lu kenapa El? Perasaan kemaren lu baik-baik aja, lu kecelakaan? Jatuh dari motor?" tanya Robby.
Belum sempat Langit menjawab pertanyaan Robby, Andy yang baru saja datang langsung memotong pembicaraan Langit dan Robby.
"Gue denger dari temen gue yang rumah nya deket kebun pisang situ, lu bener El kemaren di keroyok orang? Nih teman gue videoin, nggak jelas sih soalnya dari jauh , temen gue nya takut tapi itu kan motor lu" timpa Andy sambil mengeluarkan handphone dan memutarkan sebuah video.
Nampak dalam video tersebut Langit sedang berkelahi dengan beberapa laki-laki hingga akhirnya tumbang dan Langit pasrah menjadi sasaran empuk para laki-laki tersebut. Robby dan Rizky terlihat antusias menyaksikan video tersebut hingga usai. Robby dan Rizky tampak sangat terkejut menyaksikan video tersebut, mereka tidak percaya Langit mengalami hal tersebut kemarin.
"Lu kenapa nggak cerita ke kita-kita, kaget sumpah gue ngeliatnya" Robby terkejut setelah tahu apa yang dialami Langit.
"Udah lah udah lewat ini,nggak apa-apa kok gue , tar juga sembuh" ucap Langit.
"Lu, nggak ada musuh kan? Atau ya beberapa hari ini mungkin ada yang lu bikin celaka atau kesel atau apalah gitu" tanya Andy.
"Gue nggak mungkin bilang kalau semua ini ulah Rindu, gue yakin Rindu yang minta orang-orang itu buat mukulin gue, secara gue ngeliat sendiri dia menghubungi seseorang setelah kesenggol motor gue kemarin. Dan gue inget kata-kata dia , bahwa gue nggak mungkin selamat. Tapi gue nggak mau anak-anak pada tau, gue nggak mau masalah ini semakin merembet dan malah semakin panjang" terka Langit dalam hatinya sambil memainkan pulpen dengan jari tangannya.
"Nggak ada kok, gue rasa sih itu murni keisengan doang, mungkin mereka itu genk motor atau apalah yang nyari-nyari sensasi, soalnya abis ngeroyok gue tuh nggak ada kata-kata dari mereka, langsung cabut mereka" jawab Langit.