Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam itu suasana di kediaman keluarga Alexander terasa sangat hangat. Setelah selesai menikmati makan malam bersama, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah yang luas dan nyaman. Mereka duduk melingkar, saling bercerita tentang kesibukan masing-masing hari ini, sesekali terdengar tawa renyah yang memecah keheningan malam.
Pak Damian, ayah Samantha, duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum memandang anak-anaknya. Ia kemudian menoleh ke arah Samantha yang duduk di samping Amara.
"Ngomong-ngomong, Sam," buka Pak Damian dengan suara lembut namun penuh perhatian. "Tadi siang Amara bercerita kalau kamu sedang merencanakan untuk membuka usaha sendiri, tepatnya salon kecantikan. Apakah itu benar, Nak?"
Samantha mengangguk mantap, matanya bersinar penuh semangat saat membicarakan rencananya.
"Benar sekali, Yah. Aku sudah mempersiapkan segalanya dari jauh hari. Aku ingin membuka salon yang tidak hanya sekadar tempat perawatan kecantikan, tapi juga tempat yang membuat setiap pelanggan merasa dihargai dan nyaman," jawab Samantha dengan antusias. "Saat ini aku sedang berusaha mencari lokasi atau ruko yang cocok tempat yang strategis, mudah dijangkau, dan memiliki ruangan yang cukup luas untuk semua fasilitas yang aku rencanakan. Besok aku dan Suci berencana untuk menyurvei beberapa tempat pilihan."
Belum sempat Pak Damian menanggapi, Kak Aslan kakak tertua Samantha tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangannya seolah teringat sesuatu.
"Kalau soal lokasi ruko, kebetulan sekali, Dek," sela Aslan dengan nada gembira. "Kakak punya kenalan orang baik yang baru saja menyelesaikan pembangunan gedung ruko di area pusat kota yang sedang berkembang pesat. Lokasinya sangat strategis, persis di pinggir jalan utama, dekat dengan perumahan elit dan pusat perbelanjaan. Salah satu unitnya belum terisi dan memang disiapkan untuk disewakan."
Mata Samantha seketika melebar penuh takjub. "Benarkah, Kak? Bagaimana bentuk dan ukurannya?"
"Sangat cocok untuk usahamu," lanjut Aslan menjelaskan. " gedungnya besar , ruangannya luas dan sudah tertata rapi bisa untuk ruang tunggu di depan, area perawatan di tengah, dan ruang penyimpanan serta kantor kecil di bagian belakang. Sistem sewa dan harganya pun pasti akan Kakak bantu negosiasikan yang paling cocok untukmu. Lagipula pemiliknya adalah teman lama Kakak, jadi kamu tidak perlu khawatir soal keamanan dan perizinannya."
Samantha merasa sangat lega dan bahagia mendengar kabar itu. Ia segera memeluk lengan kakaknya dengan penuh rasa syukur.
"Wah, terima kasih banyak ya, Kak! Ini sungguh kabar yang sangat bagus. Aku jadi tidak perlu bingung lagi mencari lokasi kemana-mana," ucap Samantha tulus.
Pak Damian pun tersenyum puas melihat keakraban anak-anaknya saling membantu. "Syukurlah kalau begitu. Keluarga memang harus saling menguatkan dan melengkapi satu sama lain. Semoga usaha yang kamu rintis ini nanti membawa berkah, bermanfaat bagi banyak orang, dan sukses besar," doa Pak Damian tulus.
Pak Damian tersenyum senang melihat antusiasme putrinya, namun ia pun ingin memastikan segalanya berjalan seimbang. Ia menatap Samantha dengan lembut namun penuh pesan.
"Rencanamu sangat bagus dan Ayah dukung sepenuhnya," ucap Pak Damian pelan. "Tapi ingat satu hal ya, Nak. Jangan sampai semangatmu membuka usaha baru ini membuatmu lupa akan kewajiban utamamu. Kamu masih memegang tanggung jawab besar untuk mengelola dan mengawasi operasional hotel keluarga kita. Pastikan kamu bisa membagi waktu dengan bijak, supaya keduanya bisa berjalan lancar tanpa ada yang terabaikan."
Samantha mengangguk mantap, mengerti betul maksud ayahnya. "Tentu saja, Yah. Aku tidak akan melupakan tugasku. Aku sudah menyusun jadwal yang rapi, dan nanti Suci akan banyak membantu di salon, jadi aku tetap bisa fokus mengurus hotel seperti biasa."
Belum selesai bicara, Ibu Sarah yang sedari tadi tersenyum mendengarkan, kini menyahut dengan wajah penuh dukungan.
"Dan Ibu juga ingin berjanji padamu, Sam," ucap Ibu dengan nada hangat. "Ibu akan ikut membantu usaha salonmu nanti. Ibu dan suci akan menghandlenya , Kamu tidak perlu mengerjakan semuanya sendirian."
Mendengar itu, hati Samantha terasa sangat hangat. Matanya berkaca-kaca bahagia mendapatkan dukungan penuh dari orang tuanya.
"Terima kasih, Yah... terima kasih, Bu. Kalian benar-benar anugerah terindah untukku," ucapnya tulus. "Dengan dukungan kalian semua, aku semakin yakin usaha ini akan berjalan lancar."
Suasana malam itu pun semakin terasa indah, dipenuhi kasih sayang dan harapan yang menyatukan seluruh anggota keluarga.
Pagi itu udara masih terasa sejuk, namun Samantha sudah bersiap sepenuhnya dengan pakaian kerja yang rapi dan nyaman. Sebelum berangkat menjemput Suci, ia singgah sejenak menemui Kak Aslan di kamarnya.
"Selamat pagi, Kak Aslan , Kak Amara . Aku mau berangkat untuk berangkat survei lokasi yang kakak beritahu ." sapa Samantha dengan semangat.
Kak Aslan yang sedang merapikan berkas di mejanya segera menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi, Dek. Kebetulan sekali, Kakak baru saja selesai berbicara lewat telepon dengan teman Kakak, Pak Rio, pemilik ruko itu. Dia sudah sangat mengerti maksud kita, dan dia pun menyambut baik rencanamu untuk membuka salon di sana."
"Benarkah, Kak? Lalu bagaimana kesepakatannya?" tanya Samantha antusias.
"Kalian sepakat untuk bertemu langsung di lokasi ruko nanti," jelas Aslan sambil menyerahkan secarik kertas berisi tulisan tangan rapi. "Dia akan menunggu di sana sekitar jam sepuluh pagi, supaya kamu bisa melihat kondisi bangunannya secara langsung dan bertanya apa saja yang ingin kamu ketahui. Ini alamat lengkapnya: Jalan Mawar Raya Nomor 17, persis di seberang pusat perbelanjaan baru yang besar itu. Lokasinya sangat strategis, pasti kamu suka."
Samantha menerima kertas itu dengan teliti, lalu membacanya sekilas. "Wah, lokasinya benar-benar bagus sekali, Kak. Terima kasih banyak ya sudah mengatur semuanya sampai seperti ini. Aku jadi tidak perlu repot lagi."
"Sama-sama, Dek. Kakak hanya membantumu menghubungkan saja, sisanya tergantung kesepakatanmu nanti," jawab Aslan lembut. "Sampaikan salam Kakak untuk Pak Rio ya. Dan jangan ragu untuk menawar atau bertanya jika ada hal yang kurang pas. Kakak percaya padamu."
"Siap, Kak! Aku berangkat dulu ya, mau menjemput Suci. Doakan kami cocok dengan tempatnya," pamit Samantha sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan ya, kalian berdua!" pesan Aslan saat Samantha melangkah keluar.
Dengan alamat yang sudah jelas dan hati yang tenang, Samantha pun melajukan mobilnya menuju rumah Suci, siap menyambut langkah baru yang semakin nyata.
Amara yang sejak tadi sedang berias hanya tersenyum lembut melihat punggung Samantha yang berjalan penuh semangat menjauh. Baginya, Samantha sudah seperti adik kandung sendiri, sehingga melihatnya perlahan mewujudkan cita-cita dan bangkit kembali membuat hatinya ikut bahagia.
Setelah sosok Samantha menghilang, Amara melangkah masuk dan duduk di hadapan suaminya. Wajahnya kini tampak sedikit berkerut memikirkan sesuatu.
"Mas," panggilnya pelan. "Aku melihat Samantha begitu cerdas, mandiri, dan sekarang terlihat semakin cantik dan berwibawa dengan hijabnya. Tapi aku jadi bertanya-tanya... sampai sekarang belum kulihat ada pria yang benar-benar mendekat serius padanya. Apakah dia memang belum mau membuka hati, atau ada hal lain?"
Aslan menghela napas pelan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya pun tampak bingung.
"Aku juga heran, Ra," jawabnya jujur. "Adikku ini memang luar biasa. Dulu saja sudah banyak yang menyukainya, apalagi sekarang penampilannya semakin anggun, hatinya lembut, dan usahanya pun mulai terlihat. Seharusnya banyak pria baik yang beruntung bisa mendampinginya. Tapi entah mengapa, sampai sekarang belum ada yang berhasil masuk ke hatinya."
Mereka berdua saling berpandangan, lalu senyum penuh harap kembali tersungging di bibir mereka.
"Kita sebagai keluarga hanya bisa berdoa saja," lanjut Aslan lembut. "Semoga nanti takdir segera mempertemukannya dengan pria yang tepat yang bisa menghargai, melindungi, dan mencintainya dengan tulus, serta bisa membimbingnya menuju kebaikan. Dia pantas mendapatkan pasangan yang sebaik dirinya."
Amara mengangguk mantap. "Aamiin. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik untuknya, hanya waktunya saja yang belum tiba."
Bersambung...